11221480_10206049161860255_6645070489161891481_oSetiap liburan tiba, kantor saya selalu menjadi tempat berkumpul anak-anak komplek. Memang awalnya mereka sekadar main game di hp atau komputer saya. Lama-lama berkembang menonton film-film seperti Upin dan Ipin, Masha and Bear di Youtube.

Awalnya saya tak pernah punya maksud untuk mengajari mereka menulis. Walau beberapa tahun yang lalu Tiga Serangkai pernah meminta saya menjadi pembicara di depan anak-anak, di acara talkshow Menjadi Penulis Cilik yang Hebat. Waktu itu saya kaget sekali karena pesertanya luar biasa banyak dan sangat antusias. Mereka bahkan terus mengikuti saya walau acara itu sudah selesai… 😀

Ada sekitar 6 – 7 anak-anak yang rajin ke kantor saya. Namun sepertinya hanya 2 yang tertarik menulis. Mungkin karena sering melihat saya menulis dan melihat juga buku-buku saya, mereka mulai berani bertanya-tanya tentang menulis dan buku. Kebetulan di tempat saya banyak sekali buku, beberapanya buku-buku anak-anak yang boleh mereka pinjam.

Lalu mulailah terpikir oleh saya untuk membuat tawaran agar mereka mau menulis cerpen. Saya janjikan bila ada 10 cerpen yang selesai, akan saya bukukan secara sederhana. Dan mereka ternyata bersemangat sekali. Awalnya ada 3 anak yang ikut, namun pada akhirnya hanya 2 yang terus bersemangat. Pada akhirnya terkumpulah 7 cerpen. Ini hanya kurang 3 lagi. Tapi liburan sekolah rupanya sudah berakhir dan mereka kembali sibuk. Hanya sesekali saja mereka main. Proyek cerpen itu pun terlupakan.

Beberapa hari lalu, saat liburan sekolah kembali, mereka mulai datang lagi. Saya membelikan beberapa KKPK baru untuk mereka baca. Pertanyaan mereka soal menulis makin intens: misalnya cover buku siapa yang membuat, ilustrasi di dalam buku siapa yang bikin?

Kembali saya mengungkit janji untuk membukukan 10 cerpen itu, sambil menunjukkan kertas-kertas cerpen yang mereka tulis yang masih saya simpan. Tapi rupanya mereka sudah malas, dan mengambil kertas-kertas itu. Diam-diam bahkan mereka membuangnya. Saya cukup kaget, karena menurut saya cerpen-cerpen itu cukup lumayan. Tapi kemudian mereka berjanji akan membuat yang lebih bagus. Tapi syaratnya saya harus meminjami laptop saya.

Saya pun membiarkan mereka memakainya. Mereka kemudian mulai sibuk menlis. Cara mereka menulis cukup unik. Mereka bergantian setiap 1 halaman. Untungnya Nazla yang baru 9 tahun sudah menulis dengan EYD yang lumayan. Ia sudah tahu huruf besar, pemakaian tanda petik yang benar, spasi setelah tanpa baca, dll. Ah, saya jadi ingat beberapa kali menjadi kurator antologi Joglo dan cerpen-cerpen Pawon, banyak penulis masih belepotan soal itu. Padahal rata-rata mereka sudah mahasiswa dan beberapanya bahkan sudah lulus. Ironis!

1 2 3 4

Mengarahkan Ide

Sebenarnya saya bukan pakar mengajari ana-anak menulis. Namun dari interaksi mereka di tempat saya, saya tahu imajinasi mereka bergerak dan terus berganti-ganti. Ini tentu hal yang positif. Anak-anak yang menonton kartun-kartun Frozen, Madagarcar, dll cenderung memiliki imajinasi lebih hidup dari pada yang terus-terusan belajar matematika.

Biasanya anak yang punya kesukaan di bidang menulis tanpa diarahkan pun sudah menulis dengan sendirinya. Berbekal dengan bacaannya, ia akan menulis tanpa diminta. Tentu maksud tulisan saya ini adalah mengajarkan anak-anak yang ada dalam posisi seperti itu. Bukan anak-anak yang sama sekali tak memiliki minat. Bahkan saat diminta membaca pun enggan. Itu tentu lebih sulit.

Bila sudah menemukan anak-anak seperti itu sepertinya jalan akan jadi lebih mudah. Cara pertama yang harus dilakukan adalah dalam memilih tema yang baik. Saya selalu bertanya apa saja yang ingin ditulis? Jawabannya tentu bisa macam-macam: tentang adiknya, tentang jalan-jalan ke Korea, tentang putri cantik yang diculik peri, dll.

Jujur saja sebenarnya saya lebih tertarik mereka menulis kisah sehari-hari. Misalnya berlibur ke rumah nenek, atau tentang teman-teman di sekolah mereka. Tapi mereka lebh suka bicara soal Korea, asrama layaknya Hogwart, dll. Saya biarkan saja ide-ide itu muncul. Yang perlu diingat apa yang menurut saya baik, belum tentu cocok untuk mereka. Apalagi saya merasa pemilihan ide seperti ini sama seperti saat mereka memilih mainan. Mereka akan menunjuk mainan yang mereka suka, dan orang tua sama sekali tak punya kuasa menyodorkan mainan pilihan mereka.

Setelah menampung beberapa ide, saya tanya satu-persatu tentang ide-ide tersebut. Misalnya saat mereka bilang ingin menulis cerita ke Korea, saya akan tanyakan: apa mereka sudah tahu tempat-tempat di Korea? Nama-nama orang Korea? Makanan?

Saat mereka tak bisa menjawabnya, dengan sendirinya mereka akan mundur dari ide itu. Ini semacam saringan awal. Pada akhirnya mereka akan memilih melanjutkan ide-ide yang dapat mereka jawab.

Cerita Utuh yang Sudah Dibayangkan

Novel memang bukan seperti cerpen yang ringkas dan cepat. Novel perlu alur yang lebih luas. Ceritanya lebih panjang dan -dengan bahasa dewasa- cukup berliku.

Saat ide sudah ditentukan, saya selalu menanyakan cerita itu akan dibawa ke mana? Mereka akan menceritakannya secara lisan. Kadang tersendat. Tapi saat itulah peran orang dewasa untuk memberi arahan. Yang sedikit tak mungkin/tak logis kembali dipertimbangkan.

Misalnya: Dulu peri-peri jahat datang ke kota dan menyamar menjadi peri baik. Lalu mereka bersikap selayaknya peri yang baik dan berteman dengan peri-peri baik tersebut. Lalu pelan-pelan mulai mendekati istana. Di situ mereka menculik putri cantik dan pergi kembali. Pangeran kemudian naik kuda dan mengejar para peri jahat itu. Ia dibantu dnegan peri-peri baik.

Dari situlah mulai ditanyakan detail yang bisa dijadikan pengembangan novel itu. Misalnya: bagaimana cara peri jahat menculik? Apa saja rintangan pangeran menemukan peri jahat? Bagaimana pangeran mengalahkan peri jahat?

Secara tak langsung dengan mengungkap cerita secara utuh begitu, mereka sudah membuat kerangka karangan. Tentu pada prakteknya nanti, hal ini tak semudah yang dibayangkan. Imajinasi anak-anak terus berubah-ubah dengan cepat, mereka akan memasukkan cerita yang dipikirkannya kemudian ke dalam cerita yang mereka buat.

Pengembangan Tiap Paragraf

Anak-anak selalu berpikir sederhana, sedang menulis novel perlu penyikapan lebih terhadap segala sesuatu.

Kadang anak-anak cenderung melupakan detail. Misalnya saat ia menceritakan tokoh ceritanya tengah berjalan di hutan dan menemukan sebuah pohon. Mereka tak menulis rinci tentang pohon itu. Paling mereka menambahinya dengan ciri-ciri semacam: besar dan menakutkan.

Ini adalah bagian yang bisa diolah dengan baik. Buat pertanyaan-pertanyaan semisal: besar pohon itu sebesar apa? Ranting dan daunnya seperti apa? Menakutkannya seperti apa? Apakah membuat menggigil atau gemetar?

Tak perlulah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sendiri agar anak-anak menulisnya. Percayalah, pertanyaan-pertanyaan itu sudah cukup membuat anak berpikir dan memutuskan menulisnya.

Mengajari Pembabakan (Pembuatan bab-bab)

Naskah KKPK atau sejenisnya biasnya menginginkan nskah sekitar 40-50 halaman kuarto (A4), spasi 1,5 dengan font New Times Roman.

Anak-anak tak akan peduli soal ini. Mereka akan menulis sesuai keinginnya. Mereka akan membuat bunga-bunga di tepi kertas, dan membuat font besar agar segera bisa mendapat banyak halaman… J

Satu lagi: gaya mereka menulis cenderung bergerak terus, dari awal sampai akhir.

Di sinilah kita mengambil peran. Kapan anak-anak harus memisahkan tulisannya yang utuh itu ke dalam bab-bab. Memang, saya rasa, bila naskah masuk ke penerbit, pihak editorlah yang akan melakukannya, tapi mengajari mereka dari awal tak ada salahnya.

Saya selalu mengarahkan begini: kalau cerita sudah mulai terasa memiliki jarak antara satu adegan dengan adegan lainnya, pindahkan saja ke bab berikutnya. Atau yang mudah bila tempat ceritanya sudah berganti, pinndahkan saja menjadi bab baru.

Beri candaan bila memakai bab-bab seperti ini, banyak halaman akan jadi semakin cepat.

Keinginan yang Terus Ada

Saya pikir satu yang paling sulit dilakukan adalah membuat menat anak terus ada. Anak-anak masih sangat labil. Kesukaan mereka terus berganti.

Namun hal ini sebenarnya bisa dipupuk dari jauh-jauh hari. Saya coba bertanya bagaimana mereka membaca buku? Sebagian dari mereka menjawab mereka banyak membaca di perpustakaan sekolah. Saya tanya apa orang tua secara rutin mengajak mereka ke toko buku? Ternyata ada beberapa anak yang belum pernah ke gramedia/Togamas sekali pun.

Saya pikir keinginan yang terus ada merupakan tugas berat saat orang tua di rumah tak pernah memberi contoh membelikan anak-anak mereka buku. Di kantor saya selalu ada buku. Memang buku-buku anak-anak hanya sedikit saja, tapi mereka bisa merequestnya bila mau. Misalnya mereka ingin membaca buku tentang luar negeri, maka saya carikan kkpk yang berseting luar negeri. Atau yang ingin tentang harmster, saya cari juga buku seperti itu. Tentu yang ini akan dituruti bila diminta oleh anak-anak yang memang ingin menulis. Bila sekadar meminta naruto, boboboy, tentu tak akan saya gubris 😛

Karena pada dasarnya, keinginan yang terus ada itu bisa terus dipertahankan dengan membaca. Membaca terus mempertahankan imajinasi. Terus meletakkan keinginan ada di atas. Membaca cerita yang bagus membuat mereka ingin bisa menulisnya, membaca cerita yang buruk membuat mereka gemas ingin membuat yang bagus.

Satu hal Tambahan

Satu yang tak pernah saya bicarakan adalah perihal royalti dan segala sesuatunya. Saya ingin anak-anak menyukai menulis karena keinginannya sendiri. Karena saya tahu, keinginan mereka menulis tak sekadar untuk itu. Misalnya mereka selalu bertanya soal nama penulis di depan cover buku? Atau yang paling sering, tentang foto di cover belakang buku KKPK. Hal-hal ini bisa jadi menjadi tujuan awal mereka menulis.

Tapi tentu saya selalu bilang, bila buku mereka benar-benar diterbitkan atau dimuat di media, mereka bisa jajan apa pun yang mereka mau. Tentu tak lupa mentraktir Om Yudhi. 😀

***

Dua penerbit yang saya rekomendasikan untuk anak-anak:

Penerbit DAR! Mizan

Jalan Cinambo No. 135 (Cisaranten Wetan) Ujungberung, Bandung 40294, Telp. (022) 7834310

Tiga Ananda (Tiga Serangkai)

Jln. Dr. Supomo, No. 23, Solo 57141 (di bagian kiri atas amplop tulis: Naskah The Story Explorer)

***

Iklan