11141171_1162833007064069_1628347966122427822_nYang terbayangkan oleh saya tentang Istanbul adalah sebuah nama yang indah. Dulu saat menjadi mahasiswa arsitektur saya pernah berkirim surat ke kedutaan Turki untuk meminta buku-buku tentang Turki. Kebiasaan itu sudah saya lakukan sejak SMA, namun baru negara-negara ternama saja yang saya kirimi. Dari situ biasanya saya mendapat kiriman buku-buku tentang negara-negara tersebut. Untuk surat ke Turki, karena saya sudah mengenalkan diri sebagai mahasiswa arsitektur, saya mendapat banyak buku-buku tentang arsitektur Turki, khususnya Istanbul. Sayangnya buku-buku itu sekarang entah ke mana.
Sementara perkenalan saya dengan Pamuk sebenarnya juga sudah sejak lama. Waktu itu saya membaca The White Castle, saat buku itu baru dirilis edisi Indonesianya. Namun saya merasa gagal membacanya. Buku itu memiliki paragraf-paragraf panjang nan gemuk yang sangat miskin dialog. Alurnya pun begitu lambat, sehingga membuat saya berkali-kali kehilangan kosentrasi dan mengulang lagi beberapa halaman sebelumnya. Saat selesai menamatkannya, saya merasa malu, menyadari saya ternyata bukanlah pembaca Pamuk. Waktu itu, seorang teman mencoba menghibur. Katanya saya salah memilih buku. Buku The White Castle memang dibuat Pamuk dengan gaya yang berbeda dari biasanya. Katanya, ia sedang mencoba-coba gaya postmodern.
Saya diam saja. Walau tak terlalu sependapat, saya tak membantahnya. Saya pikir permasalahan utama novel itu memang pada alurnya yang lambat. Untunglah Buletin Sastra Pawon mengagendakan diskusi terbuka Orhan Pamuk, sehingga saya kembali berhubungan dengan Pamuk. Kali ini karena waktu yang pendek, saya memilih Istanbul untuk saya baca.

orhanKemurungan, huzun
Saat membaca Istanbul, saya langsung disodori tentang cerita sebuah kota. Memang ini sudah ditulis di covernya, buku ini memang kenangan sebuah kota. Tapi walau begitu, saya tak sampai berpikir kalau persentase tentang kota begitu dominan di buku ini.
Saya pikir, sudah banyak kota yang dijadikan bagian dari sebuah novel, menjadi setting sebuah novel. Ia menjadi latar dari para tokoh utama bergerak sepanjang novel. Tapi tak banyak penulis yang membalik keadaan dengan menjadikan kota sebagai –katakanlah- tokoh utama dalam novel.
Ini yang membuat saya langsung teringat pada Kota-kota Imajiner tulisan Italo Calvinho. Di mana kota seperti berulang kali dimunculkan, diceritakan, dieksploasi, dengan seminim mungkin memikirkan hal-hal lainnya. Kota seperti menjadi sosok utama yang tak terpinggirkan dalam buku. Cerpenis Indonesia juga pernah melakukannya. Bang Raudal Tanjung Banua juga intens menulis tentang kota. Cerita-ceritanya tentang kota memang belum terbit sebagai buku, tapi kita sudah bisa membacanya di media beberapa tahun terakhir. Raudal memainkan kota, lebih dekat lagi dengan kita. Ia menceritakan kota-kota air, kota-kota yang mati sampai atau kota-kota bola. Kota dibalut dengan lokalitas. Sehingga tak seperti saat membaca Kota-kota Imajiner, yang membuat kita merasa gamang, membaca cerita-cerita Bang Raudal membuat kita merasa ikut diceritakan.
Banyak yang mengatakan Istanbul sebagai novel biografis Pamuk. Pamuk sendiri menulis, ‘…bagaimana aku menggambarkan Istanbul ketika menggambarkan diriku sendiri, dan menggambarkan diriku sendiri ketika menggambarkan Istanbul…’ Tapi saya merasa tidak demikian. Memang Pamuk menceritakan kisah masa kacilnya di situ, tapi tetap saja tak banyak yang kemudian saya tahu tentang perjalanan hidup Pamuk. Semuanya terasa seperti potongan-potongan kecil yang melompat-lompat, hingga tak sampai bergitu merasuk di dalam otak saya. Memang ia menceritakan beberapa hal. Tentang abangnya yang selalu bertengkar, tentang ayahnya yang selalu pergi, tentang ibunya yang selalu nampak menunggu. Namun saya tak mendapat kisah-kisah lanjutan yang lebih detail dari kisah-kisah itu. Untungnya Pamuk menuliskan satu bab khusus tentang cinta pertamanya pada Si Mawar Hitam. Itulah yang saya pikir satu-satunya kisah yang dimulai dengan lengkap dan diakhiri dengan sempurna. Itu juga yang kemudian menjadi bagian favorit saya, terutama endingnya.
Dari situ bisa dirasakan dominasi novel ini di bawa ke mana. Tak bisa saya pungkiri, novel ini memanglah tentang Istanbul yang seutuhnya. Pamuk tengah menceritakan kota, -kotanya- dan bila ada biografinya masuk di situ, itu karena ia menjadi bagian dari kota itu.
Saya ingat saat kuliah di arsitektur ada mata kuliah tentang perencanaan kota. Dari situ dunia arsitek yang sesungguhnya mulai terasa terbuka bagi saya. Mengurus kota tidak sederhana. Kota bukan sekadar yang terlihat di mata saja. Beberapa tugas arsitektur saya, lebih menuju ke permasalahan sosial. Bagaimana jalur-jalur jalan dirancang, menata kemacetan di depan pasar, dan hal-hal seperti itu. Jadi saya tak sekadar menghitung jumlah becak, dan lamanya angkot yang ngetem di sana, tapi saya juga mengimajinasikan bagaimana mereka bisa bergerak ke arah yang diinginkan. Dan Pamuk, yang juga berkuliah di arsitektur, juga mencoba masuk ke sana. Ia tak sekadar menceritakan hal-hal yang terlihat seperti Bosphorus dan bangunan-bangunan megah lainnya. Pamuk masuk lebih dalam lagi.
Saya merasa ada kerangka berpikir seorang arsitek di dalam novel ini yang sangat kuat. Konsep buku ini bagaikan konsep sebuah proyek besar tentang kota. Pamuk tak sekadar menulis apa yang berhubungan dengannya. Ia melampauinya. Bagaimana ia mengemas sejarah dan menjadikan buku-buku dan penulis-penulis seperti Melling, Nerval, Gautier, Tanpynar, Yahya Kemal, dan banyak lagi, sebagai orang-orang yang ikut bercerita. Pamuk seperti menjadi perangkum mereka semua. Hanya sesekali saja ia melibatkan dirinya di dalam. Pamuk menjadikan buku sebagai perantaranya, walau beberapa buku di antaranya hanyalah buku-buku yang tetap tak laku hingga sekarang. Toh, walau bagaimana pun ingatan masa kanak kadang begitu samarnya, dan mungkin sudah mengelupas.
Kota memang memiliki napasnya sendiri. Pamuk seakan bisa membuat peta besar Istanbul. Peta yang tak sekadar berisi denah kota Istanbul, selayaknya buku profil kota-kota di Indonesia yang tengah mengeksplosi pariwisata. Pamuk jauh melebihinya. Ia melihat kota dengan perasaannya. Sehingga, dari awal, saat saya belum masuk ke bab tentang huzun, saya sudah bisa merasakan kemuraman di novel ini. Itulah yang tanpa saya sadari, menjadi satu kritikan pedas tentang kotanya.
Membaca Istanbul membuat saya menyadari kalau kota memiliki ceritanya sendiri. Bagaimana selama ini kita sepertinya meletakkan dalam porsi yang kecil dan sempit, sebagai tempat bagi kita hidup. Kita tak pernah membiarkannya bicara, atau minimal mendengarkan keluhannya. Untunglah, Pamuk memberi contoh.

Iklan