IMG_20150807_141110Pernah ada sebuah masa, di sekitar tahun 2000an, sebuah penerbit ternama begitu getol menerbitkan kumcer. Adalah penerbit buku Kompas namanya. Walau bukan sebagai pionir dalam hal kumcer, namun langkahnya kala itu begitu dikenang kuat, karena pada saat itulah kita dapat menemukan dengan mudah kumcer-kumcer dari penulis–penulis cerpen yang selama ini hanya bisa kita baca di koran. Tak kurang dari Jujur Prananto, Agus Noor, Taufik Ikram Jamil, Cecep Syamsul Hari, Hamsat Rangkuti, Umar Kayam, Isbedy Setiawan, Triyanto Triwikromo, dan masih banyak lagi lainnya. Sebagai penggemar cerpen sejak lama, saya menikmati sekali masa-masa itu. Sampai sekarang kumcer-kumcer itu masih saya simpan dengan baik.

Bila mengambil benang merah, ada satu kesamaan yang saya dapati dari kumcer-kumcer yang terbit di masa itu. Dengan teknik yang tentu berbeda-beda, dan gaya yang juga tentu berbeda-beda pula, satu yang saya ingat adalah hampir semua cerpenis pada masa itu kerap mengangkat tema-tema lokal dan sosial.

Tapi ternyata masa itu ternyata tak bertahan lama. Di medio tahun 2010an, buku berlabel kumcer mengalami masa berat. Penerbit Kompas tak lagi mencoba menerbitkan (selain kumpulan cerpen terbaiknya). Saya pikir ini mungkin buah dari strategi yang terburu-buru beberapa tahun lalu. Untungnya di beberapa tahun terakhir ini, kumcer kembali bergeliat. Namun ada perbedaan yang signifikan kumcer-kumcer dulu dengan sekarang. Bila dulu kita menemukan judul-judul beraroma magis dan puitis seperti: Bibir dalam Pispot (Hamsad Ramngkuti), Malam Sepasang Lampion (Triyanto Triwikromo), Ikan Terbang Tak Berkawan (Warih Wisatsana), Dua Tangisan dalam Satu Malam (Puthut EA), dsb, sekarang kita lebih menemukan kumcer-kumcer itu kebanyakan dikemas dalam nuansa cinta. Tentu jangan salahkan penulisnya, kadang ini merupakan strategi penerbit agar dapat meraup pembaca lebih banyak lagi, setidaknya di luar dari pembaca yang menyukai lokalitas atau pun sosial.

Membaca kumcer Anak-anak Masa Lalu (AAML) tulisan Damhuri Muhammad (DM), yang diterbitkan Marjin Kiri beberapa bulan lalu, saya kembali seperti terlempar lagi ke masa lalu, masa tahun 2000an itu. Mungkin karena saya mulai membaca cerpen di masa itu, saya menikmati cerita-cerita bertema lokal dan sosial. Ada lemparan-lemparan ingatan yang membawa saya ke masa-masa itu.

Apalagi di kumcer AAML ini, masa lalu menjadi kemasan. Semula saya mengira –seperti yang biasa dilakukan cerpenis terhadap kumcernya- DM sekadar mencomot satu cerpennya yang paling indah untuk dijadikan judul. Namun ternyata itu juga merupakan perwakilan dari kisah-kisah yang terangkum di buku ini.

Dari 14 cerpen yang ada, sepertinya hanya 3-4 cerpen yang beralur lurus ke depan. Selebihnya DM menyajikan masa lalu bagai sebuah menu utama. Masa lalu diletakkan sebagai sebuah titik balik, seakan penyibak tabir dari kisah-kisah yang ditulisnya. Secara jelas dapat saya rasakan bila hampir semua kisah dalam AAML memiliki alur ke belakang, ke masa lalu. Atau bila tidak: para tokoh-tokohnyalah yang bergerak ke sana: dalam pikiran atau kenangannya.

Teknik mengeksplorasi masa lalu tentu sudah biasa dilakukan para penulis. Salah satu penulis yang kerap menghidangkan masa lalu dalam tulisannya adalah Khaled Khoseini dalam And the Mountain Echoed (Qanita). Di novel itu –yang lebih suka saya sebut kumcer berbenang merah- bahkan mengelindankan masa lalunya dengan luar biasa. Bagaimana masa lalu kemudian yang menghubungkan tokoh yang satu dengan tokoh lainnya. DI sini masa lalu menjadi kunci bagi kepenasaran pembacanya.

Salah satu penulis Indonesia, Leila S. Chudori, juga pernah mengumpan masa lalu dalam 9 dari Nadira –yang kemudian disempurnakan dengan Nadira (KPG). Bagaimana ia menyicil masa lalu sedikit demi sedikit bagi tokoh-tokohnya, hingga para pembaca –terutama saya- menjadi tak sabar akan cerita selanjutnya.

Masa lalu juga yang menjadi bagian terpenting dalam cerpen-cerpen di AAML. Dalam cerpen Anak-anak Masa Lalu, masa lalu dijadikan jawaban bagi arwah yang ternyata tetap memilih menetap di tubuh Alimba. Dalam cerpen Badar Besi, masa lalu dijadikan jawaban bagi kisah tentang ajimat kebal yang ternyata dengan sengaja ‘diserahkan’ pada tukang cukur anaknya. Dalam cerpen Ambai-ambai, masa lalu dijadikan jawaban dari kisah sang ibu yang selama ini dikabarkan bekas seorang ambai-ambai –atau pelacur.

Masa lalu seperti menjadi kunci dalam setiap cerita AAML. Sehingga setiap saya membaca kisah di kumcer ini satu demi satu, saya mulai menebak-nebak, selaput apa yang ada di balik para tokoh yang diciptakan DM ini? Dan hasilnya, tebakan saya itu sebagian besar luput.

Pembacaan saya ternyata tak sampai di situ. Di bagian kecil dari kisah-kisah itu, saya seperti menemukan paragraf-paragraf yang bisa membuat saya terlempar ke masa lalu. Ini aneh, dan tak biasa. Bagaimana pun saya tak mengenal penulisnya, dan setting yang digunakan pun tak cukup sama dengan tempat saya tinggal. Tapi tentu periode waktu yang diceritakan dalam AAML, merupakan periode waktu yang juga masih cukup dekat dengan saya, seperti halnya kasus saat terjadinya Kedungombo.

Lebih dari itu, beberapa fragmen dalam AAML juga membuat saya merenungi masa lalu saya. Misalnya di cerpen Banun, cerpen yang merupakan sindiran bagi para petani yang menjual sawahnya untuk anak-anaknya bersekolah dan menjadi sarjana pertanian. Di situ Banun berupaya menghidupi dirinya dengan menanan tanaman di tanahnya sendiri. Sejak dulu, ayah dan ibu saya melakukan hal yang sama. Tentu tak sebesar itu tujuan Banun, tapi sejak dulu kami jarang sekali membeli Cabai, Tomat, dan buah-buahan seperti Mangga, Jambu Air dan Jambu Biji.

Masa lalu memang punya kekuatan sendiri. Itu karena dalam masa lalu selalu terselip kenangan. Dan siapa pun –termasuk saya- akan dengan mudah tersentuh pada hal-hal semacam itu. Walau dalam teks yang samar sekali pun.
Namun yang sedikit berbeda, masa lalu yang ditawarkan dalam AAML adalah masa lalu yang beraura muram dan murung. Kisah-kisah dalam Banun, Badar Besi, Orang-orang Larenjang, Tembiluk, dan beberapa lainnya, tak sekali pun membuat saya tersenyum. Tapi saya mencoba berpikir positif. Ini tentu karena media memang lebih menyukai cerita-cerita yang muram. Cerita yang muram lebih mudah diendapkan di hati. Efek kisah yang muram pun terasa lebih kuat dari sekadar cerita yang bahagia. Atau –mungkin- bahagia sudah menjadi milik anak-anak yang menonton Frozen, dan kita -orang dewasa- enggan merebut itu.

Saya kemudian mahfum saat mulai membaca epilog Fosil-fosil Bernyawa di Kepala Saya. Tulisan DM di akhir bukunya ini seperti menyibak kemuraman yang ada di kisah-kisahnya dalam AAML. Jejak biografis sang penulis di cerpen-cerpen ini terasa sangat kuat. DM nampaknya tak mencoba menghindari itu. Ia tak ingin sekadar menuliskan apa yang dilihat dan dibacanya saja, tapi juga menghubungkan dengan dirinya secara personal. Ini satu poin yang membuat kumcer ini menjadi kuat.

Pada akhirnya, masa lalu yang kemudian menguatkan kumcer ini. Masa lalu pula yang menyempurnakannya. Dan bagi saya sebagai pembaca yang lugu, saya akan terus mengenangnya sebagai sebuah buku yang berkali-kali melempar saya ke masa lalu.

***

Iklan