aacIni tentu tulisan yang sangat subyektif, dan –mungkin- sedikit berlebihan. Tapi harus saya tulis karena beberapa hal.
Seno Gumira Ajidarma (SGA) adalah cerpenis Indonesia yang selama 20 tahun terakhir masih saya baca cerpen-cerpennya. Tak banyak penulis senior yang bisa bertahan sekian lama. Sayangnya, beberapa cerpen SGA yang muncul di koran akhir-akhir ini, begitu dipertanyakan. Saya bisa mengerti, karena saya juga merasa cerpen-cerpen itu tak sekuat cerpen-cerpen lamanya. Namun mengingat jejak langkahnya yang panjang, saya merasa selalu bisa memakluminya. Toh, beberapa penulis seumur SGA, atau bahkan yang lebih mudah pun, nampak menurun drastis, bahkan banyak yang tak lagi menulis.
Tulisan ini mungkin lebih tepat saya arahkan buat kawan-kawan muda yang belum pernah membaca kumcer-kumcer lama SGA dan hanya membaca cerpen-cerpennya di koran akhir-akhir ini. Tentu mungkin ini terasa sedikit berani. Apalagi ada beberapa buku SGA yang belum saya punya dan belum saya baca. Tercatat buku-buku: Mati Mati Mati, Bayi Mati, Catatan-catatan Mira Sato, Manusia Kamar (walau saya punya republish-nya: Matinya Seorang Penari Telanjang), Layar Kata, dan Sembilan Wali & Syeik Siti Jenar. Namun setidaknya saya punya buku Negeri Kabut, yang selama ini banyak tak dipunyai penyuka SGA.
Beberapa bulan lalu, saya membaca 2 buku SGA yang baru, Tak ada Ojek di Paris dan Saksi Mata Pyongyang. Dua-duanya buku nonfiksi. Saya menyukai buku itu, walau secara jujur saya masih terkenang-kenang buku-buku lamanya.
Berikut adalah buku-buku SGA yang harus dibaca lebih dulu dari hampir 40 buku SGA yang sudah terbit sebelumnya. Tentu beberapanya sudah sulit didapat, namun di beberapa toko online saya masih kerap menemuinya. Tentu dengan harga spesial. Lanjutkan membaca “7 Buku Seno Gumira Ajidarma yang Harus Dibaca Lebih Dulu”