Ini hanya tulisan ringan saja…

Tumpukan-KoranHampir sebulan ini saya malas membaca cerpen, namun seperti sudah menjadi kebiasaan, saya tetap keluar rumah dan membeli koran. Sejak bertahun-rtahun lalu kebiasaan membeli koran memang sudah saya lakoni. Bahkan dulu saya menglipingnya.

Dulu, sewaktu Buletin Sastra Pawon masih di masa awal, di Rumah Sastra, Joksum koordinator waktu itu selalu membeli beberapa koran. Jadi saya selalu mampir di hari itu untuk mengetahui siapa yang dimuat minggu itu atau.
Kebiasaan itu terus berlangsung. Saat mulai menulis cerpen di koran, saya sempat berlangganan beberapa koran. Namun lama-lama saya malas membaca berita yang teratur. Saya pikir saya lebih suka membaca koran Minggu. Jadi saya putuskan hanya membeli koran di hari Minggu saja. Bila sedang semangat saya bisa membeli 5-7 koran sekaligus. Koran Tempo, Kompas, Jawa Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, dan Solopos. Bila lagi bokek, saya hanya akan membeli 3 saja.

Saya tahun tak setiap Minggu cerpen saya dimuat, tapi membaca cerpen-cerpen di hari Minggu seperti punya kesenangan sendiri. Saya tahu, sekarang ini semua bisa di akses melalui internet. Di grup Sastra Minggu banyak kawan-kawan menautkan cerpen-cerpennya, bahkan seorang kawan secara rutin membagi pdf koran-koran itu. Kadang saya juga membaca kiriman-kiriman itu. Tapi kesukaan membeli koran tetap tak pernah hilang.

Akhir-akhir ini, saya hanya membeli 4 koran saja. Koran yang harus saya dapatkan adalah Koran Tempo. Ini mungkin karena saya selalu suka cerpen-cerpennya. Jadi bila belum mendapat Koran Tempo saya akan mencarinya sampai dapat. Untuk koran lainnya, gak selalu mutlak. Bila tak ada saya bisa menggantinya dengan yang lain.

Saya amati, beberapa teman penulis di Solo tak punya kebiasaan ini. Mereka hanya membeli saat tulisan mereka dimuat saja. Tentu itu urusan dia. Hargakoran juga akhir-akhir ini memang terus naik. Tapi saya selalu ingat, bagaimana Sindo dan Jurnas mulai menghilangkan rubrik budayanya, di mana puisi dan cerpen termasuk di dalamnya. Lalu disusul Suara Karya dan Suara Pembaruan. Saya tahu, bila perusahaan koran tengah mengalami kesulitan keungan, atau minimal omset mereka turun, hal pertama yang dilakukan adalah menghilangkan rubrik budaya. Ini karena rubrik itu paling tidak disukai bagi peminat iklan. Alasan lainnya: di rubrik itu koran memberi honor penulis luar, berbeda dengan rubrik lainnya yang bisa dikerjakan wartawan mereka sendiri.

Bila membaca keluhan beberapa teman penulis yang honornya tak dbayar, saya selalu berpikir, apa koran itu sedang kesulitan keuangan? Akankah mereka menghapus rubrik budaya mereka di waktu-waktu ke depan? Semoga tidak begitu. Namun tak urung, saya menyakini kalau dalam beberapa tahun ke depan, akan ada lagi koran-koran yang menghapus rubrik budayanya.

Membeli koran setiap minggunya mungkin hanya tindakan kecil yang tak berarti. Namun entah mengapa, saya berpikir ini sedikit banyak membantu koran-koran itu bisa terus bertahan hidup. Bayangakan setiap status Sastra Minggu itu di-like hampir 200 orang, bila mereka membeli koran 2 saja setiap minggunya, tentu itu bukan jumlah yang sedikit.
Membeli koran setiap minggunya mungkin hanya tindakan kecil yang tak berarti. Namun entah mengapa, saya berpikir ini sedikt banyak membantu koran-koran itu bisa terus survives. Bayangakn setiap status Sastra Minggu itu dilike hampir 200 orang, bila mereka membeli koran 2 saja setiap minggunya, tentu itu bukan jumlah yang sedikit.
***

Iklan