CMcb5eXUAAAc3aR.jpg largeKisah misteri selalu punya pembaca sendiri. Dari yang kadarnya ringan seperti kisah thriller pembunuhan sampai pada kisah hantu-hantu pencabut nyawa, bagi saya pribad semuanya menarik. Mungkin karena saya sendiri tumbuh dengan bacaan-bacaan Alfred Hitchcock yang menegangkan. Tak hanya itu, kesukaan saya pada cerita misteri sampai pada film-film Indonesia yang dulu sering diputar di TPI tempo doeloe. Tentu yang ini kadarnya lebih berat. Horor.

Menariknya sekarang, dalam dunia cerpen yang beredar di koran, cerita-cerita misteri (dan horor tentunya)  memiliki tempat sendiri. Kalau rajin mengamati cerpen-cerpen di koran, cerita misteri selalu rajin menghampiri pembaca-pembacanya. Tentu dalam kadar yang berbeda-beda. Pihak penerbit pun rasanya, tak ragu menerbitkan kumpulan cerpen seperti itu. Bahkan di akhir tahun 2014 sampai tahun 2015 ini, cerita misteri merajai penerbitan buku-buku remaja.

Namun, bukan perkara mudah menulis cerpen beraroma misteri, apalagi horor. Mungkin seorang penulis bisa sesekali menulis cerita seperti itu, namun tak banyak yang sampai menulisnya berkali-kali.

Beberapa buku yang saya ingat mengetengahkan tema itu, tentu Sihir Perempuan milik Intan Paramadhita dan Kumpulan Budak Setan kumcer keroyokan dari Eka Kurniawan, Intan Paramadhita dan Ugoran Prasad. Saya suka kedua buku ini. Sepertinya setelah era Abdullah Harahap yang sering menulis cerita misteri horor dengan kadar hardcore, saya pikir Intan Paramadhita punya aura sendiri sebagai penulis horor yang kuat.

Tahun ini, Guntur Alam (GA) mencoba mengumpulkan cerpen-cerpen misterinya dalam kumcer Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang (Magi Perempuan) Di status-status promonya yang begitu gencar, ia lebih suka menyebut bukunya ini kumcer gothik, bukan misteri atau horor. Tentu ini sah-sah saja, walau definisi gothik sendiri masih begitu rancu, sebutan misteri dan horor sendiri memang sudah terasa jadul dan sangat biasa. Covernya pun dipilih berwarna putih, seakan mencoba menghaluskan kekelaman tema horor yang sudah dikenali masyarakat. Atau, saya mengira, GA memang sengaja memberi penanda kalau cerpen-cerpennya memang belum diposisikannya sebagai cerita-cerita misteri atau pun horor layaknya Abdullah Harahap.

Berbeda dengan 2 kumcernya yang terbit sebelumnya, kumcernya kali ini saya sambut dengan gembira. Rasanya senang, ada penulis yang memposisikan bukunya seperti itu. Tak tanggung-tanggung, GA menyajikan 21 cerpen di situ. Tentu itu bukan jumah yang ideal untuk sebuah kumcer. Dari pengalaman yang sudah-sudah, membaca kumcer yang jumlahnya di atas 15 cerpen, akan menimbulkan rasa jenuh dan bosan, sehingga cerpen2 di bagian terakhir akan dibaca dengan rasa khusyuk yang sama.

Tapi untungnya, tidak dengan Magi Perempuan. GA mampu mengeksplorasi semua unsur kegelapan yang biasa digunakan penulis misteri atau horor. Saya terus berpikir, kira-kira apa yang luput dari pengamatan GA? Tapi semuanya seperti sudah dikuliknya. Malam, kastil, darah, kunang-kunang, kematian, penyihir, mitos, dongeng, dosa, gila, vampire, psikopat, boneka mengerikan, buku-buku horor, Notradamus, sepertinya sudah digunakan semua oleh GA. Sungguh, untuk yang satu ini, GA patut diacungi jempol, sehingga nyaris tak ada kesamaan tema dan penyajian cerpen yang satu dengan cerpen yang lain. Mungkin hanya satu atau dua cerpen saja yang sedikit mirip.

Dalam Tem Ketetem, Anak Pintaan, dan Hantu Sariman, GA seperti mencoba mengorek-ngorek dongeng atau mitos di daerahnya. Nuansa Melayu atau pun Sumatra terasa, walau pun tak cukup kental. Saya pikir GA merupakan penulis yang sudah sangat berasa Indonesia. Ini tentu bisa menjadi kelemahan, namun juga menjadi kelebihan. Cerpen Tem Ketetem, saya pikir satu yang terkuat. Balutan dongeng, masa kecil dan rahasia, tentu menjadi pakem yang hebat, dan GA mampu memainkan itu dengan sangat baik.

Seperti yang biasa dilakukan Stephen King, GA juga mengekplorasi kengerian dalam diri seseorang. Dalam Lima Orang di Meja Makan dan Tiga Penghuni dalam Kepalaku, ia mencabik-cabik otak pembaca dengan lompatan-lompatan liar tokoh-tokohnya. Hantu yang paling mengerikan bagai menjelma dalam diri para tokoh, sehingga seseorang yang dihinggapi pikiran-pikiran yang begitu mengganggu, pada akhirnya mampu melakukan hal-hal yang sangat mengerikan, bahkan lebih mengerikan dengan apa yang dilakukan para hantu!

Bagian yang menurut saya paling menarik adalah saat GA mencoba membuat intepretasi kisah-kisah yang sudah ada, seperti dalam Garis Buruk Rupa dalam Cermin dan Kematian Heartfield. Saya pikir, ini adalah bagian yang paling menantang. Terutama saat GA mencoba membuat perspektif lain dari Ratu Reveland, ibunda tiri dari Snow White. GA cukup lihai menempatkan dirinya dalam sebuah kejadian besar yang sudah cukup dikenal. Dalam Tamu Ketiga Lord Byron, ia juga mencoba mengutak-atik kejadian yang kelak membuat novel Frankenstein tercipta, dengan menghadirkan seseorang lainnya dalam kisah sebenarnya. Dengan berani GA ia menciptakan karakter kecil, tidak penting dan nyaris terlupakan. Namun di karakter inilah kisah nyaris mengubah keadaan sebenarnya. Bagi penulis, konsep ini adalah yang paling aman digunakan. Saya jadi ingat saat di Borobudur Writer and Cultural Festival, di salah satu sesi, seorang penanya menanyakan pada saya (dan Seno Gumira Ajdarma saat itu); saat kami menulis novel sejarah apakah kami takut terhadap imajinasi yang merusak sejarah yang sudah ada? Jawaban kami hampir sama saat itu, yaitu: memainkan tokoh kecil di antara tokoh-tokoh besar. Tokoh-tokoh kecil inilah yang bergerak liar, sedang tokoh-tokoh besar berjalan sesuai pakem. Sesekali saja kita menggerakkannya.

Konsep ini, ternyata juga dilakukan lagi oleh GA dalam Kastil Walpole, Kotak Southcott dan Hari Tenggelamnya Van de Decken. Saya rasa di cerpen-cerpen inilah, kekuatan GA bisa terlihat. Bagaimana pun dari pada membuat cerita baru yang utuh, menginterpretasikan sebuah cerita yang sudah ada jauh lebih sulit, karena bila cacat sedikit saja, cerita akan mudah sekali dianggap gagal. Untungnya, dalam cerpen-cerpennya ini, GA terlihat sangat luwes. Saya yakin, bagi yang tak mengetahui kisah sebenarnya, pasti akan mudah masuk dalam cerita yang dirangkainya. Jadi menurut saya, ini merupakan kelebihan yang saya singgung di atas: GA boleh jadi sudah tak lagi nampak sangat Melayu, namun upayanya menulis kisah berseting asing, sama sekali tak membuatnya kagok.

Membaca Magi Perempuan menciptakan kesenangan sendiri buat saya. Di buku ini, saya bisa memastikan kematangan GA dalam tulisan-tulisannya. Saya juga merasakan sekali imajinasi GA yang tak terbatas. Tentu dari awal, karena tahu sebagian besar cerpen-cerpen ini sudah dimuat di media, saya tak terlalu berharap akan ketakutan saat membacanya. Namun desiran menegangkan cukup saya rasakan di setiap saya menyelesaikan setiap cerpen. Saya pikir tanpa harus menyebutkan nama-nama seperti sundel bolong, gundoruwo, atau pun kuntilanak, GA mampu menyajikan nuansa seperti itu. Sepertinya ia sudah merapal magi di tulisan-tulisannya.

***

Iklan