Sekitar 5 tahun yang lalu, kumcer saya, Mata Air Air Mata Kumari, di-OPMI-kan oleh Media Indonesia. Ini adalah inisiatif teman-teman goodreads saat itu, Mbak Truly Rudiono, Mbak Melodie Violane, dll. Waktu itu saya tak bisa hadir di acara itu, sehingga hanya bisa membaca review-nya di koran Media Indonesia. Senang sekali rasanya buku saya dibahas dalam 1 halaman penuh.

Tahun ini, di bulan Oktober, buku saya Halaman Terakhir, Sebuah Novel Tentang Jenderal Polisi Hoegeng   kembali di-OPMI-kan. Saya langsung meyakinkan diri untuk datang di acara itu, sewaktu Penerbit Noura menghubungi saya.

Saya berangkat di Jumat malam dan tiba di Gambir menjelang Shubuh. Mas Mun –sopir Penerbit Noura- menjemput saya dalam keadaan masih mengantuk. Saya sedikit merasa gak enak. Tapi di perjalanan, kami banyak mengobrol. Saya jadi tahu, ternyata kawan-kawan Noura yang dulu memroses buku saya, sebagian sudah tak lagi ada di Noura.

Sampai di Noura saya berencana tidur. Saat di kereta, saya memang tak bisa tidur karena lamu kereta yang terlalu silau. Namun hanya 2 jam saya tidur, karena walau hari itu hari libur, ternyata ada tukang yang sedang membetulkan kamar mandi Noura.

Menjeang jam 10.00, Mbak Truly Rudiono datang. Kami membeli beberapa buku di toko buku Noura, yang merupakan titipan kawan-kawan saya di Solo.

Setelah Mbak Ani dan Mbak Seruni –tim promo Noura- datang, kami berangkat pukul 12.00 dengan asumsi harus mencadi tempatnya lebih dahulu di PX Pavillion, Kebayoran. Tenyata kami datang terlalu gasik, sehingga harus berjalan-jalan dulu dan menunggu di Café Crematology, tempat diskusi akan berlangsung.

12 13 11 9 8 7 5  3 2 1

Menjelang pukul 15.00, kawan-kawan dari Media Indonesia mulai berdatangan. Mbak Hera, Mas Wahyu, Mas Yoyok, dll. Beberapa tamu juga datang. Nikotopia, kawan semenjak di Solo, sudah datang paling awal, disusul Andhika. Keduanya penulis skenario yang sedang menggarap Kelas Internasional di NET TV. Raafi -yang baru beberapa hari lalu bertemu dengan saya di Solo- juga datang.

Satu mengejutkan adalah kehadiran mas Bamby Cahyadi cerpenis, penulis 3 kumcer –yang terbaru Gadis Lolipop. Sebelumnya, kami memang hanya mengenalnya di fb, sehingga cukup kaget juga ia berkenan datang. Apalagi ia sama sekali tak berkabar akan datang, sehingga ketika masuk di pintu café, saya setengan memandang tak percaya.

Yang paling mengejutkan adalah kehadiran Bapak Soedharto, penulis buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan. Beliau adalah mantan sekretaris Bapak Hoegeng. Jujur saja, ini sebenarnya sedikit membuat saya keder… 😛

Diskusi

Selama diskusi, Mas Wahyu menjadi moderatornya. Setiap peserta berhak mengutarakan pendapat, kritik atau apa un itu. Tentu karena semua peserta sudah mendapat buku, yang dikirim sekitar 10 hari sebelumnya, hampir semuanya ingin memberi tanggapan. Beberapa yang saya ingat adalah:

15 16  1817 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 b 30

Mas Bamby mengawali pertanyaan dengan karakter-karakter dalam Halaman Terakhir. Ia menanyakan karakter fiksi dan karakter yang sebenarnya, dan kenapa ada karakter yang seperti hilang begitu saja di kelanjutan novel? Tentu karena ini sebuah novel, dapat dikatakan imajinasi berperan sekali. Walau begitu beberapa karakter memang merupakan karakter sebenarnya yang saya olah sedemikian rupa. Karakter Djaba Kresna sangat dekat dengan karakter Djabaruddin, yang merupakan penulis berita pertama tentang kasus pemerkosaan yang menggegerkan itu. Karena tak ingin mengorek luka lama, beberapa karakter memang harus diganti namanya. Namun saya tetap mempertahankan inisialnya. (bersambung)

foto2 dijepret oleh nikotopia

Iklan