Mas Bamby juga merasa bagian menuju ending novel Halaman Terakhir terlalu datar. Hal ini juga dirasakan oleh Mbak Silvia. Saya tentu bisa memahami keadaan itu. Saat merancang ending Halaman Terakhir saya juga merasakan hal yang sama, walau saya berusaha menutupinya. Walau bagaimana pun novel ini tetap harus saya posisikan sebagai novel biografi, di mana tokoh utama –Hoegeng- harus diceritakan sejak awal kelahirannya hingga di saat terakhirnya. Tentu ini tidak mudah. Puncak permasalah Hoegeng ada di tahun 1970 –saat 2 kasus yang saya tulis berlangsung. Ada jeda yang cukup lama sejak saat itu hingga kematiannya, sehingga perasaan pembaca setelah pemecatan Hoegeng hingga seterusnya memang cenderung menurun.

19 20 21 30 b 31 32 33  34

Mbak Silvia juga menyoroti kalau ia merasa karakter Djaba Kresna menjadi karakter paling kuat dalam Halaman Terakhir, mengalahkan karakter Hoegeng. Pendapatnya tentu tak salah. Karena saya memang mengeksplorasi karakter itu sungguh-sungguh. Namun sebenarnya saya sudah mempresentasikan masing-masing karakter dalam Halaman Terakhir. Ada 3 karakter paling kuat di situ: Hoegeng, Djaba Kresna, dan Sumaryah, dan karakter Hoegeng tetaplah menjadi karakter paling dominan di Halaman Terakhir berdasarkan prosentase.

Peserta lainnya, Mbak Vina, mempertanyakan keheranannya kenapa sebagai Kaapolri Hoegeng tak bisa mengurus dengan cepat kasus pemerkosaan yang menggegerkan itu. Ia terkesan kalah dengan Kadapol (sekarang Kapolda) Yogyakarta saat itu. Tentu jangankan Mbak Vina, saya sendiri saat meruntut kasus itu dari Koran Mertju Suar dan Minggu Pagi, cukup gemas dengan keadaan saat itu. Namun perlu dipahami kalau kasus itu melibatkan banyak orang-orang penting. Di masa itu gesekan antara polisi dan TNI begitu kuatnya, sehingga Hoegeng tidaklah mudah menuntaskannya

Catatan paling banyak diberikan oleh Pak Soedharto. Beliau telah membuat catatan berlembar-lembar dengan tulisan tangannya. Beberapa catatannya yang harus saya akui merupakan tambahan data yang  penting adalah: sebutan bagi Presiden Soekarno. Di Halaman Terakhir saya hanya menyebutnya dengan 3 gelar, namun seharusnya saya menyebutkannya dengan 5 gelar.

Kemudian perihal kedatangan Hoegeng di Cendana, di mana ia melihat mobil Soni Cahaya terparkir di sana, Pak Soedharto menegaskan pada saya bahwa Hoegeng memang melihat Robby Cahyadi di situ. Sebenarnya dalam wawancara saya dengan Mas Aditya –putra Pak Hoegeng- saya juga mendapat cerita itu. Namun setelah saya tinjau berbagai data, saya tak menemukan data valid tentang itu. Sehingga saya kemudian hanya melukiskan kisah Hoegeng melihat mobil si pelaku. Saya pikir, ini semacam pancingan imajinasi bagi pembaca apa yang sebenarnya terjadi di sana.

34 c 34 b6

  36 35

Catatan lain dari Pak Soedharto yang membuat saya sedikit berdebat adalah tentang rumah dinas Hoegeng. Pak Soedharto mengutarakan Hoegeng tak tinggal di rumah dinas, ia mengontrak rumah. Namun saya mendapat data dari buku Ramadhan KH, kalau Hoegeng tinggal di rumah dinas sekian lama. Itu adalah rumah dinas yang harus ditinggalkannya setelah dicopot sebagai kalpolri.

Sebenarnya ada beberapa pertanyaan, tanggapan dan kritik lainnya dari pembaca seperti dari Mas Aan, Mas Vicky, Mbak Hera, Mbak Vina, Nikotopia, dll. Namun ingatan saya terlalu buruk untuk mengingatnya dengan detil. Maafkan saya… 😦

foto2 dijepret oleh nikotopia

Iklan