Wanita-wanita dalam Kehidupan Hemingway

BRAND_FYI_BSFC_116472_SFM_000_2997_15_20140905_001_HD_768x432-16x9Sejak karyanya yang kontroversial ini terbit, kehidupan Hemingway berubah. Ia jatuh cinta kepada Pauline Pfeifer, seorang wanita muda kaya dari Arkansas yang bekerja di Paris sebagai editor majalah Vogue. Hadley yang mengetahui hubungan cinta suaminya memutuskan untuk menceraikan Ernest. Akhirnya Ernest Hemingway menikahi Pauline pada bulan Mei 1927. Bertepatan dengan pengesahan perceraian Ernest-Hadley itu, persetujuan terakhir untuk menerbitkan buku The Sun also Rises tercapai. Dari perkawinannya yang kedua ini, Hemingway mendapat dua orang putra. Patrick dan Gregory yang masing-masing lahir pada tahun 1928 dan 1931. Sayangnya perkawinan Ernest-Pauline tidak dapat bertahan lama, yaitu hanya sampai tahun 1940.

Akhir dari perkawinannya kali ini ditandai dengan munculnya, sekali lagi tuduhan, kali ini dari Nona Gertrude Stein bahwa Torrents of Spring selain mengkritik gaya Anderson sebenarnya juga mengkritik gaya tulisan Stein. Tuduhan Stein ini tercermin dalam karyanya The Autobiography of Alice B. Toklas. Sudah barang tentu Ernest Hemingway sangat terkejut akan tuduhan nona Stein itu. Memang Torrents of Spring sebuah karya yang kontroversial.

Begitu bercerai dari Pauline, Hemingway mengawini Martha Gellhorn sebagai istri ketiganya. Nampaknya perkawinannya ketiga inipun tidak bahagia, terutama sejak tahun 1943. Namun dari ketidakbahagiaannya ini pun, Hemingway mendapat inspirasi untuk menuangkan dalam Accros the River. Gambaran Martha ataupun kehidupan rumah tangga mereka tercermin dalam tokoh nyonya Hudson-istri sang tokoh utama dan dalam kehidupan rumah tangga keluarga Hudson.

Setelah bercerai dari Martha Gellhorn pada tahun 1946, Hemingway mengawini Mary Welsh yang dikenalnya di London pada tahun 1944. Perkawinan ini bertahan sampai Ernest menghembuskan nafas yang terakhir.

KARYA-KARYA HEMINGWAY

Hemingway-Old-Man-SeaAntara tahun 1926 dan 1952 merupakan masa-masa produktif bagi Ernest Hemingway. Karya-karya lainnya yang dapat dicatat disini antara lain Men Without Women, A Farewell to Arms, Death in The Aftrenoon, Winner Take Nothing, Green Hill of africa, To have and Have not, for Whom the Bells Tolls dan The Old Man and The Sea. Meskipun karya-karyanya ini tidak mempunyai mutu sastra yang sama, Hemingway tetap dianggap sebagai penulis Amerika termahsyur bertaraf Internasional.

The Old Man and The Sea yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Laki-Laki dan Laut” ini, mendapat penghargaan Pulitzer untuk tahun 1952. Berkat karya yang sama, Hemingway mendapat hadiah Nobel bidang kesusasteraan untuk tahun 1953 yang diumumkan tanggal 28 Oktober 1954. Pada tahun yang sama atau tepatnya tanggal 21 Juli 1954 bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 55, Ernest dianugerahi Order of Carlos Manuel de Cespedes yaitu penghargaan tertinggi yang diberikan oleh pemerintah Kuba untuk orang asing. Penghargaan ini diberikan kepada Hemingway karena ia tinggal cukup lama di negara tersebut dan berkat karyanya mengenai seseorang nelayan Kuba (tokoh utama The Old Man And The Sea adalah Santiago, seorang nelayan tua Kuba). Penyerahan hadiah ini diselenggarakan di International Yacht Club di kota Havana. Ernest Hemingway menerima ketiga penghargaan bergengsi ini 30 tahun setelah menerbitkan karyanya yang pertama, In our Time.

 PRINSIP–PRINSIP HEMINGWAY DALAM KARYANYA

Sebagai seorang yang berkepribadian kuat, Hemingway mengagumi orang yang tidak cengeng, yang tidak mudah putus asa dalam menghadapi kekecewaan dan persoalan. Menurutnya, seseorang akan berhasil bila ia menghargai kebahagiaan yang dialaminya dalam hidup, baik itu berupa kekayaan, persahabatan maupun cinta.

Prinsipnya ini tercermin dengan jelas dalam tokoh-tokoh utama karya-karyanya. Tokoh-tokohnya selalu berjiwa pahlawan, berani bertindak dan berkorban serta sering kali secara tragis menjadi korban kekejaman dunia. Tokoh utama Hemingway acap kali mengalami kekecewaan dalam bercinta, tidak puas terhadap kekacauan di dunia yang disebabkan oleh perang atau pergolakan politik. Selain itu, tokoh dalam karya-karyanya Hemingway menghadapi kematian, entah itu karena penyakit, luka-luka maupun bunuh diri, dengan penuh ketenangan dan gagah berani.

1101541213_400Mengingat bahwa Ernest Hemingway sering mengambil pengalaman dari orang–orang di sekelilingnya untuk tokoh-tokohnya, maka sering para kritikus menghubungkan pengalaman dan kematian Hemingway dengan tokohnya Nick Adams. Dalam Indian Camp dan Big Two Hearted River tergambar jelas hubungan Bapak-anak antara Dr. Adams dan Nick seperti hubungan Hemingway dengan Dr. Clarence Hamingway. Bahwa pengalaman Nick kecil melihat seorang wanita Indian meninggal ketika melahirkan menyebabkan ketidakseimbangan jiwa Nick di kemudian hari ternyata, menurut kritikus sastra, merupakan pengejawantahan dari trauma Ernest sendiri melihat kematian selama perang Dunia. Ada satu hal lagi yang tercermin dalam kisah Nick; yaitu usahanya untuk mengelak kenyataan bahwa Dr. Adams, ayahnya bunuh diri. Dan ternyata Nick sendiri juga bunuh diri. Langsung saja para kritikus sastra menghubungkan sekuen itu dengan kenyataan bahwa Dr. Clarence dan Hemingway juga bunuh diri.

Dalam salah satu wawancara pada tahun 1924, Hemingway berkata : “Tugas penulis adalah menceritakan kebenaran”. Ia telah mempercayai hal itu selama 20 tahun dan akan terus mempercayainya seumur hidup. “Saya hanya mengetahui apa yang telah saya lihat”, demikian ujarnya berulang kali. Dalam salah satu tulisannya ketika masih bekerja sebagai penulis lepas pada Toronto Star Weekly, Ernest Hemingway pernah memberi nasihat kepada seorang penulis pemula: “Masa kecil yang tidak bahagia merupakan petunjuk bahwa sebenarnya Ernest Hemingway merasa masa kecilnya kurang bahagia? Bisa jadi, mengingat bahwa Dr. Clarence merupakan ayah yang sangat otoriter.

KEMATIAN HEMINGWAY

ErnestHemingway2Setelah menyelesaikan The Old Man and other Sea, Ernest masih menciptakan 3 buah novel lainnya. Sayang ketiga karangannya ini dianggap kurang bermutu bila dibandingkan dengan The Old Man and Other Sea.

Sampai pada saat ia menyadari ia sudah terlalu banyak bercerita tentang laut. Kini, ia ingin berkisah tentang daratan tinggi. Karena itu, pada tahun 1953 ia pergi ke Spanyol, kembali ke Paris dan kemudian ke Afrika. Dalam rangkaian kunjungan karya wisatanya ini, Hemingway mengajak istri keempatnya, Mary Welsh.

Pada mulanya Mary berkeberatan karena menurutnya Afrika terlalu berbahaya. Tetapi setelah suaminya memberi alasan bahwa kunjungan itu sekaligus untuk mengunjungi putra keduanya, Patrick, yang baru membeli peternakan di Tangayika Tengah, maka akhirnya Mary pun setuju. Nampaknya, Hemingway sangat ingin mengadakan reuni “bapak-bapak” dengan Patrick.

Selama 4 bulan perjalanan safarinya ke Afrika, Hemingway sangat bahagia, ia bertemu dengan teman-teman lama, berburu, serta mengunjungi beberapa daerah yang merupakan lokasi latar karya-karyanya.

Nampaknya, perjalanan yang semula berjalan dengan baik berakhir dengan bencana. Setelah masa berburu dan bertandang ke sahabat lama berakhir, kini tiba saatnya bagi Ernest dan Mary untuk bertamasya ke taman nasional Kongo sebagai hadiah Natal Mary. Untuk, itu mereka menyewa kapal terbang Cessna 180 yang dikemudikan oleh pilot Roy marsh.

Atas permintaan kedua penumpangnya yang ingin memotret dari udara, pilot Marsh menerbangkan pesawatnya dalam ketinggian minimum. Ternyata, pilot Marsh tidak dapat mengendalikan pesawatnya. Dan akhirnya terpaksa melakukan pendaratan darurat. Kecelakaan ini cukup parah, baik bagi pesawatnya itu sendiri maupun bagi penumpang. Pesawat terbakar, Mary mengalami 2 patah tulang iga, memar dan shock, sedangkan Hemingway mengalami luka-luka parah : kerusakan hati, ginjal (akibat bentura keras), luka-luka terbuka pada lengan, bahu dan kaki serta luka pada tulang punggung bagian bawah. Menurut Mary kemudian, dari tulang tengkorak suaminya keluar darah dan cairan otak. Luka inilah yang menyebabkan Hemingway menderita untuk beberapa waktu : pandangan mata mengabur serta tuli pada salah satu telinganya.

Dengan keadaan yang separah itu, sudah sewajarnya Hemingway mendapat perawatan yang baik bahkan mungkin yang terbaik, meskipun daya tahan tubuhnya sangat mengagumkan. Oleh karena itu, diputuskan untuk membawa sang penulis besar ke Entebbe, dengan pesawat bemesin ganda De Havilland Rapide yang dikemudikan oleh pilot Kapten Reginald Cartwright, sang pasien diangkut ke Entebbe. Malangnya, untuk yang kedua kalinya dalam waktu beberapa hari saja, kapal yang mengangkut Hemingway sekali lagi terpaksa melakukan pendaratan darurat.

Setelah mengalami 2 kecelakaan pesawat dalam waktu yang berturutan, Hemingway diangkut dengan jalan darat ke Mansidi dan kemudian ke Enttebe. Pada tanggal 29 Januari, Ernest Hemingway diterbangkan ke Nairobi.

Memang kemalangan selalu datang, bertubi-tubi. Tanpa sebab yang jelas, timbul kebakaran hutan di sekitar mereka. Walaupun kondisinya masih parah Hemingway berusaha membantu seorang pemadam kebakaran. Namun ia tidak berhasil, bahkan terjebak dalam kobaran api. Ketika orang-orang berhasil menyelamatkannya, seluruh pakaian Ernest sudah mengepul. Kondisi Ernest pun menjadi jauh lebih parah dari dua kecelakaan sebelumnya. Hanya orang yang bermental baja yang dapat bertahan dari musibah seperti itu.

Selama dalam perawatan, Ernest mulai menyusun hasil perjalannya ini, dengan cara mendiktekannya dari tempat tidurnya. Pada waktu itulah diumumkan bahwa Ia mendapat hadiah nobel bidang kesusatraan berkat bukunya The Old Man and The Sea. Berhubung ia belum dapat beranjak dari tempat tidurnya, Ernest Hemingway hanya mengirimkan sambutan tertulis yang dibacakan oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Swedia pada 10 Desember, saat penyerahan hadiah akbar ini.

Ternyata, meskipun sudah berjalan 1 tahun lebih, kesehatan Ernest Hemingway belum juga pulih. Ia masih merasakan sakit yang tak tertahankan dipunggungnya dan sulit konsentrasi.

Selama tinggal di Kuba dari bulan Juni 1956, yang membuatnya merasa jauh lebih sehat, Ernest menerima tawaran sebagai penasehat dalam pembuatan film yang diangkat dari bukunya, The Old Man and The Sea. Ia bahkan ikut serta dalam ekspedisi pencarian lokasi di Peru Utara, memberikan pengarahan pada penulis skrip, serta membantu aktor Spencer Tracy memainkan peran Santiago.

Dari tahun 1956-1957, Ernest dan Mary pindah ke Madrid. Disana, dalam salah satu pemeriksaan rutin, diketahui bahwa sang penulis besar ini mengidap penyakit tekanan darah tinggi dan pada saat itu kadar kolesterolnya sangat tinggi yang dapat membahayakan jiwanya. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, dokter pribadinya menganjurkan Ernest untuk mematuhi larangannya.

Hemingway masih melakukan beberapa perjalanan. Dari musim gugur, musim dingin 1959 sampai musim semi 1960, ia menyelesaikan karyanya yang berjudul The Dangerous Summer yang mengisahkan perjalanan safarinya ke Afrika yang berakhir dengan tragedi pesawat udara. Cerita ini dimuat secara bersambung di majalah Life.

Pada awal Oktober 1960, kesehatan Hemingway kian memburuk namun pertengahan Oktober, setelah merasa agak sembuh, ia pergi ke New York selama 1 minggu. Tanggal 22 januari, ia pindah ke rumah peristirahatannya dan menetap selama dua bulan lebih di Wood River, Idaho dengan harapan ia akan sembuh dari depresi mental yang disebabkan oleh hipertensinya yang semakin buruk. Ternyata, kondisi Ernest semakin memburuk. Ia semakin merasa tertekan setelah menyadari bahwa daya ingatnya semakin menurun dan mendengar kematian sahabatnya lamanya Gary Copper karena kanker. Ernest mencoba bunuh diri sebanyak 2 kali.

Setelah berkali-kali dirawat dirumah sakit, pada tanggal 25 Juni 1961 Hemingway memutuskan untuk menetap di rumahnya di Idahoo. Di sana, hari Minggu pagi, 2 Juli 1962, tanpa sepengatahuan istri dan teman-temannya, Ernest masuk ke ruang dimana tergeletak senjata-senjata berburu mereka. Dengan salah satu pistol berburu itulah, Ernest Hemingway mengakhiri hidupnya. Berita kematian dan obitorinya di muat di halaman muka surat kabar di seluruh dunia.

dari berbagai sumber

Iklan