PEMBACAAN BUKU SASTRA ok Selama ini saya tak pernah membuat catatan atas buku-buku yang sudah saya baca. Tapi karena acara Pawon –Pertanggungjawaban Pembacaan Buku-buku Sastra Selama 2015- yang diadakan tanggal 10 Januari 2016 di rumah saya, saya jadi terpaksa membuat tulisan ini… 🙂

Tahun ini, Seno Gumira Ajidarma mengejutkan dengan merilis 2 bukunya. Jejak Mata Pyongyang dan Tak Ada Ojek di Paris. Memang bukan kumcer, namun membaca Seno tetap saja menyenangkan. Apalagi buku Jejak Mata Pyongyang. Di situ kehebatan Seno sebagai fotografer bisa kita lihat. Sayangnya, saya tetap lebih menyukai narasi-narasi yang dibuatnya. Walau narasinya hanya beberapa lembar saja dengan ukuran font seperti ukuran catatan kaki, tapi kisah-kisah kecil di situlah yang membuat buku ini menjadi menarik. Sedangkan buku satunya, Tak Ada Ojek di Paris, merupakan tulisan kolom Seno di beberapa majalah, terutama Majalah Jakarta-jakarta. Detail tulisan untuk 2 buku ini sudah pernah saya posting sebelumnya. Bisa cek di sini.

Yang menyenangkan saya tanpa sengaja saya mendapat kumcer Negeri Kabut di salah satu toko online. Walau sebenarnya tak jauh berbeda dengan kumcer-kumcer Seno lainnya, buku ini menggenapi kumcer-kumcer Seno yang saya baca. Selain itu, novel Negeri Senja juga dicetak ulang lagi. Dulu buku ini terlewat saya beli, untunglah sekarang bisa saya baca. Buku ini saya pikir mengukuhkan Seno sebagai pemilik senja, jauh sebelum ia menulis Sepotong Senja untuk Pacarku.

Dua buku Sapardi Djoko Damono juga saya baca. Jujur saja, sebenarnya saat membaca novel Hujan Bulan Juni, saya berpikir tak akan membaca novel Sapardi yang lainnya. Tapi karena adanya acara bedah buku Suti di Balai Soedjatmoko, saya terpaksa membacanya, karena kawan-kawan lain heboh membicarakannya. Tentu Suti lebih bisa lebih dinikmati dari pada Hujan Bulan Juni, walau tentu tema yang diajukan Sapardi, sudah sering digarap penulis lain.

Saat menjadi pembicara di #bincangsastra Solopos FM bertema Abdullah Harahap, saya membaca Misteri Kalung Setan, Penunggu Jenasah dan Manusia Serigala. Dulu saya sudah membaca Abdullah Harahap semasa remaja. Tapi beberapa cerita tak lagi saya ingat. Dari ketiganya, satu yang paling bagus adalah Penunggu Jenasah. Keberanian Abdullah Harahap bisa dilihat di sini dengan membuat mitos baru, tentang orang berisi yang harus menjaga jenasah orang yang mati dengan tidak biasa.

Beberapa kumcer yang saya baca: Anak-anak Masa Lalu karya Damhuri Muhammad, Cinta Tak Pernah Tua karya Benny Arnas, dan Magi Perempuan dan Kunang-kunang karya Guntur Alam (detil ulasan bisa diklik di masing-masing judul) Saya juga membaca Semua untuk Hindia. Ini memang sedikit terlambat, karena saya merasa saat buku ini terbit, saya sudah membaca cerpen-cerpennya yang hampir seluruhnya pernah dimuat di Koran Tempo. Selain itu, ada satu kumcer terjemahan yang juga saya baca. Judulnya Matinya Burung-burung, cerita sangat pendek Amerika Latin. Tapi buku ini tak terlalu berkesan buat saya.

Saat acara Diskusi Terbuka Orhan Pamuk. Saya menyelesaikan White Castle, yang tertunda sekian lama. Saya juga menyelesaikan Istambul. Tulisan detailnya bisa dibaca di sini.

Beberapa novel yang saya baca adalah 100 Year Old Man Who Climbed Out Of The Window And Dissapeared milik Jonas Jonasson. Novel ringan, dan lucu. Walau tak terlalu istimewa, tapi saya cukup terhibur. Jarang-jarang membaca cerita yang tidak muram. Buku ini seperti oase kegembiraan… 🙂

Novel lainnya adalah: Manusia Harimau karangan Eka Kurniawan. Dan rupanya di awal tahun, saya juga sudah membaca Seperti Dendam Rindu pun Harus Dituntaskan. Kedua novel ini tentu begitu berbeda. Seperti langit dan bumi. Saya ikut bangga novel Manusia Harimau bisa diterbitkan ke berbagai negara. Membacanya seperti bukan membaca novel dari penulis Indonesia. Harus diakui, Eka Kurniawan memang salah satu penulis terkuat di negeri ini. Kumcer Eka Kurniawan terbaru, juga saya sempat saya baca Perempuan Patah Hati yang kembali menemukan Cinta. Saya pikir naskah ini yang seharusnya memenangkan Kla tahun ini.

Untuk bekal diskusi Pawon tanggal 23 Januari nanti: Bicara 4 Novel Pemenang DKJ 2014, saya membaca Di Tanah Lada, Puya ke Puya, Kambing dan Hujan dan Napas Mayat. Detail tulisan tentang keempat novel ini akan saya buat sendiri.

Saya juga membaca buku-buku puisi tahun ini. Yang pertama tentunya Don Quisote karya Gunawan Muhammad. Dua buku WS Rendra yang diterbitkan Bentang juga saya baca. Doa untuk Anak Cucu dan Puisi-puisi Cinta. Keduanya sederhana dan mudah dipahami. Saya juga membaca dua buku puisi favorit saya yang saya pikir layak mendapat Kla. Kematian Kecil Kartasuwiryo milik Mas Triyanto Triwikromo dan Surat Kopi milik Mas Joko Pinurbo. Siapa pun yang menang, saya ikut gembira… 🙂

Selain novel, kumcer dan puisi saya juga membacabuku non fiksi. Yang pertama adalah Geger Pacinan – Daradjadi. Saya juga membaca I am Malala tulisan Malala sendiri bersama Chritiana Lambs. Buku Centhini karya Inandeak juga saya sikat. Walau tak saya baca secara runtut, karena beberapa bagiannya sudah pernah saya baca. Buku Hamengkubuwono IX –Tempo, Tokoh dan Pokok – Gunawan Muhammad juga saya baca. Namun dari semua itu, buku non fiksi yang menjadi juara tahun 2015 ini adalah Pulau Run karangan Giles Milton. Ah, beruntunglah masih ada Penerbit Alvabet, pilihan buku-bukunya memang keren.

Untuk komik saya membaca beberapa. Yang paling saya suka adalah trilogi Kitchen. Ini novel grafis karya Jo Joo Hee. Menyenangkan, walau cerita-ceritanya sederhana. Namun membaca bacaan kuliner yang langsung digambar dengan tangan, tetap akan membuat takjub.

Sepertinya itu saja yang saya ingat. Beberapa buku masih menumpuk di sebelah pembaringan saya. Sebagian sudah saya baca sedikit, yang lain sudah saya baca lumayan. Semoga tahun saya bisa menyelesaikan semuanya.

***

Iklan