Saat menjadi anggota Goodread Indonesia, ada satu tema diskusi yang cukup menarik, yaitu: menilai buku pertama seorang penulis. Saya jadi teringat pada buku pertama saya.

Sejak kanak saya sudah menulis. Tapi keinginan membuat buku belum terlintas sama sekali kala itu. Keluarga saya tak ada yang menulis. Teman-teman sepermainan saya pun begitu. Jadi saya tumbuh sendiri dengan ketidakmengertian.

Untunglah di saat kuliah saya bertemu teman yang juga suka menulis. Walau satu, tapi ini sudah cukup lumayan. Karena kuliah saya yang ada di jurusan teknik, membuat keinginan untuk menulis adalah keinginan nomor sekian.

Hingga suatu kali, saya melihat sebuah buku kumpulan cerpen. Entah mengapa, saat itulah saya mulai berpikir untuk mengumpulkan cerpen-cerpen saya yang saat itu banyak dimuat di majalah Hai.

Maka setelah mencoba mengumpulkan cerpen-cerpen itu, saya pun mengirimkannya ke Balai Pustaka. Dan hampir 1,5 tahun kemudian buku itu pun terbit.

Momen itu masih begitu kekal saya ingat. Kejadiannya cukup dramatis. Saat itu saya tengah ada di Jogja, seorang teman kost di Solo mengabarkan saya mendapat paket buku dari Balai Pustaka.

Sebenarnya saya cukup heran, kenapa begitu mendadak? Saya bahkan belum menandatangani surat perjanjian apa pun. Saya jadi begitu penasaran. Namun karena saat itu telah malam, saya tak bisa langsung ke Solo. Malam pun menjadi sulit melelapkan saya. Hingga akhirnya ketika jam 4 pagi, saya pun memutuskan untuk pulang ke Solo.

Dan dua jam kemudian, saya pun memegang buku pertama saya. Walau saya sangat kecewa melihat covernya, tapi kebahagiaan saya benar-benar tak terbantahkan.

Sejak itu saya berpikir untuk terus menulis buku. Saya merasakan sensasi yang meluap setiap kali buku saya terbit. Melihat covernya, membaca nama saya di sampul, melihatnya berjajar di rak di toko buku, sungguh sesuatu yang luar biasa. Bahkan sampai kini, sensasi itu tak juga berkurang.

Saya selalu berharap sensasi ini juga dapat dirasakan semua penulis, terutama yang saya kenal. Terlebih sekarang keadaan telah begitu berbeda. Banyak workshop kepenulisan, buku-buku penunjang kepenulisan, dan munculnya penerbit-penerbit baru. Satu hal lagi yang semakin memudahkan: pembaca dapat langsung menghubungi penulis di internet. Mereka dapat bertanya-tanya segala hal tentang kepenulisan, bahkan pertanyaan paling remeh sekali pun.

Semuanya terasa lebih mudah dari saat saya mulai merintis. Tapi entah mengapa, walau dengan segala kemudahan itu, saya sepertinya tetap merasa sedikit saja menemukan penulis-penulis baru muncul. Yang lebih banyak ditemui adalah orang-orang yang semula sangat getol menulis, namun perlahan-lahan mulai mundur selangkah demi selangkah.

Saya harap, ini bukan karena profesi penulis yang semakin tak menjanjikan. Karena apa pun alasannya, pilihan hidup yang cuma sekali ini, saya pikir perlu dikekalkan dengan buku.

Iklan