IMG20160327110411Saat menulis tulisan ini, saya benar-benar tak tahu apa tujuan saya menulisnya. Mungkin saya sekadar ingin pamer, atau  hmmm, bisa dikatakan meralat sesuatu. Ceritanya, beberapa bulan lalu, karena ada diskusi buku di rumah saya, foto-foto diskusi itu menyebar. Seorang kawan memposting lagi foto-foto itu dengan menyebut kalau buku-buku yang menjadi latar foto-foto itu adalah buku-buku koleksi saya. Padahal bukan. Itu sekadar komik-komik bekas taman bacaan saya yang sudah kukut 2 tahun lalu.

Sebenarnya, ada satu ruang yang saya khususkan sebagai ruang buku. Dulu saya berencana menjadikan ruang itu ruang literasi saya. Membaca dan menulis pun rencananya di situ. Tapi sampai sekarang ternyata rencana itu tak pernah bisa diwujudkan. Karena saya merasa lebih nyaman membaca dan menulis di kamar tidur saya.

Di ruang buku itu ada 3 rak buku dan sebuah meja jepang. Rak terbesar saya pesan khusus beberapa tahun lalu, saat saya memutuskan pindah ke rumah ini. Saya lupa persisnya di mana tempatnya, namun yang pasti tak jauh dari laundry milik mantan saya. Garapannya rapi, dan harganya gak mahal. Sayangnya, beberapa tahun lalu, sudah diserang rayap. Bagian bawahnya sebagian sudah hancur.

Di rak itu, ada 2 sisi kaca di kiri dan kanannya. Yang sebelah kiri saya khususkan untuk buku dari kawan-kawan sesama penulis, atau buku-buku hadiah, atau buku-buku yang ditandatangani oleh penulisnya saat bedah buku. Sisi satunya,  adalah untuk buku-buku yang saya tulis.

Rak kedua, awalnya saya posisikan buat kumcer dan komik-komik kesukaan saya. Yang pasti Urasawa Naoki dan Adachi Mitsuru ada di situ. Juga komik yang paling saya sukai The Legend of the Wind dan Pedang Tujuh Bintang. Namun  pada prakteknya beberapa buku lain pun masuk di situ.

Rak ketga banyak berisi novel-novel grafis, majalah-majalah, juga buku-buku yang tak tertampung di 2 rak sebelumnya.

Meja Jepang saya merupakan warisan dari kawan saya Anton WP. Bentuknya yang dilapisi kertas kado, masih sama seperti dulu. Di situ saya pajang souvenir-souvenir dari kawan atau pun yang saya beli sendiri. Koleksi koin saya juga ada di situ.

Selain ketiga rak itu, saya masih memiliki 5 kontainer berisi: novel-novel tebal yang sudah dibaca, bundel-bundel majalah yang memuat tulisan saya, koran-koran yang memuat tulisan saya, dan bundel komik-komik di era Tony Wong. Yang terakhir ini bekas taman bacaan saya, yang tak tega buat saya jual.

Barulah setelah koleksi-koleksi itu, ada rak buku berisi komik-komik bekas taman bacaan saya di ruang depan. Kalau kamu suka komik, mampirlah ke sini. Mungkin bisa ada yang kamu bawa pulang nanti.

***

Iklan