Ada banyak film tentang penulis dunia. Awalnya saya ingin membuat posting tentang film-film yang wajib ditonton bagi penulis, tapi rasanya itu terlalu luas. Jadi kemudian saya bagi saja menjadi 2: yang pertama tentang film-film yang mengangkat penulis-penulis dunia, yang kedua adalah tentang film-film yang wajib di tonton para penulis, atau yang berkeinginan menjadi penulis.

Ini yang pertama lebih dulu…

 

Brigh Star (2012)

bright_starWalau judulnya indah, tapi ini adalah film yang muram. Entah kenapa saya begitu suka dengan film ini. Ini kisah tentang penyair besar John Keats, yang puisinya beberapa kali pernah saya baca. Walau belum ada buku puisinya secara khusus diterjemahkan, tapi satu-dua puisinya banyak termuat dalam antologi bersama.

Film ini fokus pada bulan-bulan sebelum John Keats meninggal. Adalah Fanny Brawne (diperankan Abbie Cornish) yang jatuh cinta pada John Keats (diperankan Ben Whishaw), setelah ia mendapatkan buku kumpulan puisi, Endymion. Tapi cerita kemudian tak bergulir sesederhana itu. Awalnya John tak tertarik dengan Fanny. Bagaimana pun keduanya memiliki sifat yang berbeda. Fanny adalah seorang fashionita sedangkan John tak menyukai dunia glamour itu.

Namun pada akhirnya cinta bersemi. Tapi keadaan tak semulus itu. Kondisi keduanya yang tak memiliki cukup uang, ditambah kedua keluarga mereka sepertinya ada dalam posisi tak ingin keduanya bersatu. Tapi di sini kekuatan cinta keduanya diuji.

Saya petikkan satu puisi John, Bright Star, yang sempat pula ditulisnya di salah satu surat untuk Fanny.

Bright star! would I were steadfast as thou art—/ Not in lone splendour hung aloft the night / And watching, with eternal lids apart, / Like nature’s patient, sleepless Eremite, / The moving waters at their priestlike task / Of pure ablution round earth’s human shores, / Or gazing on the new soft-fallen mask / Of snow upon the mountains and the moors— / No—yet still steadfast, still unchangeable, / Pillowed upon my fair love’s ripening breast, / To feel for ever its soft swell and fall, / Awake for ever in a sweet unrest, / Still, still to hear her tender-taken breath, / And so live ever—or else swoon to death.

Becoming Jane (2007)

c5037ed4a9d1cf09d6392f526fa6d751Sekarang kita ada di masa buku-buku Jane Austeen tengah memenuhi toko-toko buku. Hampir semuanya dicetak ulang, oleh beberapa penerbit lagi. Mungkin karena sudah public domain, penerbit dengan mudahnya mencetaknya lagi. Tapi alasannya tentu tak sekadar itu, kekuatan tulisan Jane memanglah tak lekang sepanjang jaman.

Sepanjang hidupnya Jane Austeen hanya menulis 6 novel. Jangan dibayangkan menulis novel seperti sekarang, Jane hidup di Inggris abad pertengahan, ketika nyaris tak ada penulis perempuan. Di dunia seperti itu ia mulai menulis.

Kisah film Becoming Jane berkisah pada kehidupan Jane Austeen (diperankan Anne Hathaway) sebelum ia menulis novel. Sejak dulu ia memang sudah suka menulis, dan di lingkungan keluarganya sudah dikenal sebagai penulis, sehingga bila ada cara-acara keluarga, ia akan didapuk untuk membacakan tulisannnya.

Suatu saat, munculah Thomas Lefroy (diperankan James McAvvoy) di kota itu. Tom dikenal sebagai pemuda yang bebas, santai, dan seenaknya sendiri. Itu alasan ia dipindahkan ke kota kecil ini oleh pamannya yang selama ini membiayainya. Di awal-awal pertemuan, Jane dan Tom nampak tak akur. Jane bahkan menulis kalau Tom adalah laki-laki yang tak sopan, dan kasar. Tapi pada akhirnya, pada laki-laki seperti itulah Jane jatuh cinta.

Tom memberikan pandangan-pandangan baru pada Jane. Ia bahkan mengajak Jane menemui penulis perempuan yang tinggal di London. Tapi upaya cinta keduanya tak berjalan lancara. Keduanya terlibat akan perjodohan. Perjodohan yang dianggap akan menyelamatkan keluarga yang nyaris bangkrut. Di saat-saat seperti inilah, Jane dan Tom memutuskan untuk melarikan diri.

Saya tentu tak ingin menceritakan endingnya. Karena itu bisa menjadi spoiler. Tapi kisah Becoming Jane memang bukan cerita yang gembira, walau dalam satu dialog anatar Jane dan salah satu saudara perempuannya, Jane berkata, kalau cerita yang akan ditulisnya nanti akan memiliki ending yang bahagia. Saya merasa ia seakan hanya ingin mengaburkan kisah hidupnya yang pahit…

The Golden Era (2014)

The-Golden-Era__8Ini salah satu film tentang penulis yang paling saya sukai. Kisah tentang Xiao Hong, penulis perempuan paling ternama di China. Ini ungkapan yang dilontarkan Lu Xun, penulis besar China yang juga menulis buku Catatan Harian Seorang Gila. Lu Xun bahkan mengatakan ini, jauh sebelum Xiao Hong terkenal.

Dari awal saja, film ini sudah terasa kemuramannya. Xiao Hong (diperankan Wai Tang) menjadi anak yang tak dicintai ayahnya. Maka sejak muda ia sudah memberontak, terutama pada upaya perjodohan keluarga. Xiao Hong memilih kawin lari. Di masa itu seorang perempuan yang kawin lari akan begitu dikucilkan. Tak hanya dirinya, tapi juga keluarganya, bahkan keluarga laki-laki selanjutnya. Jadi hanya laki-laki yang berani menganggung itu saja yang berani mendekatinya. Tapi ternyata tak ada laki-laki seperti itu. Laki-laki terakhir meninggalkan Xiao Hong dalam kondisi hamil. Ini membuatnya tak bisa meninggalkan hotel itu karena berhutang terlalu banyak. Untunglah kemudian ia mengirim surat pada redaksi majalah sastra di kota itu. Di situlah ia kemudian bertemu dengan Xiao Jun (diperankan Shiaofeng Feng), yang juga seorang penulis.

Pada akhirnya keduanya menjadi pasangan penulis yang sering dibicarakan di China. Tapi cerita tak hanya di situ. Film ini hampir 3 jam, mengelupas semua kisah Xiao Hong tiap jedanya. Terutama bagaimana ia dan suaminya harus bersembunyi karena konflik politik sidambung dengan serbuan tentara Jepang ke China.

Saya pikir film ini bukan film yang mudah. Alurnya maju dan mundur begitu cepat. Terlewat 1 menit saja, ada bagian yang hilang. Namun yang paling saya ingat adalah bagian endingnya. Sepenuhnya kesedihan. Ya, walau Xiao Hong hanya hidup sampai umur 31 tahun saja, kisahnya begitu berliku, seakan ia hidup ratusan tahun.

Sayang, setelah mencari-cari puisi The Golden Era yang ditulis Xiao Hong dalam suasana yang menyedihkan, saya tak berhasil-berhasil juga menemukannya. Adakah kawan yang bisa membantu?

Quills (2000)

1446394634_574132_fQuills adalah salah satu film yang sudah lama sekali saya tonton tapi masih saya ingat alur ceritanya dengan baik. Film ini merupakan kisah dari Marquis de Sade (diperankan Geoffrey Rush). Saya pikir ia adalah penulis paling berani yang pernah ada di muka bumi ini.

Kisah dimulai di masa yang disebut sebagai Reign of Terror.  Saat itulah de Sade menulis cerita-cerita cabul yang penuh erotisme. Tentu tulisan ini dianggap merendahkan manusia, sehingga para kaum aristokrat dan pihak gereja yang berwenang memutuskan memasukkan de Sade ke dalam Rumah Sakit Jiwa di Charenton.

Namun, di sini de Sade tak berhenti manulis. Buku-buku cabul terus terbit. Ternyata diam-diam ia bekerja sama dengan salah satu perempuan yang bertugas mencuci baju di rumah sakit jiwa itu, Madeleine (diperankan Kate Winslet). Padahal di penjara, kepala sipir sudah sangat mengistimewakan de Sade. Ruangannya tak dicampur dengan penghuni penjara lainnya, dan ia pun masih dapat berpakaian aritokrat seperti biasanya. Kepala rumah sakit jiwa itu hanya berharap agar de Sade tak lagi menulis cerita. Tapi upaya ini ternyata selalu gagal. Bagi de Sade selalu ada cara untuk menulis. Maka pada akhirnya kepala penjara memerintahkan mengisolasi de Sade. Ia dikurung seorag diri tanpa pakaian selembar pun…

Marquis de Sade tentu bukan karakter penulis yang patut dicontoh.. 😛 Tapi kegilaannya menulis dalam kondisi apa pun, adalah satu itu perlu ditiru.

The Hours (2012)

Cover2Mungkin ini adalah film yang paling sering dihubung-hubungkan dengan penulis dan dunia menulis. Saya sih sepakat saja. Film ini memang istimewa.

Sebagian kawan menyebut film ini adalah film tentang Virginia Wolf, tapi sebenarnya ada 3 karakter kuat di film ini, berikut 3 alur dari masing-masing karakter. Inilah yang membuat kenapa film ini selalu menjadi conton paling sempurna film tentang penulis dan dunianya, karena di film ini menyangkut 3 hal sekaligus: penulis, karakter dalam buku, dan pembaca.

Namun karena sudah banyak yang mengulas, kalian search blog lain saja yaaa… 😛 Yang pasti, nuansa film ini begitu muram, saya tak ingat apakah saya sempat tersenyum di sepanjang film ini. Aaah, kenapa film-film tentang penulis ternama ini selalu muram ya?

Sebenarnya ada beberapa film lainnya, misalnya The Raven (2012), kisah tentang kematian Edgar Allan Poe. Atau The Diving Bell and the Butterfly (2007), ini film tentang Jean Dominique Bauby, penulis yang menderita stroke berat. Atau juga Capote (2005), Kafka (1991), Hemingway and Gallhorn (2012),dsb. Kalian bisa menontonnya, siapa tahu ada yang bisa menjadi favorit lainnya…

Iklan