Bagaimana sebuah cerita bermula?

Pernah mencoba menjawabnya dengan runtut?

6826145_e5169bad-cbbd-4099-9021-2f8ec2952947 Dulu, saya punya seorang kawan yang selalu ada dalam mood buruk. Bicara dengannya sungguh merepotkan. Ia selalu jadi anomali di antara kawan-kawan yang lain. Kadang saya sampai berpikir: ia adalah si penghancur kegembiraan. Saat semua kawan sedang  gembira akan sesuatu, ia muncul dengan ekspresi wajah yang datar. Tentu, kawan saya itu bukan penulis, bukan pula pencerita, tapi saya pikir ia adalah obyek cerita yang baik. Herannya, saya tak pernah bisa menulis apa-apa tentangnya. Yang bisa saya tulis hanyalah percikan-percikan kisah-kisah kecil tentangnya. Tak ada yang benar-benar jadi sebuah cerita yang utuh. Namun selang beberapa tahun kemudian, cerita-cerita kecil yang saya corat-coret di buku catatan saya itu, bisa membuat saya terlempar ke cerita-cerita besar dengannya. Anehnya, cerita itu seperti menjadi lebih besar dari seharusnya.

Saya pikir fiksi mini dibuat dengan tujuan –atau harapan- seperti itu. Sebenarnya saya sendiri bukan tipe penyuka cerita-cerita mini. Sepertinya hanya 2 mini yang asyik: Mini Mouse dan rok mini. Tapi tentu bukan fiksi mini Saya lebih suka cerita yang panjang. Karena cerita yang pendek, punya kecenderungan sama dengan cerita lainnya. Walau saya tahu membuat fiksi mini, walau nampak mudah, sebenarnya lebih sulit dari yang dikira.

Membuat fiksi mini butuh kosentrasi di setiap kalimat, bahkan kata. Tak bisa dibuat seadanya. Ini jauh lebih sulit dari membuat paragraf pertama. Dengan sajian kalimat yang minim, pembacalah yang diharapkan menyusun cerita. Pembaca dituntut menjadi pembaca yang tak malas. Pembaca yang mau merenung sejeda-dua jeda.

Awalnya saya mengira para pembuat cerita fiksi mini membuatnya cerita karena gelontoran ide yang bejibun di kepalanya. Namun tak semua sanggup diolahnya menjadi cerpen dan novel. Karena kadang ide-ide itu terlalu sederhana, bahkan masih berupa embrio. Tapi mulai setahun belakangan ini, pikiran itu sepertinya tak bisa saya yakini sepenuhnya. Itu sama seperti ketika saya mulai membaca Bersepeda ke Neraka karangan Triyanto Triwikromo (TT).

Membaca buku terbitan KPG ini tergolong cukup lancar. Banyak kisah menarik dan kekhasan TT yang sudah saya kenali sejak lama. Namun entah mengapa, cerita yang terlalu pendek, yang terdiri dari 1-2 kalimat saja, seperti masih terlalu umum untuk dikenali, pun tak bisa benar-benar membuat imajinasi saya berkeliaran. Seperti cerita Setelah Pengeboman Paris berikut ini: Gerimis darah turun di Paris. Malaikat menangis. Malaikat menangis. (hal. 163) Atau cerita berjudul Agama. Jika bunuh diri menjadi agama paling cocok, siapakah tuhanmu? (hal. 46) Saya merasa lemparan imajinasi saya masih terlalu luas dan umum. Sepertinya saya memang butuh hantaran cerita yang cukup untuk membuat imajinasi saya berkeliaran ke mana-mana. Selayaknya pesawat, harus ada landasan yang cukup panjang untuk terbang. Di cerita-cerita yang lebih panjang, barulah imajinasi saya terusik. Saya dapat melihat keliaran imajinasi TT, seperti selama ini yang saya kenali.

Satu kisah yang paling saya sukai adalah kisah berjudul Jawa. Sejarah memang menjadi sumber inspirasi yang kuat bagi TT. Dalam keseluruhan buku ini, satu benang merah yang paling mencolok adalah memang sejarah. Namun dalam Jawa, unsur mitos terasa lebih kuat. Jawa penuh dengan dialog tak-tek tak-tek. Kekuatan narasi TT  yang biasa ditemui di cerpen-cerpennya selama ini, dapat ditemukan di sini. Kisah Ajisaka saat menemukan hanacaraka tentu sudah banyak diketahui orang. Tapi tak pernah ada yang menulisnya dengan detail dan begitu terbuka. TT mencoba mengulik kisah itu dengan sangat dalam. Ada keliaran dialog. Ada rima yang samar, walau bila dipetakan TT tak sedang berima-rima. Coba saya petikkan sebagian:

……

Kau bersedih. Kau bertanya, “Kika hujan mati, apakah aku mati?”

“Jika hujan mati, kau harus menggali kubur di awan.”

“Jika kubur terlalu pendek?”

”Kau harus menyambung dengan sembayang sepanjang zaman.”

“Jika samudra kehilangan air?”

“Kau harus mencari embun.”

“Kalau embun membeku?”

“Kau harus menghancurkannya dengan kapak.”

“Jika kapak tumpul?”

“Kau harus membuang kapak itu ke sungai.”

“Jika sungai berlumpur?”

“Berbahagialah.”

“Mengapa?”

“Karena kau menemukan telur.”

“Apa istimewanya?”

“Pecakan telur itu kau akan menemukan rahasia semesta.”

……

Kisah-kisah paling menarik adalah kisah dalam bab Kisah. Saya tak tahu kenapa mesti ditambahi kata-kata: Kisah-kisah kecil Semarang. Membaca 10 kisah di sini, ingatan kita memang langsung tertuju pada Semarang. Selain ada judul-judul yang langsung to the point pada kata Semarang, ada hal-hal yang langsung mengingatkannya pada semarang, semisal: Cheng Hoo, pabrik gula, dll.

10 Kisah dalam bab ini menurut saya adalah kisah-kisah paling kuat di antara seluruh buku. Saya mendapati percikan data-data sejarah di situ. Misal dalam cerita Cheng Ho untuk Kaisar Ming pada 1413 yang Wangi. Ini merupakah kisah Cheng Ho pada junjungannya Kaisar Ming. Ini petikannya yang menarik: “Mereka mengubang nama Ong King Hong sebagai Kiai Juru Mudi, Kaisar. Mereka belajar  bersujud, mencari ikan, dan berdagang. Mereka bersama-sama anak- cucu kita membangun penggilingan gula, menjual garam, candu, rotan, dan segala arak… Mereka tetap setia padamu, Tuan. Mereka bersujud pada Allah, tetapi tak akan pernah meninggalkanmu…”

Atau kisah Surat Thomas Karsten untuk Penguasa Gemeente yang Tak Pernah Dipublikasikan. Ini cerita tentang arsitek ternama di masa kolonial. Perancang bangunan-bangunan penting di beberapa kota besar di Jawa, khususnya di Semarang. Pasar Jatingaleh, Pasar Randusari, Pasar Johar,  dll adalah beberapa hasil karyanya. Ada petikan yang cukup emosional di cerita ini:

……

Aku tak percaya kita mengenang apa pun yang kita miliki pada masa lalu, Tuan, karena kita gila pada keindahan masa depan.

……

Aku tak percaya kita masih ada jika kita tak merawat kenangan kita, Tuan.

……

Apakah kau percaya pada keindahan kenangan, Tuan?

……

Di tangan TT sejarah jadi semacam jelly. Digigit- gigit ke sana ke mari, namun tetap terasa enak. TT pandai mencari bagian paling emosional, atau –ini sedikit berlebihan- bagian paling sakral dari sebuah cerita. Saya jadi seperti langsung dapat menemukan intisari cerita itu yang sesungguhnya.

Dari membaca cerita-cerita di bab Kisah inilah, keyakinan saya tentang konsep cerita-cerita mini yang merupakan percikan ide-ide awal seorang penulis, nampaknya mulai goyah. Entah kenapa, saya mulai berpikir kalau cerita-cerita mini ini bisa jadi merupakan kristalisasi dari sebuah cerita besar yang sebenarnya sudah bergerak seluruhnya –sekali lagi: seluruhnya- di kepala TT?

 

Humor

Kemuraman memang masih terasa dominan di Besepeda ke Neraka. TT fasih menceritakan kematian, dunia sepi, keanehan, dunia gelap, keliaran, dll. Tapi ada satu yang mungkin jarang dibicarakan: sesekali TT tak lupa menyelipkan satu-dua cerita humornya. Dalam tulisan Epilog Pembaca yang ditulis Tia Setiadi, ia menjabarkan beberapa cerita humor dalam buku ini. Saya punya cerita humor pilihan saya sendiri. Tentu jangan berharap membacanya akan membuat terbahak-bahak. Satu senyum tipis saja, saya pikir sudah cukup.

Richard (kelak novelis ini ebih suka belajar ilmu kimia) sedang menceritakan tokoh barunya kepada editor. “Tokohku tak berkepala.”

“Kala begitu kau tidak pernah akan mengatakan apa-apa kepada pembaca, dong.” (Tokoh Cerita, hal. 107)

Membaca Bersepeda ke Neraka seperti membaca kisah-kisah yang tak selesai. Imajinasi seperti tak mampu berhenti begitu saja setelah menyelesaikan halaman terakhirnya. Sungguh, satu buku yang membangkitkan pengalaman baca yang berbeda.

Iklan