okSaya mungkin beruntung, selain membelikan buku di toko buku secara teratur, papa saya juga yang mengantar saya ke sebuah taman bacaan untuk meminjam buku. Saat itu, saya sedang tergila-gila dengan Khoo Ping Hoo, dan hanya di taman bacaan saya bisa mendapati buku itu. Saya ingat, di saat-saat itu pula, sepertinya saya mulai punya kebiasaan menabung untuk membeli buku. Buku-buku incaran saya waktu itu adalah Trio Detektif san STOP.

Saya merasa, saya ini merupakan generasi taman bacaan. Tentu kalimat itu, sekarang  sudah dianggap aneh. Kondisinya memang sudah berbeda. Taman-taman bacaan -yang berisi buku-buku hiburan- satu persatu mulai berguguran. Yang tetap berdiri tegak hanyalah perpustakaan yang dikelola negara maupun swasta. Tentu dengan kondisi yang seadanya, bahkan ada yang sangat memrihatinkan.

Lalu, dalam keadaan seperti itu, bagaimana seseorang dengan kantung pas-pasan bisa menyukai buku dan menyalurkan minat bacanya?

 

Perpustakaan dan Buku

Rumor DPR ingin membuat sebuah perpustakaan dengan biaya milyaran rupiah sempat berhembus beberapa bulan ini. Siapa pun akan menggeleng kepala tak percaya. Saya sendiri merasa itu ide yang absurb. Bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia buku, angka itu benar-benar angka yang luar biasa. Padahal sejak beberapa tahun terakhir ini pertanyaan yang menakutkan bagi pengelolah perpustakaan sudah menelisip di telinga mereka: apa benar sebuah sebuah perpustakaan masih relevan di era sekarang?

Tentu jawaban pertanyaan itu masih bisa diyakini: perpustakaan akan selalu relevan. Apalagi di negeri seperti Indonesia yang harga bukunya terus melambung tinggi. Di negara yang sedemikian maju seperti di Jepang saja, perpustakaan kota tidaklah mengecil dan berkurang. Di setiap wilayah –seluas kelurahan misalnya- sudah dilayani sebuah perpustakaan kota yang cukup lengkap. Di Indonesia sendiri sempat meniru sistem itu. Di Yogayakarta bahkan membuat 1 perpustakaan di tiap desa. Tapi sampai sekarang, kelanjutan dari program itu tak lagi terdengar.

Saya sendiri kerap datang ke Monumen Pers. Biasanya, bila sedang menulis buku, saya menyambangi perpustakaan di tengah kota itu dari hari Senin sampai Kamis, dari pukul 10.30 sampai pukul 15,00. Saya memaksa diri saya ke sana karena menyadari kalau saya tipikal penulis yang harus fokus menulis, tanpa gangguan apa pun. Tapi lihatlah, pengunjung yang selalu ada di Monumen Pers sedikit saja yang terlihat membaca. Sebagian dari mereka sibuk dengan laptop mereka, memanfaatkan wifi gratis.

Keadaan itu lebih baik dari perpustakaan kota lainnya. Di Perpustakaan Kepatihan dan Perpusda Yogyakarta, keadaan lebih senyap. Hanya orang-orang yang sedang menggarap penelitian dan skripsi dan sejenisnya saja yang terlihat ada di sana.

Saya kerap membuat 2 tahap pertanyaan pada beberapa orang yang sepertinya menyukai buku: kenapa tak membeli saja buku yang disukai? Bila jawabannya karena terkendala harga, saya akan melanjutkan pertanyaan: kenapa tak datang ke perpustakaan saja?

Beberapa orang membalas ucapan saya dengan menyebutkan kalau perpustakaan tidaklah lengkap. Itu tentu hanya jawaban ngeles dari kemalasan. Yang pasti, keinginan membaca buku tidaklah sekuat hingga mampu menggerakkan mereka ke perpustakaan. Saya yakin, bila buku-buku di perpustakaan dilengkapi, orang-orang tak begitu saja menjadi lebih rajin ke perpustkaan? Secara psikologi saya menilai: membaca di rumah yang nyaman saja tak pernah, apalagi di perpustakaan?

 

Namun apa pun kondisinya, saya berharap perpustakaan harus tetap ada di tengah-tengah masyarakat. Ini semacam pertaruhan kepercayaan. Apalagi saya melihat perpustakaan-perpustakaan yang diolah seadanya oleh para pustakawannya. Misalnya di Monumen Pers, buku-buku sampai harus menumpuk bergunung-gunung dulu sebelum dikembalikan ke rak. Padahal para pegawainya hanya menonton youtube saja. Belum lagi pengetahuan mereka yang minim tentang buku benar-benar memerosokkan pengunjung sepeti ke dunia yang semakin suram. Mereka benar-benar layaknya PNS yang hanya datang pagi pulang sore.

Tapi tentu ada beberapa cerita lainnya. Misalnya seperti yang terjadi di perpustakaan Bina Nusasntara, Jakarta. Seorang kawan penulis yang pernah diundang di sana, pernah bercerita kalau guru bahasa Indonesia di sana mewajibkan siswa-siswanya meminjam buku di perpustkaan, walau mereka sebenarnya sangat mampu untuk membelinya. Untuk itu perpustakaan menyediakan buku sejumah murid-murid yang ada, agar siswa tak perlu mengantri.

Di facebook, saya juga berteman dengan seorang pustakawati yang sangat berbeda. Ia penggemar buku, dan menjadi pembaca yang fanatik. Ia bahkan menulis review dari semua buku-buku yang dibacanya. Tak heran bila kemudian banyak penulis yang mengirimkan buku padanya. Sayangnya orang-orang seperti itu tak banyak.

Padahal bila ditilik dari alur pergerakan buku, sebenarnya hal ini bisa menjadi titik penting untuk melihat pertumbuhan minat baca. Sehingga, rasanya ironis sekali bila di situ ditempatkan orang-orang yang bukan pembaca buku.

 

Basis Komunitas

Sejak beberapa tahun lalu, saya merasa tak lagi berharap pada pemerintah. Saya merasa negara telah gagal membuat sistem perbukuan yang baik. Pelan-pelan masyarakan negeri ini meninggalkan buku. Toko-toko buku kecil semakin tahun semakin berkurang, walau ada toko-toko buku besar yang tumbuh, jumlahnya masih sangat terbatas.

Buku bukan sesuatu yang diurusi dengan baik. Bahkan pemerintah tak memiliki kuasa menentukan harga buku, bahkan harga kertas. Mereka bisa menentukan harga beras, cabai, kol gepeng, dll, tapi tidak dengan buku. Maka itu, saya tak ingin berharap sesuatu yang muluk. Saya pikir, kita juga tak perlu menunggu pemerintah bergerak. Tak perlu menggantungkan harapan. Saat saya datang dalam pertemuan dengan Komisi X di Balaikota tahun 2015 yang membahas sistem perbukuan nasional, saya yakin keadaan dunia perbukuan kita tak akan ada kemajuan di tahun-tahun mendatang. Pasal-pasal yang dipakai masih seperti yang kemarin-kemarin. Jadi konyol kalau kita masih mengharapkan pemerintah.

Maka gerakan individu-individu di lingkungan yang kecil adalah jawaban yang lebih melegakan. Syukur-syukur, bisa bergerak di lingkaran kota yang lebih besar.

Misal: di kompleks kantor saya, hampir semua keluarga yang ada di sana merupakan kaum buta buku. Saya tahu itu dari anak-anak mereka. Anak-anak itu kerap bermain di kantor saya karena banyak buku di sana. Dari situ pelan-pelan saya mencoba mengorek-ngorek informasi dari mereka. Berapa banyak mereka dibelikan buku? Kapan terakhir ke toko buku? dll. Jawabannya benar-benar membuat sedih. Beberapa dari mereka bahkan tidak tahu apa itu Gramedia.

Sejak itu saya rajin membelikan KKPK (Kecil-kecil Punya Karya) bagi mereka. Saya bahkan mulai mengajari mereka menulis di laptop saya. Dan lumayan, 1 dari belasan anak itu berhasil menyelesaikan novel pertamanya.

Kalau mengamati media sosial, sebenarnya sudah banyak kawan-kawan yang bergerak di bidang literasi di seluruh nusantara. Ada yang secara teratur membuat workshop menulis, bahkan membuat taman bacaan nirlaba. Kawan-kawan Goodreads bahkan secara teratur membuat donasi buku-buku ke tempat-tempat terpencil. Tentu fokus mereka bermacam-macam. Walau beberapanya masih terasa narsis, membuat komunitas hanya untuk membedah bukunya sendiri. Tapi itu tentu bisa dimaklumi.

Di Buletin Sastra Pawon sendiri, kami berupaya menyebarkan buku secara masif. Mulai dari buletin yang kami bagi secara gratis, juga buku-buku yang kami bagi di acara-acara yang kami gelar. Beberapa tahun terakhir ini bahkan, saya dan kawan-kawan sepertinya lebih intens ke hal membaca dari pada menulis. Kalau menyimak acara-acara Pawon, acara-acara membaca menjadi priorotas. Bila ada bedah buku, kami mewajibkan peserta untuk membaca lebih dulu. Tentu hal ini, tak bisa dipaksakan. Tapi kami berharap mereka juga melakukan hal yang sama. Kami meminimalkan acara-acara panggung, atau pembacaan-pembacaan yang bersifat hiburan.

Tentu ini sedikit beresiko. Seperti menyitir ucapan Mbah Prapto, maestro tari Surakarta- kalau masyarakat Solo ini baru sebatas penikmat seni.  Maka acara yang banyak berpikir tentu menjadi tak menarik. Misalnya acara membicarakan novel lawas Widyawati karangan Arti Purbani. Acara itu, tentu tak akan seramai bila acara perayaan ulang tahun pawon, atau acara bedah-bedah buku.

Tapi harus ada upaya seperti itu yang terus-menerus. Apalagi yang perlu diingat kawan-kawan di Buletin Sastra Pawon bukanlah sebuah event organizer, mereka cenderung memilih membuat acara yang sekaligus bisa untuk belajar, sehingga bisalah dianggap ini upaya mendayung sampan dua-tiga pulau terlampaui. Saya pikir upaya-upaya keci ini sedikit banyak akan terus menumbuhkan minat baca. Karena saya membayangkan, bila setiap kota di seluruh pelosok negeri ini memiliki agenda literasi yang menerus, ini seperti membuat pondasi yang kuat untuk dunia literasi nusantara.

***

Iklan