klub buku 2Untuk diskusi Klub Buku Pawon Agustus ini, dipilihlah novel Pater Pancali karangan Bibhutibhushan Banerji, atau biasa ditulis Bibhutibhushan Bandyopadhyay (edisi Indonesia diterjemahan oleh Koesalah Soebagyo Toer). Saat pemilihan -sekitar 4 bulan yang lalu- memang tak banyak buku-buku sastra baru yang beredar. Ini sepertinya kali pertama klub buku pawon mendiskusikan novel lawas yang lumayan tebal.

Tapi kisah Pater Pancali memang sudah saya dengar sejak lama. Pustaka Jaya pernah menerbitkannya. Pater Pancali bahkan disebut-sebut sebagai Bumi Manusia-nya India.

Bibhutibhushan sendiri merupakan penulis besar di India. Ia lahir di Bengali 12 Septermber 1894, dan sampai akhir hayatnya sudah menulis puluhan novel. Salah satu novelnya, Ichhamati bahkan pernah memenangi Rabindra Puraskar tahun 1951, salah satu penghargaan sastra paling prestisius di India. Namun Pater Pancali tetaplah yang menjadi masterpiece-nya.

 

Kisah Pater Pancali yang Terpatah-patah

Awalnya, membaca Pater Pancali terasa sangat lambat. Novel ini cukup detail dan paragraf-paragrafnya pun gemuk-gemuk. Tapi beberapa novel lawas memang seperti itu. Jadi saya bisa memaklumi keadaan ini.

Apalagi saat saya tahu kalau Pater Pancali merupakan cerita bersambung di sebuah majalah tahun 1928. Saya jadi bisa mengerti kenapa kadang novel ini terasa tak runtut. Ada beberapa bagian yang diulang-ulang. Beberapa detailnya pun saya rasakan ke mana-mana. Kadang bahkan terasa sekali di setiap subbab menjadi 1 cerita yang terpisah sendirian. Ini seperti selayaknya kita membaca novel-novel hibrid. Misalnya ketika Bibhutibhushan menceritakan tentang bibi tua Indir Thakrun yang kesepian dan merana. Akhir cerita di bagian itu seperti selesai begitu saja. Kisahnya seakan hilang dan tak lagi dibahas selanjutnya. Hanya sekali saja Durga mengenangnya. Itu pun dalam kalimat yang pendek.

Atau pada bagian saat Apu bertemu dengan Ajay, seorang penyanyi cilik di kelompok sandiwara yang mampir ke desanya. Bagian ini ditutup dengan adegan yang saya pikir mengharukan. Saya petik untuk sekadar mengingat:

Namun demikian, ia harus pergi dan pada saat untuk mengucapkan selamat tingal tiba, sesaat lamanya ia berdiri terpaku, kemudian secara mendadak ia memasukkan tangan ke dalam kantongnya dan mengeluarkan uang lima rupee, lalu diberikannya kepada Sharvajaya. Uang itu adalah sebagian dari tabungan yang diperolehnya dengan susah payah. “Untuk membeli sari Didi, kalau nanti ia kawin,” katanya.

“Tidak, tidak, Sayang,” kata Sharvajaya, “Ibu tak bisa menerima uang dari kamu. Memang baik sekali kamu menawarkan itu dan ibu menghargai tawaran itu, tapi ibu tak dapat menerimanya. Di samping itu, kamu akan membutuhkan semua yang telah kamu peroleh nanti, pada waktu kamu sendiri kawin dan kamu harus membangun rumah.”

……

Kemudian ia pun membalik. Tubuhnya yang muda dan ramping itu melintas di bawah bayangan pohon manggis, mengilang dari pandangan ketika jalan itu membawanya ke sebuah sudut di balik semak-semak. “Alangkah sudah dewasa dia!” pikir Sharvajaya kepada diri sendiri. “Namun  alangkah menyedihkan bahwa pada usia seperti itu, ia harus bekerja untuk hidupnya! Bagaimana kiranya kalau ia Apu.”

 

Setelah itu, karakter Ajay hilang begitu saja. Tentu keadaannya ini masih cukup cair, sehingga saya pikir pembaca masih bisa memaklumi. Namun di beberapa bagian, saya tetap merasa sulit memakluminya. Misalnya ketika Durga dituduh mencuri oleh Shejbau, tetangganya yang selalu sinis. Ia disiksa sedemikian mengerikan. Kepalanya dibentur-benturkan ke tembok hingga hidungnya berdarah. Di sini, cerita seperti diselesaikan begitu saja. Durga pulang, dan sudah masuk ke subbab baru lagi. Bagian ini yang paling menjengkelkan, walau ternyata pada akhirnya saya yang salah. Bibhutibhushan ternyata menyimpan bagian ini untuk di ending novel ini.

Saya memang sudah menyukai karakter Durga. Dan selalu ingin mengetahui kisahnya lebih banyak. Walau saya tahu Bibhutibhushan memang lebih mengutamakan sosok Apu dalam novelnya (ia bahkan membuatnya menjadi trilogi) Padahal dalam kacamata saya, sosok Durga jauh lebih menarik dieksplorasi. Ia cerdas, menyenangkan, penyanyang, dan suka berpetualang. Sungguh berbeda dengan kawan-kawan perempuan di desanya. Sedang Apu memiliki sifat yang hampir sama dengan kawan-kawannya. Manja, sedikit penakut, suka bermain, dan cengeng. Kadang saya merasa ini mungkin sedikit seksis. Karena pada masa itu, perempuan sedemikian cepat dinikahkan. Setelah itu, kehidupannya di keluarga asal seperti lenyap, karena ia harus hidup mengikuti suaminya.

Satu yang perlu diakui, Pater Pancali memang banyak memuat kisah-kisah emosional. Terutama hubungan antara Durga dan Apu, membuat saya mudah sekali jatuh suka pada dua karakter ini. Namun sampai 300 halaman lebih, saya tak terlalu bisa merasa sedih. Padahal cerita-cerita menyentuh bertebaran di setiap bab. Kematian bibi tua Indir Thakrun, atau juga kepergian Ajay, semuanya terasa datar. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa demikian? Jelas sekali ini adegan-adegan yang seharusnya emosional. Apakah karena semua ditulis dengan gaya lama yang berpanjang-panjang? Atau saya sudah membaca kisah-kisah yang lebih menyayat hati? Saya tiba-tiba merasa, kesedihan kesedihan memang memiliki masa kadaluarsa.

Tapi semua penilaian itu kemudian berubah, setelah kematian Durga. Rasanya kisah ini mulai memasuki puncaknya. Perasaan datar itu seperti hilang hilang begitu saja. Apalagi saat membaca narasi hati Apu di paragraf-paragraf akhirnya. Saya pikir, ending novel ini begitu berhasil.

 

Kritik Bibhutibhushan Bukan Hanya pada Persoalan Kemiskinan

Bibhutibhushan memang menceritakan kisah yang sederhana dalam Pater Pancali. Ia seperti mengeksplorasi kemiskinan. Bagaimana makan nasi pun, sesuatu bentuk kemewahan. Isu itu banyak dianggap sebagai isu utama novel ini. Saya sendiri merasa tak hanya itu saja. Setting novel itu tahun 1930-an, tak pelak keadaan desa-desa di India memang seperti itu keadaannya. Saya pikir, Bibhutibhushan hanya menulis apa yang dilihatnya saja. Lebih dari itu, ia memang terlihat mencoba ‘menggugat’ persoalan kasta. Bagaimana sindirannya pada sosok Harihar Roy yang merupakan dari kasta Brahmana dan mengandalkan derajatnya, namun hidup begitu kesusahan. Sementara beberapa orang berkasta rendah, malah mampu menghidupinya.

Satu cerita yang paing menyentuh tentang ini adalah saat Durga dan Apu sedang bermain tamasya. Waktu itu, salah satu teman Durga -Bini- ikut serta. Bini dari keluarga Brahmana yang karena satu sebab membuat keluarganya dijauhi. Mereka berada dalam posisi Brahmana di level yang terbawah. Konon bila ia meminum air dari gelas, gelas itu harus dicuci dulu bila akan digunakan kaum brahmana lainnya. Maka itulah ia merasa sungkan ketika harus meminta minum pada Durga dan Apu. Tapi kedua bocah itu ternyata berpandangan lain. Mereka tak mempermasalahkan soal itu. Tentu ini mungkin hanya sekadar bagian dari satu sudut pandang bocah. Tapi dari situ, saya merasa kalau Bibhutibhushan memang tengah melakukan gugatan.

 

Film Mengubah Semuanya

Kadang, imajinasi memang bergerak sendirian. Membaca detail Pater Pancali semua terbayangkan di imajinasi saya. Desa Nishchindipur yang damai, rumah tempat tinggal keluarga Harihar Roy, hutan tempat bermain Durga, musim charak yang begitu meriah, dll. Detail memang memandunya, tapi seberapa dalam detail itu?

Dan ternyata, imajinasi saya itu hampir semuanya meleset. Selepas saya membaca novelnya, saya memang langsung melengkapinya dengan menonton filmnya. Di situ, saya seperti kembali dilempar kalau yang saya baca ini adalah novel bersetting 1920-an Keadaannya tentu sangat berbeda. Apalagi itu di India.

Rumah yang saya bayangkan ternyata lebih modern dari yang ada. Bertembok tanpa semen. Hutan ang biasa dijelajahi Durga pun ternyata masih berupa hutan belantara, dengan setapak untuk berjalan. Bahkan sosok Indir Thakrun ternyata sudah begitu tuanya. Sungguh, film ini banyak sekali membantu imajinasi saya di novel ini.

 

Setelah Pater Pancali

Bibhutibhushan telah menulis lanjutan Pater Pancali, Aparajito dan Apur Sansar. Kelak ketiganya dikenal sebagai Trilogi Apu. Novel Aparajito sempat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Pustaka Jaya. Namun yang Apu Samsar tak saya dapati informasinya.

Untungnya, ketiga film itu masih bisa dicari di dunia internet yang maha luas ini. Buat kawan-kawan yang tertarik dengan filnnya, bisa membaca posting saya selanjutnya.

***

Iklan