img_20161008_162000

Kota itu hanyalah kota kecil saja. Tak lebih dari 100 rumah ada di situ, dengan satu jalan utama di tengah-tengahnya. Tak ada bangunan besar yang menonjol, selain sebuah perpustakaan tua. Namun walau nampak biasa-biasa saja, sejak dulu kota itu selalu menjadi pembicaraan orang. Ia dianggap berbeda dengan kota-kota lainnya. Konon, itu karena sebuah buku yang disimpan di perpustakaan tua itu. Sebuah buku kuno yang tak diketahui siapa penulisnya. Namun siapa pun yang membacanya, ia akan menjadi bahagia.

Orang-orang menyebutnya buku bahagia. Dan konon lagi, semua warga kota sudah membaca seluruhnya…

Aku tentu hanyalah pencuri biasa, bila tak bertemu Tuan Cadar Hitam. Begitu aku menyebutnya, karena ia memang tak pernah mengenalkan namanya padaku. Ia laki-laki bertubuh besar yang selalu menemuiku dengan cadar hitam di wajahnya. Aku menebak, dari tutur bicara dan gerak-gerik tubuhnya, ia bukan orang biasa. Yang pasti, ia punya keinginan besar, tapi tak cukup mampu memenuhinya sendiri, sehingga ia meminta tolong padaku.

Aku ingat bagaimana ia datang pertama kali padaku. Beberapa hari sebelumnya, aku baru saja mencuri perhiasan perak dari rumah seorang pejabat kota. Berita pencurian itu menjadi berita utama di seluruh surat kabar. Kupikir, ini sesuatu yang buruk. Bila media sedemikian gencar meliput, polisi-polisi pastilah jadi terpacu. Aku pun memilih bersembunyi di pinggiran kota. Tak kusangka 3 malam berselang, laki-laki itu sudah ada di depan pintu kamar losmenku.

Aku sebenarnya hampir melompati jendela untuk melarikan diri, namun aku menahan diri. Cadar di wajahnya membuatku yakin kalau ia datang ke sini bukan untuk menangkapku. Jelas, ia juga tengah menyembunyikan identitasnya.

Ia ternyata cukup terkesan dengan caraku mencuri perhiasan perak di rumah pejabat kota itu. Kedatangannya ke sini, ingin memintaku untuk mencurikan sesuatu untuknya. Kupikir pekerjaan ini cukup menantang. Terlebih uang yang ditawarkan juga cukup menggiurkan.

Awalnya Tuan Cadar Hitam hanya memintaku mencuri lukisan-lukisan tua yang menjadi koleksi orang-orang kaya. Dan aku selalu dapat melakukannya dengan baik. Bagaimana pun juga rumah orang-orang kaya itu sangat besar, dan memiliki banyak jendela. Mereka tak akan bisa menebak, aku akan masuk melalui jendela yang mana untuk menggondol lukisan-lukisan mereka.

Hanya beberapa kali beraksi, aku mendapat banyak uang. Kutebak apa yang kucuri memang bernilai tinggi. Namun tentu aku tak perlu peduli, aku sudah cukup puas dengan bagianku.

Sayangnya, kehadiran Tuan Cadar Hitam tak tentu waktunya. Walau aku selalu menunggunya, tapi kadang ia tak muncul hingga berbulan-bulan. Seperti sekarang, kuhitung-hitung ia sudah hampir setahun ini tak muncul. Uang simpananku mulai menipis. Toh, sejak bekerja untuknya, aku memang tak lagi melakukan pencurian-pencuirian kecil seperti dulu.

Untunglah, ia datang malam ini. Mataku langsung berbinar menatapnya, “Sudah lama Tuan tak datang. Apa lagi yang bisa kubantu?”

Tuan Cadar Hitam mendekat satu langkah, “Kau sudah mendengar tentang kota bahagia?”

Dengan ragu, aku menganguk.

“Kau tahu bila di sana ada sebuah buku yang membuat semua orang di kota itu berbahagia?”

Aku mengangguk lagi, “Ya, aku pernah mendengar seperti itu…”

“Aku ingin kau mengambil buku itu untukku, Kali ini, bila kau berhasil, aku akan memberimu lebih banyak dari biasanya.”

Lalu sebelum aku menjawab kesiapanku, ia sudah bangkit dan melangkah pergi meninggalkan aku sendirian.

Aku terpekur di kursiku untuk beberapa saat. Kurasa permintaan Tuan Cadar Hitam kali ini cukup berbeda. Tak pernah selama ini, aku mencuri sebuah buku. Apa berharganya sebuah buku? Di pasar loak, aku bisa mendapatkannya semurah membeli sekerat roti.

Tapi aku toh tak perlu berpikir lama-lama. Janjinya untuk memberiku lebih banyak uang, sudah cukup membuatku keeesokan harinya pergi menuju kota itu.

Sejak lama aku sudah mendengar kota yang berbeda itu. Namun saat benar-benar menyambanginya, perbedaan itu semakin terasa. Semua rumah nampak dicat dengan warna cerah. Semua halamannya dipenuhi bunga-bunga berwarna-warni. Orang-orang di jalan selalu tersenyum. Mereka saling menyapa satu sama lain. Bicara sejenak, dan tertawa gembira. Sungguh, sepanjang mataku menyapu ke seluruh sudut kota, aku hanya menemukan wajah orang-orang yang bahagia.

Aku sedikit tak percaya. Apa semua ini karena buku bahagia itu? Rasanya tak masuk akal. Di kios buku, tempat aku biasa membeli koran, aku sering meihat buku-buku tentang kebahagian seperti: Cara Hidup Bahagia, Menemukan Kebahagiaan yang Hakiki, atau lainnya yang tak kuhapal judulnya. Aku yakin orang-orang yang membacanya, tak akan benar-benar bahagia.

Huh, aku semakin penasaran. Apa yang sebenarnya yang ditulis di sana? Aku benar-benar ingin tahu.

Tapi karena bukan pencuri amatir, aku tak bisa langsung beraksi. Aku harus mempersiapkan semuanya dulu. Butuh beberapa hari bagiku untuk mempelajari tempat di mana aku akan beraksi. Selain menghapal denah perpustakaan tua itu, aku juga mengamati seluruh aktifitas di situ, dan mendata siapa-siapa saja yang berada di perpustakaan itu setiap harinya, berikut kebiasaan-kebiasaan mereka.

Satu hal lagi yang juga kuamati dengan seksama adalah segala sesuatu yang ada di sekitar perpustakaan. Jalanan yang lengang dan sepi, termasuk jalan-jalan tikus di sekitarnya. Bangunan-bangunan di sekelilinya, terutama cafe yang tepat berada di seberang perpustakaan. Aku bahkan menyempatkan mampir dan mengobrol pada pemiliknya. Tentu aku memancingnya agar ia menceritakan keadaan di sini yang  jarang diketahui orang asing. Tapi rupanya tak ada yang berarti dari mulutnya.

Sebenarnya dalam sehari saja, semua yang kuamati sudah terekam jelas dalam kepalaku. Aku sudah bisa membayangkan akan bergerak pukul berapa, masuk lewat sisi sebelah mana, berapa lama waktu yang dibutuhkan di dalam perpustakaan, dan lari ke arah mana. Namun aku masih memilih menunggu sesaat. Kadang, kesabaran memegang peranan penting dalam pekerjaan-pekerjaan seperti ini.

 

Di malam ketiga, aku mulai beraksi.

Seperti perhitunganku, perkerjaan ini berjalan lancar. Bahkan jauh lebih mudah dari yang kubayangkan. Semua pintu di dalam perpustakaan tak ada yang terkunci. Di dalamnya pun tak ada siapa-siapa. Para penjaga perpustakaan, nampaknya memilih tidur di ruang depan.

Yang lebih melegakan, saat aku berada di dalam, aku sama sekali tak perlu mengingat-ingat denah yang sudah kepelajari. Penunjuk arah yang mengarahkan di mana buku bahagia itu berada, langsung dapat dengan mudah kutemukan.

Hanya butuh 3 menit aku sampai di ruangan itu. Ruangan yang hanya berisi sebuah meja kecil di tengah-tengahnya dengan sebuah buku yang terbuka di atasnya.

Bisa ditebak, itulah buku bahagia. Aku segera saja memasukkannya ke dalam tas, dan langsung kembali keluar untuk melarikan diri.

Dan Tuhan memang maha pengasih, sepanjang pelarian, jalanan nampak begitu sepi. Padahal beberapa malam sebelumnya kuamati, selalu ada beberapa orang dan mobil yang melintasi jalan ini. Tapi malam ini, mereka semua tak nampak.

Sungguh, dari belasan kali aku mencuri atas perintah Tuan Cadar Hitam, ini adalah pekerjaanku yang paling mudah. Aku sampai tak percaya ketika tiba di kamar losmen dengan selamat, tanpa bertemu seorang pun juga.

Perlahan, sambil menuang anggur, aku mengeluarkan buku itu. Rasa penasaran langsung membuat kedua mataku sudah tertuju pada tulisan-tulisan di dalam buku itu. Namun sampai berlembar-lembar halaman kubaca, aku tetap saja tak cukup mengerti apa sebenarnya yang tertulis di sini. Aku mulai merutuk diriku. Apa ini karena kemampuan otakku yang memang terbatas? Atau… ini memang hanya buku sialan saja?

Aku menghempaskan pantatku di kursi sambil meneguk anggur di gelasku hingga tandas. Aku merasa tertipu. Tak kuduga, buku seperti inilah yang membuat orang-orang di sini bahagia!

Benar-benar bodoh! Aku nyaris melempar buku itu, namun buru-buru  mengurungkannya. Bagaimanapun aku harus menyerahkan buku ini dalam keadaan baik pada Tuan Cadar Hitam.

Sambil kembali memasukkan buku itu di tas, sempat terlintas di kepalaku kalau ini adalah buku yang salah. Tapi aku langsung menepis pikiran itu. Ini jelas buku yang benar. Aku yakin.

Lalu, bila ini buku yang benar, apa yang akan dilakukan Tuan Cadar Hitam terhadapnya? Apa ia akan menjualnya? Atau… ia akan menyimpannya sendiri? Bisa jadi selama ini ia memang tak cukup bahagia?

Aku tersenyum sendiri menilai analisaku. Namun sedetik kemudian, sebuah pikiran terlintas begitu saja di kepalaku: bagaimana keadaan kota ini setelah buku ini tak lagi ada?

Aku tak bisa langsung menjawabnya. Aku butuh beberapa saat untuk membayangkan kota ini menjadi seperti kota yang kutinggali selama ini. Di mana orang-orang bercuriga satu sama lainnya, atau bertengkar di pinggir jalan, atau berkelahi dalam bar-bar yang penuh sesak. Lalu, di malam-malam terhening, akan terdengar tangisan kesedihan yang samar dari semua sudut kota?

Apa kota ini akan menjadi seperti itu?

Aku hanya menarik napas panjang. Tentu itu bukan urusanku. Aku tak peduli soal itu. Toh, aku hanya menjalankan perintah. Salahkan saja Tuan Cadar Hitam!

 

Beberapa tahun kemudian, aku memutuskan berhenti menjadi seorang pencuri. Pada kenalan-kenalanku, kukatakan kalau tabunganku sudah lebih dari cukup dan aku juga sudah terlalu tua untuk pekerjaan seperti itu. Tapi sebenarnya, itu bukan alasan yang sebenarnya. Entah kenapa, pencurian buku bahagia itu sampai sekarang masih saja menggangguku. Aku masih ingat dengan jelas, hanya butuh beberapa bulan saja kota yang dulu disebut kota bahagia itu berubah sedemikian rupa. Ia tak lagi berbeda dengan kota-kota di sekelilingnya. Ia sama seperti mereka.

Di usia setua ini, saat kematian sudah terasa begitu dekat, aku terus merasa bersalah. Walau aku terus berupaya mengenyahkannya, tapi kadang timbul keinginanku untuk kembali mencuri buku bahagaia itu dan mengembalikannya ke tempat di mana buku itu dulu kuambil.

Sialnya, keinginan yang semula hanya berkilasan di kepalaku itu semakin lama semakin besar. Ia menumpuk dan siap membuncah. Namun saat aku meyakinkan diri untuk melakukannya, aku malah mendengar kabar itu: Tuan Cadar Hitam, majikanku selama ini, baru saja meninggal dunia. Rumahnya terbakar dan semua barang-barang koleksinya yang tak ternilai harganya itu hancur seluruhnya bersama tubuhnya.

Kupikir kisah buku bahagia itu berakhir di sini!

 

***

Iklan