img_20161110_191712

Dulu sekali, kalau ingatanku tak keliru, hidupku adalah pesta dansa di mana setiap hari menyingkapkan diri, di mana setiap anggur mengalir…[1]

Ini adalah malam yang sempurna. Komandan tengah pergi ke luar kota dengan membawa beberapa serdadu. Sedang Hendrick serta Vromme –yang satu ruangan denganku di bangsal paling timur ini- tengah demam. Sejak siang tadi, mereka hanya meringkuk di atas dipan, tidur seperti kucing malas. Kupikir aku tak akan menemukan hari lebih baik, selain hari ini. Jadi langsung kuputuskan, malam ini juga, aku akan pergi dari tangsi terkutuk ini.

Aku tak mengenal kota ini, dan tak ingin tahu pula. Namun kudengar dari  Hendrick -yang sepertinya paling menikmati kedatangannya di sini- kota ini bernama Salatiga. Aku tentu tak harus peduli. Kota ini kupikir belum layak disebut kota. Waktu tiba di benteng Willem I, dan melihat sekelilingnya, aku sama sekali tak melihat bangunan besar yang mencolok selain rumah residen. Hampir semua rumah yang ada masih berdinding kayu, hanya satu-dua rumah yang berdinding batu bata. Selain itu, aura primitif masih begitu terasa. Laki-laki hanya bertelanjang dada, dan perempuan hanya mengenakan kain ditubuhnya. Mereka dengan santai berseliweran di sudut-sudut jalan.

Entahlah, sejak kapal mendarat di Batavia hampir sebulan yang lalu, aku tahu aku telah membuat sebuah langkah yang salah. Tapi aku tak bisa mengelak. Aku tak punya pilihan lain saat itu. Ini konsekuensi yang memang harus kuterima.

Pemerintah memang hanya berisi kumpulan orang-orang brengsek. Mereka munyuruh siapa pun mendaftarkan diri menjadi serdadu, namun mereka sendiri hanya duduk di belakang meja menikmati anggur terbaik. Sifat mereka itu masih seperti moyang mereka ratusan tahun lalu. Mereka tak tahu kalau hari ini, semuanya telah berubah. Perang bukan lagi solusi dari segala hal.

Jadi jangan salahkan aku bila sejak hari itu, otakku terus berpikir untuk melarikan diri. Aku tahu ini suatu yang beresiko. Aku sudah mendengar orang-orang yang ditangkap karena itu, bisa dikurung hingga 2 tahun.

Tapi aku tak mau berlumut di sini: tua, mati dan terlupakan…

 

[1] Puisi Semusim di Neraka karangan Arthur Rimbaud, dipetik dari buku Semusim di Neraka terbitan MKbook terjemahan An Ismanto.

^^^

Cerpen ini tentang Arthur Rimbaud, penyair besar Prancis yang ternyata pernah tinggal di Magelang sebagai tentara bayaran Hindia Belanda. Terinspirai dari 1 halaman buku Orang Indonesia Orang Prancis (KPG), dan ditunjang oleh buku Semusim di Neraka (MKbook). Saya imajinasikan pelarian penyair besar itu dari tangsinya…

Edisi lengkapnya beli majalahnya yaaaa…

Agar laku dan bisa terus survive… 🙂

Iklan