Berapa lama waktu yang dibutuhkan penulis untuk menyadari buku-buku yang pernah ditulisnya telah usang?

Beberapa tahun lalu selepas trend buku komedi mulai turun, saya dihubungi penerbit untuk menawarkan penjualan buku-buku komedi saya yang sebelumnya mereka terbitkan untuk dipasarkan melalui playstore. Saya hanya menandatangani 3 di antaranya. Ada satu buku yang tak ingin saya terbitkan ulang, walau dalam bentuk online sekali pun.

Dalam dua tahun terakhir, karya-karya klasik banyak kembali diterbitkan. Tercatap yang sangat gencar adalah KPG, Qanita, Noura, Gramedia, dan beberapa penerbitan lainnya di Yogyakarta. Penerbitan itu tentu di satu sisi menguntungkan kita. Bagaimana pun karya-karya yang diterbitkan itu biasanya adalah karya-karya yang terus-terusan dibicarakan, bahkan dikutip di sana-sini.

Keadaan ini sebenarnya dapat dikatakan menggembirakan. Bagaimana pun penerbitan karya-karya klasik kadang memang tergantung dengan nama besar. Sehingga bila kita cocok dengan 1 pengarang klasik, kita pasti akan  berharap pada buku lain darinya. Bahkan, penerbitan ini juga terjadi pada karya-karya yang sebelumnya tak cukup dikenal, atau karya-karya dari penulis yang selama ini dianggap hanya menulis 1 buku saja.

images.jpgTercatat penerbit Qanita merilis Got Set the Watchman karangan Harper Lee. Ini adalah buku yang mungkin paling ditunggu-tunggu di seluruh dunia. Bagaimana pun Harper Lee adalah penulis To Kill A Mockingbird yang telah dianggap sebagai buku terbaik sepanjang masa. Saking fenomenalnya buku itu, ia diterbitkan di puluhan negara, dan kemudian juga difilmkan dengan pemain-pemain ternama, seperti: Gregory Peck sebagai Atticus Finch dan John Megna sebagai Charles Baker “Dill” Harris.

Tapi apa hasilnya? Tak sedikit saya dengar komentar-komentar kecewa dari pecinta To Kill A Mockingbird. Beberapanya bahkan melakukan protes, dan menyebut buku Got Set the Watchman sebagai buku yang seharusnya tidak dipublikasikan, karena malah merusak kebesaran novel To Kill A Mockingbird.

Kisah yang sedikit sama mungkin saat rilisnya buku Memang Jodoh karangan Marah Rusli yang merupakan pengarang legendaris buku Siti Nurbaya. Buku ini sebenarnya merupakan novel autobiografi yang awalnya merupakan kado ulang tahun pernikahan ke-50 Marah Rusli dan Rd. Ratna Kencana.  Konon, naskah asli novel ini ditulis dalam hurmemang-jodoh-coveruf Arab Gundul lalu diketik dengan mesin tik manual. Naskah ini kemudian tersimpan rapi selama puluhan tahun karena memang Marah Rusli sendiri baru mengizinkan penerbitannya bila semua tokoh yang ada dalam novelnya itu tela meninggal dunia. Dan ternyata, baru setelah 50 tahun kemudian, tepatnya di bulan Mei 2013 yang lalu, novel Memang Jodoh ini diterbitkan.

Saat terbit, memang tak terjadi kehebohan sedemikian besar seperti saat Got Set A Watchman terbit, tapi dari beberapa mulut ke mulut saya tahu, beberapa kawan sebenarnya kecewa. Harapan mereka mendapatkan kisah selayaknya Siti Nurbaya tak terwujud. Bahkan seorang kawan di facebook berkenan secara gratis memberikan bukunya kepada siapa saja.

Sebenarnya kejadian seperti itu, memang kerap terjadi. Pembaca kadang memang merasa berhak berkomentar apa saja karena telah mengeluarkan uang. Namun untuk kasus buku ini, saya pribadi merasa ini sedikit berlebihan. Karena di blurps-nya secara jelas tertulis kalau ini merupakan novel autobiografis. Jelas, biografi seseorang bukanlah fiksi!

lostlaysen-pulauyanghilang_30653Saya kemudian jadi ingat kembali kejadan serupa beberapa tahun lalu. Waktu itu buku Lost Laysen karangan Margareth Mitchell dirilis Gramedia. Kita tahu Margareth adalah penuis Gone with the Wind yang merupakan karya paling termasyur dalam sejarah literasi di Amerika. Sudah difilmkan juga dengan bintang Vivien Leigh dan Clark Gable.

Tapi buku itu memang jauh dari harapan. Dulu saya bingung, saat membaca buku itu karena biodata penulisnya lebih banyak dari ceritanya. Ceritanya pun ternyata hanya merupakan manuskrip yang belum benar-benar jadi.

Padahal sebelum kematiannya, Margareth Mitchell meninggalkan pesan kalau ia ingin semua surat-surat dan semua draft yang pernah ditulisnya harus dimusnahkan seluruhnya. Entah kenapa naskah Lost Laysen itu bisa lepas setelah sekian lama.

Pengalaman lain adalah saat membaca buku kumpulan cerpen Arswendo Atmowiloto. Saat itu tahun 1990an, Novel Senopati Pamungkas karangan penulis Solo itu masih mengalami masa jaya-jayanya. Saya ingat sempat juga novel  ini dibuat komiknya di majalah Kawanku. Sebelum ini, saya bahkan sudah membaca karangan Arswendo Atmowiloto lainnya, seperti Canting dan Mengarang Itu Gampang. Yang terakhir itu merupakan buku nonfiksi pertama saya yang saya beli kala SMP, yang sampai hari ini masih saya simpan baik-baik.

Sayangnya, kemudian bukunya Senja yang Paling tIdak Menarik diterbitkan Indonesia Tera. senjayangpalingtidakmenarik_17460.jpgWalau itu bukan buku pertama Arswendo, tapi buku itu merupakan kumpulan naskah-naskah cerpen perdana Arswendo ketika mulai menulis di media, beberapanya bahkan belum sempat dipublikasikan. Yang jadi masalah penerbit Indonesia Tera tak mencantumkan penjelasan itu di covernya. Sehingga orang-orang akan mempunyai bayangan apa isi buku itu.

Saya ingat dulu saat membaca buku itu saya seperti membaca cerita remaja. Begitu sederhana. Bayangan saya tentang kedasyatan Senopati Pamungkas, seketika lenyap. Tentu ini mungkin sekadar penilaian saya yang sangat naif. Namun di pengantarnya yang dipetik di blurps buku ini, Arswendo sebenarnya cukup menyadari keadaan ini. Ia menulis: Itulah yang terjadi 35 tahun lalu, sampai sekarang, dan bisa jadi sampai impoten dalam penulisan? Hanya tinggal dalam angan-angan. Maka, sangat mungkin sekali jika sebenarnya tulisan saya sama saja. Tak lebih baik antara yang sekarang atau yang dulu–kecuali mungkin teknik penulisan, itu pun hanya (soal) meletakkan titik atau koma. Kalau saya mengagumi cerpen-cerpen ini, saya bisa mengagumi diri sendiri, karena disandingkan dengan usia ketika menulis. Waktu itu bahkan mesin tulis pun tak punya.

Tentu itu perasaan saya dulu. Sekarang perasaan itu berubah. Sama seperti perubahan perasaan saya pada kamu, iya kamu! Sekarang saya malah mencari lagi buku itu di antara tumpukan buku-buku saya. Saat saya tak lagi menemukannya, saya berpikir akan mencarinya di toko-toko online. Saya pikir ini akan menjadi buku bersejarah yang langka.

Cerita lain, di awal tahun ini, kejadian seperti itu saya alami lagi. Saya membaca Balada Becak karangan YB. Mangunwijaya, atau biasa dipanggil Romo Mangun. Sebenarnya selama ini saya merasa bukan pembaca Romo Mangun. Tapi saya ingat, cerpen-cerpen Romo Mangun kadang memang menceritakan kejadian-kejadian kecil di masyarakat. Bila cerpen-cerpen itu ada di kumpulan cerpen pilihan Kompas, cerpen Romo Mangun (dan Umar Kayam) selalu saya rasakan bagai tetesan air yang menyejukkan di antara cerpen-cerpen lainnya yang biasanya liar.

Cerpen-cerpennya di Pohon Sesawi pun masih saya rasakan ketenangannya. Saya ingat, saya membacanya pelan-pelan. Sehari 1-2 cerita saja. Belum lagi kalau mengingat karya besarnya, Rara Mendut.

balada-becakTapi Balada Becak seperti merusak imajinasi saya tentang kesahajaan dan kewibaawaan karya-karya Romo Mangun selama ini. Kisah cinta Yus dan Riri terlalu sederhana, bahkan dalam level sederhana milik Romo Mangun sendiri sekali pun. Satu lagi yang membuat agak gimana gitu, di novel itu Romo Mangun berusaha melucu dan nampak gaul. Beberapa tokoh-tokohnya mencoba berpantun jenaka. Saya bisa memaklumi buku itu pastilah ditulisnya ketika masih muda, dan di masa itu, teknik menulis seperti itu bisa jadi sedang  populer. Tapi sungguh, rasanya aneh membacanya sekarang.

Saya berpikir, bila Romo Mangun masih hidup, dan kemudian Kompas meminta ijin menerbitkan kembali naskah yang pernah diterbitkan Balai Pustaka tahun puluhan tahun yang lalu itu, saya yakin Romo Mangun pasti akan menolaknya.

***

Iklan