Daripada lupa (lagi), mending ditulis (lagi).

Sebenarnya di akhir-akhir ini saya membaca beberapa buku sekaligus. Namun payahnya, banyak tak berhasil saya selesaikan. Beberapa di antaranya adalah Raden Mandasia milik Mas Yusi Pareanom, Theresa milik Emile Zola, Moemie Gadis yang Berusia 100 Tahun milik Marion Bloem. Sialnya yang terakhir ini baru saya selesaikan 100 halaman saja.

7166739_orig.jpgDi penghujung tahun 2016, saya menyelesaikan The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared milik Jonas Jonasson. Sebenarnya buku ini sudah saya baca sejak tahun lalu. Tapi saya stuck di bab 14. Entah kenapa buku itu tertumpuk dengan buku lainnya, lalu seperti disappeared beneran. Tapi yang pasti saya merasa agak bosan membacanya. Bukan karena ceritanya jelek. Tapi lebih karena penulis yang seperti membuat alurnya bergerak sedemikian bebas. Tokoh utama Allan Carlsson seperti punya garis hidup istimewa yang dengan mudah berpergian ke mana pun, termasuk Indonesia, dan bertemu tokoh-tokoh pemimpin dunia dan berinteraksi dengan mereka. Walau di beberapa bagian ini bisa menjadi lucu dan membuat saya tersenyum, tapi di beberapa bagian lain ini membuat saya sedikit mengerutkan kening.

Indonesia, terutama Bali, memang disinggung di novel ini. Mantan presiden Soeharto dan SBY juga disinggung. Maklum penulisnya menikah dengan orang Indonesia (konon, tokoh Amanda yang orang Bali itu, bisa jadi terinspirasi dari istrinya). Tapi sepertinya, ini memang bukan tipe buku favorit saya. Tapi karena tinggal 40% lagi, saya pun kemudian memutuskan menyelesaikannya. Walau tentu saya juga tak menolak, kalau harus menonton filmnya yang konon sudah dirilis sejak ahun 2013 lalu di Swedia.

Di tanggal 1 Januari saya mulai membaca beberapa buku sekaligus. Sengaja saya memilih yang tipis-tipis agar curriculum vitae baca saya jadi tambah banyak… J

Yang pertama saya baca adalah Wisanggeni Sang Buronan karangan Seno Gumira Ajidarma. Walau sudah punya bukunya sejak lama, dan membeli lagi cetakan republish-nya, ini salah satu karangan Seno yang terlewat saya baca. Mungkin karena latarnya wayang, dan saya sudah sedikit tahu tentang sosok Wisanggeni dalam pewayangan. Tapi akhirnya dapat juga saya selesaikan dengan cepat. Walau terasa ringkas, namun saya merasa penyajian cerita cukup pas. Apalagi ilustrasi dari Danarto menjadikan buku ini cukup penting untuk dikoleksi.

Yang kedua adalah Pesawat Pos Selatan karangan Antoine de Saint-Exupery. Secara tema dan setting, sebenarnya ini novel yang menarik tentang seorang pilot pesawat di masa lalu. Bagaimana ia mengirim surat-surat melintasi benua. Apalagi kemarin Pawon baru mengangkat Pangeran Kecil dan Antoine de Saint-Exupery dalam #bincangsastra.

Pesawat Pos Selatan adalah penggambaran kisah yang dialami Bernis sebagai pilot pesawat yang mengantarkan surat-surat dari benua ke benua. Namun tentu yang paling menarik adalah kisah cintanya dengan Genevieve. Itu adalah kisah cinta pertamanya. Rasanya cukup mengharukan membaca di bagian-bagian ini. Walau saya sedikit merasa novel ini sedikit berbelok untuk menggambarkan Genevieve, namun pada akhirnya pertemuannya dengan Bernis seperti melupakan belokan itu. Apalagi Antoine de Saint-Exupery melukiskan semuanya dengan cukup indah. Puitis.

Tapi entah kenapa saya kurang nyaman membacanya. Mungkin karena terjemahannya yang kurang asyik, atau memang naskah aslinya memang sudah agak-agak gimana gitu. Perlu polesan agar bisa dibaca dengan nyaman. Tapi tetap saja kog, ini menjadi buku yang menarik untuk dibicarakan.

Buku yang ketiga adalah Balada Becak karangan YB Mangunwijaya. Penggalan ulasannya saya bahas di postingan yang lain, dengan tema yang lain juga.

####

Iklan