pameran-buku1.jpg

pic dari https://flpjatim.wordpress.com/2011/09/17/pameran-buku-di-kota-kecil/

Bagi saya, kenangan datang di pameran buku paling menyenangkan mungkin saat pameran buku masih digelar di Gedung Sritex Slamet Riyadi Solo. Saat itu bukan karena saya bisa mendapat buku semacam Davinci Code dengan harga 30.000 saja, atau buku  sastra terbitan Serambi hanya 20.000 – 30.000, tapi karena banyaknya penerbit dan distributor yang mengikuti pameran membuat keadaan pameran buku jadi menyenangkan.

Tapi setelah itu keadaan menjadi berbeda. Ikapi tak lagi bisa membuat pameran yang menyenangkan. Beberapa stand berisi perpustakaan daerah, yang tak pernah saya tahu apa maksudnya berada di situ? Toko-toko buku seperti Gramedia lebih memilih membuat pameran di tokonya sendiri. Sejak itu pameran buku saya rasa lebih pas disebut obralan buku.

Tapi setidaknya di tahun 2016 ini, beberapa tahun berselang sejak pameran yang menyenangkan itu, beberapa kali obralan buku digelar. Entah oleh Ikapi, Goro Assalam, atau beberapa pihak lainnya.

Di Gramedia Slamet Riyadi Solo saja seingat saya, ada 3 kali obralan besar. Konon, seorang kawan yang bekerja di situ berujar, penjualan buku di toko tak memenuhi target, maka itulah dibuat obralan. Obralan besar yang dimaksud ini tentu tidak termasuk obralan yang ada di parkiran belakang atau yang memakai ruangan tidak sampai di halaman depan.

Di tahun itu juga, masih kita ingat obralan lain yang di lakukan Gramedia sebagai penerbit terbesar di nusantara yang melakukannya langsung di gudangnya. Konon buku-buku diobral 5.000an dengan promo poster yang membuat hati miris: diobral daripada dicacah menjadi bubur kertas.

Keadaan ini jadi double miris, karena beberapa kawan berpikir: masak menyewa tempat saja sudah menjadi perhitungan?

Ada apa sebenarnya dengan perbukuan kita?

Saya tentu tak berkepentingan menjawab pertanyaan dramatis itu. Dulu sepertinya sudah pernah saya tulis sebab-musabab keadan itu. Sekarang saya ingin mengorek-ngorek hal lain: sebenarnya dalam obralan yang terstruktur, sistematis dan masif ini, siapa pihak yang paling diuntungkan?

Kita lihat, dalam lingkaran obralan ini ada beberapa pihak yang terlibat: penerbit, toko buku/tempat yang mengadakan obralan, dan pembeli. Untuk masa sekarang pembeli dapat digolongkan menjadi dua: pembeli biasa dan pembeli dari toko lainnya/online.

Pihak utama dari lingkaran ini tentu penerbit. Apakah ia cukup diuntungkan? Dari ilustrasi di bagian awal, kita sudah tahu alasan diadakannya obralan. Omset yang tak sesuai target. Tapi tentu selain itu masih banyak alasan lain. Yang utama mungkin untuk menghabiskan stok di gudang yang menumpuk. Mereka tentu tak bisa terus-terusan menumpuk lagi dengan buku bukan? Lalu, apalah mereka mendapat margin keuntungan? Dengan obral wajar, bahkan hingga hingga 50% pun, mereka sebenarnya masih mendapatkan keuntungan tipis. Setidaknya biaya produksi kembali. Tapi dengan obralan yang hanya 5000-10.000 saja, tentu ini sekadar menjadikannya kertas itu uang. Apalagi bila itu dilaukan oleh pihak ketiga, semisal Raja Murah dan Yusuf Agency. Itu lebih menyakitkan lagi. Tapi kembali bila dicari sisi baiknya, penjualan seperti itu tentu tetap lebih menguntungkan daripada harus menjualnya secara kiloan, atau  mencacahnya kembali menjadi bubur kertas.

Pihak lainnya adalah toko buku. Tentu selain mendapatkan prosentasi keuntungan atas penjualan buku, ia juga mendapat uang sewa space tempat. Bagaimana pun mereka tetap menjual space itu kepada penerbit. Biasanya, itu pun dijual perpaket. Tapi apakah itu cukup menutup biasa operasional mereka? Saya dengar di beberapa titik dapat tertutup dengan baik, namun di beberapa titik yang lain tetap tidak bisa. Namun bagaimana pun dibandingkan dengan penerbit, pihak toko buku dianggap lebih baik posisinya.

Pihak lainnya adalah pembeli umum. Secara kasat mata tentu posisi pembeli terl;ihat sangat diuntungkan karena dapat membeli buku yang begitu murah.  Gone with the Wind hanya 40.000, Zahir hanya 20.000, dll. Tapi coba analisa lagi, biasanya karena obralan seperti itu, kategori keinginan pembeli menjadi sedikit lebih kendur. Pembeli tak lagi ketat memikih prioritasnya. Sebenarnya bisa jadi mereka hanya memerlukan 2-3 buku lain, namun karena harga buku yang sedemikian murah, mereka memilih membeli 10 buku. yang mungkn 7 – 8 buku di antaranya hanya akan tertata rapi di rak buku mereka.

Keadaan ini sedikit berbeda dengan pihak lainnya: pembeli untuk dijual kembali. Maraknya toko online menjadi lahan baru yang cukup diperhatikan penerbit. Saya berkali-kali terkesima melihat pedagang-pedagang online yang begitu ganas memborong buku-buku. Asal tahu, konon mereka juga datang dari luar kota. Mereka akan datang di hari pertama di jam pertama pula. Jadi saya tahu, kawan-kawan yang terlambat ke obralan itu, pastilah yang hanya mendapatkan buku-buku sisa saja.

Awalnya saya merasa pihak pembeli untuk di jual kembali atau toko online ini adalah pihak yang paling diuntungkan. Tapi apakah benar demikian? Saya mengobrol dengan beberapa kawan selaku penjual. Kadang perputaran buku memang sangat cepat, namun tetap saja tak sedikit buku yang begitu lambat, sehingga kemudian menumpuk. Ini berarti uang menumpuk. Keadaan tak terlalu terasa bila penjual masih bersifat kecil-kecilan, namun bagaimana dengan yang mulai beranjak besar, yang memiliki 2 – 3 karyawan? Karena konon buku seperti ini, tetap akan sulit  dijual kembali, walau dengan harga obral sekali pun.

Keadaan ini masih ditambah apakah esok keadaan seperti ini masih terjadi? Pihak penerbit apakah akan masih melakukan obralan membabi-buta seperti itu? Perputaran uang mereka tergantung sekali dengan ini (tentu bagi penjual online yang menjual buku reguler, keadaan ini tak mempengaruhi apa-apa). Jadi saat mereka tak mendapatkan stok buku murah lagi, penjualan mereka dapat dikatakan mandek.

Di antara semua pihak di atas, sebenarnya ada satu pihak lain yang nyaris terlupakan dalam lingkaran ini: penulis. Mungkin kawan-kawan tak tahu, kalau posisi penulis dalam keadaan ini biasa sudah tak lagi terlibat. Jangan bayangkan penulis masih menerima 10% dari buku yang sudah diobral 5.000 atau 10.000 itu. Walau masih mendapatkannya pun, itu jumlah yang sedikit sekali. Sebagain yang lain, kadang telah dihentikan pembayaran royaltinya. Beberapa penerbit telah menghentikan kerja sama. Beberapa penerbit yang kuat modalnya akan menganggap semua buku telah laku terjual dan mebayar tuntas royaltinya, beberapa yang lain membayarnya dalam bentuk buku itu sendiri, namun ada juga yang tak tahu rimbanya.

Jadi janganlah terlalu bangga memamerkan buku-buku kepada kawan kalian yang penulis saat kamu membelinya di obralan. Percayalah, itu tak begitu membantunya. Namun tentu dalam keadaan tak menguntungkan pun, selalu ada sisi baik yang terlihat. Mungkin secara finansial penulis tak mendapatkan lagi haknya di sini, tapi bisa jadi dari sini, ia akan mendapatkan pembaca baru yang lain, yang selama ini sulit diraihnya dari toko-toko buku mainstream. Ini tentu cukup berharga.

 

Jadi menurut kamu: siapa yang paling diuntungkan dari keadaan ini? Silahkan disimpulkan sendiri… J

 

***

Iklan