Umbira

Di mana aku?

Perlahan-lahan Umbira mulai mengejap-ngejapkan matanya. Semula ia seperti tak dapat melihat apa-apa, tapi perlahan ia mulai melihat garis cahaya di kejauhan. Hidungnya yang semula hanya menyiium bau apek, kini mulai dapat menyium aroma wangi, seperti aroma bunga-bunga yang selama ini sering diciuminya.

Umbira tiba-tiba menyadari kalau ia ternyata berada di atas sebuah bunga. Ya, dalam sebuah bunga yang masih menguncup. Ini langsung membuatnya bertanya tak mengerti; kenapa aku bisa berada di sini? Tubuhku kan lebih besar dari bunga?

Umbira memutuskan untuk bangkit berdiri. Tangan kecilnya mencoba menyibak kelopak bunga di atas kepalanya. Satu demi satu, hingga seluruhnya akhirnya dapat tersibak. Umbira bagai merasa menjadi kumbang yang baru saja keluar dari kuntum bunga.

Umbira melempar pandangan ke sekelilingnya. Baru disadarinya bila bunga tempatnya berada sekarang, merupakan bunga teratai yang ada di tengah-tengah sebuah danau. Danau yang berair keemasan dan dipenuhi banyak sekali bunga teratai lainnya.

Dengan ragu, Umbira melompat ke helai daun yang menggenang di atas air. Ia memutuskan untuk kembali melompat ke daun teratai terdekat. Itu dilakukannya berkali-kali, hingga akhirnya ia tiba di tepian.

Kini, tanpa sempat merasa lega, Umbira menyadari kalau ia telah berada di tepi sebuah hutan yang nampak begitu angker. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat pohon-pohon besar dan kegelapan yang sangat pekat. Ini membuatnya ragu untuk melanjutkan langkah.

Tapi di tengah keraguan itu, Umbira melihat seorang kurcaci yang muncul dari balik semak-semak. Ia tahu orang bertubuh kecil itu disebut kurcaci karena ia pernah membaca Putri Salju dan 7 kurcaci. Tapi kurcaci yang ada di depannya ini hanya satu saja. Tidak gemuk, dan wajahnya pun berwarna merah. Sungguh berbeda sekali dengan dengan kurcaci-kurcaci di Putri Salju.

Umbira ingin sekali menegur kurcaci itu. Tapi mulutnya terlalu kelu. Ini pasti gara-gara selama ini ia memang lebih suka diam dan tak mengucapkan apa-apa.

“Hei, jangan berdiri di situ!” tiba-tiba kurcaci itu berteriak ke arahnya. “Raksasa bisa melihatmu!”

Umbira terkejut. Tanpa peringatan kedua, ia sudah berlari mendekati kurcaci.

“Mau ke mana kau?” tanya kurcaci itu. Suaranya sama sekali tak terdengar ramah.

Umbira mengangkat bahu, “Aku tak tahu. Aku tiba-tiba saja berada di situ,” Ia menunjuk danau di mana bunga-bunga teratai berada.

Kurcaci itu nampak tak peduli. Ia sudah beranjak melangkah.

“Bisakah aku ikut denganmu?” tanya Umbira sedikit memohon.

“Silahkan saja,” kurcaci itu sudah melangkah masuk ke dalam hutan.

Umbira berjalan dengan cepat. Entah kenapa perasaannya seperti menyuruhnya agar ia tak berjauhan dengan kurcaci itu. Namun hanya 30 langkah berselang, Umbira menyadari kalau pohon-pohon di sekelilinya ternyata nampak saling bicara. Mereka nampak diam saat ia dan kurcaci itu lewat, namun ia bisa melihat mata pohon-pohon itu tak henti mengikuti gerak-geriknya.

“Mereka… bicara?” bisik Umbira nyaris tak terdengar.

“Tentu saja, mereka bahkan minum teh di sore hari,” kurcaci itu menjawab sekenanya.

Umbira hanya bisa menahan napas. Ia tentu berharap kurcaci sedang mencandainya, tapi ia kemudian sadar kalau kurcaci itu bukanlah sosok yang memiliki rasa humor. Umbira pun memilih tak lagi berkata-kata. Ia hanya mengikuti langkah-langkah kurcaci.

Tak berapa lama, keduanya melewati sebuah padang luas di mana semua binatang nampak memiliki sayap. Tiga ekor gajar sedang mematuki pucuk-pucuk daun, seekor monyet yang tengah memperbaiki sayapnya, juga beberapa ekor harimau nampak sedang bertarung dengan buaya-buaya besar.

Mulut Umbira menganga lebar. “Mereka… semua terbang?”

“Tentu saja. Itu gunanya sayap.”

“Tapi… bagaimana bisa?”

“Bisa saja,” kurcaci menoleh. “Kuceritakan rahasia ya? Saat Tuhan sedang menciptakan burung-burung, stok sayap untuk para burung itu tersenggol sikunya, lalu jatuh semuanya ke mari. Itulah mengapa semua binatang di sini memiliki sayap…”

“Tapi itu… tak mungkin…”

“Kau tentu tak harus percaya.”

Kurcaci itu melanjutkan langkahnya, tak peduli dengan kebingungan Umbira. Hingga mereka tiba di kaki sebuah bukit batu yang tinggi.

“Lihat!” kurcaci itu menunjuk.

Umbira awalnya tak melihat apa pun di tempat yang ditunjuk kurcaci. Tapi kemudian, ia melihat seorang raksasa yang nampak tengah tertidur di antara batu-batu itu.

“Dia itu yang terganas! Suka memakan kami semua. Sialnya, ia memakan tampa mengunyahnya dengan baik, jadi bisa kau bayangkan tubuh kami masuk ke dalam tubuhnya dengan belum sepenuhnya mati.”

Tubuh Umbira langsung bergidik. Namun entah mengapa, melihat raksasa itu di kejauhan, ia malah teringat pada sosok raksasa lain, raksasa yang seharusnya dipanggilnya papa. Ini mungkin karena caranya tidur yang sembarangan, juga suara ngoroknya yang menggelegar, nyaris sama seperti papa. Tapi ia tahu, papa tak hanya sekadar seperti raksasa itu. Ia bahkan lebih menyerupai monster yang mengerikan. Sungguh, ini membuat Umbira bergidik ngeri.

“Sekarang, lanjutkan sendiri perjalananmu!” ujar kurcaci itu.

Umbira tentu saja terkejut. Ia tak menyangka kurcaci itu akan meninggalkannya begitu saja. “Tapi aku harus ke mana?”

Kurcaci itu mengangkat bahu, “Terserah kau.”

“Apa… aku harus kembali ke bunga raksasa itu?”

Kurcaci itu menggeleng dengan sebal, “Kau ini, kenapa menjadi linglung begini? Bukankah seharunya kau keluar saja dari kotak ini?”

Kotak?

 

 

Ucapan kurcaci itu seperti melempar Umbira ke tempat yang menakutkan dan sama sekali tak pernah diinginkannya. Tempat di mana monster yang sebenarnya berada.

Umbira sebenarnya tak pernah ingin ke sini lagi. Ia ingin terus berada di dalam kotaknya saja. Kotak itu telah dianggapnya sebagai kotak ajaib. Di situ ia bisa bergembira seperti yang seharusnya. Bukankah kata mama, papa kandungnya dulu menamainya dengan mengambil dari kata ‘gembira’? Tapi Umbira tak bisa seperti itu terus. Walau ia menguatkan hati sekeras mungkin, dan pergi ke tempat-tempat yang jauh dan tak pernah dibayangkannya, tapi pada akhirnya ia akan selalu kembali ke sini. Ia tahu dengan kembali, itu sama artinya dengan membiarkan monster itu menjambak rambutnya dan menampari wajahnya. Lebih dari itu, itu juga berarti membiarkan dirinya melihat mama yang menangis meraung-raung, tanpa bisa melakukan apa-apa lagi.

Seharusnya Umbira dapat bersembunyi hingga monster itu tak mampu menemukannya. Bukankah, sejak dulu ia selalu punya tempat persembunyian yang baik? Umbira ingat ia pernah bersembunyi dalam lemari tua. Di situ sangat aman. Tebalnya kayu, membuatnya tak bisa mendengar teriakan-teriakan monster itu. Tapi hanya beberapa saat saja, monster itu berhasil menemukannya.

Umbira kemudian mencoba mencari persembunyian yang lain. Di gudang, di antara tumpukan barang-barang yang tak lagi dipakai, ia kemudian menemukan sebuah kardus bekas televisi. Walau ia harus berjuang mengusir kecoa di situ, namun pada akhirnya ia merasa telah menemukan tempat paling sempurna untuk bersembunyi.

Ia ingat film Spongebob yang dulu sering ditontonnya. Spongebob dan Patrick juga pernah bersembunyi di kardus televisi. Di dalamnya mereka bisa menjadi apa saja, bahkan menjadi bajak laut. Ia ingin seperti itu. Maka sedikit demi sedikit, Umbira kemudian membawa mainannya yang tak banyak itu ke dalam kardusnya. Boneka kurcaci berwajah merah, bunga-bunga teratai, dan beberapa miniatur binatang-binatang dari plastik yang dulu pernah dibelikan mama.

Nanti saat tengah meringkuk di situ, Umbira akan membayangkan hal-hal yang menyenangkan saja. Ia akan membuat kurcacinya menjadi lucu, dan binatang-binatang plastik itu ramah padanya. Ia akan mengajak semuanya pergi ke tempat yang menyenangkan: ke hutan penuh coklat, atau ke lautan es krim. Tapi entah kenapa, semakin lama, hal-hal yang menyenangkan pun tak bisa dibayangkannya?

Sementara di luar sana, ia tahu suara monster itu terasa semakin dekat saja dengannya. “Sundaaal! Di mana kau?!”

Umbira semakin meringkukkan tubuhnya. Ia takut. Takut sekali.

Di saat seperti ini, ia akan membenci mama, karena mamalah yang membawa dirinya ke rumah ini. Mama juga yang tak mengindahkannya saat ia memohon agar mereka pergi dari sini. Mama tak pernah mengabulkan. Mama hanya menangis.

 

 

Monster itu akhirnya menemukan tempat persembunyian Umbira. Ia memukulinya lagi. Kotak ajaibnya hancur tak berbentuk.

Saat itulah Umbira kemudian memutuskan sesuatu yang berani. Ia akan pergi dari rumah ini. Ia benar-benar tak mau dipukui lagi. Ia tak mau menangis lagi. Walau ia tahu, dengan pergi dari sini, ia akan berpisah dengan mama. Toh ia berjanji, kelak, bila sudah besar, ia bisa datang kembali untuk membawa mama pergi.

Jadi malam ini juga, saat mama dan papa mulai tidur, Umbira mengendap-endap ke depan. Sebenarnya ia ingin membawa kardus ajaibnya. Tapi melihat keadaan kardusnya, ia mengurungkan niat itu. Maka ia pun hanya membawa mainan-mainannya saja.

Umbira berjalan keluar rumah. Sengaja ia tak memilih jalan besar, karena tahu, monster itu pasti akan dengan mudah menemukannya.

Tak berapa lama berjalan, Umbira melihat 14 anak sedang duduk-duduk di depan sebuah rumah kosong. Ia merasa lega, saat mengenali 3 anak di situ sebagai teman sekolahnya. Maka Umbira pun tak ragu mendekat.

Umbira baru merasakan sesuatu yang buruk saat mencium bau minuman yang menyengat. Ini sama seperti yang sering diminum monster itu di rumah. Bayangannya terhadap ke 14 anak di dekatnya ini pun berubah. Kalau tadi ia tersenyum memandang mereka, seakan-akan melihat malaikat penyelamatnya, kini ia melihat mereka tak ubahnya seperti monster itu. Terutama kepada anak yang lebih besar, yang dengan berani mulai memeluknya.

Umbira mencoba melarikan diri. Tapi anak yang lebih besar itu sudah menariknya ke dalam rumah kosong. Umbira berteriak-teriak, berharap 3 anak yang dikenalnya itu, menolongnya. Tapi mereka malah ikut tertawa-tawa saja.

Lalu, seiring kepekatan yang menelan bulan dan bintang-bintang, hanya ada keperihan yang menulang.

Umbira, Umbira… seharusnya kau tetap berada di kotak ajaibmu…

 

 

Di mana aku?

Perlahan-lahan Umbira mulai mengejap-ngejapkan matanya. Semula ia seperti tak dapat melihat apa-apa, tapi perlahan ia mulai melihat garis cahaya di kejauhan. Hidungnya yang semula hanya menyiium bau apek, kini mulai dapat menyium aroma wangi, seperti aroma bunga-bunga yang selama ini sering diciuminya.

Umbira memutuskan untuk bangkit berdiri. Tapi tubuhnya terasa sangat ringan. Ia tiba-tiba saja sudah melayang, terbang seperti mainan binatang-binatang plastiknya dijumpainya di hutan lebat itu. Yang berbeda, ia terbang tanpa sayap, seakan hanya dibantu oleh hembusan angin yang lembut.

Saat matanya berpaling ke bawah, Umbira mengenali tubuhnya yang diam dan tak bergerak di bawah sana, meringkuk dalam sebuah kardus kotor. Tentu Umbira segera mengenali kalau kardus itu bukan kardus ajaib miliknya. Tubuh Umbira semakin tinggi, ia bahkan harus memicingkan matanya untuk terus melihat ke bawah. Tapi tali rafia itu memang masih terlihat jelas terikat di tangannya, juga darah yang seperti menggenang di sekitar selangkangannya…

 

***

Iklan