Gentayangan.

…kebahagiaan adalah sebuah terminal, tak ada yang tinggal terlalu lama di sana…

 

Mungkin ini bukan review yang seharusnya. Saya sekadar ingin cerita.

Tapi sebelumnya saya senang bisa menyelesaikan novel tebal lagi, setelah setahun terakhir ini rasanya sulit sekali melakukannya. Itu mungkin karena kini saya sudah memakai kacamata, sehingga tulisan-tulisan jadi kembali terlihat dengan jelas… J

Bisa jadi, Gentayangan adalah buku yang paling saya tunggu tahun ini. Beberapa tahun lalu saya sempat bertanya-tanya: kapan Intan Paramaditha menulis lagi? Buku Sihir Perempuan masih jadi salah satu kumcer terbaik yang pernah saya baca. Dan Kumpulan Budak Setan juga menjadi kumcer yang perlu diingat, tentu bila seluruhnya ditulis Intan sendiri… 😀

Dulu, saat kanak-kanak, buku Pilih Sendiri Petualanganmu pernah jadi buku kesukaan saya. Mungkin saya sudah membaca semua judul buku karangan R.A. Montgomery, Edward  Packard dan diterjemahkan edisi Indonesianya oleh Djokolelono itu. Saya tak cukup ingat. Yang pasti buku-buku itu saya kenang karena punya cover khas berwarna putih yang terlihat manis.

Karena sudah membaca buku-buku itu, saat melihat tulisan di cover novel Gentayangan: pilih sendiri petualangan sepatu merahmu, saya tahu Intan membuat buku ini seperti buku-buku lama itu. Saya hitung-hitung rasanya dalam satu dekade ini tak ada lagi buku-buku seperti itu. Tak heran, seorang kawan seperti terheran-heran mendapati buku yang memberi banyak alternatif alur cerita ini.

Satu hal yang saya simpulkan saat membaca buku-buku Pilih Sendiri Petualanganmu itu adalah ada satu kisah utama, dan kisah-kisah lainnya adalah kisah-kisah tambahan. Walau pasti, kisah tambahan pun bisa jadi sama kuatnya dengan kisah utama. Dan untuk menandai kisah utama, cukup mudah. Biasanya ikuti saja kisah yang paling panjang, dan satu lagi: sesuai karakter penulis (dalam hal ini sesuai standar seri Pilih Sendiri Petualanganmu). Maka itulah, saat memulai membaca Gentayangan, saya mulai menebak-nebak apakah alur yang saya jalani ini merupakan kisah utama?

Cerita Gentayangan dibuka dengan dimulainya hubungan Maimunah dengan seorang iblis. Ia memberi sepatu ajaib yang bisa membawa Maimunah ke tempat yang tak terduga. Tak heran, bila ia kemudian terdampar di New York.

Alur yang cepat saya pikir selalu jadi kekuatan Intan, seakan ia tak membiarkan pembacanya bernapas. Dua pilihan alur kisah kadang langsung bertolak belakang, semacam hitam dan putih. Tapi tentu, saya selalu mencoba mengikuti alur yang saya pikir sesuai dengan karakter tokoh utama, atau dalam hal ini: merupakan alur yang -kemungkinan besar- diinginkan Intan saat menulis cerita-cerita seramnya.

Kisah yang selesai di awal-awal, langsung saya simpulkan merupakan kisah-kisah tambahan. Tapi semakin ke sini, dan mulai mendapati beberapa kisah yang kuat, membuat saya mulai bertanya-tanya: mana kisah utama dalam buku ini?

Dengan menulis dari sudut pandang orang kedua tunggal, tokoh Kau seperti terasa dekat. Saya bayangkan kalau Intan memakai sudut pandang orang pertama atau orang ketiga, apakah efeknya juga sama? Saya rasa mungkin berbeda. Memakai tokoh Kau, seperti bisa terus diawasi, bagaimana pun Kau telah melakukan perjanjian dengan Iblis, dan iblis bisa ada di mana pun -walau ia tengah tak ada dalam kisah. Ini masih ditambah saat di beberapa kisah, Intan mengeluarkan tokoh Aku. Saya jadi terus bertanya siapa Aku? Kenapa posisinya menjadi tidak lebih penting dari Kau?

Saya suka di bagian Permainan Rumplestiskin.  Ini salah satu bagian paling kuat menurut saya. Perkara sederhana dari sekadar melupakan nama, Intan mampu menggarapnya dengan penuh thriller. Saya bahkan –yang saat itu masih membaca di awal-awal- sempat juga bertanya-tanya, siapa namanya? Tapi saya enggan membuka halaman sebelumnya, seakan saya juga menyederhanakan permasalahan itu. Cerita kemudian bergerak tak seperti yang saya bayangkan. Lalu saya tiba-tiba seperti sudah mendapati ending, yang terasa sangat dingin.

Saya juga suka kisah Epon, ibu Maimunah, yang tergila-gila dnegan kunang-kunang. Lokalitas Indonesia masih begitu kentara. Saya bisa membayangkan kuburan dengan kunang-kunangnya, serta mitos masa kecil saya: kunang-kunang yang berasal dari kuku orang-orang mati. Saya membayangkan begitu mistisnya saat Epon mengendap-ngendap  ke sana untuk sekadar melihat kunang-kunang. Kejadian ini kemudian terulang dua kali, kali berikutnya tentu pada Maimunah. Namun pengulangan yang kedua ini memiliki drama yang lebih aneh dan mengerikan. Kengerian yang tercipta sebelum iblis muncul untuk mengggenapinya.

Satu kisah tentang Pelacur Babilonia juga menarik. Awalnya terkesan seperti celetukan biasa. Namun ternyata ini membawa satu kisah panjangnya sendiri bagi toko Kau. Di sini, saya senang karena kemudian alur mulai membentuk kisah tentang sepatu merah. Bagaimana pun, ini kisah memilih sendiri sepatu merah kan? Dan saya senang eksekusi di kisah ini. Saya pikir ini adalah kisah yang paling mengerikan di antara semua kisah. Itu menurut saya.

Satu kisah yang berakhir happy ending tak membuat saya tertarik. Sudah jelas, itu bukanlah cerita utama buku ini. Hanya sekedar kisah tambahan saja. Dan saya yakin, bagian ini tentu bukan pula keinginan Intan. Itu dapat dilihat karena ditulis dengan ringkas-ringkas saja, seakan Intan tengah terburu-buru. Ia sepertinya menyadari kalau kisah seperti ini memang bukan bagian dirinya.

Membaca  Gentayangan tentu tak seperti membayangkan membaca Goyang Penasaran. Teks berpadu dengan lirik lagu-lagu dangdut dengan apik. Kisah, mitos dan kengerian dibangun  secara intens. Bagaimana pun membaca cerita seram butuh intensitas yang terus- menerus. Saya merasa dengan memilih sendiri jalan cerita, intensitas itu terasa sedikit berkurang. Sungguh, saya lebih setuju bila semua kisah dipilhkan oleh penulisnya.

Dan kalau boleh membandingkan buku ini dengan buku Sihir Perempuan, kengerian dalam buku ini seperti tak sampai di puncaknya. Mungkin setting kota di Amerika juga menghilangan kekuatan horor lokal yang selama ini begitu melekat pada Intan. Bagaimana membayangkan horor di kota New York, selain psikopat dan hantu-hantu yang begitu-begitu saja khas Hollywood? Saya juga merasa kadang-kadang iblis terlalu lama pergi dari kisah?  Saya sering bertanya-tanya ke mana dia? Bagaimana bisa ia hilang sedemikian lama? Seakan-akan ia begitu sibuknya dengan dirinya sendiri.

Saya sadar mungkin Intan tak sedang mengulang metodenya yang dulu. Bagaimana pun kisah seram selalu identik dengan ketidakbahagiaan, dan itu tak baik buat tubuh. Orang-orang butuh dihibur dengan kisah-kisah happy ending. Dan intan juga mencoba melakukan itu, walau tentu ia juga tetap menggarap yang sesuai keinginannya.

Lalu alur yang mana yang menjadi kisah utama dari buku ini? Setelah mendapati beberapa kisah, saya mulai berpikir rasanya tak menjadi penting mencari kisah utama di buku ini. Beberapa kisah sudah dibuat Intan ada dalam kelokan yang tajam dan tak terduga. Dan sebagai penulis saya tahu itu sesuatu yang tak mudah dilakukan.

Setidaknya saya merasa senang membaca buku itu. Maka itu saya menulis reviewnya, dan tetap menunggu buku Intan berikutnya… 🙂

 

 

Iklan