afatha cristie

Jadi saat 3 terdakwa –seorang Rabi, seorang pendeta, dan seorang imam- maju di Tembok Ratapan di Yerusalem, semua orang yang yang ada di situ seketika terdiam, ketika seorang lelaki dengan kumis aneh maju ke depan dan mulai menjelaskan teori tentang hilangnya salah satu benda berharga di Gereja Makam Suci.

Kumis laki-laki begitu menyita perhatian. Kalau kamu yang selama ini merasa kumis Mas Adam sudah top banget, percayalah bila berhadap-hadapan, kumis Mas Adam itu pasti akan menjura memohon ampun pada kumis ini. Kumis ini begitu karismatik. Warnanya abu-abu, melintang dari hidung hingga sepanjang pipi, bagai potongan ekor kucing yang sengaja ditempel dengan lem Uhu. Dan kalian tak perlu juga bertanya heran: masak sih kumis bisa begitu? Ini Eropa, gaes, mereka punya hormon kumis yang tinggi, tak seperti kita yang harus dibantu dengan minyak Firdaus.

Laki-laki pemilik kumis itu  adalah Poirot –Hercule Poirot– bisa jadi ia adalah detektif paling ternama setelah Sherlock Holmes. Karakter rekaan Agatha Christie ini begitu melekat di novel-novel penulis Inggris yang dijuluki The Queen of Crime.

Cerita tentang Christie sedikit, ia lahir 18 September 1890 dengan nama Agatha Miller. Mengawali debutnya dengan menulis cerita pendek di koran setempat. Suasana Inggris yang saat itu masih sangat patriakri, membuatnya harus memakai nama samaran laki-laki agar bisa dimuat. Debut novel pertamanya The Mysterious Affair at Styles (1920) –yang juga mengenalkan karater Hercule Porot pertama kali– sempat membuat ragu beberapa penerbit. Karena tak ada penulis perempuan yang menulis cerita kriminal pada saat itu. Tapi novel itu kemudian sukses, diikuti novel-novel selanjutnya.

Murder on the Orient Express (MOTOE) pertama kali dipublikasikan tahun 1934. Tapi sebenarnya publikasi pertama kisah ini ada di Saturday Evening Post tahun 1933 yang terbit di Amerika. Judulnya sedikit berbeda: Murder on the Calais Coach, dan dimuat dalam 6 seri.

Penggemar yang kurang kerjaan menduga-duga Agatha Christie merancang novel ini saat ia melakukan penggalian arkeologis bersama Max Mallowan –suami keduanya– di Arpachiyah, Iraq, dan di The Pera Palace Hotel di Istanbul Agatha Christie menulis novel ini. Tentu ini informasi yang tak penting-penting amat. Saya sediri menulisnya untuk sekadar menambah-nambah jumlah karakter saja.

Konon cerita daam novel ini terinspirasi dari beberapa kejadian di masa itu. Salah satunya oleh kasus Lindbergh; sebuah kasus penculikan putra Charles Lindbergh, seorang yang dianggap pahlawan internasional. Anak yang masih berusia 20 bulan itu, ditahan dengan permintaan uang tebusan $50.000. Uang tebusan itu akhirnya dibayarkan, tapi nyawa bocah malang itu terlanjur melayang. Inspirasi lainnya: adalah sebuah insiden pada tahun 1929 ketika Orient Express terjebak dalam badai salju di Çerkezköy, Turki, di mana kereta itu seperti lenyap selama 6 hari tanpa kabar berita. Christie sendiri sempat terlibat dalam kejadian serupa saat bepergian dengan Orient Express. Kereta itu macet untuk jangka waktu tertentu karena curah hujan dan banjir yang lebat, yang meghancurkan beberapa jalur yang harus dilewati.

Kesuksesan novel itu kemudian membuatnya diadaptasi untuk layar lebar pada tahun 1974. Disutradarai oleh Sidney Lumet dan dibintangi Albert Finney sebagai Hercule Poirot, film ini menjadi film terlaris ke-11 tahun itu. Oya, saat pemutaran perdana film itu di London, Agatha Christie yang berusia 84 tahun, sempat hadir. Ini adalah penampilan publik terakhirnya.

***

Kini tahun 2017, MOTOE kembali diangkat ke layar lebar. Dengan bintang-bintang top saat ini seperti Kenneth Bragnagh, Johnny Dep, Michelle Pfeiffer, Willem Dafoe, Daisy Ridle, Penelope Cruz, dan lain-lain, MOTOE lebih nampak seperti ingin melakukan parade artis top dari pada membuat sebuah film. Ceritanya tentu masih memakai alur yang diciptakan Christie, tapi Bragnagh –yang juga selaku sutradara– dalam satu wawancara mengatakan kalau ia tetap akan memberi kejutan-kejutan untuk penonton. Itu tentu artinya: ia akan mengubah beberapa alur yang sudah dihapal penggemar Christie.

Sebagai pembaca Christie di masa lalu, saya masih ingat membaca buku-buku Christie harus memiliki napas panjang, rajin berolah raga, dan tidak perlu memiliki sosmed. Karena alurnya yang bergerak lambat dan sangat detail. Apalagi bila Christie sedang memakai karakter Miss Marple.  Alur lambat ini bisa semakin melambat sekitar 20%.

Cerita MOTOE sendiri dimulai dengan prolog kehebatan Poirot di Tembok Ratapan seperti yang saya tulis di bagian awal tulisan ini. Poirot kemudian melanjutkan perjalanan untuk berlibur dengan Orient Express, kereta super mewah yang memiliki rute membelah seluruh Eropa. 13 penumpang yang ada di situ bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka: seorang professor rasis, seorang ningrat yang banyak maunya, pedagang antik yang culas, dokter kulit hitam, pengusaha sukses Amerika, seorang janda pemburu suami, seorang yang taat beragama dan selalu mengingat dosa, dan lain-lainnya. Satu yang pasti: mereka punya tujuan masing-masing di perjalanan ini. Tereeeeng!!!

Lalu saat Samuel Ratchett –pengusaha penjual barang antik yang culas tewas terbunuh secara mengerikan dengan 12 tusukan di tubuhnya– suasana dalam kereta berubah. Ditambah longsornya salju membuat kereta terpaksa berhenti. Poirot yang diminta menangani kasus itu terpaksa mengorbankan liburannya. Ia harus meemcahkan kasus ini sebelum kereta sampai di stasiun berikutnya.

Lalu dimulailah wawancara satu demi satu dari 12 penumpang yang tersisa. Di bagian ini, bisanya pembaca novel akan mulai membaca lebih detail karena di sinilah bertebaran berbagai petunjuk-petunjuk penting. Tapi di filmnya, tidak begitu.

Mungkin MOTOE sedikit meniru film Sherlock Holmes. Alur yang seharusnya lambat dan detail, tiba-tiba menjadi cepat. Satu tokoh dan tokoh lainnya, seperti berkejaran memberi petunjuk, bahkan sebelum penonton menyadarinya. Ini bukti nyata kerja otak tak ada apa-apanya dibanding kerja layar di depan kita.

Satu demi satu masa lalu penumpang mulai terkuat, terutama tentang Rachett yang ternyata adalah nama samaran dari Cassetti, orang yang terlibat dalam penculikan anak keluarga Kolonel Armstrongs di Amerika beberapa tahun lalu. Kasus ini sangat heboh –kalau saya kalkulasi secara matematik: mungkin 9 kali lebih heboh dari kasus kopi beracun Jessica– karena keluarga Kolonel Armstrongs adalah keluarga ternama di Amerika. Ia tokoh masyarakat, dan dapat dikatakan seorang pahlawan. Dampak dari kasus itu ternyata begitu luar biasa, banyak nyawa yang kemudian menyusul anak malang itu.

Lalu, dengan analisa super tajam Poirot, ia mulai melihat kelindan samar para penumpang kereta api ini dengan keluarga Armstrongs. Setiap penumpang tiba-tiba punya alasan kuat menjadi pembunuh Rachett!

Tentu jangan berharap kejadian ini bergerak seperti di novelnya. Seperti yang dikatakan Bragnagh, memang ada beberapa perbedaan antara novel dan film. Tapi di sini saya bukan ingin membedah perbedaan itu. Karena perbedaan itu indah, yang penting kita satu Indonesia.

Tapi yang pasti, bayangan saya tentang karakter Poirot di sini, seperti menjadi lebih muda dan lebih gesit. Ia bukan hanya pria super cerdas yang membosankan dan senang duduk-duduk sambil berpikir, tapi juga beraksi. Ia tak segan berkelahi, dan menang bagai jagoan, tanpa sedikit pun membuat kumisnya awut-awutan. Jadi kalau dulu –selepas peluncuran film ini di tahun 1974– Agatha Cristie mengomentari kumis Poirot masa itu dirasanya kurang sip, mungkin bila ia menonton filmnya kali ini, ia akan menganga suka, sambil bergumam: Aaah, ini kumis terbaik Poirot…

Oya, kalau ada yang bertanya-tanya kenapa sih yang diangkat novel ini? Kan banyak novel Atatha Christie yang juga keren? Apalagi MOTOE termasuk yang kerap diangkat ke layar (sekadar catatan saja, setelah film tahu 1974, sempat juga dibuat sebuah film untuk TV tahun 2001, dan sebuah episode dalam Agatha Christie’s Poirot tahun 2010), mungkin jawabannya bisa ini: dalam suatu survey tentang naskah Agatha Christie paling disukai di seluruh dunia tahun 2015, MOTOE ada di peringkat 2 (Nomor 1 – And Then There Were None dan nomor 3 – The Murder of Roger Ackroyd). Jadi wajar bila MOTOE yang kemudian diangkat.

Tapi jangan kuatir di akhir film ini, Bragnagh seperti memberi kode saat ia bicara tentang pembunuhan di Sungai Nil. Ahai, apakah itu naskah Agahta Christie selanjutnya yang akan diangkat?

Tapi tentu kita tak usah menunggu! Karena di bulan-bulan ini, ternyata malah naskah lainnya yang muncul. Ya, kalau tahun ini, novel Agartha Cristie yang diangkat adalah naskah kesukaan penggemar, tahun depan rencananya salah satu novel favorit Agartha Cristie sendiri –Croocked House– juga sudah dibuat dan akan dirilis awal 2018 (eh, ternyata donlotya sudah keluar… :P). Untuk kisah ini, percayalah, jangan melihat judul terjemahan Indonesianya. Itu adalah spoiler yang menjengkelkan!  Ups!

***

materi sempat dibawakan dalam acara #bincangsastra Solopos FM, 21 Januari 2018
Iklan