pamukMembaca The Red-Haired Woman, membuat saya sedikit heran. Saya membacanya dengan lancar tanpa perlu mengulang bagian-bagian tertentu. Pamuk yang saya tahu, tidak seperti ini. Saya ingat saat membaca The White Castle rasanya kerap sekai mengulang paragraf. Saat membaca Istanbul pun demikian.

Beberapa kawan yang juga membaca The Red-Haired Woman ternyata juga berkomentar begitu. Kata mereka, ini novel Pamuk yang paling mudah. Di resensi sebuah koran, saya malah menemukan analisa lebih kejam lagi. Kata peresensi, buku ini adalah pilihan yang salah. Ia bahkan menanyakan kenapa penerbit Bentang menerbitkan buku ini dibanding buku lainnya?

Menurut saya sendiri, walau The Red-Haired Woman cukup mudah dibaca, tapi jelas kalau buku ini sama sekali tidak jelek.

Narasi dari sudut pandang orang pertama tunggal yang dibuat Pamuk begitu konsisten, tanpa pernah tergoda untuk melabraknya, walau –tentu– ia punya kemampuan untuk itu. Semua narasi muncul dari kacamata tokoh Cem Celik. Itu mungkin yang membuat semuanya terasa mudah. Bagian pertama novel, diawali saat Cem masih berusia 16 tahun. Ia tentu tak berpikir rumit kala itu, tak juga berkata-kata rumit. Pamuk yang telah berusia separuh baya, saya pikir sukses membawakan sosok Cem dalam narasinya.

Hampir dalam separuh buku Pamuk menjelma menjadi anak laki-laki berusia 16 tahun yang harus bekerja menggali sumur bersama ahli sumur Tuan Mahmut. Di sini, saya seperti tersadarkan kalau di suatu masa, pekerjaan membuat sumur bukanlah pekerjaan yang biasa. Saya ingat, di jaman saya kecil, kami harus mengantri cukup lama untuk bisa memanggil penggali sumur. Karena ahli sumur di suatu kota, tidaklah banyak. Konon, beberapanya bahkan memakai ilmu-ilmu tertentu untuk mencari titik air.

Di sela-sela pekerjaan itulah, Cem bertemu dengan seorang perempuan yang memikat hatinya. Perempuan itu: Gulcihan, atau perempan berambut merah. Hampir setiap malam di saat seharusnya beristirahat, Cem pergi ke kota untuk sekadar melihat perempuan yang merupakan seorang pemain teater. Ini semacam kegilaan seorang anak muda pada seorang wanita, tapi ia tak cukup berani untuk maju ke depan. Jujur saja, saya sempat merasa tak sabar untuk mengikuti detail kisah di bagian ini. Untunglah, di penghujung pertemuan, keduanya bisa bicara akrab. Perempuan berambut merah itu kemudian membawa Cem ke apartemennya. Keduanya kemudian bercinta di situ.

Kejadian ini seketika mengingatkan saya pada penggalan quotes di buku ini: Kisah Oedipus versi modern. Ya, tak bisa dipungkiri, ide utama buku ini adalah legenda tentang Oedipus, di mana seorang anak harus membunuh ayahnya dalam sebuah perang, dan kemudian menikahi ibunya. Saya –dan pembaca lain saya yakin- jadi mulai bertanya-tanya apakah kisah Cem akan dibawa ke arah itu? Cem membunuh ayahnya? Dan menikahi ibunya?

Dugaan seperti itu tak menjadi lebih mudah saat Pamuk, kembali memunculkan legenda lainnya, Sohrab dan Rustam. Ini kisah dari Kitab Syahnameh yang ditulis penyair besar Persia Firdausi di abad ke-10. Kisah ini cukup detail diceritakan Pamuk. Di beberapa halaman, bahkan dinarasikan dengan begitu panjang.  Inilah yang membuat saya bingung. Kisah Sohrab dan Rustam, berkebalikan dengan kisah Oedipus. Di sini, sang ayahlah yang membunuh anaknya. Dugaan pembaca menjadi tidak mudah.

Sementara kisah Cem terus berlanjut. Novel yang sebenarnya tak terlalu tebal ini sanggup menceritakan hampir seluruh kisah hidup Cem. Tak hanya masa remaja dan kuliahnya, ia juga diceritakan beristri dan menjadi pengusaha kontruksi yang sukses. Di bagian ini konflik seperti melambat. Kehadiran sang ayah, dan pertemuan-pertemuan hangat keduanya, tak membuat kisah menjadi kuat seperti sebelumnya. Saya masih terus bertanya-tanya: ke mana perempuan berambut merah?

Kejutan seperti sengaja disimpan Pamuk dengan rapi. Tak hanya satu kejutan, tapi beberapa kejutan sekaligus. Mulai dari bagaimana nasib Tuan Mahmut yang ditinggalkan Cem di dalam sumur, keberadaan perempuan berambut merah, hingga email yang datang dari sosok yang mengaku anak Cem. Semua yang disimpan rapi, satu-persatu mulai terbuka. Saya pikir di titik inilah, kepiawaian Pamuk sebagai peramu cerita tak bisa dipungkiri.

Semua hal seakan berhubungan, dan menjadi lingkaran. Bagaimana sumur yang dibuat Cem saat ia remaja, kelak memiliki hubungan erat dengannya saat ia dewasa. Raki yang memabukkan yang dulu dengan paksaan diminum Cem, juga memiliki hubungan di masa kemudian. Termasuk kota Ongoren, sebuah kota fiksi di mana Cem muda membantu menggali sumur, kelak harus membuatnya kembali ke kota itu, bahkan ke sumur itu. Saya merasa, tak ada yang sia-sia dalam buku ini, semua seakan telah dipikirkan masak-masak. Bahkan kepergian ayah Cem di suatu malam, yang terasa seperti cerita sambil lewat saja, ternyata malah menjadi salah satu kunci di cerita ini.

Yang perlu disayangkan, penulisan dengan sudut pandang orang pertama yang sangat konsisten seperti ini, membuat saya tak mengenali karakter lainnya dengan cukup baik. Tokoh ibu terasa dibuat dengan seadanya. Padahal ia memiliki kemelut hidup yang tak kalah dengan perempuan berambut merah. Kisah teman-teman Cem pun demikian. Tak ada yang saya kenali.

Tokoh ayah memang terasa cukup banyak diulas, entah dalam sudut pandang Cem, maupun dalam sudut pandang perempuan beramput merah. Namun di beberapa bagian merupakan pengulangan-pengulangan saja. Padahal sebenarnya hubungan ayah dan latar buku ini sangatlah kuat. Ia orang dari gerakan kiri yang dikejar-kejar pemerintah, namun sialnya dari sudut pandan Cem, perpolitikan saat itu bukanlah sebuah hal besar yang perlu benar-benar dipikirkan. Ia lebih memikirkan  hubungan dengan ayahnya yang tidak dekat, dan membanding-bandingkankan perlakuan Tuan Mahmut dengan ayahnya. Sungguh, saya merasa minim sekali memahami latar buku ini, dan harus mencarinya sendiri.

Mungkin yang cukup detail hanyalah Gulcihan, perempuan berambut merah, dan Enver, anaknya. Walau soal nama anaknya ini, sedikit membingungkan saya karena  pemimpin kudeta tahun 1980, adalah Jenderal Evren,kenapa perempuan berambut merah malah menamai anaknya dengan nama yang hampir sama dengan jenderal yang mebunuh dan menangkapi orang-orang oposisi yag dibelanya?

Pamuk memang memberikan bab khusus untuk perempuan berampus merah. Walau itu terasa seperti pelengkap dari apa yang dinarasikan Cem, setidaknya saya tahu beberapa alasan abu-abu yang selama ini hanya dipikirkan Cem. Namun dalam narasi perempuan berambut merah, kisah percintaan masa lalunya dengan ayah Cem, seakan menjadi satu hal yang kecil yang tak perlu banyak diceritakan lagi, padahal inilah bagian yang selama ini membuat Cem merasa begitu terbebani.

Bagian ending adalah satu yang membuat saya merasa sedih. Ketragisan hidup seakan harus disesuaikan dengan legenda Oedipus atau pun Sohrab dan Rustam. Saya juga merasa Pamuk seakan terburu-buru menyelesaikannya dalam narasi perempuan berambut merah. Seakan-akan Pamuk merasa harus menjelas-jelaskan semuanya. Kisah Cem yang sepanjang buku yang saya ikuti, seakan terputus begitu saja. Akhir kisahnya malah dikisahkan oleh orang lain. Itu mungkin kelemahan mengambil sudut pandang orang pertama yang konsisten: ia tak bisa menceritakan dirinya yang telah mati. []

Iklan