24 emas, itu artinya 24 kali lagu Indonesia Raya berkumandang….

Kalau kamu merasa sangat emosional mendengarnya, keadaan gak jauh berbeda dengan dulu. Selepas menjadi lagu pembuka di setiap rapat2 organisasi massa selepas tahun 1928, siapa pun yang mendengar lagu Indonesia Raya saat itu, tanpa dikomando, selalu menghentikan pekerjaan mereka, dan mengambil posisi berdiri tegak. Tak jarang mereka mengepalkan tangan.

Oleh pemerintah kolonial hal itu dianggap berbahaya. Maka mereka pun mengeluarkan satu keputusan kontroversi dengan menurunkan lagu Indonesia Raya dari posisinya sebagai lagu kebangsaan menjadi lagu organisasi. Saat sebuah lagu menjadi lagu organisasi, pendengar tak harus menghentikan pekerjaan mereka, gak perlu berdiri tegak dan gak perlu juga mengepalkan tangan…

***

Sudah 30 medali emas Asian Games, dan Indonesia Raya berkumandang 30 kali…

Apa pemercik utama hingga lagu Indonesia Raya bisa tercipta?

Sejak muda Wage Rudolf Supratman sudah berkecimpung di dunia musik. Ia bergabung dengan band kakak iparnya, Black and White Jazz Band yang cukup terkenal di Makasar. Ia bahkan diidolai banyak perempuan, terutama nonik-nonik Belanda, karena penampilannya yang perlente.
Tapi pindah ke Bandung dan Jakarta untuk menjadi wartawan mengubah hidupnya. Ia harus menjual satu demi satu baju-baju dan jam mewahnya di toko loak. Di waktu selanya, ia tetap bermain musik dan mulai menciptakan lagu. Lagu pertamanya adalah: Dari Barat sampai ke Timur.

Sampai di situ, ia masih belum berpikir untuk menciptakan lagu kebangsaan. Sampai suatu hari -tanpa sengaja- ia membaca sebuah tulisan di majalah Timboel terbitan Solo:

“Kapan toh ada komponis kita yang bisa mencipta lagu kebangsaan yang bisa menggelorakan semangat rakyat?”

Mulai hari itu ia merancang lagu Indonesia, yang kelak berkumandang 30 kali di Asian Games 2018…

***

Iklan