51128989_10216090849096160_4529776426542432256_o

51071825_10216090849296165_5497427967011192832_o

Dua tahun lalu, saya kira majalah Horison sudah tamat, jadi saya bundel semua cerpen2 saya di sana. Cuma ada 4, tapi cukup senang karena salah satunya ada di edisi ‘perpisahan’.

Januari 2019 ini, ternyata satu cerpen saya dimuat kembali. Judulnya Penjaga Tiga Pintu. Ini salah satu cerpen yang saya sukai, sepertinya puas banget bikinnya. Sayang cerpennya lumayan panjang hingga 14rb karakter. Sempat terkatung-katung beberapa lama, karena saya merasa tak cukup hati memotongnya jadi 10rban karakter, atau bahkan di bawah itu.

Kisahnya tentang sesosok penunggu pintu di sebuah rumah tua bekas rumah sakit pada masa perang. Di situlah -di tiga pintu- batas antara ruang terakhir di mana jenazah korban yang tak lagi bisa diselamatkan, dan luar ruangan di mana jenazah-jenazah itu dikuburkan secara serampangan, sosok itu menunggu orang-orang datang dan mengulang kisah lalunya…

Versi yang sedikit berbeda sempat saya ikutkan di Sayembara Cerpen Mitologi. Dan sebenarnya menjadi naskah andalan saya. Namun yang menang ternyata cerpen lainnya, Dewi Duri.

Waktu tahu Horison terbit lagi, ini naskah pertama yang saya kirim ke sana. Syukurlah dimuat… 🙂