60738717_10216812089566721_6409928060065284096_o

Hal paling disayangkan setelah menyelesaikan sebuah nocel sejarah, biasanya adalah banyaknya data-data yang terbuang, tak bisa terpakai di dalam novel. Biasanya saya bahkan punya file khusus yang saya namakan: Data Buang.

Waktu menulis Halaman Terakhir, data tentang kisah Sum Kuning mungkin hanya 20% saja yang bisa masuk dalam novel. Saya tentu ingin memasukkan lebih banyak lagi, tapi itu terasa akan membuat novel semakin tebal. Hampir saja saya membuat buku khusus tentang itu. Buku nonfiksi tentang Sum Kuning. Tapi buru-buru saya urungkan niat itu.

Saat menulis Sang Penggesek Biola juga begitu, banyak data yang terpaksa ditepikan. Apalagi yang sifatnya opini. Padahal kisah W.R. Supratman tak lepas dari kisah di balik lagu-lagu ciptaannya. Ada yang cukup kontroversi, ada yang -menurut analisa beberapa orang- mengandung makna yang dalam.

Untunglah kemudian saya diminta untuk menulis esai tentang W.R. Supratman. Langsung, yang terpikir oleh saya adalah tentang lagu-lagu ciptaan beliau tersebut. Kisah di balik lagu-lagu itu yang tak bisa saya masukkan seluruhnya dalam novel, karena akan menganggu alur cerita utama.

Misal, kisah tentang lagu pertama beliau -Dari Barat Sampai ke Timur- yang terasa seperti diputus hidupnya, karena kini yang lebih kita kenal adalah lagu Dari Sabang sampai Merauke. dengan lirik yang 80% sama namun dengan nama pencipta yang berbeda.

Juga perdebatan tentang perubahan lirik lagu Raden Ajeng Kartini menjadi Ibu Kita Kartini, yang terasa ingin menghilangkan peran kaum bangsawan pada masa itu.

Dan yang terutama adalah: kisah lagu Matahari Terbit, yang dianggap sebagai lagu yang memuja kekaisaran Jepang. Benarkan begitu?

Untuk tahu lebih lengkap kisah-kisah di balik lagu-lagu WR. Supratman, kawna-kawan bisa membaca esai terbaru saya di majalah Basis edisi terbaru bulan ini…

Iklan