Ada beberapa film Korea rilisan tahun 2019 yang lebih kusuka daripada Parasite. Parasite tentu bagus, tapi kog kalau dibandingin dengan jajaran film-film Korea yang pernah kutonton, ia terasa biasa saja. Dari beberapa itu, salah dua yang paling kukenang adalah: Shava, the Sixth Finger dan Mal Mo E: The Secret Mission.

Film Shava, the Sixth Finger (sutradara Jae Hyun Jang) langsung kusuka sejak bagian prolog. Seorang ibu baru saja melahirkan. Bayinya selamat, dan ternyata kembar. Namun bayi satunya seperti tak diurus. Ia hanya ditutup koran, seperti nampak akan disingkirkan. Lalu sang bidan berkata, “Ia akan meninggal, tak akan hidup lama..”

Garis besar tema film ini adalah tentang nabi-nabi palsu. Ternyata di Korea gak jauh beda dengan di negeri kita, banyak orang-orang menipu dengan balutan agama. Tapi di Shava, nabi palsu itu bisa begitu merasuk pada beberapa orang hingga ia mau melakukan apa saja demi sang nabi.

Adalah Pastor Park -dimainkan Jung Jae Lee) yang berusaha membongkar para nabi palsu itu. Ini membuatnya dimusuhi banyak orang, termasuk orang-orang di gerejanya.

Lalu kisah menuntun Pastor Park pada simpul-simpul nabi palsu yang telah sekian lama ada tanpa diketahui siapa pun. Ini membuatnya bertemu dengan si anak kembar dalam prolog. Gadis muda itu hidup dengan menyimpan rahasia besar tentang saudranya. Tapi ternyata saudara kembarnya, yang seharusnya disingkirkan dulu karena dianggap jelmaan iblis, tak benar-benar mati. Ia hidup tersembunyi dalam gudang tua, di sekeliling pohon besar berisi burung-burung hitam, dan ular-ular berbisa yang melindunginya..

Keren!

***

 

Yang kedua film Mal Mo E: The Secret Mission.

66260391_10217204138807707_7043227859808157696_oSelama ini mungkin saya termasuk tipe yang menganggap kamus sebagai buku yang… yaa begitu-begitu saja, sampai saya menonton The Professor and the Madman. Di film itu saya jadi mendapat gambaran bagaimana kamus Oxford yang tersohor itu dirancang. Bagaimana mencari kata-kata yang semula tak terbayangkan, belum lagi konflik kepentingan banyak pihak. Saya bisa merasakan betapa rumit dan penuh ketelatenannya menemukan satu kata saja, yang mungkin sering kita lewati begitu saja saat pencarian.

Lalu, selang beberapa hari kemudian saya menonton Mal Mo E: The Secret Mission, tanpa mengetahui arti kata mal mo lebih dulu, apalagi membaca sinopsisnya. Film ini ternyata juga bercerita tentang kamus. Bagaimana pemerintahan Jepang yang bercokol saat itu, mencoba menghilangkan segala budaya Korea, termasuk bahasa. Mereka melarang bahasa Korea dipakai, dan menuntut pemakaian bahasa Jepang di seluruh sekolah dan instansi. Ini yang kemudian membuat sekelompok orang diam-diam mengumpulan kata demi kata, dari seluruh penjuru Korea. Tak terasa proyek sembunyi-sembunyi itu bertahan hingga 10 tahun lebih, sebelum Jepang mengobrak-abriknya!.

Selesai menonton, saya jadi memikirkan bagaimana kamus kita dibuat. Saya malu, ternyata tak ada satu pun yang saya tahu dari kisah pembuat kamus di negeri ini, Padahal kamus pertama yang tercatat sudah ada sejak abad 15. Kamus itu berjudul: Daftar Kata Tionghoa-Melayu, yang berisi 500 lema (kata).

Kisah pembuat kamus yang banyak dikutip kawan-kawan esais tentu Raja Ali Haji. Konon di abad 19, kamus berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama, menjadi kamus pertama di nusantara.

Setelah kemerdekaan, Pusat Bahasa yang waktu itu bernama Lembaga Penyelidikan Bahasa dan Kebudayaan Universitas Indonesia, menerbitkan Kamus Umum Bahasa Indonesia (1953) karya Wilfridus Joseph Sabarija Poerwadarminta. Kamus inilah yang menjadi tonggak pertumbuhan leksikografi Indonesia. DI bagian ini kupikir kisah pembuat kamus di Indonesia bisa dieksplorasi.

Saya membayangkan adegan di film Mal Mo e, saat Kim Pan Soo (dimainkan Kim Hae Jin) membawa kawan-kawannya dari penjara -yang ternyata berasal dari beragai daerah- untuk mengeja kata demi kata dengan bahasa daerahnya masing-masing. Kubayangkan orang-orang itu datang dari seluruh daerah di Indonesia. Rasanya adegan itu akan menyentuh sekali. Tanpa perlu songong menyebuit: ‘film yang menggugah semangat nasionalisme’, film Mal Mo e adalah contoh paling berhasil Korea, menggugah kenasionalismean dirinya.

Satu kesamaan dua film tentang kamus itu adalah, adanya peran masyarakat yang membantu saat proses penyusunannya. Di film The Professor dan the Madman, mereka membuat leaflet yang diselipkan di buku-buku yang dijual, di Mal Mo e mereka membagi buku-buku tipis di seluruh penjuru kota. Setelah itu masyarakatlah yang bergerak…

Kembali lagi ke negeri yang selalu ingin disayang ini, sekarang kamus KBBI terbaru edisi V tahun 2019 dijual dengan harga berkisar hingga 500 ribuan (di gramedia.com  harganya 522.000) Okelah mereka memang juga membuat versi gratisannya di android dan web. Tapi kupikir, para pemegang kebijakan itu bisa sampai memutuskan menjual kamus seharga seperti itu, pastilah karena mereka gak pernah tahu bagaimana sejarah awal kamus kita dibuat. Toh, kerena memang gak pernah ada yang yang kembali mengisahkannya…

Oya di penutup, film Mal Mo E: The Secret Mission ini juga jadi film Korea tahun 2019, yang lebih saya suka dibanding Parasite.