“Semua cerita pernah ditulis, dan ditulis ulang…”

Beberapa kali kalimat itu terlontar dari mulut pengarang. Saya sendiri pernah juga memakai kalimat itu. Namun setelah saya pikir-pikir, biasaya kalimat itu digunakan saat saya menulis cerita yang temanya biasa saja. Pada kenyataannya: semua cerita memang pernah ditulis, dan ditulis ulang. Namun yang jadi persoalan, yang menulis banyak atau banyaaak sekali, atau tidak banyak?

Saya suka menonton seaguk karena selalu mendapatkan tema cerita yang belum pernah (atau sangat jarang) saya lihat di film-film lainnya. Saya ingat: ada kisah tentang penjahit baju kaisar, pembaca wajah, penggambar peta, ahli fengshui, dan lainnya. Semua tema sepertinya gak tersentuh negara lain, bahkan China yang selama beberapa dekade terakhir menguasai film sejarah kolosal. Di seaguk terbaru 2019 ini, saya kembali menemukan film-film dengan tema yang gak biasa lagi.

70864880_10217798052935189_593305781542060032_n

Yang pertama The King’s Letters. Film yang disutradarai Jo Chul Hyun ini keren sekali, tapi aku yakin gak akan menarik banyak minat. Tentang Raja Sejong (dimainkan Song Kang-Ho) yang memiliki keinginan menciptakan huruf asli untuk rakyatnya. Saat itu di tahun 1400-an, bahasa Korea memang belum tercipta sempurna, dalam kerajaan saja, masih biasa memakai bahasa dan aksara China. Lalu saat muncul biksu-biksu Budha dari Jepang yang meminta tripitaka di kuil Budha yang ada di Joseon. Raja Sejong menolak permintaan itu, sehingga membuat para menterinya tak habis mengerti, karana pada saat itu hampir seluruh penduduk Joseon menganut Konfucius. Dengan alasan peninggalan leluhur, Raja Sejong meminta bantuan Biksu Shinmi (dimainkan Park Hae Il), yang sebenarnya memiliki dendam masa lalu, karena merupakan bekas dari keluarga yang dicap sebagai pengkhianat. Namun setelah mendengar alasan Raja Sejong, ia tak kuasa membantu Raja Sejong menciptakan huruf-huruf Korea, Hangul.

Jadi terpikir, mungkin gak kita membuat film tentang terciptanya bahasa kita? Rasanya sulit ya, walau di Jawa, kisah Ajisaka yang disebut-sebut menciptakan aksara honocoroko, sudah kita dengar sejak lama.

71315216_10217798053175195_3968468082636095488_n

Yang kedua Homme Fatale. Film yang disutradarai Nam Dae Jung ini mengangkat kisah tentang pemuda bernama Heo Saek (dimainkan oleh Lee Joon-Ho) seorang pemuda yang terlahir menyenangkan. Ibunya adalah gisaeng, dan ia tumbuh dalam gibang (tempat para gisaeng tinggal dan melayani tamu). Berawal dari adanya tamu perempuan yang menyamar menjadi laki-laki untuk masuk ke dalam gibang itulah, Heo Saek kemudian mencoba menemaninya. Ia menjadi pendengar perempuan yang bicara tentang penderitaan di hidupnya. Saat itu, posisi perempuan memang tak bisa banyak berbuat, saat suami mereka menikah beberapa kali dan menyimpan gundik. Heo Saek bisa menghibur perempuan itu, karena selain menjadi pendengar yang baik, ia juga bisa memainkan musik, berakrobat dan segala hal untuk menghibur. Keberadaannya kemudian menjadi buah bibir di antara para perempuan di kotanya. Mulailah Heo Saek menjadi gisaeng laki-laki pertama di Joseon.

Di saat yang bersamaan, ia beremua dengan Hae-Won (dimainkan Jung So-Min yang cuantikz dan nampak selalu ingin dimanja). Ia merupakan gadis muda yang memiliki pikiran yang maju. Di antara perbedaan itulah, keduanya mencoba menemukan cinta, uy uy…

 

#filmkorea #filmkorea2019 #hommefatale #NamDaeJung #LeeJoonHo #JungSoMin
#thekingsletters #JoChulHyun #SongKangHo #ParkHaeIl