Sebenarnya saya berencana membuat 5-6 kisah kecil tentang sosok Arswendo Atmowiloto saat beliau berpulang. Hanya saaja di saat-saat itu, keadaan sedang ribet banget, saya hanya bisa membuat 2 cerita di sela-sela menunggu…

arswendo-atmowiloto-meninggal-karena-kanker-prostat

foto dari: https://www.tribunnews.com/

Arswendo #1

Ketika kelas 6 SD, saya masih tinggal di Kupang. Waktu itu sekolah saya -SD Santo Yosef 1- cukup dekat dengan toko buku Semangat. Saat ada obralan komik semacam Storm, Trigan, Arad dan Mata, Papyrus, dsb saya dan satu-dua kawan saya sering mampir ke situ, sekadar lihat-lihat atau membeli 1 komik saja secara gantian. Saat itulah saya lihat buku ‘Mengarang itu Gampang’ dari Arswendo Atmowiloto. Dari jarak yang dipisahkan etalase buku, saya dapat lihat harga buku itu, 2500 perak. Diam-diam saya menghitung harus menabung berapa hari untuk membelinya. Waktu itu uang jajan saya 500 perak, ongkos bemo (semacam angkot) bolak-balik 200 perak. Jadi kira-kira, butuh 2-3 mingguan untuk bisa membeli buku itu (eh iya, saya masih hapal harga buku itu karena label harganya masih ada di dalam buku itu sampai sekarang).

Lalu saat uang sudah terkumpul saya meminta kawan saya untuk menemani saya ke toko buku itu, Saya gak cukup pede karena letak buku itu ada di posisi buku dewasa. Sesampainya di toko, langsung saya tunjuk buku itu, namun pelayan toko malah berkerut kening, “Ini bukan buku anak-anak. Ini untuk dewasa.”
Saya pun menjawab cepat, “iya ini titipan kakak.”
Pada akhirnya, saya bisa juga membawa buku itu, dan menyimpannya sampai sekarang…

Rest ini Peace Bang Wendo

Arswendo #2

Saat masih tinggal di Kupang, keluarga kami berlangganan beberapa koran dan majalah. Ada Kompas, Bobo, Femina, dan satu lagi tabloid Monitor. Kenapa Monitor? Karena waktu itu sepertinya cuma Monitor yang banyak mengulas film-film kungfu Mandarin, yang biasa kita sewa videonya.

Di satu edisi, muncul kuis yang hadiahnya cukup luar biasa. Saya agak lupa isi kuisnya secara pasti, tapi intinya: kita hanya menulis nama orang atau sosok yang paling kita kagumi, berikut alasannya.

Saya ikut kuis itu. Waktu itu saya lagi gila-gilanya baca Kho Ping Hoo, jadi saya tulis saja nama itu di lembaran kuisnya. Alasannya waktu itu saya tahu kalau Kho Ping Hoo, menulis bagai mengalir terus ke depan, tanpa pernah membuka halaman yang sudah ditulis sebelumnya. 

Satu hal yang pasti, kuis itu jadi terus diingat, karena Arswendo Atmowiloto dipenjara gara-gara itu dan Monitor dibredel. Dan pemilih Soeharto -yang memenangi kuis- aman-aman saja sampai sekarang,