Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Apa artinya 70 tahun?

Film Rashomon dirilis tahun 1950 oleh Akira Kurosawa, dan dibuat sejak setahun sebelumnya. Jadi bisa dikatakan kalau film ini usianya hampir 70 tahun. Film ini diadaptasi cerpen In a Grave milik Akutagaqa Ryonosuke, yang dirilis jauh lebih lama lagi. Saking lamanya bahkan sudah masuk dalam daftar public domain.

Akutagaqa Ryonosuke salah satu penulis Jepang favorit saya. Gara-gara membaca Kappa, membuat imajinasi saya selalu dipenuhi suasana mistis. Itu yang kemudian -secara gak langsung- membuat saya menyukai cerita-cerita Jepang. Bahkan dalam setting modern seperti yang disajikan Haruki Murakami, atau Banana Yoshitomo.

Roshomon sendiri cerita yang seperti tak pernah tua, apalagi mati. Tema utamanya, untuk zaman sekarang mungkin sedikit sederhana: sebuah kematian yang dilihat dari perspektif 3 tokoh utama. Gaya seperti ini sudah sering dimainkan penulis, bahkan dibuat film. Yang paling epic adalah film Hero, di mana 4 bintang Mandarin paling top ada di sana: Jet Lee, Tony Leung, Donnie Yen dan Maggie Cheung. Tapi tetap saja, cerita seperti ini tak mudah ditebak endingnya. Sama seperti Roshomon. Ini mungkin ya, yang membuat karya ini bisa bertahan lama.

Akira Kurosawa sangat familiar di mata publik Indonesia. Filmnya yang saya ingat tentu, Seven Samurai. Yang waktu itu membuat saya ikut-ikutan membuat cerita samurai dengan judul yang sama… šŸ˜›

Gaya film memang visioner. Di eranya ia bagai melesat sendirian. Di film Roshomon, saya hanya sedikit terganggu -sedikit loh ya- dengan gerak tubuh para pemainnya. Terutama saat mereka bertarung. Saat tokoh perampok akan memperkosa -atau bercinta?- gerak tubuhnya pun sangat teatrikal, kupikir tak cukup nyaman bila dilihat dalam sebuah film. Awalnya kupikir ini adalah bentuk perpindahan teater Jepang ke film. Bagaimana pun Akira Kurosawa memang memilih pemainnya dari para pemain teater. Tapi ternyata seorang kawan membantah itu. Katanya gerak tubuh itu memang ciri khas gerak tubuh di film-film Jepang pada masa itu (ia konon sudah menonton semua film Akira Kurosawa), sebelum para sineas Jepang mem-‘barat’-kan gayanya.

Saat mencari poster film Roshomon, saya baru menyadari kalau di berbagai negara, masih saja saya lihat acara nobar film ini. Mereka sudah mendigitalnya film ini agar kualitas gambar tetap oke, bahkan mendesain ulang poster filmnya. Karakter tentu tetap memakai tokoh-tokoh lama, bahkan memakai lukisan lama. Tapi cita rasanya jadi nampak kekinian sekali.

Saya yakin Akira Kurosawa tak pernah menyangka kalau karyanya akan abadi seperti ini. Eh, tapi film Indonesia yang abadi seperti ini, film apa ya?