MV5BODI5Nzc1Nzk2Ml5BMl5BanBnXkFtZTgwNTg5MTQ5NjM@._V1_SY1000_CR0,0,674,1000_AL_

……
Dan jangan takut pada petir yang menyambar
Jangan takut pada kecaman fitnah
Kau sebaiknya menyudahi dengan sukacita dan raungan
Seluruh pasangan kekasih muda seharusnya selalu mengasihi
Ditujukan padamu, dan berakhir menjadi debu
……

Satu lagi film tentang penulis yang hampir terlewat. Kali ini tentang Willian Shakespeare.

Awalnya saya merasa judulnya kog gak banget ya. Tapi ternyata All Is True adalah judul alternatif pertunjukan Willian Shakespeare saat ia mementaskan drama Henry VII. Di saat itulah, meriam yang seharusnya menjadi properti panggung meledak, dan membakar gedung pertunjukan itu. Sejak itu William Shakespeare tak lagi menulis naskah dramanya.

Film ini memang menyorot hari-hari terakhir sang maestro. Agak berbeda dengan hari-hari terakhir John Keats, Edgar Allan Poe, Xiao Hong, ataupun Dongju. Tak banyak adegan flashback yang diambil film ini.

Shakespeare digambarkan telah lelah dan nampak lemah (kalau pernah menonton film tentang Shakespeare sebelumnya, jangan berharap menemukan keenergikannya di film ini). Dan keluarga yang seharusnya menjadi tempat berlabuh di saat-saat lelah itu malah menimbulkan masalah baginya. Bahkan dari awal film, tanda kematian Shakespeare sudah dibuat sedemikian jelas saat sang anak bertanya, “Suamiku berpikir, ayah pulang ke rumah untuk mati…’

Film terasa jauh dari panggung. Hanya kisah-kisah kecil keluarga Shakespeare yang jarang dikisahkan. Hubungan Shakespeare dengan istrinya yang sering ditinggalkannya, anak-anak perempuannya yang merasa bersalah karena kematian saudaranya, juga karena melakukan perselingkuhan yang memalukan. Belum lagi dengan menantunya, penganut agama yang kolot dan menentang pertunjukan panggung, namun berhasrat sekali mewarisi harta mertuanya.

Namun yang kupikir paling dalam adalah hubungan Shakespeare dengan Tuhan. Ini yang saya pikir selalu menjadi materi yang umum bagi film-fiilm yang membawa tema hari-hari terakhir. Tak menyangka, ini pun ada pada Shakespeare.

Menikmati film ini terasa sekali kesederhanaannya. Sungguh, sangat berbeda dengan kemegahan naskah-naskah Shakespeare yang telah berulang kali difilmkan.

Namun ini film yang layak ditonton pelan-pelan. Cinematografinya apik.  Penyuka film-film bersetting Inggris abad pertengahan akan mudah tertaut. Terlebih akting Kenneth Branagh dan Judi Dench yang akrab dengan penghargaan.