Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Kategori

tulisan saya

Tentang Film Trilogi Apu

cri nov 2015 cover03-03

Memang sulit menerbitkan sastra. Upaya menerbitkan naskah-naskah bermutu dari seluruh dunia yang sudah dijalankan oleh Ajib Rosidi sejak puluhan tahun melalui Pustaka Jaya ternyata tak terlalu berjalan mulus. Untungnya sampai sekarang beberapa naskah itu bisa kita nikmati.  Pater Pancali adalah salah satu naskah yang dipilih untuk mewakili India. Waktu itu, Bibhutibhushan Banerji sendiri sudah menulis banyak novel, namun popularitas Pater Pancali mengalahkan yang lainnya. Ini mungkin karena kisah ini sempat diangkat ke layar lebar.

Lanjutkan membaca “Tentang Film Trilogi Apu”

Iklan

Horison dan Kado Perpisahan di Edisi (cetak) Pamungkas

Pagi itu, 26 Juli 2016, Kabut aka Bandung Mawardi mengirimi saya pesan singkat: Beli kompas hari ini! Penting!

Saya pun berencana membeli Kompas nanti siang, saat keluar makan. Sepanjang waktu itu, di facebook saya melihat berita acara peringatan Horison di Jakarta dari status 2 redakturnya, Joni Ariadinata dan Jamal D. Rahman. Hari ini, Horison memang tengah berulang tahun ke-50 tahun. Itu usia emas. Tapi status dari Ichwan Prasetyo, salah satu redaktur Solopos, membuat kaget. Di situ ia mengirim foto potongan koran Kompas yang memuat berita berhentinya Horison sebagai media cetak. Saya langsung tahu, apa arti kata ‘penting’ yang ditulis Kabut pagi tadi.

Entah kenapa, saya merasa sedih. Sejak bertahun-tahun lalu, saya sudah membaca Horison. Sempat juga teratur berlangganan di tahun 2009-2011. 2 tahun lebih. Selama 2 tahun itu saya membundel Horison dengan lengkap. Sayang 1 bundel terpaksa saya buang karena habis dimakan rayap. Sayangnya, selama saya berlangganan, tak ada satu cerpen pun yang bisa saya kirim.

Tahun-tahun terakhir ini, pamor Horison memang redup. Mungkin semakin banyak buku-buku cerpen yang hadir di ranah sastra. Kompas sempat sangat getol menggelontorkan kumcer-kumcer dari penulis-penulisnya. Jurnal cerpen juga terbit. Penerbit-penerbit Yogya juga getol menerbitkan cerpen. Sampai kemudian tiba saat Buletin Sastra Pawon mewawancarai Joni Ariadinata. Waktu itu Han Gagas (dan Eko Abiyasa) yang ditugaskan untuk mewawancarai. Dari situ keinginan menulis di majalah itu kembali muncul.

Cerpen pertama saya di Horison adalah Perempuan yang Terperangkap pada Sajak-sajak Lorca di muat di Horison Januari 2013. Ini cerpen yang saya buat selepas saya membaca satu buku Lorca, Romansa Kaum Gitana. Waktu itu tak banyak yang ngeh tentang sajak-sajak Lorca. Mungkin karena buku terakhir Lorca yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sudah sejak bertahun-tahun lalu. Saya bayangkan penyair-penyair pada masa itu melahap buku keren itu, tapi tidak lagi sekarang.

Untitled-1

Lanjutkan membaca “Horison dan Kado Perpisahan di Edisi (cetak) Pamungkas”

Buku, Perpustakaan dan Komunitas , tulisan saya di Majalah Sastra Garisbawah edisi Juli – Agustus 2016

okSaya mungkin beruntung, selain membelikan buku di toko buku secara teratur, papa saya juga yang mengantar saya ke sebuah taman bacaan untuk meminjam buku. Saat itu, saya sedang tergila-gila dengan Khoo Ping Hoo, dan hanya di taman bacaan saya bisa mendapati buku itu. Saya ingat, di saat-saat itu pula, sepertinya saya mulai punya kebiasaan menabung untuk membeli buku. Buku-buku incaran saya waktu itu adalah Trio Detektif san STOP.

Saya merasa, saya ini merupakan generasi taman bacaan. Tentu kalimat itu, sekarang  sudah dianggap aneh. Kondisinya memang sudah berbeda. Taman-taman bacaan -yang berisi buku-buku hiburan- satu persatu mulai berguguran. Yang tetap berdiri tegak hanyalah perpustakaan yang dikelola negara maupun swasta. Tentu dengan kondisi yang seadanya, bahkan ada yang sangat memrihatinkan.

Lalu, dalam keadaan seperti itu, bagaimana seseorang dengan kantung pas-pasan bisa menyukai buku dan menyalurkan minat bacanya?

 

Perpustakaan dan Buku

Rumor DPR ingin membuat sebuah perpustakaan dengan biaya milyaran rupiah sempat berhembus beberapa bulan ini. Siapa pun akan menggeleng kepala tak percaya. Saya sendiri merasa itu ide yang absurb. Bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia buku, angka itu benar-benar angka yang luar biasa. Padahal sejak beberapa tahun terakhir ini pertanyaan yang menakutkan bagi pengelolah perpustakaan sudah menelisip di telinga mereka: apa benar sebuah sebuah perpustakaan masih relevan di era sekarang? Lanjutkan membaca “Buku, Perpustakaan dan Komunitas , tulisan saya di Majalah Sastra Garisbawah edisi Juli – Agustus 2016”

Museum Luka, cerpen saya di Jawapos 10 Juli 2016

13599828_10208595598119570_7659504361669427026_n

Tautannya

Kliping Sastra Indonesia: http://id.klipingsastra.com/2016/07/museum-luka.html

Lakon Hidup: https://lakonhidup.wordpress.com/2016/07/10/museum-luka/

 

Amin Maaloef: Sosok Lain dari Lebanon

amin

Sudah sejak lama saya memiliki buku Balthasar’s Odyssey, Mencari Nama Tuhan yang Keseratus, tapi baru beberapa bulan lalu saya merampungkannya. Dulu, saya sebenarnya sudah tertarik untuk membacanya dan sudah emngantrikannya di di samping tempat tidur saya. Ini gara-gara sewaktu pergi ke pameran, Haris Firdaus -seorang kawan Pawon- bener-benar mencari buku itu. Sampai ketika ada buku Amin Maalouf yang saya rasa merupakan bajakan (?), ia tetap membelinya. Waktu itu saya hanya berpikir, sampai segitunya

Tapi saat mulai membaca Balthasar’s Odyssey semua itu terjawab. Di blurps buku itu tertulis pembaca akan terbawa dari halaman pertama. Itu tentu kalimat pasaran yang sering kita baca di blurps-blurps novel. Tapi sungguh di novel ini itu ternyata bukan kalimat mitos.

Maka itulah, saya merancang membicarakan sosok Amin Maalouf di #bincangsastra Solopos FM. Saya pikir sosok penulis ini masih jarang sekali diulas. Di internet pun data-datanya begitu sedikit. Mungkin karena Maalouf berbahasa Prancis.

Lanjutkan membaca “Amin Maaloef: Sosok Lain dari Lebanon”

Keris Kyai Setan Kober, Cerpen Suara Merdeka 30 Mei 2010

Mungkin agak terlambat mempostingnya. Tapi sejak dulu saya sebenarnya gak terlalu ingin mempostingnya, karena cerpen ini bisa dengan mudah didapat di mana saja via internet. Tapi karena tulisan kritik cerpen ini yang  saya posting dulu (https://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/04/21/keris-kyai-setan-kober-sebuah-kritik-dari-mr-x/), terus-terusan menjadi ‘tulisan teratas’ di blog ini, jadi saya pikir tak ada salahnya saya posting cerpennya juga. hitung-hitung menaikkan pengunjung blog ini… 😀

Mari…

****

keris-kiai-setan-kober1

Dan siapa yang akan berani mengganggu lakuku?

Bahkan jin-jin itu pun kuharap akan jera!

— Empu Bayu Aji, masa Pajajaran 1150 M

AKU adalah gelora amarah!

Dengan bara bagai percahan matahari dan tempa bagai hujanan batu, aku mulai mengambil wujud. Laku dan mantra kemudian mengisi napasku satu demi satu. Masih kuingat jelas, walau telah ratusan tahun lewat, empu paling termasyur kala itu, menguntai bait-bait mantra dengan ambisi yang memuncak dalam relung hati. Keringatnya yang terus menetes, dan langsung pula menguap, bagai jawaban dari gejolak hati yang membuncah.

Waktuku tak lagi banyak, kematian telah begitu dekat, dan aku harus berbuat yang terbaik untuk terakhir kalinya!

Kala itu bagai seonggok orok yang beranjak tumbuh, aku terus mendengar desah batinnya. Walau halus dan tak terdengar oleh para abdi, namun sungguh, aku dapat mendengar dengan sangat nyata. Bahkan tak hanya suara itu, aku juga dapat mendengar suara-suara lainnya yang ada di sekeliling sang empu. Suara-suara tak jelas, seperti bisikan-bisikan berulang. Kadang tinggi, kadang sangat rendah, diiringi sesekali dengan suara cekikikan yang melengking, mendirikan bulu roma. Lanjutkan membaca “Keris Kyai Setan Kober, Cerpen Suara Merdeka 30 Mei 2010”

Michelle, Ma Belle, Cerpen Suara Merdeka 20 Desember 2015

12376077_10207057828556292_2725567397314076986_n

silahkan klik di:

http://id.klipingsastra.com/2015/12/michelle-ma-belle.html

juru masak aiir mata jpg

Cerpen Seribu Peri, Suara Merdeka 27 April 2015

11178234_10205522732379847_5889799708114746065_n

silahkan masuk ke kliping sastra:

http://id.klipingsastra.com/2015/04/seribu-peri.html

Buku Assara, cerbung saya di Femina edisi 17, 18 & 19, 2014

Untitled-2 ok copy

10329257_10202881071619979_8801482704196404175_n

10336748_10202919559422150_476173822617085199_n

Cerpen Surat-surat dari Surga di Kartini Februari 2014

1932534_3918982390715_563926499_o

foto Ricardo Marbun

tulisan tak penting: tentang biodata penulis

101-0112_IMGheran, tadi pagi mendadak ingin menulis hal tak penting seperti ini…

biodata penulis atau tentang penulis atau kadang hanya ditulis:  penulis. kolom itu sebenarnya nampak nyempil di bagian belakang tulisan atau buku. Tapi sebenarnya ini bagian yang penting sekali, bukan hanya buat penulisnya, tapi juga pembaca yang ingin tahu.

saat membuka-buka buku lama saya, saya sering senyum-senyum sendiri dengan keluguan yang ada di halaman itu. dan setelah beberapa tahun lewat, saya menyimpulkan ada beberapa fase, saat seorang penulis menulis biodata dirinya. Ini tentu versi saya, dan tentu juga berdasarkan pengamatan beberapa kawan penulis. tentu mungkin tak cocok buat beberapa kawan. tapi buat lucu2an, saya pikir oke saja… Lanjutkan membaca “tulisan tak penting: tentang biodata penulis”

Gogor, cerpen saya di Suara Merdeka 16 Februari 2014

IMG_2989 ok

Gogor

 Stttt… jangan ke sana!

Kukatakan padamu: jangan ke sana!

Aku tak mengucapan Kata-kata kosong. Aku serius! Sangat serius!

Aku tahu, aku seharusnya tak perlu mencampuri urusanmu. Aku juga tak ingin seperti itu. Bukankah selama ini selalu begitu? Walau sejak lama kau sudah menjadi orang yang kupilih, dari ratusan manusia di desa ini.

Sudah belasan tahun, kau memilih tinggal di tanah ini, tanah Botodayakan. Aku sudah mengenal dirimu sejak lama. Bahkan sejak kau masih dalam perut hangat ibumu, aku sudah menandaimu. Awalnya tentu saja, aku tak pernah ingin perduli dengan kau, juga dengan semua manusia di yang ada di sini.

Tapi ternyata kau berbeda. Kau lahir dengan tanda lahir berwarna merah darah. Orang-orang akan menyangka itu sekedar tanda lahir biasa. Tapi aku tentu saja tidak. Tanda lahir itu membentuk sebuah tanda yang sebenarnya berarti sebuah angka. Enam. Ya, enam, aku tak akan salah melihat.

Maka sejak itulah aku hadir padamu. Kuperhatikan dirimu, kutandai apa yang terjadi padamu. Hingga saat kau dewasa, aku tahu kau adalah laki-laki yang nyaris mati 6 kali.

Itulah yang membuatku memutuskan memilihmu. Lanjutkan membaca “Gogor, cerpen saya di Suara Merdeka 16 Februari 2014”

Perayaan Peradaban Bahari dan Rempah-rempah di Kaki Borobudur, tulisan lengkap saya tentang BWCF 2013 yang sudah dimuat di Femina No. 46/XLI

ina soro budi, budi noro apadike

pao pana ponu te hama hama…

laut adalah ibu yang membesarkan dan mengasihi

karena itu jaga dan peliharalah kelestariannya…

– ungkapan orang-orang Lamalera

Oktober di Magelang terasa lebih ramai. Ini mungkin karena kota yang ada di antara Gunung Merbabu dan Gunung Sumbing itu, kembali menggelar Borobudur Writers and Cultural Festival pada 17-20 Oktober 2013. Setahun lalu masih lekat teringat saat Samana Foundation, menggelar event itu pertama kalinya, di tempat yang nyaris sama. Namun bila tahun lalu mengambil tema cerita silat nusantara, tahun ini diambil tema Arus Balik, Memori Rempah dan Bahari Nusantara Kolonial dan Poskolonial.

foto 1 Pembukaan di Hotel Royal Ambarukmo ok  foto 3 Penampilan Komunitas Lima Gunung 1 ok foto 4 Penampilan Komunitas Lima Gunung 2 ok  foto 5 Penampilan Komunitas Lima Gunung 3 ok 

Foto acara pembukaan di Ambarukmo Hotel dan pembukaan Hotel Manohara Lanjutkan membaca “Perayaan Peradaban Bahari dan Rempah-rempah di Kaki Borobudur, tulisan lengkap saya tentang BWCF 2013 yang sudah dimuat di Femina No. 46/XLI”

Nenek Moyangku Seorang Pelaut, tulisanku tentang Borobudur Writers & Cultural Festival 2013 di Femina No. 46/XLI

ImageImage

Blog di WordPress.com.

Atas ↑