Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

16TJ02102016.pmd

Buat kawan-kawan yang mencari buku-buku lama saya, silahkan… :)

Buat kawan2 yang mencari buku-buku lama saya (dan baru tentunya), berikut saya buat listnya. Ini merupakan buku-buku yang masih ada pada saya, dan pada penerbit juga. Beberapa yang lain sudah tak ada stok. Saya sekadar menyimpannya buat arsip sediri…

promo-2016-1promo-2016-2promo-2016-3promo-2016-4

Tentang Film Trilogi Apu

cri nov 2015 cover03-03

Memang sulit menerbitkan sastra. Upaya menerbitkan naskah-naskah bermutu dari seluruh dunia yang sudah dijalankan oleh Ajib Rosidi sejak puluhan tahun melalui Pustaka Jaya ternyata tak terlalu berjalan mulus. Untungnya sampai sekarang beberapa naskah itu bisa kita nikmati.  Pater Pancali adalah salah satu naskah yang dipilih untuk mewakili India. Waktu itu, Bibhutibhushan Banerji sendiri sudah menulis banyak novel, namun popularitas Pater Pancali mengalahkan yang lainnya. Ini mungkin karena kisah ini sempat diangkat ke layar lebar.

Lanjutkan membaca “Tentang Film Trilogi Apu”

Membaca Pater Pancali: Kesedihan Kadang Memang Memiliki Masa Kadaluarsa

klub buku 2Untuk diskusi Klub Buku Pawon Agustus ini, dipilihlah novel Pater Pancali karangan Bibhutibhushan Banerji, atau biasa ditulis Bibhutibhushan Bandyopadhyay (edisi Indonesia diterjemahan oleh Koesalah Soebagyo Toer). Saat pemilihan -sekitar 4 bulan yang lalu- memang tak banyak buku-buku sastra baru yang beredar. Ini sepertinya kali pertama klub buku pawon mendiskusikan novel lawas yang lumayan tebal.

Tapi kisah Pater Pancali memang sudah saya dengar sejak lama. Pustaka Jaya pernah menerbitkannya. Pater Pancali bahkan disebut-sebut sebagai Bumi Manusia-nya India.

Bibhutibhushan sendiri merupakan penulis besar di India. Ia lahir di Bengali 12 Septermber 1894, dan sampai akhir hayatnya sudah menulis puluhan novel. Salah satu novelnya, Ichhamati bahkan pernah memenangi Rabindra Puraskar tahun 1951, salah satu penghargaan sastra paling prestisius di India. Namun Pater Pancali tetaplah yang menjadi masterpiece-nya.

 

Kisah Pater Pancali yang Terpatah-patah

Awalnya, membaca Pater Pancali terasa sangat lambat. Novel ini cukup detail dan paragraf-paragrafnya pun gemuk-gemuk. Tapi beberapa novel lawas memang seperti itu. Jadi saya bisa memaklumi keadaan ini. Lanjutkan membaca “Membaca Pater Pancali: Kesedihan Kadang Memang Memiliki Masa Kadaluarsa”

Horison dan Kado Perpisahan di Edisi (cetak) Pamungkas

Pagi itu, 26 Juli 2016, Kabut aka Bandung Mawardi mengirimi saya pesan singkat: Beli kompas hari ini! Penting!

Saya pun berencana membeli Kompas nanti siang, saat keluar makan. Sepanjang waktu itu, di facebook saya melihat berita acara peringatan Horison di Jakarta dari status 2 redakturnya, Joni Ariadinata dan Jamal D. Rahman. Hari ini, Horison memang tengah berulang tahun ke-50 tahun. Itu usia emas. Tapi status dari Ichwan Prasetyo, salah satu redaktur Solopos, membuat kaget. Di situ ia mengirim foto potongan koran Kompas yang memuat berita berhentinya Horison sebagai media cetak. Saya langsung tahu, apa arti kata ‘penting’ yang ditulis Kabut pagi tadi.

Entah kenapa, saya merasa sedih. Sejak bertahun-tahun lalu, saya sudah membaca Horison. Sempat juga teratur berlangganan di tahun 2009-2011. 2 tahun lebih. Selama 2 tahun itu saya membundel Horison dengan lengkap. Sayang 1 bundel terpaksa saya buang karena habis dimakan rayap. Sayangnya, selama saya berlangganan, tak ada satu cerpen pun yang bisa saya kirim.

Tahun-tahun terakhir ini, pamor Horison memang redup. Mungkin semakin banyak buku-buku cerpen yang hadir di ranah sastra. Kompas sempat sangat getol menggelontorkan kumcer-kumcer dari penulis-penulisnya. Jurnal cerpen juga terbit. Penerbit-penerbit Yogya juga getol menerbitkan cerpen. Sampai kemudian tiba saat Buletin Sastra Pawon mewawancarai Joni Ariadinata. Waktu itu Han Gagas (dan Eko Abiyasa) yang ditugaskan untuk mewawancarai. Dari situ keinginan menulis di majalah itu kembali muncul.

Cerpen pertama saya di Horison adalah Perempuan yang Terperangkap pada Sajak-sajak Lorca di muat di Horison Januari 2013. Ini cerpen yang saya buat selepas saya membaca satu buku Lorca, Romansa Kaum Gitana. Waktu itu tak banyak yang ngeh tentang sajak-sajak Lorca. Mungkin karena buku terakhir Lorca yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sudah sejak bertahun-tahun lalu. Saya bayangkan penyair-penyair pada masa itu melahap buku keren itu, tapi tidak lagi sekarang.

Untitled-1

Lanjutkan membaca “Horison dan Kado Perpisahan di Edisi (cetak) Pamungkas”

(Novel dan Film) Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta: Salah Satu Novel Favorit yang Tak Lagi Saya Punya

timthumb.php aaGara-gara membaca tulisan Mas Ronny Agustinus di blog-nya tentang Daftar Film yang Diangkat dari Literatur Amerika Latin, saya kaget mendapati novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (judul asli: Un viejo que leía novelas de amor, dan sudah diterjemahkan oleh Marjin Kiri) karangan Luis Sepulveda, ternyata sudah difilmkan sejak tahun 2001. Saya merasa kuper soal ini. Tapi info tentang film-film Amerika Latin memang tak banyak diekspos oleh media lokal, apalagi oleh situs-situs film lokal yang biasa saya donlot… :D.

Ini salah satu novel favotit saya. Tapi saya sudah tak lagi punya bukunya. Beberapa tahun lalu, seorang kawan meminjamnya, dan kemudian ia pindah. Saya tak lagi menanyakannya. Saya anggap sebagai kado tak terucap saja dari saya. Ini mungkin memang sudah nasib buku itu. Saya ingat, buku itu sendiri merupakan pemberian seorang kawan Goodreads. Waktu itu ia baru pulang dari pameran dan mendapati buku bagus itu hanya diobral dengan harga yang menyakitkan. Lalu ia menulis status di facebook untuk menawari pada kawan-kawan lainnya. Tentu saja saya mau. Dan beberapa hari kemudian, buku itu pun sampai di rumah saya. Mungkin, karena saya mendapatkannya dengan mudah, saya juga kehilangan dengan mudah. Lanjutkan membaca “(Novel dan Film) Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta: Salah Satu Novel Favorit yang Tak Lagi Saya Punya”

Buletin Sastra Pawon di JTV: Merawat Sastra di Kota Raja

segmen #1

segmen #2

segmen #3

segmen #4

Buku, Perpustakaan dan Komunitas , tulisan saya di Majalah Sastra Garisbawah edisi Juli – Agustus 2016

okSaya mungkin beruntung, selain membelikan buku di toko buku secara teratur, papa saya juga yang mengantar saya ke sebuah taman bacaan untuk meminjam buku. Saat itu, saya sedang tergila-gila dengan Khoo Ping Hoo, dan hanya di taman bacaan saya bisa mendapati buku itu. Saya ingat, di saat-saat itu pula, sepertinya saya mulai punya kebiasaan menabung untuk membeli buku. Buku-buku incaran saya waktu itu adalah Trio Detektif san STOP.

Saya merasa, saya ini merupakan generasi taman bacaan. Tentu kalimat itu, sekarang  sudah dianggap aneh. Kondisinya memang sudah berbeda. Taman-taman bacaan -yang berisi buku-buku hiburan- satu persatu mulai berguguran. Yang tetap berdiri tegak hanyalah perpustakaan yang dikelola negara maupun swasta. Tentu dengan kondisi yang seadanya, bahkan ada yang sangat memrihatinkan.

Lalu, dalam keadaan seperti itu, bagaimana seseorang dengan kantung pas-pasan bisa menyukai buku dan menyalurkan minat bacanya?

 

Perpustakaan dan Buku

Rumor DPR ingin membuat sebuah perpustakaan dengan biaya milyaran rupiah sempat berhembus beberapa bulan ini. Siapa pun akan menggeleng kepala tak percaya. Saya sendiri merasa itu ide yang absurb. Bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia buku, angka itu benar-benar angka yang luar biasa. Padahal sejak beberapa tahun terakhir ini pertanyaan yang menakutkan bagi pengelolah perpustakaan sudah menelisip di telinga mereka: apa benar sebuah sebuah perpustakaan masih relevan di era sekarang? Lanjutkan membaca “Buku, Perpustakaan dan Komunitas , tulisan saya di Majalah Sastra Garisbawah edisi Juli – Agustus 2016”

Video Workshop Menulis Cerpen di Balai Soedjatmoko Setahun Lalu

Museum Luka, cerpen saya di Jawapos 10 Juli 2016

13599828_10208595598119570_7659504361669427026_n

Tautannya

Kliping Sastra Indonesia: http://id.klipingsastra.com/2016/07/museum-luka.html

Lakon Hidup: https://lakonhidup.wordpress.com/2016/07/10/museum-luka/

 

Amin Maaloef: Sosok Lain dari Lebanon

amin

Sudah sejak lama saya memiliki buku Balthasar’s Odyssey, Mencari Nama Tuhan yang Keseratus, tapi baru beberapa bulan lalu saya merampungkannya. Dulu, saya sebenarnya sudah tertarik untuk membacanya dan sudah emngantrikannya di di samping tempat tidur saya. Ini gara-gara sewaktu pergi ke pameran, Haris Firdaus -seorang kawan Pawon- bener-benar mencari buku itu. Sampai ketika ada buku Amin Maalouf yang saya rasa merupakan bajakan (?), ia tetap membelinya. Waktu itu saya hanya berpikir, sampai segitunya

Tapi saat mulai membaca Balthasar’s Odyssey semua itu terjawab. Di blurps buku itu tertulis pembaca akan terbawa dari halaman pertama. Itu tentu kalimat pasaran yang sering kita baca di blurps-blurps novel. Tapi sungguh di novel ini itu ternyata bukan kalimat mitos.

Maka itulah, saya merancang membicarakan sosok Amin Maalouf di #bincangsastra Solopos FM. Saya pikir sosok penulis ini masih jarang sekali diulas. Di internet pun data-datanya begitu sedikit. Mungkin karena Maalouf berbahasa Prancis.

Lanjutkan membaca “Amin Maaloef: Sosok Lain dari Lebanon”

Membaca Bersepeda Ke Neraka: Cerita-cerita yang Tak Pernah Selesai

Bagaimana sebuah cerita bermula?

Pernah mencoba menjawabnya dengan runtut?

6826145_e5169bad-cbbd-4099-9021-2f8ec2952947 Dulu, saya punya seorang kawan yang selalu ada dalam mood buruk. Bicara dengannya sungguh merepotkan. Ia selalu jadi anomali di antara kawan-kawan yang lain. Kadang saya sampai berpikir: ia adalah si penghancur kegembiraan. Saat semua kawan sedang  gembira akan sesuatu, ia muncul dengan ekspresi wajah yang datar. Tentu, kawan saya itu bukan penulis, bukan pula pencerita, tapi saya pikir ia adalah obyek cerita yang baik. Herannya, saya tak pernah bisa menulis apa-apa tentangnya. Yang bisa saya tulis hanyalah percikan-percikan kisah-kisah kecil tentangnya. Tak ada yang benar-benar jadi sebuah cerita yang utuh. Namun selang beberapa tahun kemudian, cerita-cerita kecil yang saya corat-coret di buku catatan saya itu, bisa membuat saya terlempar ke cerita-cerita besar dengannya. Anehnya, cerita itu seperti menjadi lebih besar dari seharusnya.

Saya pikir fiksi mini dibuat dengan tujuan –atau harapan- seperti itu. Sebenarnya saya sendiri bukan tipe penyuka cerita-cerita mini. Sepertinya hanya 2 mini yang asyik: Mini Mouse dan rok mini. Tapi tentu bukan fiksi mini Saya lebih suka cerita yang panjang. Karena cerita yang pendek, punya kecenderungan sama dengan cerita lainnya. Walau saya tahu membuat fiksi mini, walau nampak mudah, sebenarnya lebih sulit dari yang dikira.

Membuat fiksi mini butuh kosentrasi di setiap kalimat, bahkan kata. Tak bisa dibuat seadanya. Ini jauh lebih sulit dari membuat paragraf pertama. Dengan sajian kalimat yang minim, pembacalah yang diharapkan menyusun cerita. Pembaca dituntut menjadi pembaca yang tak malas. Pembaca yang mau merenung sejeda-dua jeda.

Awalnya saya mengira para pembuat cerita fiksi mini membuatnya cerita karena gelontoran ide yang bejibun di kepalanya. Namun tak semua sanggup diolahnya menjadi cerpen dan novel. Karena kadang ide-ide itu terlalu sederhana, bahkan masih berupa embrio. Tapi mulai setahun belakangan ini, pikiran itu sepertinya tak bisa saya yakini sepenuhnya. Itu sama seperti ketika saya mulai membaca Bersepeda ke Neraka karangan Triyanto Triwikromo (TT). Lanjutkan membaca “Membaca Bersepeda Ke Neraka: Cerita-cerita yang Tak Pernah Selesai”

Film-film tentang Penulis Dunia Favorit Saya

Ada banyak film tentang penulis dunia. Awalnya saya ingin membuat posting tentang film-film yang wajib ditonton bagi penulis, tapi rasanya itu terlalu luas. Jadi kemudian saya bagi saja menjadi 2: yang pertama tentang film-film yang mengangkat penulis-penulis dunia, yang kedua adalah tentang film-film yang wajib di tonton para penulis, atau yang berkeinginan menjadi penulis.

Ini yang pertama lebih dulu…

 

Brigh Star (2012)

bright_starWalau judulnya indah, tapi ini adalah film yang muram. Entah kenapa saya begitu suka dengan film ini. Ini kisah tentang penyair besar John Keats, yang puisinya beberapa kali pernah saya baca. Walau belum ada buku puisinya secara khusus diterjemahkan, tapi satu-dua puisinya banyak termuat dalam antologi bersama.

Film ini fokus pada bulan-bulan sebelum John Keats meninggal. Adalah Fanny Brawne (diperankan Abbie Cornish) yang jatuh cinta pada John Keats (diperankan Ben Whishaw), setelah ia mendapatkan buku kumpulan puisi, Endymion. Tapi cerita kemudian tak bergulir sesederhana itu. Awalnya John tak tertarik dengan Fanny. Bagaimana pun keduanya memiliki sifat yang berbeda. Fanny adalah seorang fashionita sedangkan John tak menyukai dunia glamour itu.

Namun pada akhirnya cinta bersemi. Tapi keadaan tak semulus itu. Kondisi keduanya yang tak memiliki cukup uang, ditambah kedua keluarga mereka sepertinya ada dalam posisi tak ingin keduanya bersatu. Tapi di sini kekuatan cinta keduanya diuji.

Saya petikkan satu puisi John, Bright Star, yang sempat pula ditulisnya di salah satu surat untuk Fanny.

Bright star! would I were steadfast as thou art—/ Not in lone splendour hung aloft the night / And watching, with eternal lids apart, / Like nature’s patient, sleepless Eremite, / The moving waters at their priestlike task / Of pure ablution round earth’s human shores, / Or gazing on the new soft-fallen mask / Of snow upon the mountains and the moors— / No—yet still steadfast, still unchangeable, / Pillowed upon my fair love’s ripening breast, / To feel for ever its soft swell and fall, / Awake for ever in a sweet unrest, / Still, still to hear her tender-taken breath, / And so live ever—or else swoon to death.

Lanjutkan membaca “Film-film tentang Penulis Dunia Favorit Saya”

Kitab Ular, Cerpen Saya di Suara Merdeka 8 Mei 2016

IMG_20160508_184300

Tautan KLIPING SASTRA INDONESIA

http://id.klipingsastra.com/2016/05/kitab-ular.html

Membaca Novel Lawas Widyawati – Arti Purbani

IMG_20160508_075542

Sekali lagi terbukti: saya pembaca yang harus dipaksa! Karena akan didiskusikan Pawon, saya menyelesaikannya novel Widyawati karangan Arti Purbani ini hanya dalam 2 hari.

Diskusi buku kali ini memang sedikit berbeda, bukan sekadar memilih novel lawas seperti usulan dari Kabut, namun penulisnya -Arti Purbani- adalah nama pena dari Partini Djajadiningrat, putri sulung Mangkunegaran VII.

Awalnya membayangkan membaca Widyawati, saya akan mendapati cerita yang mirip-mirip dengan novel Student Hidjo (Marco) ataupun Generasi yang Hilang (Suparto Brata), yang pernah didiskusikan Pawon sebelumnya. Kebetulan latar novel ini hampir-hampir sama. Tapi ternyata, Widyawati punya perbedaan yang kuat.

Saat pada akhirnya menyelesaikannya, satu kesan yang saya tangkap: Widyawati adalah novel yang komplet. Diawali dengan memunculkan 4 karakter perempuan: Sumirah, Roosmiati, Widyawati (Widati) dan Ruwinah, saya langsung meraba kalau keempat tokoh inilah yang akan mengisi halaman-halaman buku selanjutnya. Bahkan saya merasa konflik yang sudah dirancang. terasa sekali di bagian itu. Namun pada kenyataannya, dari keempat karakter itu, hanya katater Widati-lah yang paling intens diceritakan, sedang karater lainnya pelan-pelan hanya menjadi karakter-karakter pendukung yang tak cukup banyak diceritakan. Karakter Sumirah bahkan hanya ditulis sedikit sekali. Lanjutkan membaca “Membaca Novel Lawas Widyawati – Arti Purbani”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑