Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Tag

bukukatta

[Un]affair a novel by Yudhi Herwibowo, repiu di Elya Resha’s Blog

Image

Sekarang aku akan mereview tentang novel seorang temanku.. Yudhi Herwibowo

Terkadang aku lupa kalau dia adalah penulis, karena tulisan di pesannya selalu kacau, terlalu sering bercanda dan mungkin aku tidak percaya kalau dia sudah menerbitkan 29 buku !!! Bagaimana bisa dia menulis sebagus itu (dalam hati mengumpat)..  Well, info aja dia lulusan arsitektur UNS yg mungkin mahasiswa “salah jurusan” karena passionnya ada di menulis..

Tapi itulah kenyataan, oke Mr. Penulis.. Ini review pertamaku ttg bukumu 🙂 walo mungkin agak telat. ato mungkin telat banget hehe… dan maaf kalo hasilnya tak sebaik hasil review teman-temanmu hehe.. Lanjutkan membaca “[Un]affair a novel by Yudhi Herwibowo, repiu di Elya Resha’s Blog”

Iklan

[Un]affair By Yudhi Herwibowo, review Annisa Anggiana di My Book Reviews Corner

“KenImageapa sebuah lagu bisa diterima di semua tempat, di semua negara? Musik memang universal, tapi kisah dibalik lagu itulah yang membuatnya semakin diterima. Itu artinya sebuah kejadian seperti dalam lagu itu ternyata terjadi pula di tempat-tempat lain. Jadi seseorang seharusnya tidak perlu terlalu sedih akan sesuatu, karena di tempat lain pun, ada orang yang bersedih karena hal yang sama.”

Aaaakkhh ternyata Yudhi Herwibowo kalo menulis romance baguuuss ^_^ hehe.. Udah ada feeling waktu baca Perjalanan Menuju Cahaya, kayaknya kalo nulis drama atau romance bakalan sedih ceritanya dan ternyata ngga jauh2 tuh.. Hehe.. Because sometimes sad ending does make a story felt more real.. Life ain’t a fairy tale right?

Lanjutkan membaca “[Un]affair By Yudhi Herwibowo, review Annisa Anggiana di My Book Reviews Corner”

[un]affair, [un]forgetable, [un]predictable, review Ary Yulistiana (penulis 100th Dragonfly)

ImageSebuah catatan kecil dari novel [un]affair karya Yudhi Herwibowo
Ihwal terbitnya novel ini saya ketahui dari kolom berita sebuah surat kabar lokal, yang memuat profil penulisnya. Dalam kesempatan tersebut, sang penulis (siapa lagi kalau bukan Yudhi Herwibowo) mengatakan akan segera meluncurkan novel berikutnya yang bergenre cinta. Diakuinya novel tersebut merupakan novel pertamanya yang bergenre cinta, ehm. Langsung terbayang di benak saya deretan karya penulis yang sungguh baik hatinya itu, mulai dari cerita humor, roman sejarah, sampai kisah-kisah inspiratif.
Dan pada sebuah akhir pekan, saya mencari buku tersebut di Gramedia. Karena malas mencari secara langsung karena banyaknya display di berbagai rak dan meja, dan sedang terburu-buru, saya langsung menuju ke komputer yang ada di tengah ruangan untuk melacak keberadaan buku tersebut. Perlu beberapa kali ketik juga ketika pencarian. Karena bila hanya diketik unaffair demikian, maka tidak bisa muncul judul bukunya.  Lanjutkan membaca “[un]affair, [un]forgetable, [un]predictable, review Ary Yulistiana (penulis 100th Dragonfly)”

[un]affair – Yudhi Herwibowo, review Bacaan B.zee

Judul buku : [un]affair
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Penerbit KATTA, 2012 (cetakan pertama)
Tebal buku : 172 halaman

“Kupikir senja menjadi indah bila kita memiliki jeda untuk tak melihatnya.” (p.125)

Jika kita punya waktu, sekedar untuk memandangi hujan atau menghitung langkah di sepanjang perjalanan. Seandainya kita tinggal di kota sendu, dimana mendung selalu menggelayut dan ketenangan begitu mudah didapatkan. Mungkin sebuah pertemuan singkat bisa menjadi kisah.

Bajja, tokoh utama dalam kisah ini, bisa dikatakan tipikal penghuni kota sendu. Setiap kejadian, sekecil apa pun, seolah menyimpankan rahasia untuknya. Siapa yang menyangka wanita yang diperhatikannya kala berpapasan di perlintasan kereta, tiba-tiba menjadi kliennya, kemudian menjadikan dirinya tempat pelarian.

Arra, wanita itu, akan datang kepada Bajja di saat dia sedang sedih. Tertidur di sofanya, kemudian menghilang di pagi hari. Setelah itu dia menghilang. Tepat di saat Bajja hendak melupakannya, wanita itu hadir lagi. Selalu seperti itu, meski keduanya tahu bahwa posisi mereka tak seharusnya memiliki hubungan yang spesial. Tanpa komitmen, namun selalu terhubung.

Saya tidak akan memberikan sinopsis terlalu panjang, karena bukan pada kisah dua insan itu pembaca dibuai. Saya melihat pergulatan batin seorang pecinta, yang percaya akan tanda-tanda di sekitarnya. Tanda-tanda yang terus berdatangan sehingga sukar untuk diabaikan, namun terlalu indah untuk dipercaya. Dalam kata demi kata yang dirangkainya, penulis seolah mengajak pembaca untuk mengerti apa yang sebenarnya dirasakan oleh tokoh itu,
kemudian menilainya sendiri.

Saya sangat jarang membaca novel romansa, namun saya cukup menikmati [un]affair ini. Kata-katanya dirangkai dengan indah, tidak berlebihan, tetapi suasana yang ditimbulkan sangat cukup. Meski kadang menyelipkan bahasa-bahasa yang ‘kekinian’, saya salut akan konsistensinya dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dalam dialognya sekalipun. Dan hal itu sama sekali tidak menimbulkan kesan kaku. Oleh karena saya memang ‘anti’ pada penggunaan bahasa gaul dalam karya sastra. Hanya saja ada satu kata yang sepertinya tidak disengaja terselip di situ, yaitu kata “kuteriakin” dalam narasi di halaman 56.

Secara keseluruhan, novel ini sangat berpotensi untuk dihabiskan dalam sekali-dua kali duduk. Selain karena bahasanya yang mengalir, saya pribadi merasakan keterikatan dengan tokoh-tokoh maupun kejadian-kejadiannya, yang bisa jadi dirasakan pula oleh semua orang.

Aku tahu, ada kalanya sebuah film hanya sekadar bentuk pengulangan dari sebuah kejadian yang mungkin saja terlewati. (p.82)

Musik mungkin universal, tapi kisah di balik lagu itulah yang membuatnya semakin diterima. Itu artinya sebuah kejadian seperti dalam lagu itu ternyata terjadi pula di tempat-tempat lain. Jadi seseorang seharusnya tak perlu terlalu sedih akan sesuatu, karena di tempat lain pun, ada orang yang bersedih karena hal yang sama. (p.107)

Seringkali saya merasakan pertanda yang sangat jelas tapi meragukan, seperti Bajja. Ada kalanya saya melarikan diri ke ‘sofa’ orang lain seperti Arra, sekedar singgah tanpa berharap, meski terancam kehilangan. Meski begitu, mungkin karena begitu ‘nyata’nya kisah ini, saya sama sekali tak tahu akhir seperti apa yang saya harapkan. Kemudian saat mencapai kalimat terakhir, ternyata saya cukup puas. 4/5 untuk sofa usang di kota sendu.

 

 

http://bacaanbzee.wordpress.com/2012/09/19/unaffair/

(UN) AFFAIR…Sebuah kisah tentang cinta yang sunyi…, review Syifa Qurrota A’yun

ImageSebuah buku karangan Yudhi Herwibowo, memang menjadi incaran saya saat mengunjungi Gramedia minngu kemarin. Saya sudah jatuh cinta dengan karyanya saat membaca Perjalanan Menuju Cahaya, beberapa tahun yang lalu. Dan olala, sebuah buku manis bersampul coklat yang manis dan gambar yang sederhana namun memikat, ada di tangan saya.Dan saat ini, saya sudah menamatkannya, hanya dalam waktu hitungan jam. Mungkin itu karena jumlah halamannya yang tidak terlalu banyak atau ceritanya yang memikat, atau gabungan ke duanya.

      Novel ini berkisah tentang hubungan unik yang terjalin antara Bajja dan Arra, yang dipertemukan tanpa sengaja, saat mereka bersimpangan jalan. Sebuah pertemuan yang menimbulkan ingatan mendalam di hati Bajja, yang sayangnya sepertinya hanyalah perjumpaan selintas. Sampai pada suatu ketika, Arra datang ke kantor Bajja, sebuah perusahaan penerbitan terbesar di kota tempatnya tinggal. Secara kebetulan, Bajjalah yang ditugaskan atasannya untuk melayani Arra yang berniat menerbitkan sebuah buku,untuk dipersembahkan buat kekasihnya. Berawal dari ketekaitan itu, Bajja dan Arra dekat, tak bisa dikatakan pacaran pula, karena Bajja tahu persis bahwa Arra sudah memiliki kekasih.Mereka sering menghabiskan waktu bersama, baik dengan berjalan- jalan ke tempat unik di kota mereka atau tinggal di rumah kontrakan Bajja. Berbicara tentang hal- hal remeh temeh, tapi tanpa pernah berbicara hal yang bersifat pribadi,Dan disela- sela waktu itu, Arra datang dan pergi tanpa permisi, sesukanya..dan Bajja menganggap hal itu biasa.

       Setelah buku itu jadi, hal yang agak mengejutkan pun terjadi. Arra malah merobek- robek buku itu di tempat kontrakan Bajja tanpa pernah memberikan penjelasan , dan Baja pun tak berniat untuk menanyakannya. Setelah kejadian itu, Arra menghilang lagi dan datang dengan sebuah kabar, bahwa dia dilamar dan akan segera menikah. Sebuah berita yang ditanggapi Bajja dengan biasa- biasa saja, walau pun sejujurnya benih- benih suka mulai tumbuh di hatinya, apalagi kemudian sebuah undangan datang ke kediamannya.

       Pada saat Bajja putus kontak dengan Arra, datanglah Canta, kekasih masa lalunya, yang menerima tawaran untuk berdinas di sebuah rumah sakit di tempat Bajja tingal. Canta yang dokter adalah kekasihnya sermasa kuliah. Mereka berpisah, karena Canta menganggp Bajja tak pernah atau belum punya rencana tentang masa depan mereka, saat keduanya lulus dulu. Dan terjalinlah kembali hubungan yang sempat putus tersebut. Bajja mulai bisa melupakan Arra dan memulai hari- harinya bersama Canta. Tapi ternyata kemanisan hubungan itu terganggu oleh suatu hal..

Apakah gangguan itu? Bagaimana nasib hubungan antara Bajja dan Canta selanjutnya? Dan apakah Arra benar- benar menghilang dari kehidupan Bajja selamanya?? Saya tak akan menceritakannya di sini, dan biarlah itu membuat anda penasaran untuk membaca bukunya secara langsung.

      Sebagai penikmat novel, point plus dari novel ini adalah cara bertuturnya yang tidak biasa. Lebih banyak monolog, miskin dialog. Tapi saat ada dialog, semuanya terkemas mengalir dan mendalam. Beberapa puisi yang ada di novel ini saya rasa juga menambah nilai. Hal yang menarik lainnya adalah deskripsi tentang kota tempat tinggal Bajja yang detil dan menyentuh, sampai sampai saya tak tahu, ini kota rekaan atau sungguhan. Selain itu, daftar isi dengan sub judul kalimat yang panjang- panjang, terasa tak biasa, tapi tetap mengena. Novel ini tidak berkesan riuh, bahkan cenderung sunyi, tapi segalanya terasa pas.Bagi anda yang menggemari novel- novel berlatar romantis dengan cara bertutur yang menarik dan penuh perenungan, novel ini layak dikoleksi….

 

http://www.facebook.com/notes/syifa-qurrota-ayun/un-affairsebuah-kisah-tentang-cinta-yang-sunyi/10151140498593119

Mata Air Air Mata Kumari – Yudhi Herwibowo, review Bacaan B.zee

ImageJudul : Mata Air Air Mata Kumari

Penulis : Yudhi Herwibowo

Penerbit : Buku Katta (2010)

 

Mata Air Air Mata Kumari, awalnya agak kesulitan membaca dan memahami judul itu, tetapi ternyata jawabannya sudah ada di sinopsis back cover :)

Ada empat belas cerpen dalam buku ini, dengan berbagai setting. Mulai dari sebuah desa terpelosok di Nusa Tenggara Timur, desa kecil di Jawa pada masa PKI, sampai suatu daerah di Nepal. Meski begitu, Nusa Tenggara Timur yang mendominasi setting tempat di sebagian besar cerpen tersebut. Tidak hanya menggunakan nama wilayah sebagai ‘hiasan’, tetapi penulis juga fasih dalam menggambarkan lokasi, kebudayaan dan adat istiadat setempat.

Cerpen pertama dalam buku ini, “Kofa” sebagai pembukaan, sukses mempesona saya. Gaya bahasanya yang luwes dan cantik, semacam “…saat bunga-bunga di puncak kemekaran mereka, dan aroma ada di tepat ketinggian hidung orang-orang Kofa,..” Kisahnya yang sederhana, namun bermakna sangat mendalam, serta nyata mampu kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, walau wujudnya tak se-’ajaib’ ini. Gambaran nyata bagaimana penampilan masih menjadi prioritas bagi sebagian besar orang, tanpa melihat bagaimana nilai manusia dalam diri seseorang itu.

Kisah “Amela-Ameli” mulai menuntut imajinasi yang lebih bebas. Meski dari awal saya sudah bisa menebak arah cerita ini, tetapi tetap bagian-bagian tertentu berhasil mengejutkan saya. Kemudian ditutup dengan akhir yang tegang sekaligus mengharukan. “Lama Fa” seolah menuntut kita untuk berpikir terbalik, menyusun kembali episode-episode kehidupan di dalam kepala kita sendiri. Suatu tantangan tersendiri untuk orang-orang yang terbiasa berpikir linear seperti saya. Kisah-kisah lain, sama seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, sangat kental dengan kebudayaan dan mitos setempat. Selain tata bahasa yang indah dibaca, unsur misteri juga menambah keindahan cerita dalam buku ini. Alurnya disusun sedemikian rupa sehingga rasa penasaran yang semakin terjawab diakhiri tepat pada waktunya. Tidak terlalu ‘jelas’ sehingga mematikan imajinasi, tapi juga tidak terlalu ‘menggantung’ sehingga memberikan terlalu banyak penafsiran.

Akan tetapi ada satu yang agak mengganjal untuk saya, yaitu kisah kedelapan, “Ana Bakka”. Kisah ini bagus secara rangkaiannya, tetapi saya kurang berkenan dengan pesan moralnya. Dengan latar belakang tokoh “aku” sebagai orang medis, penceritaan semacam itu ditakutkan malah menjadi pembenaran untuk adanya pemasungan. Terlepas dari apapun, kisah fiksi pun menurut saya juga harus dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, di beberapa tempat, meski tidak banyak, terlihat beberapa kesalahan ketik.

Secara umum, buku ini cukup berkesan untuk saya. Kisah-kisah pendek dengan makna yang cukup dalam.

My Rating : 4/5

 

http://bacaanbzee.wordpress.com/2012/01/16/mata-air-air-mata-kumari/

Segera Rilis Setelah Lebaran: [un]affair

Imagedi kota sendu

cinta tak seharusnya datang…

Aku diam dengan debar jantung yang makin bereaksi. Kudekatkan wajahku pada rambutnya, dan aroma ginseng samar yang bercambur aroma pewangi tubuhnya terhirup seakan asap ganja yang masuk ke rongga dada. Lega untuk sejenak-duajenak.

Setitik air luruh di dahinya. Semula aku mengira itu adalah sisa air hujan di rambutnya. Namun ternyata bukan. Rambutnya telah kering sejak tadi, sehingga kuduga itu pastilah titik keringat yang muncul karena cuaca yang mulai berubah, tak lagi dingin.

Ia bergerak ritmis bagai gerakan titik embun di helai daun. Tak bisa kupungkiri, sekian lama kedua mataku telah memilih kedua matanya, sekian lama sekat-sekat pikiranku memilih bayangannya untuk hadir, sekian lama apa pun yang ada pada dirinya menjadi sesuatu yang penting padaku.

Ini membuat gemuruh di hatiku. Tapi sekarang mataku tak lagi menemukan matanya. Kedua mata itu telah terpejam dengan alis mata yang sesekali bergerak lembut. Dan aku begitu jelas melihat titik keringat itu bergerak perlahan menuju bibir kecilnya tak sepenuhnya tertutup.

Napasku tertahan.

 

segala hal tentang [un]affair >>> un-affair.blogspot.com

Artikel di Solopos Sebulan Lalu

Image

Mata Air Air Mata Kumari, review Okeyzz

Image

Penulis: Yudhi Herwibowo
Penyunting & Kata Pengantar: Bandung Mawardi
Penerbit: Buku Katta
Tahun: 2010
Hlm: 140
ISBN: 9789791032414

Review:

Mata Air Ari Mata Kumari setebal 140 halaman ini merupakan kumpulan cerpen berisi 14 cerita pendek. Kumpulan cerpen di dalamnya kebanyakan bercorak fantasi akan mitos lokal dari latar belakang sejarah dan budaya Indonesia (dan beberapa cerita mengambil latar budaya luar).

1. kofa
Cerpen kofa ini mengisahkan sebuah mitos daerah di dusun kecil di Nusa Tenggara Timur. Membuat saya bertanya-tanya, benarkah ini mitos atau murni karangan pengarang belaka? Membuat saya berandai-andai apakah benar adanya pernah terjadi hal tersebut—Lelaki berpunuk pemilik tangan cahaya, penyembuh sekaligus penyubur tanah berdebu? Lanjutkan membaca “Mata Air Air Mata Kumari, review Okeyzz”

Review Spring of Kumari Tears, oleh Truly Rudiono dan diterjemahkan oleh Dina Begum

Author                  : Yudhi Herwibowo

Indonesian Editor  : Bandung Mawardi

Cover Design        : Hikozaa

Illustration            : Bukukatta

Translated            : Rini Nurul Badariah & Nita Candra

ISBN                   : 978-979-1032-41-4

Pages                  : 112

I am shocked………………………!

Because there is a snake which always comes near a baby, even though the baby has been taken far away from its village. The snake can somehow find the baby, and stays by its side until someone shrieked!

I am afraid………………………!

Because there’s a little girl with silvery eyes who can kill her mother’s loyal customer.

I am concerned………………………!

Because nobody has found the withering body of a mere boy yet.

I am shivering………………………!

Having read ‘ “And who dares to tempt my action? I hope even the demons will learn their lessons!” said Empu Bayu Aji, the age of Padjajaran, 1150 AD.’ Lanjutkan membaca “Review Spring of Kumari Tears, oleh Truly Rudiono dan diterjemahkan oleh Dina Begum”

Spring of Kumari Tears, short stories compilation

Akhirnya setelah cukup lama menunggu buku terjemahan saya Mata Air Air Mata Kumari terbit juga. Saat ini sudah dalam proses cetak digital. minggu depan insyaallah sudah bisa jadi. sengaja dicetak terbatas, karena tentu saya tahu, tak banyak yang akan mencari buku ini… ;P Lanjutkan membaca “Spring of Kumari Tears, short stories compilation”

Pada Gerimis di Sepanjang Sanggingan : Kisah-kisah dari Ubud Writer and Reader Festival 2010

Saya bagai daun kering yang terbang ke tanah itu. Tanah basah beraroma samar wangi kamboja, yang biasa tergeletak menjadi banten  di depan patung-patung yang ada di setiap pintu masuk rumah. Walau saya sudah berkali-kali mampir di Denpasar, tapi ini adalah kali pertama saya tiba di Ubud. Menjejakkan tanah beriringan dengan angin, yang rasanya sedikit berbeda dari angin lainnya, untuk datang di undangan Ubud Writers & Readers Festival 2010 (UWRF 2010).

Festival yang selama ini hanya saya dengar gaungnya ini, kali ini mengambil tema Bhinneka Tunggal Ika: Harmony in Diversity, dan dihadiri oleh penulis-penulis dari China, Malta, Palestine, Israel, Lebanon, India, Pakistan, Sri Lanka, Burma, Vietnam, Malaysia, Singapura, Prancis, Bosnia, Turki, Afrika Selatan, Australia, Inggris, Irlandia, Amerika dan Canada, serta dari kepulauan Indonesia sendiri. Lanjutkan membaca “Pada Gerimis di Sepanjang Sanggingan : Kisah-kisah dari Ubud Writer and Reader Festival 2010”

Keberimanan Pengarang dan Ziarah Imajinasi-Lokalitas, Pengantar Bandung Mawardi

Pengarang menekuni kerja sastra dengan peka kata dan cerita. Peka kata dan cerita ini diperkarakan dalam pertaruhan kualitatif. Pengarang tak sekadar belanja kata dan cerita melalui transaksi ekonomis-instrumentalis. Transaksi-estetis terbentuk dari kesadaran meladeni realitas dengan antusiasme imajinasi. Olahan dalam bahasa menjadi lahan “pertarungan” untuk menjelmakan cerita. Kata diproduksi untuk menempuhi jalan panjang dan menata diri dalam konstruksi jagat pengarang. Lanjutkan membaca “Keberimanan Pengarang dan Ziarah Imajinasi-Lokalitas, Pengantar Bandung Mawardi”

2 review samurai cahaya

Tanpa sengaja saya menemukan 2 review novel saya samurai cahaya. yang pertama dari blog jari bicara dan yang kedua dari blog chinen yuuri Lanjutkan membaca “2 review samurai cahaya”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑