Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Tag

cerpen yudhi herwibowo

Kucing Ketiga Madam Sukotjo, cerpen lokomoteks.com edisi April 2017

sampul-loko-kucingoke-copy

bisa klik di sini:

https://lokomoteks.com/cerpen-yudhi-herwibowo-kucing-ketiga-madam-sukotjo/?frame-nonce=6929d69a19

Cerpen Malam Mengenang Sang Penyair, Tribun Jabar 26 Maret 2017

17TJ26031007.pmdBisa klik ke web tribun Jabar di sini:

http://jabar.tribunnews.com/2017/03/26/malam-mengenang-sang-penyair

atau epapernya di sini:

http://jabar.tribunnews.com/epaper/index.php?hal=7

Keris Kyai Setan Kober, Cerpen Suara Merdeka 30 Mei 2010

Mungkin agak terlambat mempostingnya. Tapi sejak dulu saya sebenarnya gak terlalu ingin mempostingnya, karena cerpen ini bisa dengan mudah didapat di mana saja via internet. Tapi karena tulisan kritik cerpen ini yang  saya posting dulu (https://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/04/21/keris-kyai-setan-kober-sebuah-kritik-dari-mr-x/), terus-terusan menjadi ‘tulisan teratas’ di blog ini, jadi saya pikir tak ada salahnya saya posting cerpennya juga. hitung-hitung menaikkan pengunjung blog ini… 😀

Mari…

****

keris-kiai-setan-kober1

Dan siapa yang akan berani mengganggu lakuku?

Bahkan jin-jin itu pun kuharap akan jera!

— Empu Bayu Aji, masa Pajajaran 1150 M

AKU adalah gelora amarah!

Dengan bara bagai percahan matahari dan tempa bagai hujanan batu, aku mulai mengambil wujud. Laku dan mantra kemudian mengisi napasku satu demi satu. Masih kuingat jelas, walau telah ratusan tahun lewat, empu paling termasyur kala itu, menguntai bait-bait mantra dengan ambisi yang memuncak dalam relung hati. Keringatnya yang terus menetes, dan langsung pula menguap, bagai jawaban dari gejolak hati yang membuncah.

Waktuku tak lagi banyak, kematian telah begitu dekat, dan aku harus berbuat yang terbaik untuk terakhir kalinya!

Kala itu bagai seonggok orok yang beranjak tumbuh, aku terus mendengar desah batinnya. Walau halus dan tak terdengar oleh para abdi, namun sungguh, aku dapat mendengar dengan sangat nyata. Bahkan tak hanya suara itu, aku juga dapat mendengar suara-suara lainnya yang ada di sekeliling sang empu. Suara-suara tak jelas, seperti bisikan-bisikan berulang. Kadang tinggi, kadang sangat rendah, diiringi sesekali dengan suara cekikikan yang melengking, mendirikan bulu roma. Lanjutkan membaca “Keris Kyai Setan Kober, Cerpen Suara Merdeka 30 Mei 2010”

Michelle, Ma Belle, Cerpen Suara Merdeka 20 Desember 2015

12376077_10207057828556292_2725567397314076986_n

silahkan klik di:

http://id.klipingsastra.com/2015/12/michelle-ma-belle.html

juru masak aiir mata jpg

Cerpen Tangga ke Bulan, Media Indonesia 26 Juli 2015

11792114_10206201570630379_3967326795761898243_oJadi dulu, saat bulan masih cukup dekat dengan bumi, orang2 menulis harapan2 mereka di carik kertas dan menerbangkannya ke angkasa. Bertahun-tahun kemudian kertas2 harapan itu menumpuk di bulan. Seorang ilmuwan berpikir apa yg sebenarnya yg ditulis orang2 itu. Ia berniat menelitinya. Hal pertama yg hrs dilakukannya adalah mengambil kertas2 harapan itu. Maka bersama para sahabatnya seekor anjing bernama galileo nuri bernama davinci, dan tikus bernama archimedes, ia mulai membuat proyek besarnya: sebuah tangga ke bulan…
– cerpen tangga ke bulan, media indonesia

Tautannya di KLIPING SASTRA: http://id.klipingsastra.com/2015/07/tangga-ke-bulan.html

Cerpen Jejak Air, Pikiran Rakyat, 31 Mei 2015

1 okJarot kecil hanya bisa melihat kakeknya mengejang di ujung ajal. Namun sebelum ia benar-benar menghembuskan napas terakhirnya, suaranya terdengar pelan dan terbata, “Kau tak perlu cemas. Nanti akan datang orang yang kita tunggu itu, laki-laki yang di setiap bekas jejak kakinya mengalir air yang begitu bening untuk kita semua di sini.”

Selepas mengatakan itu, kakeknya meninggal. Namun ucapannya seperti tak pernah hilang di kepala Jarot kecil. Mungkin kisah itu telah begitu merasuk dan menjadi kisah paling mengagumkan yang pernah didengarnya. Jarot kecil bahkan sampai bisa membayangkan di antara senja yang meredup, laki-laki itu pergi menuju arah matahari, seakan-akan ia benar-benar berumah di sana. Setiap jejak yang ditinggalkannya perlahan-lahan akan membuat air merembes keluar. Lama-lama jejak-jejak itu menjadi genangan-genangan kecil. Dan saat laki-laki itu nyaris tak lagi terlihat, genangan-genangan kecil itu mulai menyatu satu demi satu dan membentuk sungai kecil yang msesekali meliuk-liuk bagai ular.

Maka itulah setiap kawan-kawannya mengeluh akan kekeringan di desanya ini, ia akan selalu berujar, “Sabarlah, sebentar lagi akan datang orang dengan jejak kaki yang mengalirkan air untuk kita.”

Tapi kawan-kawannya malah mencibir saja. Jarot kecil bisa memahami ketidakpercayaan kawan-kawannya. Sudah puluhan kali ia mengucapkan kalimat itu, tapi laki-laki yang dimaksud tak pernah benar-benar datang. Lanjutkan membaca “Cerpen Jejak Air, Pikiran Rakyat, 31 Mei 2015”

Cerpen Lemari, Majalah Horison Mei 2015

11169557_418346361672825_1611908102245008462_o 11060941_10205589341245027_742413353665422969_o

Cerpen Kucing Buku di Koran Tempo 22 Februari 2015

10842099_10205056700169333_5941072022221916966_o

Blog di WordPress.com.

Atas ↑