Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Tag

pandaya sriwijaya

My Instagram’s Quotes

follow instagramku di @yudhiherwibowo

pasti difollow balik… 🙂

Iklan

Quotes yang Mungkin Sesuai dengan Hatimu… :) (bagian 1)

 

Buat kawan-kawan yang mencari buku-buku lama saya, silahkan… :)

Buat kawan2 yang mencari buku-buku lama saya (dan baru tentunya), berikut saya buat listnya. Ini merupakan buku-buku yang masih ada pada saya, dan pada penerbit juga. Beberapa yang lain sudah tak ada stok. Saya sekadar menyimpannya buat arsip sediri…

promo-2016-1promo-2016-2promo-2016-3promo-2016-4

Buku-buku tentang Sriwijaya, tulisan saya di Pawon Edisi Baca Buku

Belakangan ini saya banyak membaca buku-buku tentang Sriwijaya. Ini berkaitan dengan rencana saya menulis novel yang sementara ini saya beri judul, Senja Merah Sriwijaya. Tentu ini bukan pertama kalinya saya berkutat dengan buku-buku bertema Sriwijaya, 5 tahun yang lalu, saat menulis Pandaya Sriwijaya, saya juga melakukan hal yang sama.

index ok  index ok 3  index ok 2

Sebenarnya kali ini, saya sekadar ingin menulis sebuah kisah silat berlatar belakang Sriwijaya. Sehingga, saya tak berkeinginan terlalu mendalami bacaan-bacaan tentang Sriwijaya seperti saat menulis Pandaya Sriwijaya. Tapi ternyata untuk mendapatkan aura tentang Sriwijaya, ternyata tetap saja saya harus membaca beberapa buku bertema Sriwijaya. Kapasitas otak yang terbatas, membuat apa yang saya baca 5 tahun lalu, seperti hanya samar-samar saya ingat.’ Lanjutkan membaca “Buku-buku tentang Sriwijaya, tulisan saya di Pawon Edisi Baca Buku”

Kesulitan Mendapat Buku-buku Saya?

banyak sekali kawan yang menginbox soal keberadaan buku-buku saya. pola display di gerai2 gramedia memang sangat dibatasi waktu, sehingga sebuah buku tak akan bisa terlalu lama terdisplay di sebuah rak toko buku. maka itulah banyak buku yang teretur, sebelum sempat dilihat calon pembelinya. sebenarnya buku2 tersebut tak selamanya habis, tapi kadang… masih menumpuk di gudang distributor… 😦

IMG_1905

buat kawan2 yang masih mencari buku-buku lama saya, bisa memesannya langsung melalui saya. di tangan saya, jumlahnya memang tak lagi banyak, namun cukuplah bila sekadar buat kawan2 yang membutuhkan 1-2 eks. harganya pun sudah di bawah harga normal ketika rilis. beberapa judul buku-buku itu adalah: Lanjutkan membaca “Kesulitan Mendapat Buku-buku Saya?”

Perayaan di Kaki Borobudur, catatan kecil tentang Borobudur Writers and Cultural Festival 2012

ImageIni seperti di luar bayangan saya.
Saat pertama kali menerima telefon dari Imam Muhtarom untuk membicarakan Sriwijaya di Borobudur Writers and Cultural Festival 2012 (BWCF 2012)dengan tema Musyawarah Agung Penulis penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara, saya masih merasa tak percaya. Novel yang sudah dirilis 4 tahun lalu itu, sebenarnya nyaris lenyap dari muka bumi. Bekasnya seperti samar-samar saja. Namun buku selalu punya nasibnya sendiri! Jadi saya mengiyakan saja tawaran itu. Awalnya saya kira ini festival biasa. Namun saat beberapa minggu kemudian, saat saya menerima proposalnya, ternyata dugaan saya salah.
Selain pembicara-pembicara senior, ada juga 150 peserta aktif yang diundang. Seluruhnya penulis-penulis ampuh di nusantara. Apalagi sebulan sebelum acara, saya sempat bertemu dengan Mas Seno Joko Suyono dan Imam Muhtarom, 2 konseptor acara selain Mbak Dorothea Rosa Herliani dan Wicaksono Adi, di Omah Sinten, Solo. Dari sini saya mulai merasakan keseriusan yang tak biasa!
Tiba-tiba saya merasa tak enak. Saya lihat lagi nama-nama seluruh pembicara, semuanya merupakan pembicara senior. Saya tiba-tiba merasa kecil sendiri. Saya bahkan sempat berpikir untuk menjadi peserta aktif saja. Tapi beberapa teman saya yang saya curhati malah bicara, “Siapa lagi yang sudah menulis Sriwijaya selain saya?”
Teman saya itu salah. Sebenarnya ada beberapa penulis lagi yang menulis tentang Sriwijaya. Tapi buku-buku itu memang terbit belakangan. Lanjutkan membaca “Perayaan di Kaki Borobudur, catatan kecil tentang Borobudur Writers and Cultural Festival 2012”

Blog-blog Buku Saya

Mungkin sedikit terlambat, tapi sejak setahun yang lalu saya selalu membuat blog khusus untuk buku-buku saya.

Awalnya sebenarnya bermula saat buku saya, Untung Surapati, melalui proses yang cukup berliku. Maka saya merasa ada baiknya pembaca juga tahu apa yang terjadi di balik buku itu hingga akhirnya benar-benar terbit.

Selama ini saya hanya memiliki 1 web dan 2 blog saja. Web yudhiherwibowo.com kini tak lagi terlalu diupdate, karena sulit dalam pengoperasiannya. Blog yudhi heribowo.blogspot.com  hanya berisi katalog-katalog buku saya, sedangkan yudhiherwibowo.wordpress.com berisi curhat-curhat gak penting. Inilah blog teramai.

Biasanya di blog kedua ini semua cerita di balik buku saya, saya upload. Tapi karena semakin banyak, untuk buku-buku tertentu, saya putuskan untuk membuatnya secara khusus. Setidaknya saya ingin mengarsipkan tulisan-tuilisan tentang proses buku-buku saya, juga mengumpulkan review-review tentang buku-buku saya agar tak tercecer kemana-mana. Saya harap esok, bila ada rejeki, tulisan-tulisan ini akan saya cetak dalam bentuk buku dengan system cetak digital.

Lanjutkan membaca “Blog-blog Buku Saya”

Pada Gerimis di Sepanjang Sanggingan : Kisah-kisah dari Ubud Writer and Reader Festival 2010

Saya bagai daun kering yang terbang ke tanah itu. Tanah basah beraroma samar wangi kamboja, yang biasa tergeletak menjadi banten  di depan patung-patung yang ada di setiap pintu masuk rumah. Walau saya sudah berkali-kali mampir di Denpasar, tapi ini adalah kali pertama saya tiba di Ubud. Menjejakkan tanah beriringan dengan angin, yang rasanya sedikit berbeda dari angin lainnya, untuk datang di undangan Ubud Writers & Readers Festival 2010 (UWRF 2010).

Festival yang selama ini hanya saya dengar gaungnya ini, kali ini mengambil tema Bhinneka Tunggal Ika: Harmony in Diversity, dan dihadiri oleh penulis-penulis dari China, Malta, Palestine, Israel, Lebanon, India, Pakistan, Sri Lanka, Burma, Vietnam, Malaysia, Singapura, Prancis, Bosnia, Turki, Afrika Selatan, Australia, Inggris, Irlandia, Amerika dan Canada, serta dari kepulauan Indonesia sendiri. Lanjutkan membaca “Pada Gerimis di Sepanjang Sanggingan : Kisah-kisah dari Ubud Writer and Reader Festival 2010”

Untuk cover Mata Air Air Mata Kumari, saya merasa sangat rewel

menerbitkan kumpulan cerpen di masa sekarang?

sepertinya itu bukan sesuatu yang baik. pasar lesu untuk kumcer. kumcer2 dari sastrawan2 top pun banyak yang tak laku, dan akhirnya diobral.

namun tulisan2 di koran memang harus tetap dibukukan. koran terlalu cepat berlalu. saya sendiri sudah sejak lama berencana membuat kumcer. saya hitung2 cerpen2 dewasa saya yang pernah dimuat media cukup lumayan. sayang sekali bila harus dibiarkan dan terlupa. yaaa, sekedar untuk memberi jejak pada tulisan… Lanjutkan membaca “Untuk cover Mata Air Air Mata Kumari, saya merasa sangat rewel”

Keberimanan Pengarang dan Ziarah Imajinasi-Lokalitas, Pengantar Bandung Mawardi

Pengarang menekuni kerja sastra dengan peka kata dan cerita. Peka kata dan cerita ini diperkarakan dalam pertaruhan kualitatif. Pengarang tak sekadar belanja kata dan cerita melalui transaksi ekonomis-instrumentalis. Transaksi-estetis terbentuk dari kesadaran meladeni realitas dengan antusiasme imajinasi. Olahan dalam bahasa menjadi lahan “pertarungan” untuk menjelmakan cerita. Kata diproduksi untuk menempuhi jalan panjang dan menata diri dalam konstruksi jagat pengarang. Lanjutkan membaca “Keberimanan Pengarang dan Ziarah Imajinasi-Lokalitas, Pengantar Bandung Mawardi”

Mata Air Air Mata Kumari

merupakan buku kumcer dewasa pertama saya. berisi kisah-kisah paling saya sukai yang sudah pernah saya tulis. dan hampir semuanya sudah pernah dipublikasikan di media… Lanjutkan membaca “Mata Air Air Mata Kumari”

Pandaya Sriwijaya: Jika Dendam dan Balas Budi Ikut Campur, Resensi Truly Rudiono

Dengan membaca kita mencapai pengertian;
Dengan melatih diri kita mencapai pembebasan;
Dengan kepercayaan kita mendapat pertolongan;
Dengan pembebasan kita menuju penerangan

Buku ini mengisahkan mengenai perjalanan hidup tiga anak manusia di bumi Sriwijaya. Tunggasamudra yang berilmu tinggi namun kerap kehilangan orang-orang yang dicintainya, Agriya seorang gadis muda yang memiliki tubuh berbau harum namun tidak bisa mengontrol emosinya hingga sering mendapat masalah, serta Kara Baday seorang pelaut yang kepatuhannya untuk menjalankan pesan terakhir orang tua malah menjadikan maut bagi banyak orang. Lanjutkan membaca “Pandaya Sriwijaya: Jika Dendam dan Balas Budi Ikut Campur, Resensi Truly Rudiono”

tentang bentuk fisik novel Pandaya Sriwijaya

Pertama kali melihat file cover novel ke22 ini, saya langsung jatuh cinta. keeerenz. walo beberapa temen komentar katanya gak matching sama sriwijaya. malah ada yang bilang berbau korea. tapi, saya suka. jadi gak perlu terlalu ditanggepin, hehe… Lanjutkan membaca “tentang bentuk fisik novel Pandaya Sriwijaya”

Pandaya Sriwijaya


Pemilihan Pandaya Sriwijaya seharusnya telah usai. Namun, kehadiran seorang gadis bercadar dengan rajah kupu-kupu di pipinya membuat keputusan Dapunta Cahyadawasuna berubah. Gadis itu tak kalah hebatnya dengan pandaya terpilih, seorang pemuda dengan tiga pedang. Pertempuran keduanya, dengan jurus-jurus kejutan yang begitu dahsyat, seakan tak akan pernah berakhir. Berbeda dari tradisi sebelumnya, Sriwijaya kini memiliki dua pandaya. Sriwijaya, di tengah ancaman kerajaan tetangga dan kedatuan-kedatuan yang tengah berkhianat, masih menggenggam ambisi menguasai Bhumi Jawa. Dibutuhkan pendekar-pendekar kuat nan digdaya untuk mencapainya, selain juga armada-armada yang tangguh. Namun, upaya mempertahankan kebesaran Sriwijaya bukan tanpa biaya. Ada luka, tangis, amarah, dan tak kalah ketinggalan, dendam. Dan, tak ada yang mengira, sebuah dendam bisa memorakmorandakan kesatuan terhebat di penjuru nusantara pada masa itu. Berhasilkah para pandaya Sriwijaya mempertahankan kembali kebesaran yang selalu dibanggakan para leluhur? Dalam 12 purnama, Balaputradewa mengucurkan darah 25.000 nyawa. Semua demi kebesaran sebuah nama: Sriwijaya.

*****

sampai saat ini masih menjadi novel terpanjang saya. konon tebalnya 470 halaman. walau ceritanya fiksi, namun semua data tentang sriwijaya termuat disini. saya harap gak terlalu mengecewakan. karena saya suka ceritanya…

Sedikit cuplikan novel Pandaya Sriwijaya

9
Lelaki Gila dengan Guratan Peta Dipunggungnya

Muara Air Gala merupakan tanah yang terbentuk dari salah satu muara Sungai Musi. Dulunya ia merupakan daerah rawa yang telah mengering. Beberapa keluarga dari selatan, kemudian mencoba meninggalinya dan bercocok tanam di situ. Puluhan tahun kemudian, keadaan Muara Air Gala pun perlahan-lahan berubah. Hingga kini menjadi tanah yang ramai dan cukup maju. Lanjutkan membaca “Sedikit cuplikan novel Pandaya Sriwijaya”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑