Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Tag

Yudhi Herwibowo

Cerpen Malam Mengenang Sang Penyair, Tribun Jabar 26 Maret 2017

17TJ26031007.pmdBisa klik ke web tribun Jabar di sini:

http://jabar.tribunnews.com/2017/03/26/malam-mengenang-sang-penyair

atau epapernya di sini:

http://jabar.tribunnews.com/epaper/index.php?hal=7

Quotes Cerpen Empat Aku dari Mas Ginanjar Teguh Iman (‏twitter: @ginteguh )

cykvkrxukaafp2p

Karena hari Sabtu kemarin begitu sibuk, sampai lupa membeli Koran Tempo. Untunglah menjelang sore, ada notifikasi di Istagram saya dari mas Ginanjar Teguh Iman (‏twitternya di @ginteguh ) tentang gambar ini.

Makasih ya mas… 🙂

Cerpen Empat Aku, Koran Tempo 26 November 2016

15179040_10209815027324538_5286357727640148494_n

Tapi tentu aku tak akan melakukannya sendiri. Aku terlalu cerdas untuk melalukan hal seperti itu dengan tanganku sendiri. Aku merasa itu cara yang barbar, dan aku tak mau terlihat barbar. Aku akan bermain cantik. Toh, aku tetap harus menjaga diri. Bagaimana pun selama ini semua orang memandangku dengan rasa kagum. Tanpa mereka perlu tahu; selalu ada sisi buruk dari segala kebaikan…
– Aku yang Pertama

Lakon Hidup: belum update

Kliping Sastra Indonesia : belum update

Cerpen Pohon Buku, Media Indonesia 20 November 2016

cxp5f2uwqakjhvp

Lakon Hidup: belum update

Kliping Sastra Indonesia: http://id.klipingsastra.com/2016/11/pohon-buku.html

Cerpen Pelarian!, di Majalah Basis November 2016

img_20161110_191712

Dulu sekali, kalau ingatanku tak keliru, hidupku adalah pesta dansa di mana setiap hari menyingkapkan diri, di mana setiap anggur mengalir…[1]

Ini adalah malam yang sempurna. Komandan tengah pergi ke luar kota dengan membawa beberapa serdadu. Sedang Hendrick serta Vromme –yang satu ruangan denganku di bangsal paling timur ini- tengah demam. Sejak siang tadi, mereka hanya meringkuk di atas dipan, tidur seperti kucing malas. Kupikir aku tak akan menemukan hari lebih baik, selain hari ini. Jadi langsung kuputuskan, malam ini juga, aku akan pergi dari tangsi terkutuk ini.

Aku tak mengenal kota ini, dan tak ingin tahu pula. Namun kudengar dari  Hendrick -yang sepertinya paling menikmati kedatangannya di sini- kota ini bernama Salatiga. Aku tentu tak harus peduli. Kota ini kupikir belum layak disebut kota. Waktu tiba di benteng Willem I, dan melihat sekelilingnya, aku sama sekali tak melihat bangunan besar yang mencolok selain rumah residen. Hampir semua rumah yang ada masih berdinding kayu, hanya satu-dua rumah yang berdinding batu bata. Selain itu, aura primitif masih begitu terasa. Laki-laki hanya bertelanjang dada, dan perempuan hanya mengenakan kain ditubuhnya. Mereka dengan santai berseliweran di sudut-sudut jalan. Lanjutkan membaca “Cerpen Pelarian!, di Majalah Basis November 2016”

cwk4a1puiai_f1k-jpg-large

 

Sekadar info…

Cerpen Kisah Pencuri Buku Bahagia, Suara NTB, 8 Oktober 2017

img_20161008_162000

Kota itu hanyalah kota kecil saja. Tak lebih dari 100 rumah ada di situ, dengan satu jalan utama di tengah-tengahnya. Tak ada bangunan besar yang menonjol, selain sebuah perpustakaan tua. Namun walau nampak biasa-biasa saja, sejak dulu kota itu selalu menjadi pembicaraan orang. Ia dianggap berbeda dengan kota-kota lainnya. Konon, itu karena sebuah buku yang disimpan di perpustakaan tua itu. Sebuah buku kuno yang tak diketahui siapa penulisnya. Namun siapa pun yang membacanya, ia akan menjadi bahagia.

Orang-orang menyebutnya buku bahagia. Dan konon lagi, semua warga kota sudah membaca seluruhnya…

Lanjutkan membaca “Cerpen Kisah Pencuri Buku Bahagia, Suara NTB, 8 Oktober 2017”

16TJ02102016.pmd

Buat kawan-kawan yang mencari buku-buku lama saya, silahkan… :)

Buat kawan2 yang mencari buku-buku lama saya (dan baru tentunya), berikut saya buat listnya. Ini merupakan buku-buku yang masih ada pada saya, dan pada penerbit juga. Beberapa yang lain sudah tak ada stok. Saya sekadar menyimpannya buat arsip sediri…

promo-2016-1promo-2016-2promo-2016-3promo-2016-4

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑