ImagePernahkah kau mendengar kisah tentang seorang mestizo, yang mengalami kematian paling mengerikan di negeri ini? Ia disiksa hingga tubuhnya hancur. Tangan dan kakinya yang diikat, kemudian dikaitkan pada 4 ekor kuda yang dipacu kencang dengan arah berlawanan, hingga tubuhnya pun tercerai berai menjadi beberapa bagian. Tak hanya di sampai di situ, kepalanya kemudian di gantung di gerbang kota untuk dipertontonkan kepada khalayak, dan ketika membusuk, dibangunlah untuknya sebuah tugu setinggi 2 meter yang di atasnya dipasang sebongkah tengkorang dengan tombak yang tertancap!

Kau mungkin sudah tak ingat lagi tentang kisah itu, tapi aku akan selalu mengingatnya dengan jelas. Sangat jelas, sejelas setiap kata yang ditulis di tugu pengingat itu:

Sebagai peringatan yang menjijikkan akan penghianat  yang dihukum, tak seorang pun sekarang atau untuk seterusnya akan diijinkan membangun, menukang, memasang batu bata menanamkan di tempat ini. Batavia, 14 April 1722.[1] Baca entri selengkapnya »

ImagePenerbit : Elex Media Komputindo
Tebal : 172 Halaman

Lalu apa yang bisa engkau ceritakan tentang jejak-jejak yang terlihat di jalan setapak, dan pelan-pelan hilang tersapu angin? Sebagai pengingat kita untuk tak lagi melihat ke belakang?

Saya pernah membuat review buku Perjalanan Menuju Cahaya dimana di dalam ceritanya terdapat legenda tentang Kitta Kadafaru dari desa Kofa. Desa Kofa yang indah dan memiliki empat mata air semenjak Kitta lahir. Kitta yang dapat menyembuhkan orang lain dengan cahaya yang ada di telapak tangannya.

Lalu suatu hari Kitta Kadafaru muda meninggalkan Kofa, dan mulai saat itu Kofa kembali menjadi desa yang gersang seperti desa-desa sekitarnya.

Kitta Kadafaru merasa perlu mencari jawaban tentang kegelisahan yang menggumpal di hatinya. Tentang beban yang ia rasakan karena fisiknya yang memiliki kekurangan, tentang hal2 yang bisa ia lakukan sehingga membuatnya dianggap sakti oleh penduduk desanya.

Kitta Kadafaru, pemuda dengan punuk di punggungnya. Kitta Kadafaru, pemuda dengan mimpi sederhana, menjadi normal seperti orang-orang lainnya.

Aku ingin menjadi burung-burung yang bisa terbang bebas menuju langit tak bertepi, dan bersembunyi di balik awan…

Baca entri selengkapnya »

“Para pencerita piawai adalah pesulap-pesulap yang baik. Mereka berusaha mengubah yang nothing menjadi something, atau sebaliknya dengan berbagai cara, dengan berbagai nonsens dan kebetuilan. Hasilnya mungkin kekosongan yang indah. Mungkin keriuhan yang sublim. Ke-12 pencerita dalam buku ini telah berjuang keras menghipnotis pembaca. Tak semua pembaca takjub atau mungkin kecewa karena tak semua pencerita mampu mengubah hal-hal biasa menjadi sesuatu yang terlalu. Tetapi percayalah setiap kreasi pencerita adalah sulapan kreatif yang mendebarkan hati kita…”
(Triyanto Triwikromo, sastrawan pemeroleh Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa)

JOGLO 14

cerpen saya di antologi ini adalah budak sang mestizo, cerpen sejarah tentang seorang bernama Pieter Elberveld yang diduga akan memberontak pada voc.  ia kemudian dihukum secara mengerikan. untuk menakut-nakuti, voc kemudian membangun sebuah monumen. Kelak monumen itu diberi nama  Monumen Pieter Elberveld. Dulu letaknya ada di Jalan Jakarta (sekarang Jalan Pangeran Jayakarta), sehingga orang2 dapat dengan mudah membaca tulisan di monumen itu:

Sebagai peringatan yang menjijikkan akan penghianat Pieter Erberveld yang dihukum, tak seorang pun sekarang atau untuk seterusnya akan diijinkan membangun, menukang, memasang batu bata menanamkan di tempat ini.Batavia, 14 April 1722.

Namun pada tahun 1942 monumen itu dihancurkan tentara Jepang yang baru tiba.

Kisah Kera-kera Besar yang Pergi Menuju Langit, cerpenku yang ada di Jurnas 21 April 2013

 

27

Gambar  —  Posted: April 22, 2013 in tulisan saya
Kaitkata:, ,

Imagebeberapa tahun lalu saya membaca tulisan tentang langda di majalah tempo. itu nama sebuah daerah di papua yang cukup unik. letaknya ada di antara barisan bukit2 tinggi yang berjejer bak sebuah pagar besar, sehingga matahari, katanya, kerap tak nampak di sana. sebagai gantinya gerimis yang selalu hadir setiap saat.
satu lagi yang unik, masyarakatnya masih membuat kapak batu. konon, batu yang digunakan bukanlah batu biasa, namun batu yang ada dalam salah satu dasar jurang yang ada di sana. alat itu yang kemudian leh pemda dijadikan ‘souvenir’ khas langda.
karena hal2 itulah kemudian saya membuat sebuah cerita: langda, suatu ketika. itu mungkin hampir 2 tahun yang lalu. dan selama itu, tak ada satu pun media yang berkenan memuatnya.

namun, semalam seorang kawan mengabari kalau kisah itu dimuat di majalah horison maret ini.

saya tentu bersyukur sekali untuk penantian selama ini… :)

cerpen itu saya kirim berbarengan cerpen saya tentang lorca, perempuan yang terperangkap sajak2 lorca sekitar desember lalu. dan pada januari cerpen tentang lorca itu ternyata dimuat, saya pikir cerpen langda ini pastilah gak dimuat. saya bahkan sudah mengirimnya lagi ke media lain. tapi ternyata cerpen ini juga dimuat.

senangnya… :)

 

foto didonlot dari twiter mas reno… :)

karena tengah menulis sebuah novel, saya jadi rajin ke 2 tempat itu: monumen pers solo dan perpusda jogja, di jalan malioboro.

novel yang tengah saya tulis ini mengambil setting tahun 70, sehingga saya butuh koran2, majalah dan buku2 sekitar tahun itu.

di monumen pers kondisi lebih rapi. sudah banyak koran, majalah dan buku yang didigitalisasi, sehingga lebih muda dalam pencariannya. tapi entahlah, mungkin karena belum terbiasa mencari data dengan pola digital, amat melelahkan membuka2 media digital ini. apalagi tahun yang saya cari entah mengapa seperti hilang. tahun 1970, 1971 dan 1972. penjaga ruangan mengusulkan saya ke lantai 4 dimana arsip2 yang belum didigitalisasi, masih tersimpan dengan baik. tapi di situ pun saya hanya mendapat sedikit saja. namun itu sudah cukup untuk sementara waktu.

Imagelalu seorang kawan mengusulkan saya ke perpusda jogja di jalan malioboro. sebenarnya tempatnya asyik. luas dan terbuka, tidak seperti ruang2 kelas yang ada di monumen pers. tempatnya memang disediakan untuk banyak orang sekaligus. tapi keadaan koran2 tua sangat memprihatinkan. apalagi koran2 tahun 1970an yang saya cari. sobek, terlipat, dan jelas sekali tak terurus.sedih sekali saya melihatnya. apalagi pegawai2nya sepertinya cuek sekali. mereka asik menonton tv dan mengobrol sendiri.

data2 yang saya cari tak semua ada di sini, namun saya bersyukur mendapatkan minggu pagi tahun 70-71 dan mertju suar tahun 1971an. setidaknya saya telah memiliki gambaran yang lengkap karena kedua koran itu. tapi tetap saja koran yang saya cari: pelopor jogja, tidak ada.

tapi walau begitu, saya tetap lebih enjoy berada di perpusda jogja karena saya merasa tak sendirian. selalu ada orang2 yang juga sedang mencari data atau pun sekedar membaca. tak seperti di monumen pers. saya selalu sendirian di sana. hanya dikedatangan pertama saja, ada beberapa orang yang nampak sedang melihat2 data digital.

sempat saya mengobrol sebentar dengan penjaga perpusda jogja, dari situ saya tahu bila proses digitalisasi koran2 sedang dimulai di sini. semoga semuanya bisa lebih baik.

Malam 3 Penjuru

acara perayaan buku buletin sastra pawon, akan memperbincangkan buku2

alpha centauri – lasinta ari nendra
sekejap – budiawan santoso
dan buku saya: miracle journey

untuk itu masing2 akan dipilih seorang pengulas maulana dan priyadi. untuk buku saya akan diulas oleh arry yulistiana. ia ini dulunya seorang novelis produktif, hanya setelah menjadi guru, ia tak lagi menulis karena kesibukannya. namun tentu saja kemampuan mengulas sebuah karya tak lagi diragukan… :)

jadi datang ya:
balai soedjatmoko, solo
sabtu, 16 maret 2013
pukul 19.00

Gambar  —  Posted: Maret 1, 2013 in Uncategorized
Kaitkata:, ,

Judul : Miracle Journey; Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Elex Media Komputindo
Edisi : Cetakan pertama, 2013
Format : Paperback, 174 halaman

Bagaimana kisah itu bermula?
Mungkin… semua berawal dari hujan debu yang begitu panjang….

Kofa adalah sebuah desa di Nusa Tenggara Timur yang begitu hijau, jika dibandingkan dengan desa sekitarnya yang gersang. Hujan sering sekali turun, dan ada empat mata air yang terus mengalir di keempat penjuru desa. Keajaiban Kofa ini dimulai saat hujan debu beberapa waktu berselang, yang mengubah Kofa menjadi seperti sekarang.
Kitta Kafadaru tinggal di Kofa seumur hidupnya. Hari kelahirannya ditandai dengan hujan debu yang membuat Kofa menjadi indah. Bentuk tubuhnya tidak sempurna—ada punuk di punggungnya, namun dia memiliki keistimewaan. Tangannya memiliki kekuatan penyembuhan. Kitta Kafadaru tak pernah memilih untuk dilahirkan dengan keistimewaan, maupun kekurangan itu. Dia hanya menginginkan hidup ‘normal’ seperti orang lain. Sampai suatu hari, kekecewaan mendorongnya untuk melakukan perjalanan, keluar dari Kofa yang tak pernah ditinggalkannya sejak dia lahir.
Dalam perjalanan itu, Kitta Kafadaru mengalami berbagai kejadian aneh. Namun ada satu hal yang selalu diingatnya dalam perjalanannya itu, yaitu cerita Ame Tua tentang seorang penabur pasir yang bisa menurunkan hujan. Penabur pasir itu sama seperti dirinya, berkelana untuk merasakan hidup ‘normal’, seperti orang biasa. Maka dia hanya menggunakan keistimewaannya tersebut tiga kali saja, untuk hal-hal yang sangat dibutuhkan. Kitta Kafadaru pun berusaha mengikuti jejak sang pemanggil hujan tersebut.

“Ini memang sudah jalan hidupku. Seberapa kuat aku menghindarinya, atau mencoba menepisnya, aku akan tetap kembali ke jalan ini….” (hal.157) Baca entri selengkapnya »

ImageJudul: Miracle Journey: Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru
Penulis: Yudhi Herwibowo 
Penerbit: Elex Media Komputindo
Hlm: 174
Tahun: 13 Januari 2013
Rated: 4/5
Harga: IDR 32800

Suatu ketika, dulu sekali, lahir Kitta Kafadaru yang berpunuk tepat saat badai debu melanda desa Kofa. Sejak itu pula Desa Kofa menjadi desa yang sangat indah dan subur di tanah Nusa Tenggara Timur.

Tangan-tangan bercahaya Kitta rupanya bisa menyembuhkan penyakit. Dengan hati yang peka, Kitta menolong banyak orang termasuk gadis jelita yang terkena luka bakar di wajahnya. Lalu ia jatuh cinta pada gadis itu. Sayang, cintanya di tolak. Kitta patah hati, ia malu lalu berkelanalah ia tanpa pamit.

Dalam pengembaraannya Kitta tidak menetapkan tujuan, ia hanya berkelana mengikuti kemana kakinya melangkah. Dalam perjalanan itu dia bertemu Ame Tua yang suka bercerita. Dari Ame Tua itu ia mendengar kisah-kisah menakjubkan. Baca entri selengkapnya »

Imagebaru tanggal 14 februari 2013 lalu, buletin sastra pawon membuat acara ultah bertema surat. Dan malamnya atas anjuran seorang teman, saya akhirnya membeli novel grafis kim dong hwa, sepeda merah. Saya langsung membelinya  2 seri, karena tak mau mengulang kesalahan seperti dulu saat membeli seri warna tanah 1 seri demi  1 seri.  Karena sialnya seri ketiga buku itu ternyata terlanjur diretur oleh pihak toko… L

seperti biasa saya suka gambar-gamabar eyang kim. Rapi dan detail. Apalagi khusus sepatu merah ini, setiap halamannya penuh dengan warna. Bisa dibayangkan keindahan apa yang terjadi karena paduan eyang kim dan warna-warna? Saya suka eyang kim karena ia bukan tipe komikus yang hanya menggambar 2 kepala orang saat dialog. Angle2nya luar biasa. Ini mungkin yang menyebabkan buku ini disebut novel grafis… :) Baca entri selengkapnya »

ImageSungguh, bila saya membayangkan hidup dalam novel Mo Yan, Big Breast and Wide Hips (BBWH), saya pastilah akan merasa sangat ketakutan!

***

Novel  yang meraih nobel sastra tahun 2012, adalah novel tentang perjuangan seorang perempuan bernama Shangguan Lu. Dari rahimnya lahir 9 anak. Harapannya dan keluarga untuk mendapatkan anak laki-laki  membuatnya  mau melakukan apa pun. Ya , apa pun. Suaminya, Shangguan Shouxi,  terlahir mandul, sehingga ia harus bercinta dengan beberapa laki-laki yang tak sesuai dengan harapannya. Ia bahkan bercinta dengan pamannya, atas keinginan bibinya. Dan hampir semua laki-laki membenihkan rahimnya digambarkan begitu buruknya. Maka anak-anaknya Shangguan Lu muncul dari benih keterpaksaan, bukan cinta. Baru di hubungan yang terakhir, dengan Pastor Malory, ia mendapatkan anak kembar bermata biru dengan berambut merah.  Seorang di antaranya adalah laki-laki.

Ialah Shangguan Jintong! Sang anak penuh harapan! Baca entri selengkapnya »

2012 in review

Posted: Desember 31, 2012 in Uncategorized

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 6.500 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 11 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

“KenImageapa sebuah lagu bisa diterima di semua tempat, di semua negara? Musik memang universal, tapi kisah dibalik lagu itulah yang membuatnya semakin diterima. Itu artinya sebuah kejadian seperti dalam lagu itu ternyata terjadi pula di tempat-tempat lain. Jadi seseorang seharusnya tidak perlu terlalu sedih akan sesuatu, karena di tempat lain pun, ada orang yang bersedih karena hal yang sama.”

Aaaakkhh ternyata Yudhi Herwibowo kalo menulis romance baguuuss ^_^ hehe.. Udah ada feeling waktu baca Perjalanan Menuju Cahaya, kayaknya kalo nulis drama atau romance bakalan sedih ceritanya dan ternyata ngga jauh2 tuh.. Hehe.. Because sometimes sad ending does make a story felt more real.. Life ain’t a fairy tale right?

Baca entri selengkapnya »

Dan kelak akan lahir
Satu manusia yang dipilih
Yang mengawali kehidupannya sebagai budak hina
Namun, kemudian menjadi raja
Yang dikenang sepanjang waktu (hlm. xxiii)

Kisah yang terdiri dari tiga bab ini; Batavia, Kartasura dan Pasuruan berisi riwayat Untung Surapati sejak bayi hingga liang kubur. Jujur, sebelum membaca buku ini, saya kurang begitu familiar dengan perjuangan seorang Untung Surapati dalam memperjuangkan tanah air tercinta ini. Ternyata perjuangan beliau tidak kalah semangat. Sosok Untung Surapati ini mengingatkan tentang perjuangan Pangeran Diponegoro yang lebih kita kenal. Dia juga ditakuti para penjajah:

Barangsiapa yang bisa menangkapnya, apabila ia orang biasa, akan diberi gelar mantra, dan apabila ia berpangkat mantra, akan diberi hadiah empat desa yang subur, berikut nama yang harum. (hlm. 507)

….. dan perang adalah sebuah jalan! (hlm. 544)

Baca entri selengkapnya »

ImageCinta memang tak mengenal tempat dan waktu untuk berlabuh, dia datang sesuka hatinya kepada siapa pun itu. Di sebuah perlintasan kereta api, Bajja menemukan tambatan hatinya, seorang gadis yang berwajah sendu. Bajja begitu tertarik padanya tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencari tahu lebih, dia melihat gadis itu hanya sepintas tanpa tahu identitasnya. Keberuntungan datang pada Bajja, suatu hari gadis itu datang ke tempat kerja Bajja dengan tujuan ingin membuat sebuah buku dari hasil tulisannya. Bajja tidak membuang kesempatan itu, langsung menyanggupi dan bertanya siapa namanya, Arra. Bajja ingin sekali tahu apa yang ditulis oleh Arra namun takut akan mengganggu privasinya, tapi bagaimana pun Bajja harus tetap membacanya selain dia bertugas mencetak dan ‘merapikan’. Kenyataan pahit di dapat, buku itu dibuat untuk kekasih Arra.

“Mungkin terasa berlebihan. Aku sadar, saat itu atau pun sekarang, aku terlalu terbawa perasaan. Semu seakan begitu mudah menggiringku. Hanya sesuatu yang kecil saja, dapat melemparku dalam frame-frame lain yang tak kupahami.”

Bajja kecewa, tapi dia tetap menerima Arra ketika gadis itu datang ke rumahnya, duduk di sofa usang dan merenungkan kehidupannya yang tampak dari luar banyak masalah. Bajja hanya bisa memandangnya tanpa bertanya apa yang terjadi. Dia menyediakan tempat untuk Arra, hatinya, rumahnya, sofanya. Kemudian Arra menghilang tanpa kabar, datang kembali, menghilang tanpa kabar lagi, dan terakhir yang sangat membuat Bajja terluka adalah ketika ada undangan pernikahan untuknya dari Arra. Sejak itu, Bajja ingin melupakan Arra, gadis sendu yang telah membuat hatinya kacau. Bajja belajar move on ketika mantan pacarnya datang lagi, Canta. Tapi, rasa yang dulu perneh mereka rasakan kini berubah, bagaimana pun usaha Bajja untuk melupakan Arra tidak pernah berhasil.

Pertama kali baca bukunya mas Yudhi, padahal udah beberapa kali ketemu, ihik, jadi malu. Mungkin sudah banyak yang tahu kalau mas Yudhi ini lebih familier dengan buku-buku bertemakan sejarah atau komedi, dan itu bukan cangkir teh saya, jadi maklum dong kalau saya baca buku romance pertama yang dia tulis #ngeles . Karena belum pernah baca bukunya yang lain, saya belum terbiasa dengan gaya penulisannya. Di buku ini deskripsinya bagus, luas, menggunakan bahasa baku namun tidak kaku. Bakat menulis cerita humor juga dia tuangkan di buku ini, contohnya adalah beli nisan satu gratis satu dan ketika Bajja ketemu Wara, ehm pasti deh langsung bikin senyum-senyum., Bajja jadi ketauan kalau dia punya selera humor. Berbeda kalau ketemu Arra, dia akan menjadi mellow, nggak banyak bicara, cenderung malu. Kalau ketemu Canta, dia bisa menjadi seorang cowok penggombal. Untuk karakter Arra, dia tidak banyak dibicarakan, sangat misterius, yang saya tahu tentang dia adalah pacarnya sering berbuat kasar padanya, seorang penyendiri dan pendiam. Selain kedua karakter utama itu, karakter lainnya tidak dijelaskan secara detail oleh penulis, penulis lebih memusatkan atau mendiskripsikan suasana. Selain karakter tokoh yangntidak dijelaskan dengan detail, settinggnya pun juga, kota sendu, kota yang sering kedatangan hujan.

Minim typo, saya suka covernya, dari ketiga pilihan yang ada di sini saya setuju dengan pengambilan cover sofa ini, sofa adalah saksi kisah cinta Bajja dan Arra, jadi pas. Sayangnya, saya agak terganggu dengan penempatan sepatu merah dan majalah, lebih enak kalau hanya sofa saja, merusak pemandangan. Kemudian saya juga agak terganggu dengan seringnya tanda “!” di akhir kalimat (tanda seru dipake sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidak percayaan, atau rasa emosi yang kuat,sumber) mungkin penulis bermaksut menegaskan, tapi ketika membacanya itu malah membuat saya terganggu. Kemudian, saya tidak terlalu suka dengan endingnya, kasihan Bajja, .

Bagian yang paling mengharukan menurut saya adalah ketika Arra menyobek-nyobek buku yang sudah dibuat Bajja, kemudian Bajja memperbaikinya lagi, mencoba kembali seperti semula. Bajja kebaikan deh sama Arra.

“Aku tahu ini tak salah. Aku hanya seorang manusia diantara bentangan perasaan. Terlalu kecil. Terlalu lemah. Jadi bagaimana bisa aku memilih, bila hati yang kemudian memutuskan? Bagaimana pula aku mengalah, bila otakku yang tak mau menuruti? Toh, untuk saat ini, aku kembali membela diri, aku hanya berpikir tentang kehadirannya di dekatku. Tak lebih dari itu.”

Buat yang ingin tahu gimana romantisnya mas Yudhi, baca deh buku romance pertamanya ini

3 sayap untuk wajah sendu di kota sendu

http://kubikelromance.blogspot.com/2012/10/unaffair.html