Image

dan di antara tumpukan buku-buku,yang jumlahnya ratusan lebih itu

aku merasa sangat beruntung, otak ini menggerakkan tanganku memilih buku ini untuk kubaca…

Aku bagai ingin menjadi bocah kecil yang bersembunyi di balik rerumputan lebat dan melihat  dua orang perempuan itu, seorang China dan seorang berambut pirang, yang sedang berpandangan dalam suasana hiruk pikuk di dekat sebuah desa bernama Ciang-kiang.

“Aku akan membawakan bunga-bunga segar ke makam Carrie di musim semi.” Suara perempuan China itu, yang kutahu bernama Willow, terdengar.

“Aku akan segera kembali,” Pearl, perempuan satunya lagi yang berambut pirang, berjanji.

Aku mendengar nada suara keduanya yang sengau. Walau aku tahu, ini adalah kali ke sekian mereka berpisah. Aku selalu yakin mereka selalu akan selalu bertemu lagi. Gambaran persahabatan keduanya entah mengapa terasa sekali begitu erat. Seperti tertemali. Baca entri selengkapnya »

2011 in review

Posted: Januari 2, 2012 in Uncategorized

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 5.700 times in 2011. If it were a NYC subway train, it would take about 5 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

tentang laika

Posted: November 19, 2011 in Uncategorized

Image

sebenarnya sejak beberapa bulan lalu saya lihat buku ini ada dalam rak obralan. entah di gramedia atau di togamas. beberapa kali pula saya memegangnya dan berniat membeli. namun selalu saya saya batalkan, karena merasa sedikit tak tertarik dengan ilustrasi di dalamnya. namun baru 2 hari lalu saya membeli buku itu hanya dengan 10rb saja. sepertinya ini cukup bisa melengkapi novel2 grafis yang memang saya kumpulkan.

dan tak butuh waktu lama menyelesaikan novel grafis besutan nick abadzis ini. gambarnya mungkin terasa biasa, atau bahkan bisa dikatakan di bawah standar. apalagi bila dibandingkan dengan jodorowsky & bess yang membuat the white lama. namun dari segi cerita laika terasa sangat emosional. Baca entri selengkapnya »

Purna sudah Enigma, tentang Kisah Cinta dan Sesuatu yang Tak Terjelaskan!

Entahlah, sepertinya tak sering saya menulis dengan energi yang penuh. Seingat saya dari 28 buku yang sudah saya tulis hanya ada 2 buku yang saya tulis dengan perasaan seperti itu, Begitu meluap-luap, dan selalu menatanya dalam keadaan diam sekali pun. Buku itu Samurai Cahaya dan Pandaya Sriwijaya.

Dan saya bersyukur energi seperti itu kembali hadir di novel saya Enigma. Sepertinya tak lebih dari 2 bulan saya menggarapnya! Sebenarnya ini naskah lama saya. Baca entri selengkapnya »

Sumbangsih Yudhi Herwibowo bagi kesusastraan Indonesia perlu kita apresiasi. Dia mengubah teks sejarah yang jarang bisa dinikmati khalayak umum, menjadi sebuah novel yang menarik. Dan yang sudah saya baca, diantara novel sejarahnya yang lain, adalah Untung Surapati ini.
Untung Surapati adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang saya ragu kalau siswa – siwa kita tahu tentang dia. Saat saya kecil dulu, kisah Untung Surapati dan Kapten Tack dibuat umbul (kertas kecil – kecil bergambar yang dimainkan dengan cara melemparkannya ke udara). Jadi, meskipun hanya sedikit, kita mengenal Untung Surapati ini. Namun, sekarang siapa yang mau memainkan umbul?
Saya tidak tahu apakah Untung Surapati tercantum dalam buku teks IPS saat ini. Akan tetapi, meskipun tercantum, buku teks tetaplah buku teks – sangat sedikit menarik perhatian kita. Oleh karena itu, jerih payah Yudhi Herwibowo dalam meramu teks sejarah menjadi sebuah novel sejarah yang istimewa ini sangat perlu kita hargai.

Baca entri selengkapnya »

Video Untung Surapati kedua

Posted: Agustus 26, 2011 in Uncategorized

Perjalanan ini dimulai dengan dipilihnya dua orang budak anak-anak di pasar Banten oleh Kapitein Van Beber, perwira VOC senior yang sebelumnya bertugas di Makasar. Kepindahannya ke Batavia membuat ia membutuhkan budak untuk membantu mengangkut barang-barang dan keperluan lainnya. Namun setibanya di Batavia, kehadiran dua budak anak-anak itu sudah tidak dibutuhkan lagi, maka ia memberikan budak-budak itu kepada seorang sahabatnya, saudagar dari Belanda yang bernama Mijnheer Moor.

Baca entri selengkapnya »

Kita mengenal namanya, namun belum tentu kita mengenal dengan mendetail kehidupan dan sepak terjangnya. Ia memang sudah dimasukkan sebagai salah satu pahlawan nasional, yang gigih menentang penindasan dan kekuasaan kolonial di bawah VOC pada sekitar abad 17. Ia adalah tokoh sejarah keturunan Bali yang kemudian berhasil menjaring pengikut setia untuk kemudian menjadi kawan sekarib. Ialah tokoh panutan yang begitu legendaris di tanah Banten, Kasultanan Cirebon, Kraton Kartasura, hingga Pasuruan dan Madiun. Dialah Untung Surapati. Baca entri selengkapnya »

Untung Surapati merupakah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Tepat rasanya buku ini dibaca saat semarak HUT RI masih berdengung. Walau sebenarnya buku-buku bertema pahlawan atau kisah perjuangan tetap asyik juga dibaca dihari-hari biasa. Menjaga agar semangat nasionalisme dan rasa kagum kita pada para pahlawan yang telah rela berjuang mengorbankan nyawanya selalu senantiasa hadir setiap saat di hati kita. Rasa kagum ini pun sudah selaiknya kita persembahkan juga pada para penulis buku-buku sejarah. Karena berkat kepiawaian tangan merekalah, kita akhirnya bisa menikmati sebuah karya kisah sejarah yang mungkin selama ini hanya kita dapat di sekolah dengan porsi yang begitu kecil dan pemaparan yang tidak terlalu detail. Baca entri selengkapnya »

1. Perempuan yang ingin menjadi alunan nada
Moonlight Sonata?
Kau dengar alunan itu? Denting-denting lembut yang muncul dari ujung sana? Samar, merayap, meratap, bagai hembusan angin yang bergelitik? Aku mendengarnya dengan jelas dari bilikku. Sedikit echo telah menambah kekuatan nada-nada yang terbentuk.
Dan aku terpana dibuatnya. Siapa yang bermain piano seindah itu? Rasanya sudah begitu lama aku tak mendengar orang memainkan seperti ini.
Maka segera kubawa kakiku melangkah ke sana. Walau ini malam pertamaku tinggal di sekolah musik ini, aku tahu dari mana asal suara. Sedikit terburu aku melangkah. Tetap dengan menahan setiap langkahnya, agar suaranya tak mengganggu alunan itu.
Semakin dekat, jantungku semakin berdebar. Semakin kurasakan irama yang begitu sempurna. Aku bahkan dapat merasa energi yang pas tekanan jemari-jemarinya pada tuts. Aku hapal lagu ini. Mungkin sudah ribuan kali kudengarkan. Ini adalah lagu pertama yang kudengar dan membuatku terpesona.
Aku masih ingat kala itu, aku masih begitu kecilnya. Sepertinya alunan itu sengaja memilihku, menghampiriku, dan membuatku mendekat. Seorang perempuan jelita kulihat memainkan sonata itu di ruangan gelap dan berdebu.
Aku terpana. Waktu itu adalah kali pertama aku melihat seorang bermain piano. Maka aku tak melepas mataku memadang jemarinya yang bergerak, seperti melakukan sebuah tarian. Kadang lincah, kadang lembut.
Dan ketika ia usai memainkan sonata itu, aku segera mendekat padanya dan berkata, “Bolehkan aku memainkannya?”
Perempuan itu tak nampak terkejut. Ia hanya tersenyum lebar, “Tentu saja.” Ia kemudian mendudukkanku di depannya.
Saat itu aku masih mengingat gerakan jemari perempuan ini, juga nada-nada yang menghampirinya. Semuanya seperti terekam kuat. Tapi tentu semuanya tak semudah itu, walau perempuan itu kemudian meletakkan jemarinya di bawah jemariku, sehingga aku tinggal mengikutinya gerakannya.
Nada-nada kemudian terbentuk. Itulah pertama kalinya aku berpikir ingin menjadi alunan nada. Muncul di udara, membuat orang-orang terbuai mendengarnya, lalu hilang terbang meninggalkan kesan.
Maka seperti kala itu, kini aku pun mendekati alunan nada yang menghampiri tadi. Dengan gerakan ragu, mulai kubuka pintu besar ruangan, tempat kami biasa berlatih piano.
Namun tak kutemui siapa pun di sana. Ruangan itu kosong. Hanya sebuah piano tua dengan cacat mencolok di samping tubuhnya, yang terlihat di ujung ruangan. Namun nada-nada itu, entah mengapa, masih tetap terdengar di telingaku. Sungguh, sama seperti kala itu… Baca entri selengkapnya »

Akhirnya bertepatan dengan hari pertama puasa, selesai juga naskah ini. Fuiiih, leganyaaaa… :D

Saat memutuskan untuk menulis novel tentang perempuan korban dari jugun ianfu, rasanya saya memutuskan untuk melakukan sesuatu langkah berani.

Saya telah menulis lebih dari 27 buku sebelumnya, dan sebagian besar adalah novel yang selalu mengambil tokoh lelaki dalam sudut penceritaan saya. Memang sekali-dua kali saya pernah mengambil tokoh perempuan, namun hanya sebatas di dalam cerpen ataupun novelet. Tapi tidak di sebuah novel. Rasanya itu sama sekali tak terpikirkan. Terlebih bila itu tentang novel dimana narasi perempuan sangat dieksplorasi.

Tapi entah mengapa, selepas membaca Momoye, Mereka Memanggilku, saya tak lagi bisa menolak untuk tak menulis kisah tentang para perempuan korban jugun ianfu. Kisah perjalanan ibu Mardiyem di buku itu benar-benar menggugah saya, dan terus-terusan membuat saya merasa sedih.

Pernah saya tanyakan pada seorang teman tentang novel-novel lama yang bercerita tentang jugun ianfu. Tapi ternyata itu tak banyak. Ini membuat saya semakin tergerak untuk menulisnya. Dalam hati saya terus bertanya, bagaimana bisa sebuah kisah sepahit ini tak menarik minat penulis?

Maka beberapa bulan saya tulis buku ini: Sakura Telawang.

Saya cukup menikmati membuatnya. Setelah Pandaya Sriwijaya, yang kaya imajinasi, dan Untung Surapati, yang kaya data, saya ingin membuat sebuah buku sejarah lagi yang memposisikan data secara halus. Maka itulah saya mencoba tak memakai 1 footnote pun. Walau ada narasi sejarah, namun jumlahnya tak banyak, dan itupun saya pakai sekedar sebagai gambaran latar kapan kisah ini terjadi.

Untuk meyakinkah saya, saya kemudian meminta beberapa sahabat perempuan saya untuk membacanya terlebih dahulu. Saya ingin apakah naras laki-laki saya sudah cukup bisa mewakili narasi tokoh perempuan di buku ini. Sungguh, proses seperti ini di luar kebiasaan saya.

Akhir kata semoga novel ini tidak terlalu mengecewakan. Saya sama sekali tak berminat menjadikan buku ini sebagai novel sejarah atau pun novel sastra. Hanya sekedar mengisahkan sebuah kisah pahit yang pernah terjadi di tanah ini, sebelum terus semakin usang dan terlupakan…

Pamit Gokil

Posted: Juli 20, 2011 in Uncategorized

Sepertinya saya memang harus menulis kisah ini. Setelah Gokil Backpacker dirilis, sebenarnya sudah ingin sekali pamit dari dunia pergokilan ataupun perjayuzan. Namun saya menundanya karena ingin komik gokil saya terbit dulu, tapi rasanya kog sekarang tidak bisa menunda lagi karena masih saja tiap harinya menerima pertanyaan2 perihal kapan buku gokil terbaru saya terbit?

Banyak alasan kenapa harus pamit, salah satunya akhir-akhir ini saya, entah kenapa, lebih tertarik menulis cerita2 yang lebih serius. Tanda saya semakin matang… ;P Selain itu juga sepertinya kisah-kisah semasa saya kuliah hampir semuanya sudah saya ceritakan. Jadi saya merasa akan memaksakan diri bila tetep nekad menulis buku gokil.

Namun saya bersyukur sudah menulis 5 buku. Kalo boleh saya review, dulu pertama kali saya menulis Asoi Geboi Bohai sebetulnya hanyalah kecelakaan saja. Saya menulis buku itu hanya 5 hari. Awalnya saya beri judul Kost Story. Dan saya kirimkan via pos. Tapi ternyata alamat penerbit yang saya tuju sudah pindah. Maka saya kontak nomornya. Dan dalam 3 hari kemudian buku itu disetujui terbit oleh Penerbit Gradien. Dan tak lebih dari 1 bulan buku itu terbit. Dan penjualannya pun lumayan.  Baca entri selengkapnya »

Video Pandaya Sriwijaya

Posted: Juli 20, 2011 in Uncategorized

Video PancaGokil :D

Posted: Juli 20, 2011 in Uncategorized