Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

bulan

Agustus 2015

7 Buku Seno Gumira Ajidarma yang Harus Dibaca Lebih Dulu

aacIni tentu tulisan yang sangat subyektif, dan –mungkin- sedikit berlebihan. Tapi harus saya tulis karena beberapa hal.
Seno Gumira Ajidarma (SGA) adalah cerpenis Indonesia yang selama 20 tahun terakhir masih saya baca cerpen-cerpennya. Tak banyak penulis senior yang bisa bertahan sekian lama. Sayangnya, beberapa cerpen SGA yang muncul di koran akhir-akhir ini, begitu dipertanyakan. Saya bisa mengerti, karena saya juga merasa cerpen-cerpen itu tak sekuat cerpen-cerpen lamanya. Namun mengingat jejak langkahnya yang panjang, saya merasa selalu bisa memakluminya. Toh, beberapa penulis seumur SGA, atau bahkan yang lebih mudah pun, nampak menurun drastis, bahkan banyak yang tak lagi menulis.
Tulisan ini mungkin lebih tepat saya arahkan buat kawan-kawan muda yang belum pernah membaca kumcer-kumcer lama SGA dan hanya membaca cerpen-cerpennya di koran akhir-akhir ini. Tentu mungkin ini terasa sedikit berani. Apalagi ada beberapa buku SGA yang belum saya punya dan belum saya baca. Tercatat buku-buku: Mati Mati Mati, Bayi Mati, Catatan-catatan Mira Sato, Manusia Kamar (walau saya punya republish-nya: Matinya Seorang Penari Telanjang), Layar Kata, dan Sembilan Wali & Syeik Siti Jenar. Namun setidaknya saya punya buku Negeri Kabut, yang selama ini banyak tak dipunyai penyuka SGA.
Beberapa bulan lalu, saya membaca 2 buku SGA yang baru, Tak ada Ojek di Paris dan Saksi Mata Pyongyang. Dua-duanya buku nonfiksi. Saya menyukai buku itu, walau secara jujur saya masih terkenang-kenang buku-buku lamanya.
Berikut adalah buku-buku SGA yang harus dibaca lebih dulu dari hampir 40 buku SGA yang sudah terbit sebelumnya. Tentu beberapanya sudah sulit didapat, namun di beberapa toko online saya masih kerap menemuinya. Tentu dengan harga spesial. Continue reading “7 Buku Seno Gumira Ajidarma yang Harus Dibaca Lebih Dulu”

Kisah-kisah yang Melempar Saya ke Masa Lalu, Catatan Kecil Seusai membaca Kumcer Anak-anak Masa Lalu – Damhuri Muhammad

IMG_20150807_141110Pernah ada sebuah masa, di sekitar tahun 2000an, sebuah penerbit ternama begitu getol menerbitkan kumcer. Adalah penerbit buku Kompas namanya. Walau bukan sebagai pionir dalam hal kumcer, namun langkahnya kala itu begitu dikenang kuat, karena pada saat itulah kita dapat menemukan dengan mudah kumcer-kumcer dari penulis–penulis cerpen yang selama ini hanya bisa kita baca di koran. Tak kurang dari Jujur Prananto, Agus Noor, Taufik Ikram Jamil, Cecep Syamsul Hari, Hamsat Rangkuti, Umar Kayam, Isbedy Setiawan, Triyanto Triwikromo, dan masih banyak lagi lainnya. Sebagai penggemar cerpen sejak lama, saya menikmati sekali masa-masa itu. Sampai sekarang kumcer-kumcer itu masih saya simpan dengan baik.

Bila mengambil benang merah, ada satu kesamaan yang saya dapati dari kumcer-kumcer yang terbit di masa itu. Dengan teknik yang tentu berbeda-beda, dan gaya yang juga tentu berbeda-beda pula, satu yang saya ingat adalah hampir semua cerpenis pada masa itu kerap mengangkat tema-tema lokal dan sosial.

Tapi ternyata masa itu ternyata tak bertahan lama. Di medio tahun 2010an, buku berlabel kumcer mengalami masa berat. Penerbit Kompas tak lagi mencoba menerbitkan (selain kumpulan cerpen terbaiknya). Saya pikir ini mungkin buah dari strategi yang terburu-buru beberapa tahun lalu. Untungnya di beberapa tahun terakhir ini, kumcer kembali bergeliat. Namun ada perbedaan yang signifikan kumcer-kumcer dulu dengan sekarang. Bila dulu kita menemukan judul-judul beraroma magis dan puitis seperti: Bibir dalam Pispot (Hamsad Ramngkuti), Malam Sepasang Lampion (Triyanto Triwikromo), Ikan Terbang Tak Berkawan (Warih Wisatsana), Dua Tangisan dalam Satu Malam (Puthut EA), dsb, sekarang kita lebih menemukan kumcer-kumcer itu kebanyakan dikemas dalam nuansa cinta. Tentu jangan salahkan penulisnya, kadang ini merupakan strategi penerbit agar dapat meraup pembaca lebih banyak lagi, setidaknya di luar dari pembaca yang menyukai lokalitas atau pun sosial.

Membaca kumcer Anak-anak Masa Lalu (AAML) tulisan Damhuri Muhammad (DM), yang diterbitkan Marjin Kiri beberapa bulan lalu, saya kembali seperti terlempar lagi ke masa lalu, masa tahun 2000an itu. Mungkin karena saya mulai membaca cerpen di masa itu, saya menikmati cerita-cerita bertema lokal dan sosial. Ada lemparan-lemparan ingatan yang membawa saya ke masa-masa itu. Continue reading “Kisah-kisah yang Melempar Saya ke Masa Lalu, Catatan Kecil Seusai membaca Kumcer Anak-anak Masa Lalu – Damhuri Muhammad”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑