Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Kategori

tulisan saya

Ke mana Pembeli Buku Sastra Kita?

looking-for-something-little-boy

Waktu masih menulis buku komedi, seorang kawan penulis buku serius yang baru saya curhati tentang buku komedi saya yang kembali dicetak ulang, bertanya dengan setengah menerawang: apa beda pembaca sastra dan pembaca alay? Sebelum saya menjawab, ia sudah menjawab dengan suara yang pahit: pembaca alay membeli buku!

Walau terkesan bercanda, tapi bila dipikir dalam-dalam, jawaban pertanyaan itu merupakan sindiran yang sangat telak. Walau saya sedikit tak bersepakat tentang sebutannya tentang pembaca alay, namun saya tahu maksudnya lebih cenderung pada pembaca buku-buku ringan yang biasa dipilih anak-anak baru gede. Bagaimana pun, pembaca ini, yang sering dicemooh sebagai alay, lebih ringan hati untuk membeli buku kesukaan mereka.

Lanjutkan membaca “Ke mana Pembeli Buku Sastra Kita?”

Buku-buku yang Seharusnya tak Perlu Lagi Diterbitkan

Berapa lama waktu yang dibutuhkan penulis untuk menyadari buku-buku yang pernah ditulisnya telah usang?

Beberapa tahun lalu selepas trend buku komedi mulai turun, saya dihubungi penerbit untuk menawarkan penjualan buku-buku komedi saya yang sebelumnya mereka terbitkan untuk dipasarkan melalui playstore. Saya hanya menandatangani 3 di antaranya. Ada satu buku yang tak ingin saya terbitkan ulang, walau dalam bentuk online sekali pun.

Dalam dua tahun terakhir, karya-karya klasik banyak kembali diterbitkan. Tercatap yang sangat gencar adalah KPG, Qanita, Noura, Gramedia, dan beberapa penerbitan lainnya di Yogyakarta. Penerbitan itu tentu di satu sisi menguntungkan kita. Bagaimana pun karya-karya yang diterbitkan itu biasanya adalah karya-karya yang terus-terusan dibicarakan, bahkan dikutip di sana-sini. Lanjutkan membaca “Buku-buku yang Seharusnya tak Perlu Lagi Diterbitkan”

Siapa Pihak Paling Diuntungkan dalam Obral Buku Besar-besaran Secara Terstruktur, Sistematis dan Masif Selama Tahun 2016?

pameran-buku1.jpg

pic dari https://flpjatim.wordpress.com/2011/09/17/pameran-buku-di-kota-kecil/

Bagi saya, kenangan datang di pameran buku paling menyenangkan mungkin saat pameran buku masih digelar di Gedung Sritex Slamet Riyadi Solo. Saat itu bukan karena saya bisa mendapat buku semacam Davinci Code dengan harga 30.000 saja, atau buku  sastra terbitan Serambi hanya 20.000 – 30.000, tapi karena banyaknya penerbit dan distributor yang mengikuti pameran membuat keadaan pameran buku jadi menyenangkan.

Tapi setelah itu keadaan menjadi berbeda. Ikapi tak lagi bisa membuat pameran yang menyenangkan. Beberapa stand berisi perpustakaan daerah, yang tak pernah saya tahu apa maksudnya berada di situ? Toko-toko buku seperti Gramedia lebih memilih membuat pameran di tokonya sendiri. Sejak itu pameran buku saya rasa lebih pas disebut obralan buku. Lanjutkan membaca “Siapa Pihak Paling Diuntungkan dalam Obral Buku Besar-besaran Secara Terstruktur, Sistematis dan Masif Selama Tahun 2016?”

Cerpen Empat Aku, Koran Tempo 26 November 2016

15179040_10209815027324538_5286357727640148494_n

Tapi tentu aku tak akan melakukannya sendiri. Aku terlalu cerdas untuk melalukan hal seperti itu dengan tanganku sendiri. Aku merasa itu cara yang barbar, dan aku tak mau terlihat barbar. Aku akan bermain cantik. Toh, aku tetap harus menjaga diri. Bagaimana pun selama ini semua orang memandangku dengan rasa kagum. Tanpa mereka perlu tahu; selalu ada sisi buruk dari segala kebaikan…
– Aku yang Pertama

Lakon Hidup: belum update

Kliping Sastra Indonesia : belum update

Cerpen Pohon Buku, Media Indonesia 20 November 2016

cxp5f2uwqakjhvp

Lakon Hidup: belum update

Kliping Sastra Indonesia: http://id.klipingsastra.com/2016/11/pohon-buku.html

Cerpen Pelarian!, di Majalah Basis November 2016

img_20161110_191712

Dulu sekali, kalau ingatanku tak keliru, hidupku adalah pesta dansa di mana setiap hari menyingkapkan diri, di mana setiap anggur mengalir…[1]

Ini adalah malam yang sempurna. Komandan tengah pergi ke luar kota dengan membawa beberapa serdadu. Sedang Hendrick serta Vromme –yang satu ruangan denganku di bangsal paling timur ini- tengah demam. Sejak siang tadi, mereka hanya meringkuk di atas dipan, tidur seperti kucing malas. Kupikir aku tak akan menemukan hari lebih baik, selain hari ini. Jadi langsung kuputuskan, malam ini juga, aku akan pergi dari tangsi terkutuk ini.

Aku tak mengenal kota ini, dan tak ingin tahu pula. Namun kudengar dari  Hendrick -yang sepertinya paling menikmati kedatangannya di sini- kota ini bernama Salatiga. Aku tentu tak harus peduli. Kota ini kupikir belum layak disebut kota. Waktu tiba di benteng Willem I, dan melihat sekelilingnya, aku sama sekali tak melihat bangunan besar yang mencolok selain rumah residen. Hampir semua rumah yang ada masih berdinding kayu, hanya satu-dua rumah yang berdinding batu bata. Selain itu, aura primitif masih begitu terasa. Laki-laki hanya bertelanjang dada, dan perempuan hanya mengenakan kain ditubuhnya. Mereka dengan santai berseliweran di sudut-sudut jalan. Lanjutkan membaca “Cerpen Pelarian!, di Majalah Basis November 2016”

Cerpen Robodoi, Bajak Laut dari Tobelo, majalah Jawara edisi Sejarah, September 2016

Beberapa tahun lalu saya membaca buku Orang Laut Bajak Laut Raja Laut dari Adrian B. Lapian, ada satu kisah keren tentang bajak laut bernama Robodoi yang berpetualang di laut yang ada di sekitar Ternate dan Tidore. Sedikit petikannya yang saya ambil dari laman resmi Majalah Jawara:14570441_1716928885299538_3383940170246603829_n

Aku ingat bagaimana ayah pertama kali mengajakku dalam perahunya. Aku tak banyak bertanya kala itu. Namun, ketika ayah menyerahkan sebatang tombak padaku, aku sadar kalau ini tentu bukan sesuatu yang biasa. Seorang anak yang baru menjadi pemuda, dipercayakan sebatang tombak. Ini isyarat bagi semacam ritual inisiasi menuju kehidupan yang sebenarnya.

Aku tahu, sudah sejak lama ayah menjadi anak buah Sultan Nuku. Kesultanan itu memang tengah berperang melawan VOC. Maka itulah darahku mendesir ketika ayah menyuruhku dan beberapa pemuda lainnya menuju lautan.

Masih kuingat saat itu dengan lekat. Sebuah kapal yang diduga membawa puluhan budak akan menuju Sape. Awalnya, ayah memerintah kami untuk menunggu saat mereka menghancurkan kapal itu dan membawa budak-budak yang berhasil direbut, sebelum orang-orang berkulit pucat itu membelinya dan menjadikan mereka pasukan. Tapi, suasana tak bisa dikendalikan, saat meriam kapal besar itu mulai mengarah pada perahu kami.
Itu adalah peperangan pertamaku. Napasku seakan terhenti saat perahu yang kami tumpangi mulai meluncur.
Lanjutkan membaca “Cerpen Robodoi, Bajak Laut dari Tobelo, majalah Jawara edisi Sejarah, September 2016”

Cerpen Kisah Pencuri Buku Bahagia, Suara NTB, 8 Oktober 2017

img_20161008_162000

Kota itu hanyalah kota kecil saja. Tak lebih dari 100 rumah ada di situ, dengan satu jalan utama di tengah-tengahnya. Tak ada bangunan besar yang menonjol, selain sebuah perpustakaan tua. Namun walau nampak biasa-biasa saja, sejak dulu kota itu selalu menjadi pembicaraan orang. Ia dianggap berbeda dengan kota-kota lainnya. Konon, itu karena sebuah buku yang disimpan di perpustakaan tua itu. Sebuah buku kuno yang tak diketahui siapa penulisnya. Namun siapa pun yang membacanya, ia akan menjadi bahagia.

Orang-orang menyebutnya buku bahagia. Dan konon lagi, semua warga kota sudah membaca seluruhnya…

Lanjutkan membaca “Cerpen Kisah Pencuri Buku Bahagia, Suara NTB, 8 Oktober 2017”

16TJ02102016.pmd

Tentang Film Trilogi Apu

cri nov 2015 cover03-03

Memang sulit menerbitkan sastra. Upaya menerbitkan naskah-naskah bermutu dari seluruh dunia yang sudah dijalankan oleh Ajib Rosidi sejak puluhan tahun melalui Pustaka Jaya ternyata tak terlalu berjalan mulus. Untungnya sampai sekarang beberapa naskah itu bisa kita nikmati.  Pater Pancali adalah salah satu naskah yang dipilih untuk mewakili India. Waktu itu, Bibhutibhushan Banerji sendiri sudah menulis banyak novel, namun popularitas Pater Pancali mengalahkan yang lainnya. Ini mungkin karena kisah ini sempat diangkat ke layar lebar.

Lanjutkan membaca “Tentang Film Trilogi Apu”

Horison dan Kado Perpisahan di Edisi (cetak) Pamungkas

Pagi itu, 26 Juli 2016, Kabut aka Bandung Mawardi mengirimi saya pesan singkat: Beli kompas hari ini! Penting!

Saya pun berencana membeli Kompas nanti siang, saat keluar makan. Sepanjang waktu itu, di facebook saya melihat berita acara peringatan Horison di Jakarta dari status 2 redakturnya, Joni Ariadinata dan Jamal D. Rahman. Hari ini, Horison memang tengah berulang tahun ke-50 tahun. Itu usia emas. Tapi status dari Ichwan Prasetyo, salah satu redaktur Solopos, membuat kaget. Di situ ia mengirim foto potongan koran Kompas yang memuat berita berhentinya Horison sebagai media cetak. Saya langsung tahu, apa arti kata ‘penting’ yang ditulis Kabut pagi tadi.

Entah kenapa, saya merasa sedih. Sejak bertahun-tahun lalu, saya sudah membaca Horison. Sempat juga teratur berlangganan di tahun 2009-2011. 2 tahun lebih. Selama 2 tahun itu saya membundel Horison dengan lengkap. Sayang 1 bundel terpaksa saya buang karena habis dimakan rayap. Sayangnya, selama saya berlangganan, tak ada satu cerpen pun yang bisa saya kirim.

Tahun-tahun terakhir ini, pamor Horison memang redup. Mungkin semakin banyak buku-buku cerpen yang hadir di ranah sastra. Kompas sempat sangat getol menggelontorkan kumcer-kumcer dari penulis-penulisnya. Jurnal cerpen juga terbit. Penerbit-penerbit Yogya juga getol menerbitkan cerpen. Sampai kemudian tiba saat Buletin Sastra Pawon mewawancarai Joni Ariadinata. Waktu itu Han Gagas (dan Eko Abiyasa) yang ditugaskan untuk mewawancarai. Dari situ keinginan menulis di majalah itu kembali muncul.

Cerpen pertama saya di Horison adalah Perempuan yang Terperangkap pada Sajak-sajak Lorca di muat di Horison Januari 2013. Ini cerpen yang saya buat selepas saya membaca satu buku Lorca, Romansa Kaum Gitana. Waktu itu tak banyak yang ngeh tentang sajak-sajak Lorca. Mungkin karena buku terakhir Lorca yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sudah sejak bertahun-tahun lalu. Saya bayangkan penyair-penyair pada masa itu melahap buku keren itu, tapi tidak lagi sekarang.

Untitled-1

Lanjutkan membaca “Horison dan Kado Perpisahan di Edisi (cetak) Pamungkas”

Buku, Perpustakaan dan Komunitas , tulisan saya di Majalah Sastra Garisbawah edisi Juli – Agustus 2016

okSaya mungkin beruntung, selain membelikan buku di toko buku secara teratur, papa saya juga yang mengantar saya ke sebuah taman bacaan untuk meminjam buku. Saat itu, saya sedang tergila-gila dengan Khoo Ping Hoo, dan hanya di taman bacaan saya bisa mendapati buku itu. Saya ingat, di saat-saat itu pula, sepertinya saya mulai punya kebiasaan menabung untuk membeli buku. Buku-buku incaran saya waktu itu adalah Trio Detektif san STOP.

Saya merasa, saya ini merupakan generasi taman bacaan. Tentu kalimat itu, sekarang  sudah dianggap aneh. Kondisinya memang sudah berbeda. Taman-taman bacaan -yang berisi buku-buku hiburan- satu persatu mulai berguguran. Yang tetap berdiri tegak hanyalah perpustakaan yang dikelola negara maupun swasta. Tentu dengan kondisi yang seadanya, bahkan ada yang sangat memrihatinkan.

Lalu, dalam keadaan seperti itu, bagaimana seseorang dengan kantung pas-pasan bisa menyukai buku dan menyalurkan minat bacanya?

 

Perpustakaan dan Buku

Rumor DPR ingin membuat sebuah perpustakaan dengan biaya milyaran rupiah sempat berhembus beberapa bulan ini. Siapa pun akan menggeleng kepala tak percaya. Saya sendiri merasa itu ide yang absurb. Bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia buku, angka itu benar-benar angka yang luar biasa. Padahal sejak beberapa tahun terakhir ini pertanyaan yang menakutkan bagi pengelolah perpustakaan sudah menelisip di telinga mereka: apa benar sebuah sebuah perpustakaan masih relevan di era sekarang? Lanjutkan membaca “Buku, Perpustakaan dan Komunitas , tulisan saya di Majalah Sastra Garisbawah edisi Juli – Agustus 2016”

Museum Luka, cerpen saya di Jawapos 10 Juli 2016

13599828_10208595598119570_7659504361669427026_n

Tautannya

Kliping Sastra Indonesia: http://id.klipingsastra.com/2016/07/museum-luka.html

Lakon Hidup: https://lakonhidup.wordpress.com/2016/07/10/museum-luka/

 

Amin Maaloef: Sosok Lain dari Lebanon

amin

Sudah sejak lama saya memiliki buku Balthasar’s Odyssey, Mencari Nama Tuhan yang Keseratus, tapi baru beberapa bulan lalu saya merampungkannya. Dulu, saya sebenarnya sudah tertarik untuk membacanya dan sudah emngantrikannya di di samping tempat tidur saya. Ini gara-gara sewaktu pergi ke pameran, Haris Firdaus -seorang kawan Pawon- bener-benar mencari buku itu. Sampai ketika ada buku Amin Maalouf yang saya rasa merupakan bajakan (?), ia tetap membelinya. Waktu itu saya hanya berpikir, sampai segitunya

Tapi saat mulai membaca Balthasar’s Odyssey semua itu terjawab. Di blurps buku itu tertulis pembaca akan terbawa dari halaman pertama. Itu tentu kalimat pasaran yang sering kita baca di blurps-blurps novel. Tapi sungguh di novel ini itu ternyata bukan kalimat mitos.

Maka itulah, saya merancang membicarakan sosok Amin Maalouf di #bincangsastra Solopos FM. Saya pikir sosok penulis ini masih jarang sekali diulas. Di internet pun data-datanya begitu sedikit. Mungkin karena Maalouf berbahasa Prancis.

Lanjutkan membaca “Amin Maaloef: Sosok Lain dari Lebanon”

Keris Kyai Setan Kober, Cerpen Suara Merdeka 30 Mei 2010

Mungkin agak terlambat mempostingnya. Tapi sejak dulu saya sebenarnya gak terlalu ingin mempostingnya, karena cerpen ini bisa dengan mudah didapat di mana saja via internet. Tapi karena tulisan kritik cerpen ini yang  saya posting dulu (https://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/04/21/keris-kyai-setan-kober-sebuah-kritik-dari-mr-x/), terus-terusan menjadi ‘tulisan teratas’ di blog ini, jadi saya pikir tak ada salahnya saya posting cerpennya juga. hitung-hitung menaikkan pengunjung blog ini… 😀

Mari…

****

keris-kiai-setan-kober1

Dan siapa yang akan berani mengganggu lakuku?

Bahkan jin-jin itu pun kuharap akan jera!

— Empu Bayu Aji, masa Pajajaran 1150 M

AKU adalah gelora amarah!

Dengan bara bagai percahan matahari dan tempa bagai hujanan batu, aku mulai mengambil wujud. Laku dan mantra kemudian mengisi napasku satu demi satu. Masih kuingat jelas, walau telah ratusan tahun lewat, empu paling termasyur kala itu, menguntai bait-bait mantra dengan ambisi yang memuncak dalam relung hati. Keringatnya yang terus menetes, dan langsung pula menguap, bagai jawaban dari gejolak hati yang membuncah.

Waktuku tak lagi banyak, kematian telah begitu dekat, dan aku harus berbuat yang terbaik untuk terakhir kalinya!

Kala itu bagai seonggok orok yang beranjak tumbuh, aku terus mendengar desah batinnya. Walau halus dan tak terdengar oleh para abdi, namun sungguh, aku dapat mendengar dengan sangat nyata. Bahkan tak hanya suara itu, aku juga dapat mendengar suara-suara lainnya yang ada di sekeliling sang empu. Suara-suara tak jelas, seperti bisikan-bisikan berulang. Kadang tinggi, kadang sangat rendah, diiringi sesekali dengan suara cekikikan yang melengking, mendirikan bulu roma. Lanjutkan membaca “Keris Kyai Setan Kober, Cerpen Suara Merdeka 30 Mei 2010”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑