Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Kategori

tulisan saya

Cerpen The Crybaby, The Jakarta Post 25 September 2017

The Crybaby - Jakarta Post

Judul cerpen ini aslinya: Seorang Anak yang Menangis dan Kami yang Terbaring di sini. Ini perpaduan andtara film Lion dan film The Man from Nowhere, satu film Korea tentang perdagangan organ anak-anak.

Dari dulu selalu ingin masuk ke The Jakarta Post, karena alasan cerpen-cerpennya yang berbahasa Inggris Tapi dua kali saya kirim gak ada respon. Lalu untuk cerpen yang ini, saya meminta bantuan Liswindio Apendicaesar untuk menerjemahkannya. Judulnya pun menjadi The Crybaby Boy and Us Who Lie Down Here.

Dan 10 hari kemudian cerpen ini dimuat dengan judul The Crybaby.

Buat kawan-kawan yang ingin membaca ini tautannya:

http://www.thejakartapost.com/life/2017/09/25/short-story-the-crybaby.html

 

Cerpen Terkutuk, Koran Tempo, 23-24 September 2017

terkutuk-ilustrasi-imam-yunni-koran-tempo

Ini cerpen yang perjalanan hidupnya panjang sekali…

Tahun 2016 saya menyelesaikan cerpen ini. Awalnya judulnya Tangan-tangan yang Muncul dari Dinding dan karakternya lebih dari 14rb. Saya kirimkan ke Koran Tempo, waktu itu redakturnya masih Mas Nirwan Dewanto. Tapi gak berhasil dimuat. Saya mencoba mengeditnya, supaya bisa dikirim ke koran lain. Namun hanya bisa mencapai 12rban saja. Cerpen ini pun hanya bisa dongkrok di arsip saya.

Tapi karena suka idenya, saya olah cerpen itu menjadi naskah drama. Kebetulan ada Sayembara Penulisan Naskah Drama. Judulnya pun berganti: Keluarga Mengerikan yang Tinggal di Rumah Paling Mengerikan. Tapi walau sudah menunggu berbulan-bulan, naskah ini gagal.

Baru dua minggu lalu, saya coba edit lagi naskah ini. Judulnya saya ringkas: Terkutuk. Saya kirim lagi ke Koran Tempo dengan redaktur cerpen yang baru. Dan rupanya, hanya butuh 10 hari cerpen ini dimuat.

Buat kawan-kawan yang ingin membacanya bisa megklik tautan di bawah ini. Oya, naskah dramanya rencananya akan saya terbitkan dalam bulan-bulan ini. Wish me luck…

Tautan Cerpen Terkutuk di Lakon Hidup:

Terkutuk

Film-film tentang Puisi atau Penyair

Tulisan ini sebenarnya sekadar jawaban ringan dari pertanyaan seorang kawan: Apa saja film-film tentang puisi dan penyair? Jawaban itu, awalnya akan saya jadikan materi di  #bincangsastra Solopos FM April ini. Namun setelah saya pikir-pikir, rasanya tak ada salahnya saya tulis tentang ini untuk blog saya.

Bila saya search di IMDB mengenai film-film tentang puisi dan penyair, banyak sekali muncul daftarnya. Ini membuat saya ragu, karena ternyata hanya sedikit saja yang sudah saya tonton. Sialnya, saat saya mencoba mencari film-film itu, entah dengan cara donlot biasa maupun via torrents, sangat sulit melacak film-film itu.

Dari yang sedikit itu, saya pikir tak ada salahnya saya share.

Lanjutkan membaca “Film-film tentang Puisi atau Penyair”

Kucing Ketiga Madam Sukotjo, cerpen lokomoteks.com edisi April 2017

sampul-loko-kucingoke-copy

bisa klik di sini:

https://lokomoteks.com/cerpen-yudhi-herwibowo-kucing-ketiga-madam-sukotjo/?frame-nonce=6929d69a19

Cerpen Malam Mengenang Sang Penyair, Tribun Jabar 26 Maret 2017

17TJ26031007.pmdBisa klik ke web tribun Jabar di sini:

http://jabar.tribunnews.com/2017/03/26/malam-mengenang-sang-penyair

atau epapernya di sini:

http://jabar.tribunnews.com/epaper/index.php?hal=7

Toko Buku Kecil Kenangan

solopos fm maret 2017 - 1Karena membeli buku The Little Paris Bookshop -atau Toko Buku Kecl di Paris- karangan Nina George,  saya menulis ini. Saya membeli buku itu karena mungkin adanya 3 kata: toko buku kecil. Awalnya cuma saya upload di instagram saya, kemudian saya merasa dapat menulis lebih panjang lagi.

Baru sekarang saya merasa toko buku kecil seperti menjadi kenangan yang penting. Papa adalah pegawai negeri di Metrologi, jadi selalu berpindah-pindah. Dari Palembang – Tegal – Kupang – Samarinda – Bandung – Purwokerto. Saya mengikutinya sampai Kupang saja. Karena setelah itu saya dipindahkan di Purwokerto. Lalu saya kuliah di Solo, hingga bekerja sampai sekarang.

Di setiap kota yang pernah disinggahi saat masa kanak2 dan remaja, selalu punya cerita tentang toko buku kecil yang selalu saya datangi. Tentu dulu Gramedia belum seagresif sekarang. Hampir di kota-kota itu tak ada toko besar seperti itu. Lanjutkan membaca “Toko Buku Kecil Kenangan”

Ke mana Pembeli Buku Sastra Kita?

looking-for-something-little-boy

Waktu masih menulis buku komedi, seorang kawan penulis buku serius yang baru saya curhati tentang buku komedi saya yang kembali dicetak ulang, bertanya dengan setengah menerawang: apa beda pembaca sastra dan pembaca alay? Sebelum saya menjawab, ia sudah menjawab dengan suara yang pahit: pembaca alay membeli buku!

Walau terkesan bercanda, tapi bila dipikir dalam-dalam, jawaban pertanyaan itu merupakan sindiran yang sangat telak. Walau saya sedikit tak bersepakat tentang sebutannya tentang pembaca alay, namun saya tahu maksudnya lebih cenderung pada pembaca buku-buku ringan yang biasa dipilih anak-anak baru gede. Bagaimana pun, pembaca ini, yang sering dicemooh sebagai alay, lebih ringan hati untuk membeli buku kesukaan mereka.

Lanjutkan membaca “Ke mana Pembeli Buku Sastra Kita?”

Buku-buku yang Seharusnya tak Perlu Lagi Diterbitkan

Berapa lama waktu yang dibutuhkan penulis untuk menyadari buku-buku yang pernah ditulisnya telah usang?

Beberapa tahun lalu selepas trend buku komedi mulai turun, saya dihubungi penerbit untuk menawarkan penjualan buku-buku komedi saya yang sebelumnya mereka terbitkan untuk dipasarkan melalui playstore. Saya hanya menandatangani 3 di antaranya. Ada satu buku yang tak ingin saya terbitkan ulang, walau dalam bentuk online sekali pun.

Dalam dua tahun terakhir, karya-karya klasik banyak kembali diterbitkan. Tercatap yang sangat gencar adalah KPG, Qanita, Noura, Gramedia, dan beberapa penerbitan lainnya di Yogyakarta. Penerbitan itu tentu di satu sisi menguntungkan kita. Bagaimana pun karya-karya yang diterbitkan itu biasanya adalah karya-karya yang terus-terusan dibicarakan, bahkan dikutip di sana-sini. Lanjutkan membaca “Buku-buku yang Seharusnya tak Perlu Lagi Diterbitkan”

Siapa Pihak Paling Diuntungkan dalam Obral Buku Besar-besaran Secara Terstruktur, Sistematis dan Masif Selama Tahun 2016?

pameran-buku1.jpg

pic dari https://flpjatim.wordpress.com/2011/09/17/pameran-buku-di-kota-kecil/

Bagi saya, kenangan datang di pameran buku paling menyenangkan mungkin saat pameran buku masih digelar di Gedung Sritex Slamet Riyadi Solo. Saat itu bukan karena saya bisa mendapat buku semacam Davinci Code dengan harga 30.000 saja, atau buku  sastra terbitan Serambi hanya 20.000 – 30.000, tapi karena banyaknya penerbit dan distributor yang mengikuti pameran membuat keadaan pameran buku jadi menyenangkan.

Tapi setelah itu keadaan menjadi berbeda. Ikapi tak lagi bisa membuat pameran yang menyenangkan. Beberapa stand berisi perpustakaan daerah, yang tak pernah saya tahu apa maksudnya berada di situ? Toko-toko buku seperti Gramedia lebih memilih membuat pameran di tokonya sendiri. Sejak itu pameran buku saya rasa lebih pas disebut obralan buku. Lanjutkan membaca “Siapa Pihak Paling Diuntungkan dalam Obral Buku Besar-besaran Secara Terstruktur, Sistematis dan Masif Selama Tahun 2016?”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑