Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Kategori

Uncategorized

Cerpen Laki-laki yang Menyeret Sebuah Pintu, Media Indonesia 22 September 2018

42301366_10215223204325583_3101308529101766656_oCerpen Laki-laki yang Menyeret Sebuah Pintu termuat di Media Indonesia hari ini…

Bertahun-tahun nonton Doraemon, hapal dengan baling2 bambu, senter ajaib, roti pengingat, selimut ajaib, pintu ke mana saja, dll. Baru kali ini terbersit satu cerita dari alat2 ajaib di film itu. Ini pintu ke mana saja versiku…  Continue reading “Cerpen Laki-laki yang Menyeret Sebuah Pintu, Media Indonesia 22 September 2018”

Iklan

Cerpen Foto-foto Tran Hyunh Thoung Shinh, di jaazaidun.com

41831242_10215175894782874_251451952720773120_n

Ini sebenarnya cerpen lama saya. Entah kenapa saya suka sekali dengan idenya, namun sayangnya sudah sekian lama tak menemukan tempat persinggahan.

Saya menulisnya setelah membaca National Geograpic yang membahas tentang cacat genetika di Vietnam. Waktu itu Amerika menggunalan zat kimia untuk membunuh gerilyawan Vietkong. Dampak dari zat yang digunakan itu ternyata terjadi puluhan tahun kemudian..

Continue reading “Cerpen Foto-foto Tran Hyunh Thoung Shinh, di jaazaidun.com”

Workshop Menulis Novel Solopos, 30 September 2018

41572249_10215921498422360_2101802603473010688_o

Sebenarnya jarang-jarang ada workshop menulis novel, karena memang gak memungkinkan menggarap novel dalam beberapa jam saja. Selama ini saya sendiri hanya seringnya menjadi pembicara workshop menulis cerpen (bahkan bersama Solopos, pernah diadakan beberapa bulan lalu). Tapi dulu, Buletin Sastra Pawon sepertinya pernah juga mengadakan -semacam workshop menulis novel. Bagian saya waktu itu hampir sama: pengenalan penulisan novel, yang mana di situ membahas juga mengenai ide dan kerangka karangan. Continue reading “Workshop Menulis Novel Solopos, 30 September 2018”

Buku-buku tentang Wage Rudolf Supratman

40615051_10215090704373167_3965480426075586560_oSebenarnya selama Agustus lalu, saya mencari buku2 tentang Wage Rudolf Supratman yang saya baca selama proses penulisan Sang Penggesek Biola. Tapi sampai September ini beberapa buku masih tercecer. Bahkan majalah online edisi WR Supratman yang sengaja saya print fullcolor juga gak tahu ke mana rimbanya.

Mungkin karena ada jeda waktu yang lumayan panjang, dari saat selesainya novel Sang Penggesek Biola hingga benar2 terbit, ada waktu 1,5 tahun lebih.

Selama penulisan ada sedikit penyesalan karena gak mendapatkan satu buku berjudul: Sedjarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang ditulis Oerip Kasansengari diterbitkan Grafika Karya tahun 1967 (tebalnya hanya 178 halaman dengan 25 foto dan gambar).
Semakin merasa sedih karena buku itu saya lihat ada di lapak kawan online saya. Waktu saya tanya harganya, ia menjualnya dengan harga kolektor: 300.000. Waktu itu tak jadi saya beli, karenma proses penulisan novel Sang Penggesek Biola sudah rampung. Namu sekarang saat akan memotretnya buku-buku tentang WR. SUpratman seperti ada yang terasa kurang.

Beberapa buku merupakan kiriman dari mbak Truly Rudiono. Terutama buku utamanya: Wage Rudolf Supratman karya Bambang Sularto.

Tentu saat penulisan, gak hanya buku-buku ini saja yang dipakai. Buku-buku pendukung tentang keadaan Batavia tahun 1920an, tentang kongres pemuda, tentang partai komunis di tahun 1920an, dan lain-lainnya juga diperlukan.

Bulan Agustus memang bulannya WR Supratman, tapi tentu di bulan lain pun kita tetap harus mengenangnya… 

5 Terjemahan Buku Sastra dari bukuKatta

Promo salinger 5

Sudah sejak 14 tahun lalu menerbitkan buku. Tak ada yang mengajari, semuanya trials and errors. Banyak kesalahan, dan ketidaktepatan.

Bila dulu, saat masih bergabung dalam distributor PT. Buku Kita, terpaku pada buku-buku yang diserap pasar, karena jumlah cetakannya minimal 3.000 eks. Bahkan beberapa buku diminta 4.000 eks. Cover memesan di desainer yang oke, dan itu menjadikan saya cukup rewel. Buku-buku dicetak di Jakarta untuk menjaga kualitas dan ketepatan waktu. Jadi sering aku ada dalam posisi mesin cetakku sendiri gak ngerjain apa-apa, tapi orderku di Jakarta, lumayan…

Sejak menjalani penerbit indie, semua jadi terasa lebih bebas. Membuat yang tak laku pun sepertinya gak masalah. Karena oplahnya gak banyak. Desainnya kubikin sendiri, sesukaku. Karena gak kuat bayar desainer. Waktunya pun bebas, sak selone. Kalau percetakan lagi ramai, garapan buku bisa ditunda.

Lalu bagaimana penjualan?

Tentu gak seganas saat mencetak 3.000an itu. Tapi kupikir cukup jalan. Dibantu beberapa kawan-kawan yang memiliki toko online, hasilnya sudah bisalah menerbitkan buku-buku selanjutnya. Oya tentu kami terus mencari reseller.

Sudah 6 buku dalam tahun ini (yang satu naskah dramaku sendiri). Bulan-bulan depan sudah siap beberapa naskah lagi. Wish me luck…

Quotes Sang Penggesek Biola 2

 

Lagu Indonesia Raya di Asian Games 2018

24 emas, itu artinya 24 kali lagu Indonesia Raya berkumandang….

Kalau kamu merasa sangat emosional mendengarnya, keadaan gak jauh berbeda dengan dulu. Selepas menjadi lagu pembuka di setiap rapat2 organisasi massa selepas tahun 1928, siapa pun yang mendengar lagu Indonesia Raya saat itu, tanpa dikomando, selalu menghentikan pekerjaan mereka, dan mengambil posisi berdiri tegak. Tak jarang mereka mengepalkan tangan.

Oleh pemerintah kolonial hal itu dianggap berbahaya. Maka mereka pun mengeluarkan satu keputusan kontroversi dengan menurunkan lagu Indonesia Raya dari posisinya sebagai lagu kebangsaan menjadi lagu organisasi. Saat sebuah lagu menjadi lagu organisasi, pendengar tak harus menghentikan pekerjaan mereka, gak perlu berdiri tegak dan gak perlu juga mengepalkan tangan… Continue reading “Lagu Indonesia Raya di Asian Games 2018”

Pengisahan Biola dan Indonesia – Bandung Mawardi / Jurnal Ruang

“Aku benar-benar telah siap bila harus mati hari ini. Aku yakin nada-nada lagu yang kuciptakan itu, akan terus menjadi napasku selanjutnya. Aku tentu tak berharap siapa pun akan mengingat kepergianku. Cukup lantunkan saja lagu-lagu itu sepenuh hati. Aku yakin, Tuhan akan berbaik hati menyampaikannya padaku hingga kapan pun….”

https://jurnalruang.com/read/1534566392-pengisahan-biola-dan-indonesia

Tentang Lagu Indonesia Raya yang Mungkin Belum Kamu Tahu

39391986_10214973889132859_5396057886897995776_o

Saat pertama kali diciptakan, lagu Indonesia Raya hanya berjudul: Indonesia. Baru setelah Soekarno meminta lagu itu untuk dijadikan lagu pembuka di setiap rapat2 PNI, WR Supratman mengubah judulnya menjadi: Indonesia Raya…

Partitur lagu Indonesia (kelak menjadi Indonesia Raya) pertama kali dimuat di koran Tionghoa berbahasa Melayu, Sin Po. Awalnya dicetak 4.000 eks dan habis tetjual dalam 1 hari. Tapi cetakan kedua sebanyak 10.000 eks yang rencananya akan disebarkan, keburu disita dan diberangus oleh pemerintah kolonial.

Sedang rekaman lagu Indonesia pertama kali direkam oleh Tio Tek Hong Record, selepas Kongres Pemuda kedua tahun 1928. Sayangnya rekaman berbentuk piringan hitam ini juga keburu diberangus oleh pemerintah kolonial, bahkan dijadikan barang terlarang.

Kisah-kisah seperti ini bisa kawan2 temukan di novel Sang Penggesek Biola, sebuah roman tentang WR Supratman. Sengaja diterbitkan di bulan ini, di mana lagu Indonesia Raya berkumandang di setiap penjuru negeri…

Dirgahayu RI

Quotes Sang Penggesek Biola

Emdorstment dari Glenn Fredly dan Tsamara Amany Alatas

promo 7

promo 6

Senangnya mendapati kedua tokoh muda yang keren ini mau mengemdorst buku saya. Terima kasih Bang Glenn dan Mbak Tsamara, dan tentu Mas Faried dari Imania, yang sudah mengupayakannya. Maturnuwun.

Sang Penggesek Biola, sebuah roman Wage Rudolf Supratman

promo 2018 net OKSetelah kemunculannya membawakan lagu Indonesia Raya—yang disebutnya sebagai lagu kebangsaan—pada Kongres Pemuda Kedua tahun 1928, hidup Wage Rudolf Supratman berubah. Agen-agen PID (Dinas Intelijen Kepolisian Hindia Belanda) terus mengawasinya. Upaya Supratman menyebarkan lagu itu pun selalu membentur dinding, mulai dari menyebarkan partitur lagu itu lewat surat kabar Sin Po, hingga merekamnya dalam piringan hitam. Surat kabarnya disita dan piringan hitamnya dimusnahkan.

Di tengah gejolak politik, kisah cinta Supratman dengan Mujenah juga tak mulus. Ia akhirnya menemukan sosok pengganti bernama Salamah. Sayangnya, keluarga Supratman tak merestui. Kisah cinta keduanya begitu menghanyutkan dan mengharu biru di tengah kehidupan mereka yang serba pas-pasan.

Sementara itu, Pemerintah Hindia Belanda tak henti menyebar kabar bohong. Lagu Indonesia Raya disebut sebagai lagu jiplakan. Tak pelak lagi, Supratman diburu. Ia meninggalkan Batavia, tapi agen-agen PID itu selalu mengikuti ke mana pun ia bersembunyi! Continue reading “Sang Penggesek Biola, sebuah roman Wage Rudolf Supratman”

Sang Penggesek Biola Segera Dirilis

fikz - promo 1

Setelah sempat sedikit terkatung-katung, saya mendapat kabar kalau novel Sang Penggesek Biola, sebuah roman Wage Rudolf Supratman mulai memasuki proses cetak. Akhir Juli nanti,  insyaallah akan dirilis.

Hanya saja covernya ternyata diubah. Bukan dengan latar hitam yang sudah saya rilis sebelumnya, tapi dengan latar putih. Saya manut saja soal ini. Saya pikir putih juga oke… 🙂

Kasus, Koran Tempo 23 Juni 2018

kasus OK banget

Lakon  Hidup

https://lakonhidup.com/2018/06/23/kasus/

Kliping Sastra

belum update

Ular-ular Merah dalam Tubuh Kakek, Jawapos 27 Mei 2018

33785649_10214411169145211_7075952894968594432_o

Bisa Klik di Kliping Sastra:

https://id.klipingsastra.com/2018/05/ular-ular-merah-dalam-tubuh-kakek.html

atau di Lakon Hidup

https://lakonhidup.com/2018/05/27/ular-ular-merah-dalam-tubuh-kakek/

Blog di WordPress.com.

Atas ↑