Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Kategori

Uncategorized

Cerpen Bocah Gerimis, Tribun Jabar 25 November 2018

18TJ25111011.pmd

Sampai hampir lupa, kalau kemarin cerpenku Bocah Gerimis dimuat di Tribun Jabar.
Ini kuanggap sebagai pengobat lelah 2 hari ngendon berpameran di Benteng Vastenburg…

Kupikir cerpen ini cocok dibaca di bulan2 ini, saat gerimis dan hujan mulai turun…

Ceritanya tentang seorang bocah yang terlahir dengan awan hitam di atas kepalanya, hingga gerimis kerap hadir di dekat dirinya. Awalnya ini dianggap sebagai berkah bagi desanya yang selalu kekeringan, tapi berkah tak pernah berlangsung terlalu lama, ada titik ia akan berbalik menjadi bencana… Continue reading “Cerpen Bocah Gerimis, Tribun Jabar 25 November 2018”

Iklan

Merayakan Pameran Literasi #kamipenulissolo di Srawung Gayeng Soloborasi16 di Benteng Vastenburg 24-25 November 2018

Agak mengejutkan hari ini. Awalnya kupikir tenda kami akan sepi. Saat meminta kawan2 mengisi klinik literasi. sempat saya bilang: mungkin gak ada pesertanya, karena siang2.

Tapi rupanya kawan2 terus berdatangan, mereka gak sekadar lihat2 dan pulang, tapi juga mengikuti beberapa sesi sekaligus. Walau kondisi kurang kondusif karena sound yang memekakkan. Tapi mereka -sepertinya- bisa menweima 

Maturnuwun juga buat kawan2 yang sudah membawakan makanan2 bagi hambanya yang terus kelaparan… 

Masih ada besok, diramaikan lagi ya.. 

Foto2: @diskusikecilpawon

Mr. Sunshine yang Tak Terlupakan

mr-sunshineDulu saya menonton Korea Drama. Bahkan di era dorama (drama Jepang) saya juga sempat mengikuti beberapa judul. Tapi sejak Empress Ki, saya memutuskan untuk tak lagi menonton drama. Saya pikir terlalu banyak waktu yang terbuang untuk satu cerita. Saya lebih fokus menonton movie saja.

Sialnya movie berjenis seaguk (sejarah Korea) tak banyak dirilis. Saya hitung-hitung setahun hanya ada 2-3 seaguk. Maka sudah setahun lalu habislah seaguk koleksi tahun-tahun lalu yang saya donlot.

Maka itulah di saat tidak produktif dan penyakit kemalasan akut menjangkiti saya, saya pun memutuskan menonton kembali drama seaguk. Saya kebut donlotannya. Tak hanya seaguk, drama yang hits tapi tak sempat saya tonton selama ini juga saya donlot. Tercatat beberapa judul saya nonton secara maraton sebulan ini. Semuanya bagus, dan berkesan.

Sampai kemudian saya menonton: Mr. Sunshine…

*** Continue reading “Mr. Sunshine yang Tak Terlupakan”

Naskah Drama “Sriwedari Sirna” Termuat di buku Dari Cempurung ke Sunan Panggung, 35 Lakon Karya Penulis Jawa Tengah, terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah

Naskah dramaku dI antologi Dari Cempurung ke Sunan Panggung, 35 Lakon Karya Penulis Jawa Tengah.

Judulnya Sriwedari Sirna. Kutulis selepas hadir di pertunjukan terakhir di pendhopo Sriwedari, sebelum rencananya akan dirobohkan kemudian.

Walau bukan biopic, tapi kubayangkan 2 tokoh di drama itu adalah Darsi dan Roesman, maestro wayang orang Sriwedari.

Semoga keduanya tak bersedih melihat keadaan Sriwedari sekarang…

 

#drama #lakon #bbjt #balaibahasajawatengah #daricempurungkesunanpanggung #sriwedari #sriwedarisirna #35lakonpenulisjawatengah #darsidanroesman #antoliginaskahdrama #playscript

Resensi Sang Penggesek Biola di Analisa Medan oleh Ratnani Latifah (FB Ratna Hana Matsura)

45488781_10209796804995385_4599017763279732736_n

Resensi “WR Supratman, Pahlawan yang Berjuang Lewat Seni” yang ditulis Ratnani Latifah (FB Ratna Hana Matsura) dimuat di Analisa Medan, Rabu 7 November 2018.

Terima kasih ya Mbak.. 🙂

Resensi Sang Penggesek Biola di Radar Mojokerto oleh Danang Febriasyah

44921172_10212181513762276_6464879177320366080_n

Resensi di Radar Mojokerto oleh Danang Febriasyah.

Makasih Mas Danang…

Sayang tulisannya terlalu kecil ya… 🙂

 

Bincang Buku Sang Penggesek Biola, Rumah Banjarsari 19 Oktober 2018

Terima kasih buat kawan2 yang sudah hadir di acara bincang bukuku di Rumah Banjarsari. Juga kepada mbak Sanie B Kuncoro yang sudah memoderatori dan Fauzi Mohamad yang sudah mengulas. Fanny Chotimahdan Yessita Dewi yang sudah membaca cuplikannya, dan Mas ZenZul dan kawan2 di Rumah Banjarsari yang sudah mempersiapkan acara ini hingga lancar tanpa halangan.
Semoga kawan2 semua selalu sehat dan menyenangkan…

Foto-foto dari wall mbak Indah Darmastuti dan Impian Nopitasari

Cerpen Laki-laki yang Menyeret Sebuah Pintu, Media Indonesia 22 September 2018

42301366_10215223204325583_3101308529101766656_oCerpen Laki-laki yang Menyeret Sebuah Pintu termuat di Media Indonesia hari ini…

Bertahun-tahun nonton Doraemon, hapal dengan baling2 bambu, senter ajaib, roti pengingat, selimut ajaib, pintu ke mana saja, dll. Baru kali ini terbersit satu cerita dari alat2 ajaib di film itu. Ini pintu ke mana saja versiku…  Continue reading “Cerpen Laki-laki yang Menyeret Sebuah Pintu, Media Indonesia 22 September 2018”

Cerpen Foto-foto Tran Hyunh Thoung Shinh, di jaazaidun.com

41831242_10215175894782874_251451952720773120_n

Ini sebenarnya cerpen lama saya. Entah kenapa saya suka sekali dengan idenya, namun sayangnya sudah sekian lama tak menemukan tempat persinggahan.

Saya menulisnya setelah membaca National Geograpic yang membahas tentang cacat genetika di Vietnam. Waktu itu Amerika menggunalan zat kimia untuk membunuh gerilyawan Vietkong. Dampak dari zat yang digunakan itu ternyata terjadi puluhan tahun kemudian..

Continue reading “Cerpen Foto-foto Tran Hyunh Thoung Shinh, di jaazaidun.com”

Workshop Menulis Novel Solopos, 30 September 2018

41572249_10215921498422360_2101802603473010688_o

Sebenarnya jarang-jarang ada workshop menulis novel, karena memang gak memungkinkan menggarap novel dalam beberapa jam saja. Selama ini saya sendiri hanya seringnya menjadi pembicara workshop menulis cerpen (bahkan bersama Solopos, pernah diadakan beberapa bulan lalu). Tapi dulu, Buletin Sastra Pawon sepertinya pernah juga mengadakan -semacam workshop menulis novel. Bagian saya waktu itu hampir sama: pengenalan penulisan novel, yang mana di situ membahas juga mengenai ide dan kerangka karangan. Continue reading “Workshop Menulis Novel Solopos, 30 September 2018”

Buku-buku tentang Wage Rudolf Supratman

40615051_10215090704373167_3965480426075586560_oSebenarnya selama Agustus lalu, saya mencari buku2 tentang Wage Rudolf Supratman yang saya baca selama proses penulisan Sang Penggesek Biola. Tapi sampai September ini beberapa buku masih tercecer. Bahkan majalah online edisi WR Supratman yang sengaja saya print fullcolor juga gak tahu ke mana rimbanya.

Mungkin karena ada jeda waktu yang lumayan panjang, dari saat selesainya novel Sang Penggesek Biola hingga benar2 terbit, ada waktu 1,5 tahun lebih.

Selama penulisan ada sedikit penyesalan karena gak mendapatkan satu buku berjudul: Sedjarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang ditulis Oerip Kasansengari diterbitkan Grafika Karya tahun 1967 (tebalnya hanya 178 halaman dengan 25 foto dan gambar).
Semakin merasa sedih karena buku itu saya lihat ada di lapak kawan online saya. Waktu saya tanya harganya, ia menjualnya dengan harga kolektor: 300.000. Waktu itu tak jadi saya beli, karenma proses penulisan novel Sang Penggesek Biola sudah rampung. Namu sekarang saat akan memotretnya buku-buku tentang WR. SUpratman seperti ada yang terasa kurang.

Beberapa buku merupakan kiriman dari mbak Truly Rudiono. Terutama buku utamanya: Wage Rudolf Supratman karya Bambang Sularto.

Tentu saat penulisan, gak hanya buku-buku ini saja yang dipakai. Buku-buku pendukung tentang keadaan Batavia tahun 1920an, tentang kongres pemuda, tentang partai komunis di tahun 1920an, dan lain-lainnya juga diperlukan.

Bulan Agustus memang bulannya WR Supratman, tapi tentu di bulan lain pun kita tetap harus mengenangnya… 

5 Terjemahan Buku Sastra dari bukuKatta

Promo salinger 5

Sudah sejak 14 tahun lalu menerbitkan buku. Tak ada yang mengajari, semuanya trials and errors. Banyak kesalahan, dan ketidaktepatan.

Bila dulu, saat masih bergabung dalam distributor PT. Buku Kita, terpaku pada buku-buku yang diserap pasar, karena jumlah cetakannya minimal 3.000 eks. Bahkan beberapa buku diminta 4.000 eks. Cover memesan di desainer yang oke, dan itu menjadikan saya cukup rewel. Buku-buku dicetak di Jakarta untuk menjaga kualitas dan ketepatan waktu. Jadi sering aku ada dalam posisi mesin cetakku sendiri gak ngerjain apa-apa, tapi orderku di Jakarta, lumayan…

Sejak menjalani penerbit indie, semua jadi terasa lebih bebas. Membuat yang tak laku pun sepertinya gak masalah. Karena oplahnya gak banyak. Desainnya kubikin sendiri, sesukaku. Karena gak kuat bayar desainer. Waktunya pun bebas, sak selone. Kalau percetakan lagi ramai, garapan buku bisa ditunda.

Lalu bagaimana penjualan?

Tentu gak seganas saat mencetak 3.000an itu. Tapi kupikir cukup jalan. Dibantu beberapa kawan-kawan yang memiliki toko online, hasilnya sudah bisalah menerbitkan buku-buku selanjutnya. Oya tentu kami terus mencari reseller.

Sudah 6 buku dalam tahun ini (yang satu naskah dramaku sendiri). Bulan-bulan depan sudah siap beberapa naskah lagi. Wish me luck…

Quotes Sang Penggesek Biola 2

 

Lagu Indonesia Raya di Asian Games 2018

24 emas, itu artinya 24 kali lagu Indonesia Raya berkumandang….

Kalau kamu merasa sangat emosional mendengarnya, keadaan gak jauh berbeda dengan dulu. Selepas menjadi lagu pembuka di setiap rapat2 organisasi massa selepas tahun 1928, siapa pun yang mendengar lagu Indonesia Raya saat itu, tanpa dikomando, selalu menghentikan pekerjaan mereka, dan mengambil posisi berdiri tegak. Tak jarang mereka mengepalkan tangan.

Oleh pemerintah kolonial hal itu dianggap berbahaya. Maka mereka pun mengeluarkan satu keputusan kontroversi dengan menurunkan lagu Indonesia Raya dari posisinya sebagai lagu kebangsaan menjadi lagu organisasi. Saat sebuah lagu menjadi lagu organisasi, pendengar tak harus menghentikan pekerjaan mereka, gak perlu berdiri tegak dan gak perlu juga mengepalkan tangan… Continue reading “Lagu Indonesia Raya di Asian Games 2018”

Pengisahan Biola dan Indonesia – Bandung Mawardi / Jurnal Ruang

“Aku benar-benar telah siap bila harus mati hari ini. Aku yakin nada-nada lagu yang kuciptakan itu, akan terus menjadi napasku selanjutnya. Aku tentu tak berharap siapa pun akan mengingat kepergianku. Cukup lantunkan saja lagu-lagu itu sepenuh hati. Aku yakin, Tuhan akan berbaik hati menyampaikannya padaku hingga kapan pun….”

https://jurnalruang.com/read/1534566392-pengisahan-biola-dan-indonesia

Blog di WordPress.com.

Atas ↑