Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Kategori

Uncategorized

Buku Terakhir di 2016, Buku Pertama di 2017

Daripada lupa (lagi), mending ditulis (lagi).

Sebenarnya di akhir-akhir ini saya membaca beberapa buku sekaligus. Namun payahnya, banyak tak berhasil saya selesaikan. Beberapa di antaranya adalah Raden Mandasia milik Mas Yusi Pareanom, Theresa milik Emile Zola, Moemie Gadis yang Berusia 100 Tahun milik Marion Bloem. Sialnya yang terakhir ini baru saya selesaikan 100 halaman saja.

7166739_orig.jpgDi penghujung tahun 2016, saya menyelesaikan The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared milik Jonas Jonasson. Sebenarnya buku ini sudah saya baca sejak tahun lalu. Tapi saya stuck di bab 14. Entah kenapa buku itu tertumpuk dengan buku lainnya, lalu seperti disappeared beneran. Tapi yang pasti saya merasa agak bosan membacanya. Bukan karena ceritanya jelek. Tapi lebih karena penulis yang seperti membuat alurnya bergerak sedemikian bebas. Tokoh utama Allan Carlsson seperti punya garis hidup istimewa yang dengan mudah berpergian ke mana pun, termasuk Indonesia, dan bertemu tokoh-tokoh pemimpin dunia dan berinteraksi dengan mereka. Walau di beberapa bagian ini bisa menjadi lucu dan membuat saya tersenyum, tapi di beberapa bagian lain ini membuat saya sedikit mengerutkan kening. Lanjutkan membaca “Buku Terakhir di 2016, Buku Pertama di 2017”

Film Terakhir di 2016, Film Pertama di 2017

Daripada lupa, mending ditulis.

fullsizephoto753940Saat orang-orang lain bertahun baru, apesnya saya malah mendekam di kamar seorang diri berteman seekor cicak dan aroma tajam pengharum lantai. Saat seperti itu memang paling enak menonton film. Yang saya pilih malam itu adalah The Age of Shadow. Alasannya simple, saya sedang ingin menonton film-film bertema seperti Assasination yang rilis setahun lalu.

Ada 2 karakter kuat di film ini Lee Jung-Chool (diperankan Song Kang Ho) dan Kim Woo Jin (diperankan Gong Yoo). Dua-duanya karakter yang bertolak-belakang. Yang satu karakter opurtunis yang memilih menjadi antek penguasa Jepang, dan yang satu lagi merupakan tokoh idealis yang diam-diam aktif dalam gerakan kemerdekaan Korea. Namun pada akhirnya keduanya dapat bekerja sama, dalam jeda-jeda kebimbangan yang selalu ada pada sosok Lee Jung-Chool. Lanjutkan membaca “Film Terakhir di 2016, Film Pertama di 2017”

cwk4a1puiai_f1k-jpg-large

 

Sekadar info…

(Novel dan Film) Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta: Salah Satu Novel Favorit yang Tak Lagi Saya Punya

timthumb.php aaGara-gara membaca tulisan Mas Ronny Agustinus di blog-nya tentang Daftar Film yang Diangkat dari Literatur Amerika Latin, saya kaget mendapati novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (judul asli: Un viejo que leía novelas de amor, dan sudah diterjemahkan oleh Marjin Kiri) karangan Luis Sepulveda, ternyata sudah difilmkan sejak tahun 2001. Saya merasa kuper soal ini. Tapi info tentang film-film Amerika Latin memang tak banyak diekspos oleh media lokal, apalagi oleh situs-situs film lokal yang biasa saya donlot… :D.

Ini salah satu novel favotit saya. Tapi saya sudah tak lagi punya bukunya. Beberapa tahun lalu, seorang kawan meminjamnya, dan kemudian ia pindah. Saya tak lagi menanyakannya. Saya anggap sebagai kado tak terucap saja dari saya. Ini mungkin memang sudah nasib buku itu. Saya ingat, buku itu sendiri merupakan pemberian seorang kawan Goodreads. Waktu itu ia baru pulang dari pameran dan mendapati buku bagus itu hanya diobral dengan harga yang menyakitkan. Lalu ia menulis status di facebook untuk menawari pada kawan-kawan lainnya. Tentu saja saya mau. Dan beberapa hari kemudian, buku itu pun sampai di rumah saya. Mungkin, karena saya mendapatkannya dengan mudah, saya juga kehilangan dengan mudah. Lanjutkan membaca “(Novel dan Film) Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta: Salah Satu Novel Favorit yang Tak Lagi Saya Punya”

Buletin Sastra Pawon di JTV: Merawat Sastra di Kota Raja

segmen #1

segmen #2

segmen #3

segmen #4

Video Workshop Menulis Cerpen di Balai Soedjatmoko Setahun Lalu

Film-film tentang Penulis Dunia Favorit Saya

Ada banyak film tentang penulis dunia. Awalnya saya ingin membuat posting tentang film-film yang wajib ditonton bagi penulis, tapi rasanya itu terlalu luas. Jadi kemudian saya bagi saja menjadi 2: yang pertama tentang film-film yang mengangkat penulis-penulis dunia, yang kedua adalah tentang film-film yang wajib di tonton para penulis, atau yang berkeinginan menjadi penulis.

Ini yang pertama lebih dulu…

 

Brigh Star (2012)

bright_starWalau judulnya indah, tapi ini adalah film yang muram. Entah kenapa saya begitu suka dengan film ini. Ini kisah tentang penyair besar John Keats, yang puisinya beberapa kali pernah saya baca. Walau belum ada buku puisinya secara khusus diterjemahkan, tapi satu-dua puisinya banyak termuat dalam antologi bersama.

Film ini fokus pada bulan-bulan sebelum John Keats meninggal. Adalah Fanny Brawne (diperankan Abbie Cornish) yang jatuh cinta pada John Keats (diperankan Ben Whishaw), setelah ia mendapatkan buku kumpulan puisi, Endymion. Tapi cerita kemudian tak bergulir sesederhana itu. Awalnya John tak tertarik dengan Fanny. Bagaimana pun keduanya memiliki sifat yang berbeda. Fanny adalah seorang fashionita sedangkan John tak menyukai dunia glamour itu.

Namun pada akhirnya cinta bersemi. Tapi keadaan tak semulus itu. Kondisi keduanya yang tak memiliki cukup uang, ditambah kedua keluarga mereka sepertinya ada dalam posisi tak ingin keduanya bersatu. Tapi di sini kekuatan cinta keduanya diuji.

Saya petikkan satu puisi John, Bright Star, yang sempat pula ditulisnya di salah satu surat untuk Fanny.

Bright star! would I were steadfast as thou art—/ Not in lone splendour hung aloft the night / And watching, with eternal lids apart, / Like nature’s patient, sleepless Eremite, / The moving waters at their priestlike task / Of pure ablution round earth’s human shores, / Or gazing on the new soft-fallen mask / Of snow upon the mountains and the moors— / No—yet still steadfast, still unchangeable, / Pillowed upon my fair love’s ripening breast, / To feel for ever its soft swell and fall, / Awake for ever in a sweet unrest, / Still, still to hear her tender-taken breath, / And so live ever—or else swoon to death.

Lanjutkan membaca “Film-film tentang Penulis Dunia Favorit Saya”

Kitab Ular, Cerpen Saya di Suara Merdeka 8 Mei 2016

IMG_20160508_184300

Tautan KLIPING SASTRA INDONESIA

http://id.klipingsastra.com/2016/05/kitab-ular.html

Membaca Novel Lawas Widyawati – Arti Purbani

IMG_20160508_075542

Sekali lagi terbukti: saya pembaca yang harus dipaksa! Karena akan didiskusikan Pawon, saya menyelesaikannya novel Widyawati karangan Arti Purbani ini hanya dalam 2 hari.

Diskusi buku kali ini memang sedikit berbeda, bukan sekadar memilih novel lawas seperti usulan dari Kabut, namun penulisnya -Arti Purbani- adalah nama pena dari Partini Djajadiningrat, putri sulung Mangkunegaran VII.

Awalnya membayangkan membaca Widyawati, saya akan mendapati cerita yang mirip-mirip dengan novel Student Hidjo (Marco) ataupun Generasi yang Hilang (Suparto Brata), yang pernah didiskusikan Pawon sebelumnya. Kebetulan latar novel ini hampir-hampir sama. Tapi ternyata, Widyawati punya perbedaan yang kuat.

Saat pada akhirnya menyelesaikannya, satu kesan yang saya tangkap: Widyawati adalah novel yang komplet. Diawali dengan memunculkan 4 karakter perempuan: Sumirah, Roosmiati, Widyawati (Widati) dan Ruwinah, saya langsung meraba kalau keempat tokoh inilah yang akan mengisi halaman-halaman buku selanjutnya. Bahkan saya merasa konflik yang sudah dirancang. terasa sekali di bagian itu. Namun pada kenyataannya, dari keempat karakter itu, hanya katater Widati-lah yang paling intens diceritakan, sedang karater lainnya pelan-pelan hanya menjadi karakter-karakter pendukung yang tak cukup banyak diceritakan. Karakter Sumirah bahkan hanya ditulis sedikit sekali. Lanjutkan membaca “Membaca Novel Lawas Widyawati – Arti Purbani”

Kelambu, cerpen saya di Tribun Jabar 1 Mei 2016

kelambu_20160430_210936

Hari masih bercahaya, tapi kegelapan seperti telah menelanku dalam kepekatannya. Ruangan ini tiba-tiba terasa begitu sesak. Udara seakan menjauh dari diriku. Membuat napasku tersendat.

Sambil meringkuk di lantai, aku bagai menjadi sosok yang tak lagi berarti. Sangat sesuai dengan apa yang kubayangkan selama ini: aku bagai burung yang tak lagi bersayap, karena sayapku telah kupatahkan sejak dulu.

Sialnya, seperti yang sudah-sudah, keheningan selalu membuatku semakin terjerumus dalam ketakutan. Ia bagai mengulik lubang telingaku dan menggemakan ngiang yang terus berulang, bagai bisikan iblis yang tak pernah berhenti.

Kau akan pulang kan?

Pulang? Aku memejamkan mata kuat-kuat. Kata itu seharusnya sudah kucoret dari kamus hidupku. Tapi semakin aku ingin melupakannya, entah kenapa, kata itu semakin kuatnya merasuk.

Tubuhku tiba-tiba menggigil dengan hebat. Tanpa bisa kuelak, aku mulai terseguk. Suamiku yang sejak tadi duduk di ruang tengah, seakan sengaja memberi waktu untukku sendiri, mulai mendekat. Ia membelai rambutku dengan lembut. Lalu mulai menggendong tubuhku ke arah pembaringan. “Kalau kau tak ingin pulang, tak apa-apa,”  bisiknya. Lanjutkan membaca “Kelambu, cerpen saya di Tribun Jabar 1 Mei 2016”

Ruang Buku Saya

IMG20160327110411Saat menulis tulisan ini, saya benar-benar tak tahu apa tujuan saya menulisnya. Mungkin saya sekadar ingin pamer, atau  hmmm, bisa dikatakan meralat sesuatu. Ceritanya, beberapa bulan lalu, karena ada diskusi buku di rumah saya, foto-foto diskusi itu menyebar. Seorang kawan memposting lagi foto-foto itu dengan menyebut kalau buku-buku yang menjadi latar foto-foto itu adalah buku-buku koleksi saya. Padahal bukan. Itu sekadar komik-komik bekas taman bacaan saya yang sudah kukut 2 tahun lalu. Lanjutkan membaca “Ruang Buku Saya”

Buku Pertama, kolom akhir saya di Pawon edisi #29 tahun III/2010

Saat menjadi anggota Goodread Indonesia, ada satu tema diskusi yang cukup menarik, yaitu: menilai buku pertama seorang penulis. Saya jadi teringat pada buku pertama saya.

Sejak kanak saya sudah menulis. Tapi keinginan membuat buku belum terlintas sama sekali kala itu. Keluarga saya tak ada yang menulis. Teman-teman sepermainan saya pun begitu. Jadi saya tumbuh sendiri dengan ketidakmengertian.

Untunglah di saat kuliah saya bertemu teman yang juga suka menulis. Walau satu, tapi ini sudah cukup lumayan. Karena kuliah saya yang ada di jurusan teknik, membuat keinginan untuk menulis adalah keinginan nomor sekian. Lanjutkan membaca “Buku Pertama, kolom akhir saya di Pawon edisi #29 tahun III/2010”

Membaca 4 Novel Pemenang Sayembara Novel DKJ 2014

dkj ok.jpgKadang, membaca memang harus dipaksa! Bila tak ada acara Bicara 4 Novel Pemenang Sayembara Novel DKJ 2014 yang diadakan Pawon, 23 Januari 2016 lalu, saya mungkin hanya akan membaca 1 – 2 novel saja yang saya pikir menarik. Namun karena adanya acara tersebut, mau tak mau saya harus membaca semuanya.

Setelah selesai membaca keempatnya, yang saya pikirkan kemudian adalah: apa benang merah dari keempat novel ini? Tentu juri saat itu: Nukila Akmal, Zen Hae, dan Martin Soerjajaya punya kesukaan masing-masing. Namun berbeda dengan sayembara 2 tahun sebelumnya, kali ini saya tak bisa menebak kesukaan-kesukaan juri tersebut. Keempat novel itu – Kambung dan Hujan, Di Tanah Lada, Napas Mayat dan Puya ke Puya– nampak berbeda satu dengan lainnya. Entah itu dari cara eksekusi ide, mengolah alur, bahkan pendalaman karakter demi karakter. Semuanya sungguh nampak berbeda. Lanjutkan membaca “Membaca 4 Novel Pemenang Sayembara Novel DKJ 2014”

Buku-buku yang Saya Baca Sepanjang 2015

PEMBACAAN BUKU SASTRA ok Selama ini saya tak pernah membuat catatan atas buku-buku yang sudah saya baca. Tapi karena acara Pawon –Pertanggungjawaban Pembacaan Buku-buku Sastra Selama 2015- yang diadakan tanggal 10 Januari 2016 di rumah saya, saya jadi terpaksa membuat tulisan ini… 🙂

Tahun ini, Seno Gumira Ajidarma mengejutkan dengan merilis 2 bukunya. Jejak Mata Pyongyang dan Tak Ada Ojek di Paris. Memang bukan kumcer, namun membaca Seno tetap saja menyenangkan. Apalagi buku Jejak Mata Pyongyang. Di situ kehebatan Seno sebagai fotografer bisa kita lihat. Sayangnya, saya tetap lebih menyukai narasi-narasi yang dibuatnya. Walau narasinya hanya beberapa lembar saja dengan ukuran font seperti ukuran catatan kaki, tapi kisah-kisah kecil di situlah yang membuat buku ini menjadi menarik. Sedangkan buku satunya, Tak Ada Ojek di Paris, merupakan tulisan kolom Seno di beberapa majalah, terutama Majalah Jakarta-jakarta. Detail tulisan untuk 2 buku ini sudah pernah saya posting sebelumnya. Bisa cek di sini.

Yang menyenangkan saya tanpa sengaja saya mendapat kumcer Negeri Kabut di salah satu toko online. Walau sebenarnya tak jauh berbeda dengan kumcer-kumcer Seno lainnya, buku ini menggenapi kumcer-kumcer Seno yang saya baca. Selain itu, novel Negeri Senja juga dicetak ulang lagi. Dulu buku ini terlewat saya beli, untunglah sekarang bisa saya baca. Buku ini saya pikir mengukuhkan Seno sebagai pemilik senja, jauh sebelum ia menulis Sepotong Senja untuk Pacarku. Lanjutkan membaca “Buku-buku yang Saya Baca Sepanjang 2015”

16TJ16012016.pmd

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑