1 okJarot kecil hanya bisa melihat kakeknya mengejang di ujung ajal. Namun sebelum ia benar-benar menghembuskan napas terakhirnya, suaranya terdengar pelan dan terbata, “Kau tak perlu cemas. Nanti akan datang orang yang kita tunggu itu, laki-laki yang di setiap bekas jejak kakinya mengalir air yang begitu bening untuk kita semua di sini.”

Selepas mengatakan itu, kakeknya meninggal. Namun ucapannya seperti tak pernah hilang di kepala Jarot kecil. Mungkin kisah itu telah begitu merasuk dan menjadi kisah paling mengagumkan yang pernah didengarnya. Jarot kecil bahkan sampai bisa membayangkan di antara senja yang meredup, laki-laki itu pergi menuju arah matahari, seakan-akan ia benar-benar berumah di sana. Setiap jejak yang ditinggalkannya perlahan-lahan akan membuat air merembes keluar. Lama-lama jejak-jejak itu menjadi genangan-genangan kecil. Dan saat laki-laki itu nyaris tak lagi terlihat, genangan-genangan kecil itu mulai menyatu satu demi satu dan membentuk sungai kecil yang msesekali meliuk-liuk bagai ular.

Maka itulah setiap kawan-kawannya mengeluh akan kekeringan di desanya ini, ia akan selalu berujar, “Sabarlah, sebentar lagi akan datang orang dengan jejak kaki yang mengalirkan air untuk kita.”

Tapi kawan-kawannya malah mencibir saja. Jarot kecil bisa memahami ketidakpercayaan kawan-kawannya. Sudah puluhan kali ia mengucapkan kalimat itu, tapi laki-laki yang dimaksud tak pernah benar-benar datang. Continue reading “Cerpen Jejak Air, Pikiran Rakyat, 31 Mei 2015”

Iklan