aacIni tentu tulisan yang sangat subyektif, dan –mungkin- sedikit berlebihan. Tapi harus saya tulis karena beberapa hal.
Seno Gumira Ajidarma (SGA) adalah cerpenis Indonesia yang selama 20 tahun terakhir masih saya baca cerpen-cerpennya. Tak banyak penulis senior yang bisa bertahan sekian lama. Sayangnya, beberapa cerpen SGA yang muncul di koran akhir-akhir ini, begitu dipertanyakan. Saya bisa mengerti, karena saya juga merasa cerpen-cerpen itu tak sekuat cerpen-cerpen lamanya. Namun mengingat jejak langkahnya yang panjang, saya merasa selalu bisa memakluminya. Toh, beberapa penulis seumur SGA, atau bahkan yang lebih mudah pun, nampak menurun drastis, bahkan banyak yang tak lagi menulis.
Tulisan ini mungkin lebih tepat saya arahkan buat kawan-kawan muda yang belum pernah membaca kumcer-kumcer lama SGA dan hanya membaca cerpen-cerpennya di koran akhir-akhir ini. Tentu mungkin ini terasa sedikit berani. Apalagi ada beberapa buku SGA yang belum saya punya dan belum saya baca. Tercatat buku-buku: Mati Mati Mati, Bayi Mati, Catatan-catatan Mira Sato, Manusia Kamar (walau saya punya republish-nya: Matinya Seorang Penari Telanjang), Layar Kata, dan Sembilan Wali & Syeik Siti Jenar. Namun setidaknya saya punya buku Negeri Kabut, yang selama ini banyak tak dipunyai penyuka SGA.
Beberapa bulan lalu, saya membaca 2 buku SGA yang baru, Tak ada Ojek di Paris dan Saksi Mata Pyongyang. Dua-duanya buku nonfiksi. Saya menyukai buku itu, walau secara jujur saya masih terkenang-kenang buku-buku lamanya.
Berikut adalah buku-buku SGA yang harus dibaca lebih dulu dari hampir 40 buku SGA yang sudah terbit sebelumnya. Tentu beberapanya sudah sulit didapat, namun di beberapa toko online saya masih kerap menemuinya. Tentu dengan harga spesial.

1. Saksi Mata (Bentang)
aa saksimata-coverMenurut saya, kumcer Saksi Mata adalah salah satu kumcer terbaik yang pernah saya baca. Buku ini terbit pertama kali tahun 1994. Saya sendiri baru memiliki cetakan ketiganya yang terbit setahun setelah reformasi, 1999.
Cerpen-cerpen ini mungkin diterbitkan kembali karena memiliki momentum yang sama dengan kala itu. Seluruh cerpennya penuh dengan tema-tema konflik berdarah, teror, dan harapan yang sirna. Cerpen-cerpen Saksi Mata, Darah itu Merah, Jenderal, Pelajaran Sejarah dengan kuat melukiskan itu semua. Buku ini semakin mudah dikenang karena ilustrasi (dan covernya) dibikin secara apik oleh Agung Kurniawan8243858.
Pada tahun 2010, Penerbit Bentang kembali menerbitkannya dalam Trilogi Insiden, sekaligus menggabungkannya bersama buku Jazz, Parfum dan Insiden dan Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Entah apa maksudnya?
Satu yang menarik, di buku inilah saya masih bisa melihat tanggal lahir SGA dan sedikit biodatanya. Itu tak lagi saya lihat di buku-bukunya sekarang, termasuk dalam Trilogi Insiden.

2. Jazz, Parfum dan Insiden (Bentang)
Parfum SenoSaya selalu mengenangnya sebagai kumcer dengan 3 rasa. Ada 3 tema besar di kumcer ini seperti yang dijadikan judul. Rasanya 3 sisi SGA muncul di sini: sebagai pecinta musik jazz, sebagai individu yang tinggal di metropolis sekaligus –mungkin- penganggum perempuan-perempuan cantik, serta sebagai wartawan yang harus menulis sesuatu yang kristis.
Dulu, saya punya buku aslinya terbitan Bentang. Saya bahkan sempat punya edisi Inggrisnya. Sialnya lagi saya tak tahu juga ke mana buku itu sekarang. Bisa jadi seorang teman saya meminjamnya dan saya lupa mengingat-ngingatnya.
Untungnya bersamaan buku Trilogi Insiden, kumcer ini kembali dirilis. Sehingga saya serasa tetap menjadi layak menyebut diri memiliki bukunya.
Satu perasaan yang sama selepas membaca kumcer ini adalah saya tiba-tiba jadi ingin mendengarkan musik jazz, dan berharap suatu hari kelak membelikan pacar saya parfum. Aaah…Sebuah-Pertanyaan-Untuk-Cinta-470x718

3. Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (Gramedia)
Ini sebenarnya buku SGA yang paling sederhana. Tapi buku inilah yang paling saya ingat dari SGA. Dulu saat pertama kali membacanya, saya masih menulis cerpen-cerpen untuk majalah remaja, membaca buku inilah saya mulai merasa ingin menulis untuk koran.
Beberapa cerpen sangat saya ingat. Terutama cerpen Lelaki Terindah. Sialnya setiap ada beberapa cerpenis yang mencoba menulis cerita dengan tema yang diangkat dalam Lelaki Terindah, saya selalu membandingkannya dengan cerpen itu. Dan jujur saja, sampai sekarang saya belum menemukan cerpen yang lebih kuat dari Lelaki Terindah.

4. Penembak Misterius (Galang)

Saat membaca kumcer ini, kumcer yang berisi banyak cerita-cerita tentang kisah petrus atau penembak misterius, saya secara jelas melihat posisi sastra dalam kehidupan. Semua tahu, di tahun-tahun itu, Orde Baru begitu ketat mengekang kebebasan berekspresi. Kisah penyair Rendra yang dipaksa untuk membatalkan pertunjukannya, sudah saya dengar sejak lama. Belum lagi kisah Majalah Tempo yang dibredel karena kekritisannya.

a8948 timthumb.php   6896803

Dalam Penembak Misterius kisah-kisah itu seperti didongengkan SGA secara langsung. Tentu dengan suasana muram dan dalam kesendirian yang mencekam. Membuat saya –dan saya yakin siapa saja- merasa perlu menyeka keringat dingin yang keluar di kening.
Sayangnya yang saya memiliki buku Penembak Misterius terbitan Galang Press, bukan edisi sebelum-belumnya. Saya pikir covernya benar-benar menganggu, dan tidak sebanding bila dijejerkan dengan edisi pertamanya.

5. Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (Subentra Sitra Pustaka)
156088_129467323905044_922661047_nIni buku SGA yang meraih Sea Write Award. Itu merupakan pengharhaan sastra di Thailand untuk wilayah Asean. Tercatat beberapa nama top penulis Indonesia seperti Gunawan Muhammad, Arifin C Noer, Umar Kayam, Danarto, dll, juga sudah pernah terpilih.Ini merupakan buku SGA paling tipis, namun memuat banyak kisah-kisah yang menarik. Saya ingat bagaimana mendapat bukdilarangmenyanyidikamarmandi_28063u ini lewat kawan saya Anton WP, di Kopma UGM. Konon ini tinggal satu-satunya.
Satu cerpennya yang paling menyenangkan, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, pernah diangkat sebagai FTV.
Sama seperti buku Saksi Mata, di buku cetakan pertamanya (yang diterbitkan Subentra), saya masih bisa melihat tanggal lahir SGA dan sedikit biodatanya, bahkan foto SGA di halaman belakang. Tentu saat ia masih muda.

6. Sepotong Senja untuk Pacarku (Gramedia)sepotong_senja_untuk_pacarku
Banyak yang bilang buku ini adalah buku SGA yang paling romantis. Beberapa penulis mengutip beberapa qoutes dari buku ini. Kebanyakan tentang senja.
Walau saya tak sepenuhnya setuju, saya tetap menganggap buku ini memang menarik. Saya pikir inilah buku yang mengeksplorasi senja sedemikian rupa. Dari beberapa cerpen saja kita tahu SGA mencoba mengulik senja dengan berbagai cara dan perspektif. Selain cerpen yang dijadikan judul kumcer ini, ada juga Senja Hitam Putih, Senja yang Terakhir, atau Hujan, Senja dan Cinta.
Info yang tak penting: Di buku ini sini saya lihat di belakang akhir –di bagian daftar buku-buku SGA- ada buku puisi Cinta dalam Telepon Genggam yang tertulis: belum terbit. Sepertinya buku itu belum terbit hingga sekarang.

7. Matinya Seorang Penari Telanjang (Galang Press)
Matinya-Seorang-Penari-Telanjang-393x638Ini sebenarnya repacking buku Manusia Kamar, yang merupakan kumcer SGA yang pertama. Agar nampak baru, memang judulnya diganti dengan Matinya Seorang Penari Telanjang. Dan asal tahu ini merupakan judul pertama yang dipilih SGA saat mengirimnya ke penerbit.
1025849Di sinilah saya merasa bisa melihat keorisinilan SGA pertama kali. Bagaimana cara ia mengeksplorasi diri dalam cerpen-cerpen. Di beberapa bagian masih terasa sangat lugu, walau tak sampai terasa jadul. Coba lihat pemilihan beberapa judul cerpennya: Daun, Pembunuhan dan Tante W. Ini terasa sangat lugas dan sangat biasa-biasa saja… 😛
Tapi buku ini menjadi penting bagai siapa pun yang berencana membaca buku-buku SGA. Setidaknya kita tahu proses awal kerja kreatif SGA.

Sepertinya tanpa terasa saya hanya menulis buku-buku lama SGA. Sebenarnya saya juga menyukai beberapa bukunya yang tergolong lebih baru, seperti Linguae, atau Aku Kesepian Sayang Datanglah Menjelang Kematian. Namun saya merasa buku-buku baru itu memiliki konsep yang hampir sama dengan buku-buku sebelumnya. Saya juga menyukai Nagabhumi 1, walau merasa gagal membacanya. Hanya satu yang mungkin menjadi buku yang paling tidak saya sukai, yaitu Kalathida. Pesan saya, kalau kau kebetulan menemukan buku ini diobralan atau di toko loak, lupakan saja. Kecuali kau berniat mengoleksi semua buku SGA, seperti yang saya lakukan.

***

foto-foto diambil dari berbagai sumber.

Iklan