Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Sisi Lain Virginia Woolf dalam Vita & Virginia (2019)

MV5BZTdiZjAyNTMtZjM2MC00MmNjLWJhYTMtNDg0MGY1MDI0Y2FiXkEyXkFqcGdeQXVyODY3Nzc0OTk@._V1_SY1000_SX675_AL_

It’s all rhythm

Once you get that, you can’t uses the wrong words

A sight, an emotion, create a wave in the words

Long before you have the words to describe it

When writing, that is what you must recapture

That wave as it breaks and tumbles in the mind

If you listen it will make the words to fit it…

 

Saat menerbitkan Senin atau Selasa, kumpulan cerpen Virginia Woolf, saya banyak membaca tulisan-tulisan tentang sosok Virginia Woolf yang banyak tersebar di internet, terutama kisah-kisah di balik buku Senin atau Selasa.

Sampai kemudian film Vita & Virginia ini muncul dan membuat apa yang saya bayangkan tentang sosok Virginia di pencarian saya selama ini, terasa belum ada apa-apanya. Mungkin ini karena keterbatasan saya membaca dan menonton film tentang Virginia. Percayalah, kalau bekalmu juga hanya menonton film The Hours, film ini benar-benar berbeda. Film ini mengambil sisi yang berbeda dari film yang muram itu. Virginia masih  cukup muda, dan menuju puncak ketenarannya. Ia belum nampak terlihat depresi, walau tanda-tandanya sudah terlihat ada. Lanjutkan membaca “Sisi Lain Virginia Woolf dalam Vita & Virginia (2019)”

Cerpen 13 Tamu Sang Jenderal Tua di antologi Pawon, Perempuan Bersepatu Kulit Ikan

76608764_10218295659095032_1318769021042032640_o

Cerpenku 13 Tamu Sang Jenderal Tua di antologi Pawon, Perempuan Bersepatu Kulit Ikan.

Cerpen tentang seorang jenderal tua di penghujung hidupnya, yang kembali mengenang apa yang sudah dilakukannya puluhan tahun lalu, termasuk melenyapkan 13 orang dalam satu kerusuhan besar… Yuuuk, buat yang tertarik dengan bukunya bisa menghubungi kawan Pawon terdekat, atau membelinya via aku. Harga 40K.

 

#pawon #pawonsastra #perempuanbersepatukulitikan

Lomba Resensi dan Diskusi Buku Sang Penggesek Biola di SMAN 1 Toroh, Purwodadi

75619102_10218230036774515_2610173800418902016_o

Beberapa hari lalu mengisi diskusi buku Sang Penggesek Biola di bulan bahasa, di SMAN 1 Toroh, Purwodadi.

Ada lomba baca puisi, resensi buku Sang Penggesek Biola dan diskusi buku Sang Penggeek Biola serta tips penulisan buat remaja. Seru, walau waktunya tak panjang. Lanjutkan membaca “Lomba Resensi dan Diskusi Buku Sang Penggesek Biola di SMAN 1 Toroh, Purwodadi”

(Hampir) 70 Tahun Rashomon

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Apa artinya 70 tahun?

Film Rashomon dirilis tahun 1950 oleh Akira Kurosawa, dan dibuat sejak setahun sebelumnya. Jadi bisa dikatakan kalau film ini usianya hampir 70 tahun. Film ini diadaptasi cerpen In a Grave milik Akutagaqa Ryonosuke, yang dirilis jauh lebih lama lagi. Saking lamanya bahkan sudah masuk dalam daftar public domain. Lanjutkan membaca “(Hampir) 70 Tahun Rashomon”

Antologi Terbaru Pawon: Perempuan Bersepatu Kulit Ikan & Plato Memotong-motong Keju

72813390_10218038806993890_1672846004665188352_o

Sejak 12 tahun yang lalu, salah satu agenda Buletin Sastra Pawon yang selalu ada setiap tahunnya adalah menulis bersama.

Dulu agenda seperti itu kerap sekali dilakukan, mungkin karena banyak dari kami yang baru mulai menulis, sehingga membutuhkan media publikasi sebanyak-banyaknya. Namun semakin waktu berjalan, di tahun-tahun terakhir ini, agenda seperti itu ternyata jarang dilakukan lagi. Mungkin, karena beberapa dari kami sudah sibuk dengan proyek menulis sendiri.

Lanjutkan membaca “Antologi Terbaru Pawon: Perempuan Bersepatu Kulit Ikan & Plato Memotong-motong Keju”

Quotes Empat Aku dari Marjin Kiri

Hari-hari Terakhir dalam Hidup Shakespeare dalam All Is True

MV5BODI5Nzc1Nzk2Ml5BMl5BanBnXkFtZTgwNTg5MTQ5NjM@._V1_SY1000_CR0,0,674,1000_AL_

……
Dan jangan takut pada petir yang menyambar
Jangan takut pada kecaman fitnah
Kau sebaiknya menyudahi dengan sukacita dan raungan
Seluruh pasangan kekasih muda seharusnya selalu mengasihi
Ditujukan padamu, dan berakhir menjadi debu
……

Satu lagi film tentang penulis yang hampir terlewat. Kali ini tentang Willian Shakespeare.

Awalnya saya merasa judulnya kog gak banget ya. Tapi ternyata All Is True adalah judul alternatif pertunjukan Willian Shakespeare saat ia mementaskan drama Henry VII. Di saat itulah, meriam yang seharusnya menjadi properti panggung meledak, dan membakar gedung pertunjukan itu. Sejak itu William Shakespeare tak lagi menulis naskah dramanya. Lanjutkan membaca “Hari-hari Terakhir dalam Hidup Shakespeare dalam All Is True”

The Rookie Historian Goo Hae Ryung, Bagaimana Sejarawan Masa Lalu Bekerja…

Shin-Se-Kyung-Rookie-Historian-Goo-Hae-Ryung-poster

“Bahkan perkataan menteri yg paling berkuasa tak kan bertahan puluhan tahun, tapi perkataan sejarawan akan hidup selama ribuan tahun…”

Drama Rookie Historian Goo Hae Ryung sebenarnya drama yang bagus, namun gak terlalu istimewa. Tapi sepertinya kisah sejarawan di masa itu menarik sekali buat ditulis… Lanjutkan membaca “The Rookie Historian Goo Hae Ryung, Bagaimana Sejarawan Masa Lalu Bekerja…”

Empat Aku karya Yudhi Herwibowo: Terbitan Kumcer Ciamik dari Marjin Kiri, Resensi di dnk.id

Empat-Aku-karya-Yudhi-Herwibowo-Terbitan-Kumcer-Ciamik-dari-Marjin-Kiri

https://dnk.id/

 

Selain Pram, Iksaka Banu dan Djokolelono, Yudhi Herwibowo adalah salah satu dari sekian banyak penulis Indonesia yang menggarap novel berlatar sejarah. Beberapa karyanya seperti Pandaya Sriwijaya (2009), mengisahkan pemilihan pendekar terbaik pada masa kerajaan Sriwijaya.

Novel-novel sejarah karya Yudhi berikutnya juga mengisahkan tentang tokoh seperti Untung Suropati (2008), Halaman Terakhir (2016) tentang sosok Hoegeng, dan yang paling mutakhir Sang Penggesek Biola (2018) yang menceritakan sosok WR Soepratman.

Untuk membaca lengkap, klip di sini:

https://dnk.id/artikel/mufa-rizal/empat-aku-karya-yudhi-herwibowo-terbitan-kumcer-ciamik-dari-marjin-kiri-cpOLU?fbclid=IwAR3qQV5Luq_42WctRoGmkPF5vd0RV2fZQFjPSJX1zWE3NxDnu1pnIUtCMWU

Sebenarnya, Saya Tak Perlu Membuat Alasan untuk Kembali Menonton The Shawsank Redemption

MV5BMDFkYTc0MGEtZmNhMC00ZDIzLWFmNTEtODM1ZmRlYWMwMWFmXkEyXkFqcGdeQXVyMTMxODk2OTU@._V1_Beberapa hari lalu, saya mengomentari status kawan saya yang menonton film lama untuk ketiga kalinya, dan kawan saya itu menjawab komentar saya dnegan; kalau ini masih mending, Mas. Film The Shawsank Redemption kutonton hampir 10 kali. Lanjutkan membaca “Sebenarnya, Saya Tak Perlu Membuat Alasan untuk Kembali Menonton The Shawsank Redemption”

Andai Masa Kecil Saya Seimut Buku The English Roses… Aaah…

71239165_10217841817069265_3152578361167970304_oJarang-jarang membaca cerita anak, tapi melihat buku The English Roses karya Madonna ini, mudah banget untuk menepikan kejarangan itu.

Awalnya saya gak sengaja dapat buku ini di obralan. Kondisinya sedikit lecek dan sobek ujungnya. Rencananya akan kuberikan pada keponakan yang lagi suka-sukanya membaca, bersamaan buku-buku lainnya. Tapi ilustrasinya langsung membuat saya membaca satu kisah, The Adventure of Abdi. Walau sudah tahu Madonna menulis buku anak sejak lama, tapi ini pengalaman pertama saya membacanya. Dan ekspektasi saya gak berlebih: penulis lirik lagu yang baik, mudah menjadi penulis cerita yang juga baik…

Buku ini merupakan buku anak pertama Madonna yang sempat masuk daftar bestseller Amrik. Istimewanya buku ini memakai 6 ilustrator yang gayanya berbeda satu dan lainnya, Konon ini memang gabungan dari 6 buku sebelumnya. Sehingga para ilustrator memang diberi kebebasan mengembangkan apa yang ditulis Madonna. Gara-gara ilustrasi itulah teks yang sebenarnya sederhana pun seperti terlihat menjadi wao.

Enam cerita yang diusung pun berlainan. Kutebak Madonna menulis dalam jeda waktu yang berbeda sehingga mampu mengambil jarak sehingga sudut pandang yang disajikannya pun berbeda pula. Atau bisa jadi kemampuan Madonna yang mampu membuat cerita baru dengan mencoba menjauhi cerita yang sudah dibuat sebelumnya. Ini tentu bisa dilihat dari album-albumnya. Kebetulan saya sempat mengikuti album-album Madonna. Tiap albumnya punya nuansa yang berbeda. Sehingga membaca buku ini, seperti membaca 6 buku yang berbeda…

Sambil membaca buku ini, saya jadi terkenang satu lagu favorit dari Madonna, yang setiap kali mendengarnya, langsung membuat saya terdiam… This Used to be My Playground…

Sisi Buruk Kebaikan, Resensi Buku Empat Aku oleh Kiki Sulistyo di ideide.id

Ilustrasi-Resensi-Yudhi-HerwibowoKekuasaan dapat membelokkan hal yang baik menjadi buruk, sanggup mengubah harapan menjadi penderitaan. Dalam lintasan sejarah manusia, dengan berbagai skala, kekuasaan selalu menjadi masalah. Ada saat ketika kekuasaan begitu memabukkan, sehingga mereka yang menggenggamnya jadi lupa segalanya. Kekuasaan itu sendiri adalah keniscayaan, seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca “tak ada manusia yang bisa terbebas dari kekuasaan sesamanya”. Oleh karena itu, reaksi, sikap kritis, maupun perlawanan terhadapnya juga akan terus berlangsung dalam suasana apapun. Seringkali sikap dan tindakan tersebut sebenarnya hanya modus karena kalah dalam perebutan kekuasaan atau sebagai strategi untuk mendapatkan atau merebut kekuasaan, yang kelak menjungkirkan posisi seseorang menjadi serupa dengan apa yang dulu dilawannya.

Untuk lebih lengkapnya silahkan klik:

https://ideide.id/sisi-buruk-kebaikan.html?fbclid=IwAR23gEJ5F-oBIuAKy0vBh-KSI-aKbdXcDZNBbY4lFnLeVVmczZQPt6MW7ko

Burning yang Ambigu

 

Sebelum heboh film Parasite, seharusnya film Burning juga bikin heboh. Film ini masuk nominasi di Cannes Film Festival tahun 2018, sempat juga masuk dalam daftar panjang Oscar untuk film asing terbaik. Satu lagi, film ini merupakan adaptasi cerpen Haruki Murakami, Naya wo Yaku (Barn Burning) yang ada di kumcer Hotaru (diterbitkan Shinchosha, Juli, 1984). Semua tahu betapa hitsnya Haruki Murakami di sini. Tapi tetap saja bikin film ini adem ayem…

Awalnya tema utama cerita film ini terasa sangat sederhana. Tapi gak ada yang terlalu sederhana di cerita-cerita Murakami. Ciri khasnya yang gak merasa penting menyelesaikan misteri yang dibuatnya, kental banget di film ini. Lanjutkan membaca “Burning yang Ambigu”

2 Seaguk 2019: The King’s Letters dan Homme Fatale

“Semua cerita pernah ditulis, dan ditulis ulang…”

Beberapa kali kalimat itu terlontar dari mulut pengarang. Saya sendiri pernah juga memakai kalimat itu. Namun setelah saya pikir-pikir, biasaya kalimat itu digunakan saat saya menulis cerita yang temanya biasa saja. Pada kenyataannya: semua cerita memang pernah ditulis, dan ditulis ulang. Namun yang jadi persoalan, yang menulis banyak atau banyaaak sekali, atau tidak banyak?

Saya suka menonton seaguk karena selalu mendapatkan tema cerita yang belum pernah (atau sangat jarang) saya lihat di film-film lainnya. Saya ingat: ada kisah tentang penjahit baju kaisar, pembaca wajah, penggambar peta, ahli fengshui, dan lainnya. Semua tema sepertinya gak tersentuh negara lain, bahkan China yang selama beberapa dekade terakhir menguasai film sejarah kolosal. Di seaguk terbaru 2019 ini, saya kembali menemukan film-film dengan tema yang gak biasa lagi. Lanjutkan membaca “2 Seaguk 2019: The King’s Letters dan Homme Fatale”

Lamafa di Pameran Akatara di Litbeat (Masuk dalam 30 Besar Program From Book to Screen yang diadakah Komite Buku Nasional)

69489585_10217628753622812_3401009830893191168_n

Gak bisa hadir di pameran Akatara dari Komite Buku: From Book to Screen yang ada di acara Litbeat… Lanjutkan membaca “Lamafa di Pameran Akatara di Litbeat (Masuk dalam 30 Besar Program From Book to Screen yang diadakah Komite Buku Nasional)”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑