cykvkrxukaafp2p

Karena hari Sabtu kemarin begitu sibuk, sampai lupa membeli Koran Tempo. Untunglah menjelang sore, ada notifikasi di Istagram saya dari mas Ginanjar Teguh Iman (‏twitternya di @ginteguh ) tentang gambar ini.

Makasih ya mas…🙂

15179040_10209815027324538_5286357727640148494_n

Tapi tentu aku tak akan melakukannya sendiri. Aku terlalu cerdas untuk melalukan hal seperti itu dengan tanganku sendiri. Aku merasa itu cara yang barbar, dan aku tak mau terlihat barbar. Aku akan bermain cantik. Toh, aku tetap harus menjaga diri. Bagaimana pun selama ini semua orang memandangku dengan rasa kagum. Tanpa mereka perlu tahu; selalu ada sisi buruk dari segala kebaikan…
– Aku yang Pertama

Lakon Hidup: belum update

Kliping Sastra Indonesia : belum update

cxp5f2uwqakjhvp

Lakon Hidup: belum update

Kliping Sastra Indonesia: http://id.klipingsastra.com/2016/11/pohon-buku.html

img_20161110_191712

Dulu sekali, kalau ingatanku tak keliru, hidupku adalah pesta dansa di mana setiap hari menyingkapkan diri, di mana setiap anggur mengalir…[1]

Ini adalah malam yang sempurna. Komandan tengah pergi ke luar kota dengan membawa beberapa serdadu. Sedang Hendrick serta Vromme –yang satu ruangan denganku di bangsal paling timur ini- tengah demam. Sejak siang tadi, mereka hanya meringkuk di atas dipan, tidur seperti kucing malas. Kupikir aku tak akan menemukan hari lebih baik, selain hari ini. Jadi langsung kuputuskan, malam ini juga, aku akan pergi dari tangsi terkutuk ini.

Aku tak mengenal kota ini, dan tak ingin tahu pula. Namun kudengar dari  Hendrick -yang sepertinya paling menikmati kedatangannya di sini- kota ini bernama Salatiga. Aku tentu tak harus peduli. Kota ini kupikir belum layak disebut kota. Waktu tiba di benteng Willem I, dan melihat sekelilingnya, aku sama sekali tak melihat bangunan besar yang mencolok selain rumah residen. Hampir semua rumah yang ada masih berdinding kayu, hanya satu-dua rumah yang berdinding batu bata. Selain itu, aura primitif masih begitu terasa. Laki-laki hanya bertelanjang dada, dan perempuan hanya mengenakan kain ditubuhnya. Mereka dengan santai berseliweran di sudut-sudut jalan. Baca entri selengkapnya »

cwk4a1puiai_f1k-jpg-large

Gambar  —  Posted: November 2, 2016 in Uncategorized
Tag:, , , ,

Beberapa tahun lalu saya membaca buku Orang Laut Bajak Laut Raja Laut dari Adrian B. Lapian, ada satu kisah keren tentang bajak laut bernama Robodoi yang berpetualang di laut yang ada di sekitar Ternate dan Tidore. Sedikit petikannya yang saya ambil dari laman resmi Majalah Jawara:14570441_1716928885299538_3383940170246603829_n

Aku ingat bagaimana ayah pertama kali mengajakku dalam perahunya. Aku tak banyak bertanya kala itu. Namun, ketika ayah menyerahkan sebatang tombak padaku, aku sadar kalau ini tentu bukan sesuatu yang biasa. Seorang anak yang baru menjadi pemuda, dipercayakan sebatang tombak. Ini isyarat bagi semacam ritual inisiasi menuju kehidupan yang sebenarnya.

Aku tahu, sudah sejak lama ayah menjadi anak buah Sultan Nuku. Kesultanan itu memang tengah berperang melawan VOC. Maka itulah darahku mendesir ketika ayah menyuruhku dan beberapa pemuda lainnya menuju lautan.

Masih kuingat saat itu dengan lekat. Sebuah kapal yang diduga membawa puluhan budak akan menuju Sape. Awalnya, ayah memerintah kami untuk menunggu saat mereka menghancurkan kapal itu dan membawa budak-budak yang berhasil direbut, sebelum orang-orang berkulit pucat itu membelinya dan menjadikan mereka pasukan. Tapi, suasana tak bisa dikendalikan, saat meriam kapal besar itu mulai mengarah pada perahu kami.
Itu adalah peperangan pertamaku. Napasku seakan terhenti saat perahu yang kami tumpangi mulai meluncur.
Baca entri selengkapnya »

img_20161008_162000

Kota itu hanyalah kota kecil saja. Tak lebih dari 100 rumah ada di situ, dengan satu jalan utama di tengah-tengahnya. Tak ada bangunan besar yang menonjol, selain sebuah perpustakaan tua. Namun walau nampak biasa-biasa saja, sejak dulu kota itu selalu menjadi pembicaraan orang. Ia dianggap berbeda dengan kota-kota lainnya. Konon, itu karena sebuah buku yang disimpan di perpustakaan tua itu. Sebuah buku kuno yang tak diketahui siapa penulisnya. Namun siapa pun yang membacanya, ia akan menjadi bahagia.

Orang-orang menyebutnya buku bahagia. Dan konon lagi, semua warga kota sudah membaca seluruhnya…

Baca entri selengkapnya »

16TJ02102016.pmd

Gambar  —  Posted: Oktober 10, 2016 in tulisan saya
Tag:, , ,

Buat kawan2 yang mencari buku-buku lama saya (dan baru tentunya), berikut saya buat listnya. Ini merupakan buku-buku yang masih ada pada saya, dan pada penerbit juga. Beberapa yang lain sudah tak ada stok. Saya sekadar menyimpannya buat arsip sediri…

promo-2016-1promo-2016-2promo-2016-3promo-2016-4

cri nov 2015 cover03-03

Memang sulit menerbitkan sastra. Upaya menerbitkan naskah-naskah bermutu dari seluruh dunia yang sudah dijalankan oleh Ajib Rosidi sejak puluhan tahun melalui Pustaka Jaya ternyata tak terlalu berjalan mulus. Untungnya sampai sekarang beberapa naskah itu bisa kita nikmati.  Pater Pancali adalah salah satu naskah yang dipilih untuk mewakili India. Waktu itu, Bibhutibhushan Banerji sendiri sudah menulis banyak novel, namun popularitas Pater Pancali mengalahkan yang lainnya. Ini mungkin karena kisah ini sempat diangkat ke layar lebar.

Baca entri selengkapnya »

klub buku 2Untuk diskusi Klub Buku Pawon Agustus ini, dipilihlah novel Pater Pancali karangan Bibhutibhushan Banerji, atau biasa ditulis Bibhutibhushan Bandyopadhyay (edisi Indonesia diterjemahan oleh Koesalah Soebagyo Toer). Saat pemilihan -sekitar 4 bulan yang lalu- memang tak banyak buku-buku sastra baru yang beredar. Ini sepertinya kali pertama klub buku pawon mendiskusikan novel lawas yang lumayan tebal.

Tapi kisah Pater Pancali memang sudah saya dengar sejak lama. Pustaka Jaya pernah menerbitkannya. Pater Pancali bahkan disebut-sebut sebagai Bumi Manusia-nya India.

Bibhutibhushan sendiri merupakan penulis besar di India. Ia lahir di Bengali 12 Septermber 1894, dan sampai akhir hayatnya sudah menulis puluhan novel. Salah satu novelnya, Ichhamati bahkan pernah memenangi Rabindra Puraskar tahun 1951, salah satu penghargaan sastra paling prestisius di India. Namun Pater Pancali tetaplah yang menjadi masterpiece-nya.

 

Kisah Pater Pancali yang Terpatah-patah

Awalnya, membaca Pater Pancali terasa sangat lambat. Novel ini cukup detail dan paragraf-paragrafnya pun gemuk-gemuk. Tapi beberapa novel lawas memang seperti itu. Jadi saya bisa memaklumi keadaan ini. Baca entri selengkapnya »

Pagi itu, 26 Juli 2016, Kabut aka Bandung Mawardi mengirimi saya pesan singkat: Beli kompas hari ini! Penting!

Saya pun berencana membeli Kompas nanti siang, saat keluar makan. Sepanjang waktu itu, di facebook saya melihat berita acara peringatan Horison di Jakarta dari status 2 redakturnya, Joni Ariadinata dan Jamal D. Rahman. Hari ini, Horison memang tengah berulang tahun ke-50 tahun. Itu usia emas. Tapi status dari Ichwan Prasetyo, salah satu redaktur Solopos, membuat kaget. Di situ ia mengirim foto potongan koran Kompas yang memuat berita berhentinya Horison sebagai media cetak. Saya langsung tahu, apa arti kata ‘penting’ yang ditulis Kabut pagi tadi.

Entah kenapa, saya merasa sedih. Sejak bertahun-tahun lalu, saya sudah membaca Horison. Sempat juga teratur berlangganan di tahun 2009-2011. 2 tahun lebih. Selama 2 tahun itu saya membundel Horison dengan lengkap. Sayang 1 bundel terpaksa saya buang karena habis dimakan rayap. Sayangnya, selama saya berlangganan, tak ada satu cerpen pun yang bisa saya kirim.

Tahun-tahun terakhir ini, pamor Horison memang redup. Mungkin semakin banyak buku-buku cerpen yang hadir di ranah sastra. Kompas sempat sangat getol menggelontorkan kumcer-kumcer dari penulis-penulisnya. Jurnal cerpen juga terbit. Penerbit-penerbit Yogya juga getol menerbitkan cerpen. Sampai kemudian tiba saat Buletin Sastra Pawon mewawancarai Joni Ariadinata. Waktu itu Han Gagas (dan Eko Abiyasa) yang ditugaskan untuk mewawancarai. Dari situ keinginan menulis di majalah itu kembali muncul.

Cerpen pertama saya di Horison adalah Perempuan yang Terperangkap pada Sajak-sajak Lorca di muat di Horison Januari 2013. Ini cerpen yang saya buat selepas saya membaca satu buku Lorca, Romansa Kaum Gitana. Waktu itu tak banyak yang ngeh tentang sajak-sajak Lorca. Mungkin karena buku terakhir Lorca yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sudah sejak bertahun-tahun lalu. Saya bayangkan penyair-penyair pada masa itu melahap buku keren itu, tapi tidak lagi sekarang.

Untitled-1

Baca entri selengkapnya »

timthumb.php aaGara-gara membaca tulisan Mas Ronny Agustinus di blog-nya tentang Daftar Film yang Diangkat dari Literatur Amerika Latin, saya kaget mendapati novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (judul asli: Un viejo que leía novelas de amor, dan sudah diterjemahkan oleh Marjin Kiri) karangan Luis Sepulveda, ternyata sudah difilmkan sejak tahun 2001. Saya merasa kuper soal ini. Tapi info tentang film-film Amerika Latin memang tak banyak diekspos oleh media lokal, apalagi oleh situs-situs film lokal yang biasa saya donlot…😀.

Ini salah satu novel favotit saya. Tapi saya sudah tak lagi punya bukunya. Beberapa tahun lalu, seorang kawan meminjamnya, dan kemudian ia pindah. Saya tak lagi menanyakannya. Saya anggap sebagai kado tak terucap saja dari saya. Ini mungkin memang sudah nasib buku itu. Saya ingat, buku itu sendiri merupakan pemberian seorang kawan Goodreads. Waktu itu ia baru pulang dari pameran dan mendapati buku bagus itu hanya diobral dengan harga yang menyakitkan. Lalu ia menulis status di facebook untuk menawari pada kawan-kawan lainnya. Tentu saja saya mau. Dan beberapa hari kemudian, buku itu pun sampai di rumah saya. Mungkin, karena saya mendapatkannya dengan mudah, saya juga kehilangan dengan mudah. Baca entri selengkapnya »

segmen #1

segmen #2

segmen #3

segmen #4

okSaya mungkin beruntung, selain membelikan buku di toko buku secara teratur, papa saya juga yang mengantar saya ke sebuah taman bacaan untuk meminjam buku. Saat itu, saya sedang tergila-gila dengan Khoo Ping Hoo, dan hanya di taman bacaan saya bisa mendapati buku itu. Saya ingat, di saat-saat itu pula, sepertinya saya mulai punya kebiasaan menabung untuk membeli buku. Buku-buku incaran saya waktu itu adalah Trio Detektif san STOP.

Saya merasa, saya ini merupakan generasi taman bacaan. Tentu kalimat itu, sekarang  sudah dianggap aneh. Kondisinya memang sudah berbeda. Taman-taman bacaan -yang berisi buku-buku hiburan- satu persatu mulai berguguran. Yang tetap berdiri tegak hanyalah perpustakaan yang dikelola negara maupun swasta. Tentu dengan kondisi yang seadanya, bahkan ada yang sangat memrihatinkan.

Lalu, dalam keadaan seperti itu, bagaimana seseorang dengan kantung pas-pasan bisa menyukai buku dan menyalurkan minat bacanya?

 

Perpustakaan dan Buku

Rumor DPR ingin membuat sebuah perpustakaan dengan biaya milyaran rupiah sempat berhembus beberapa bulan ini. Siapa pun akan menggeleng kepala tak percaya. Saya sendiri merasa itu ide yang absurb. Bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia buku, angka itu benar-benar angka yang luar biasa. Padahal sejak beberapa tahun terakhir ini pertanyaan yang menakutkan bagi pengelolah perpustakaan sudah menelisip di telinga mereka: apa benar sebuah sebuah perpustakaan masih relevan di era sekarang? Baca entri selengkapnya »