Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Laki-laki Bersayap Patah, sebuah kumpulan naskah drama

promo yudhi 2

Sebenarnya sejak lama ingin membuat naskah drama. Hampir 2 tahun ini selalu nonton teater di Teater Arena dan Wisma Seni, rasanya ingin sekali ikut-ikutan menulis naskahnya.

Sebenernya ketertarikan saya dengan teater sudah lama. Sejak kuliah selalu nonton teater karea kost saya memang ada di sebelah TBJT, dulu amanya masih TBS.

Baru di tahun 2017 ini, terwujud. Ada 4 naskah drama yang saya tulis di sini. Yang pertama adalah Aku, Aku yang saya ubah dari cerpen saya Empat Aku yang pernah dimuat Koran Tempo. Sama juga dengan Terkutuk, cerpen yang baru sebulan lalu dimuat Koran Tempo. Ada satu lagi naskah dari cerpen yang elum dipublikasikan, judulnya saya pakai menjadi buku ini, Laki-laki Bersayap Patah. Yang terakhir adalah naskah drama berlatar silat, judulnya Pendekar Sesat, Pendekar Ular. Ini yang paling sederhana ceritanya, namun sepertinya yang paling rumit…

Tentu saya menulisnya masih sesuka-suka saya saja. Saya merasa teknik menulis naskah drama masih sedikit membingungkan. Buku naskah drama yang satu dengan yang lain, ternyata berbeda cara penulisannya. Maka saya putuskan buat sesuai keinginan saya saja… 🙂

Buat kawan-kawan yang tertarik bisa menginbox saja… 🙂

Iklan

Cerpen The Crybaby, The Jakarta Post 25 September 2017

The Crybaby - Jakarta Post

Judul cerpen ini aslinya: Seorang Anak yang Menangis dan Kami yang Terbaring di sini. Ini perpaduan andtara film Lion dan film The Man from Nowhere, satu film Korea tentang perdagangan organ anak-anak.

Dari dulu selalu ingin masuk ke The Jakarta Post, karena alasan cerpen-cerpennya yang berbahasa Inggris Tapi dua kali saya kirim gak ada respon. Lalu untuk cerpen yang ini, saya meminta bantuan Liswindio Apendicaesar untuk menerjemahkannya. Judulnya pun menjadi The Crybaby Boy and Us Who Lie Down Here.

Dan 10 hari kemudian cerpen ini dimuat dengan judul The Crybaby.

Buat kawan-kawan yang ingin membaca ini tautannya:

http://www.thejakartapost.com/life/2017/09/25/short-story-the-crybaby.html

 

Cerpen Terkutuk, Koran Tempo, 23-24 September 2017

terkutuk-ilustrasi-imam-yunni-koran-tempo

Ini cerpen yang perjalanan hidupnya panjang sekali…

Tahun 2016 saya menyelesaikan cerpen ini. Awalnya judulnya Tangan-tangan yang Muncul dari Dinding dan karakternya lebih dari 14rb. Saya kirimkan ke Koran Tempo, waktu itu redakturnya masih Mas Nirwan Dewanto. Tapi gak berhasil dimuat. Saya mencoba mengeditnya, supaya bisa dikirim ke koran lain. Namun hanya bisa mencapai 12rban saja. Cerpen ini pun hanya bisa dongkrok di arsip saya.

Tapi karena suka idenya, saya olah cerpen itu menjadi naskah drama. Kebetulan ada Sayembara Penulisan Naskah Drama. Judulnya pun berganti: Keluarga Mengerikan yang Tinggal di Rumah Paling Mengerikan. Tapi walau sudah menunggu berbulan-bulan, naskah ini gagal.

Baru dua minggu lalu, saya coba edit lagi naskah ini. Judulnya saya ringkas: Terkutuk. Saya kirim lagi ke Koran Tempo dengan redaktur cerpen yang baru. Dan rupanya, hanya butuh 10 hari cerpen ini dimuat.

Buat kawan-kawan yang ingin membacanya bisa megklik tautan di bawah ini. Oya, naskah dramanya rencananya akan saya terbitkan dalam bulan-bulan ini. Wish me luck…

Tautan Cerpen Terkutuk di Lakon Hidup:

Terkutuk

Bincang-bincang Buku Halaman Terakhir di Situbondo

Beberapa hari lalu, ditautkan di ig saya berita ini oleh ig Gerakan Situbondo Membaca. Yang menarik dihadiri langsung oleh Kapolres Situbondo, AKBP Sigit Dany Setiyono, SH, S.I.K., M.Sc (Eng). Semoga bermanfaat.

Sayang gak bisa hadir.  Semoga sukses acaranya…

21752564_10212483666718855_2617742880540681261_o

21740445_10212484045408322_5243430744584802193_n

Workshop cerpen ini ditunda kawan.

Tunggu ya…

Tentang Kesalahan yang Termaafkan, dan Kesalahan yang Tak Termaafkan

225px-RobandfabSewaktu saya mengupload video Rob & Fab di instagram, seorang kawan mengomentari, “Itulah, satu kesalahan yang menghancurkan seseorang. Padahal sekarang banyak ada orang yang melakukan kesalahan, tapi dengan cepat kita melupakannya…”

Buat kawan-kawan yang tak tahu, Rob & Fab adalah nama dari Rob Pilatus dan Fab Morvan yang dulu dikenal sebagai duo Milli Vanilli. Mereka begitu hits di tahun 90-an. Saya masih SMP kala itu, dan kawan-kawan saya begitu tergila-gila dengan mereka. Lagu mereka Blame it on the Rain terus diputar di bemo-bemo, dan lagu Girl I’m Gonna Miss You terus disenandungkan. Itulah awal pertama kali saya membeli kaset dengan uang jajan saya sendiri.

Sayangnya masa kebesaran mereka harus hancur gara-gara mereka diketahui melakukan lypsync. Sebenarnya produser merekalah yang merancang semua kebohongan ini. Gara-garanya Rob & Fab ngotot untuk merekam sendiri suaranya di album berikutnya. Produser keparat itu kemudian memilih mengungkapkan kebohongan ini.

Setelah kejadian itu Rob & Fan berusaha bangkit. Mereka merilis single We Can Get it On, disusul sebuah album. Tapi rupanya upaya mereka tak lagi bisa mengangkat nama mereka. Saya kemudian merasa kesalahan yang pernah dilakukan Rob & Fab merupakan kesalahan yang tak termaafkan.

Di dunia menulis keadaan yang dialami Rob & Fan banyak terjadi. Hamka dianggap melakukan kesalahan setelah novelnya Tenggelamnya Kapal Van de Wijk disinyalir merupakan karya plagiat. Chairil pun melakukan kesalahan dengan menjiplak beberapa puisi orang lain, terutama untuk puisi legendarisnya Kerawang-Bekasi. Di era sekarang, beberapa cerpenis juga pernah melakukan kesalahan seperti itu. Mereka memlagiat cerpen-cerpen penulis yang sudah ada sebelumnya. Beberapanya bahkan melakukan tak hanya sekali saja. Kemarahan orang-orang saat kasus terjadi, kadang begitu heboh. Di facebook komennya bisa mencapai ratusan. Bahkan tak jarang diiringi beberapa kalimat kasar.

Tapi beberapa minggu kemudian, kehebohan itu redup. Orang-orang dengan mudah melupakannya. Bahkan media yang dulu diplagiat pun dengan enteng memuat karya penulis itu lagi, dan penulis itu –setelah beberapa bulan tak kelihatan– akan kembali muncul tanpa mengingat kejadian itu.

Sejak dulu, saya tak pernah ikut-ikutan soal ini. Bahkan menanggapi sekali pun tak pernah. Tapi ada satu cerita yang mungkin sedikit berbeda. Karena tak semua penulis yang melakukan kesalahan seperti itu, dapat melupakannya.

Seorang kawan penulis pernah dianggap memlagiat tulisan penulis lain dalam sebuah lomba, sebelum ia sadar tentang plagiatisme. Saya sendiri saat membacanya masih bingung apakah itu plagiat atau menceritakan ulang. Tapi kawan saya memutuskan mengaku salah. Ia kemudian memutuskan menepi dari dunia menulis. Ia tak lagi berkumpul dan tak lagi datang di acara-acara sastra yang dulu sering didatanginya. Jujur saja, saya sedih karenanya. Kenapa ia tak bisa bersikap seperti kawan-kawan penulis lain: menghilang sejenak, lalu muncul lagi di waktu semua orang tak lagi mengingat-ingatnya?

Saya hitung-hitung ini sudah tahun kelima ia menepi. Dan beberapa bulan lau, saya masih bertemu dengannya. Saya tahu ia masih menulis, walau tak lagi menulis sastra. Saat saya mengundangnya datang di acara sastra, ia hanya tersenyum pahit. Saya tahu, ia masih memilih mengingat kesalahannya sampai sekarang.

Saya pikir, orang-orang seperti kawan saya inilah yang seharusnya dimaafkan secara tulus dan diberi kesempatan kedua. []

Dua film Bagi Pencinta Binatang

Sebenarnya banyak sekali film-film tentang binatang yang sudah saya tonton. Tapi tahun 2017 ini, ada 2 film tentang binatang yang dirilis hampir bersamaan yang saya tonton. Awalnya sekadar saya tulis di status facebok saja. Tapi akhirnya saya putuskan saya kembangkan di blog. Karena sudah sebulan ini, blog saya sepi posting.. 😛

Yang pertama adalah OKJA.

okja.79437Film okja bukan sekadar film tentang Mija -anak kecil dari satu desa di Korea- yang mau menyelamatkan babi kesayangannya -Okja- yang di bawa ke New Yotk. Okja itu ternyata bukan babi sembarangan, ia adalah babi istimewa yang dibuat secara genetis hingga tubuhnya bisa besar luar biasa. Konon lebih besar dari gajah. Konon menurut perusahaan yang mengembangkannya, seekor babi unggul yang mereka ciptakan ini bisa menyuplai makanan bagi ratusan manusia.

Tapi karena babi itu diciptakan secara genetis, perusahaan tak mau langsung menjualnya. Ia menyamarkannya dengan menyerahkan 26 anak babi itu pada 26 petani/peternak di 26 negara. Perusahaan berharap orang-orang menganggap babi-babi itu tumbuh dalam keadaan normal seperti babi-babi pada umumnya. Continue reading “Dua film Bagi Pencinta Binatang”

18319387_1659770727390106_7589417616708425594_o

Link-link Donlot Film-film Tentang Puisi atau Penyair

Sebelum diinbox dan ditanyakan link-link donlot film-film yang saya upload di posting sebelumnya, saya kasih saja di sini. Tentu saja sebenarnya mudah mencarinya, cukup berkawan akrab dengan ganool, atau -untuk film-film lama yang gak terlalu ngetop- mungkin bisa ke kingtorrent.

Dead Poets Society (1989)

http://www.ganool.li/dead-poets-society-1989-bluray-720p-900mb/

Continue reading “Link-link Donlot Film-film Tentang Puisi atau Penyair”

Film-film tentang Puisi atau Penyair

Tulisan ini sebenarnya sekadar jawaban ringan dari pertanyaan seorang kawan: Apa saja film-film tentang puisi dan penyair? Jawaban itu, awalnya akan saya jadikan materi di  #bincangsastra Solopos FM April ini. Namun setelah saya pikir-pikir, rasanya tak ada salahnya saya tulis tentang ini untuk blog saya.

Bila saya search di IMDB mengenai film-film tentang puisi dan penyair, banyak sekali muncul daftarnya. Ini membuat saya ragu, karena ternyata hanya sedikit saja yang sudah saya tonton. Sialnya, saat saya mencoba mencari film-film itu, entah dengan cara donlot biasa maupun via torrents, sangat sulit melacak film-film itu.

Dari yang sedikit itu, saya pikir tak ada salahnya saya share.

Continue reading “Film-film tentang Puisi atau Penyair”

Kucing Ketiga Madam Sukotjo, cerpen lokomoteks.com edisi April 2017

sampul-loko-kucingoke-copy

bisa klik di sini:

https://lokomoteks.com/cerpen-yudhi-herwibowo-kucing-ketiga-madam-sukotjo/?frame-nonce=6929d69a19

My Instagram’s Quotes

follow instagramku di @yudhiherwibowo

pasti difollow balik… 🙂

Cerpen Malam Mengenang Sang Penyair, Tribun Jabar 26 Maret 2017

17TJ26031007.pmdBisa klik ke web tribun Jabar di sini:

http://jabar.tribunnews.com/2017/03/26/malam-mengenang-sang-penyair

atau epapernya di sini:

http://jabar.tribunnews.com/epaper/index.php?hal=7

Selesaikan Bukumu! Mungkin ada Sesuatu yang Terselip di sana!

Beberapa tahun lalu, seorang kawan pustakawan membagi film ini via facebook. Saya sempat mengunduhnya. Tapi karena hardisk saya rusak, saya kehilangan film ini, dan sempat melupakannya sampai beberapa tahun.

Kemarin saat sedang mencari-cari sesuatu di youtibe, tanpa sengaja saya menemukan kembali film ini. Sekarang sudah 2,1 juta penontonnya. Maka supaya tak lagi kehilangan seperti dulu, saya posting saja film ini di sini.

Suatu waktu, saya pasti akan menontonnya kembali…

Toko Buku Kecil Kenangan

solopos fm maret 2017 - 1Karena membeli buku The Little Paris Bookshop -atau Toko Buku Kecl di Paris- karangan Nina George,  saya menulis ini. Saya membeli buku itu karena mungkin adanya 3 kata: toko buku kecil. Awalnya cuma saya upload di instagram saya, kemudian saya merasa dapat menulis lebih panjang lagi.

Baru sekarang saya merasa toko buku kecil seperti menjadi kenangan yang penting. Papa adalah pegawai negeri di Metrologi, jadi selalu berpindah-pindah. Dari Palembang – Tegal – Kupang – Samarinda – Bandung – Purwokerto. Saya mengikutinya sampai Kupang saja. Karena setelah itu saya dipindahkan di Purwokerto. Lalu saya kuliah di Solo, hingga bekerja sampai sekarang.

Di setiap kota yang pernah disinggahi saat masa kanak2 dan remaja, selalu punya cerita tentang toko buku kecil yang selalu saya datangi. Tentu dulu Gramedia belum seagresif sekarang. Hampir di kota-kota itu tak ada toko besar seperti itu. Continue reading “Toko Buku Kecil Kenangan”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑