Pagi itu, 26 Juli 2016, Kabut aka Bandung Mawardi mengirimi saya pesan singkat: Beli kompas hari ini! Penting!

Saya pun berencana membeli Kompas nanti siang, saat keluar makan. Sepanjang waktu itu, di facebook saya melihat berita acara peringatan Horison di Jakarta dari status 2 redakturnya, Joni Ariadinata dan Jamal D. Rahman. Hari ini, Horison memang tengah berulang tahun ke-50 tahun. Itu usia emas. Tapi status dari Ichwan Prasetyo, salah satu redaktur Solopos, membuat kaget. Di situ ia mengirim foto potongan koran Kompas yang memuat berita berhentinya Horison sebagai media cetak. Saya langsung tahu, apa arti kata ‘penting’ yang ditulis Kabut pagi tadi.

Entah kenapa, saya merasa sedih. Sejak bertahun-tahun lalu, saya sudah membaca Horison. Sempat juga teratur berlangganan di tahun 2009-2011. 2 tahun lebih. Selama 2 tahun itu saya membundel Horison dengan lengkap. Sayang 1 bundel terpaksa saya buang karena habis dimakan rayap. Sayangnya, selama saya berlangganan, tak ada satu cerpen pun yang bisa saya kirim.

Tahun-tahun terakhir ini, pamor Horison memang redup. Mungkin semakin banyak buku-buku cerpen yang hadir di ranah sastra. Kompas sempat sangat getol menggelontorkan kumcer-kumcer dari penulis-penulisnya. Jurnal cerpen juga terbit. Penerbit-penerbit Yogya juga getol menerbitkan cerpen. Sampai kemudian tiba saat Buletin Sastra Pawon mewawancarai Joni Ariadinata. Waktu itu Han Gagas (dan Eko Abiyasa) yang ditugaskan untuk mewawancarai. Dari situ keinginan menulis di majalah itu kembali muncul.

Cerpen pertama saya di Horison adalah Perempuan yang Terperangkap pada Sajak-sajak Lorca di muat di Horison Januari 2013. Ini cerpen yang saya buat selepas saya membaca satu buku Lorca, Romansa Kaum Gitana. Waktu itu tak banyak yang ngeh tentang sajak-sajak Lorca. Mungkin karena buku terakhir Lorca yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sudah sejak bertahun-tahun lalu. Saya bayangkan penyair-penyair pada masa itu melahap buku keren itu, tapi tidak lagi sekarang.

Untitled-1

Baca entri selengkapnya »

timthumb.php aaGara-gara membaca tulisan Mas Ronny Agustinus di blog-nya tentang Daftar Film yang Diangkat dari Literatur Amerika Latin, saya kaget mendapati novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (judul asli: Un viejo que leía novelas de amor, dan sudah diterjemahkan oleh Marjin Kiri) karangan Luis Sepulveda, ternyata sudah difilmkan sejak tahun 2001. Saya merasa kuper soal ini. Tapi info tentang film-film Amerika Latin memang tak banyak diekspos oleh media lokal, apalagi oleh situs-situs film lokal yang biasa saya donlot…😀.

Ini salah satu novel favotit saya. Tapi saya sudah tak lagi punya bukunya. Beberapa tahun lalu, seorang kawan meminjamnya, dan kemudian ia pindah. Saya tak lagi menanyakannya. Saya anggap sebagai kado tak terucap saja dari saya. Ini mungkin memang sudah nasib buku itu. Saya ingat, buku itu sendiri merupakan pemberian seorang kawan Goodreads. Waktu itu ia baru pulang dari pameran dan mendapati buku bagus itu hanya diobral dengan harga yang menyakitkan. Lalu ia menulis status di facebook untuk menawari pada kawan-kawan lainnya. Tentu saja saya mau. Dan beberapa hari kemudian, buku itu pun sampai di rumah saya. Mungkin, karena saya mendapatkannya dengan mudah, saya juga kehilangan dengan mudah. Baca entri selengkapnya »

segmen #1

segmen #2

segmen #3

segmen #4

okSaya mungkin beruntung, selain membelikan buku di toko buku secara teratur, papa saya juga yang mengantar saya ke sebuah taman bacaan untuk meminjam buku. Saat itu, saya sedang tergila-gila dengan Khoo Ping Hoo, dan hanya di taman bacaan saya bisa mendapati buku itu. Saya ingat, di saat-saat itu pula, sepertinya saya mulai punya kebiasaan menabung untuk membeli buku. Buku-buku incaran saya waktu itu adalah Trio Detektif san STOP.

Saya merasa, saya ini merupakan generasi taman bacaan. Tentu kalimat itu, sekarang  sudah dianggap aneh. Kondisinya memang sudah berbeda. Taman-taman bacaan -yang berisi buku-buku hiburan- satu persatu mulai berguguran. Yang tetap berdiri tegak hanyalah perpustakaan yang dikelola negara maupun swasta. Tentu dengan kondisi yang seadanya, bahkan ada yang sangat memrihatinkan.

Lalu, dalam keadaan seperti itu, bagaimana seseorang dengan kantung pas-pasan bisa menyukai buku dan menyalurkan minat bacanya?

 

Perpustakaan dan Buku

Rumor DPR ingin membuat sebuah perpustakaan dengan biaya milyaran rupiah sempat berhembus beberapa bulan ini. Siapa pun akan menggeleng kepala tak percaya. Saya sendiri merasa itu ide yang absurb. Bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia buku, angka itu benar-benar angka yang luar biasa. Padahal sejak beberapa tahun terakhir ini pertanyaan yang menakutkan bagi pengelolah perpustakaan sudah menelisip di telinga mereka: apa benar sebuah sebuah perpustakaan masih relevan di era sekarang? Baca entri selengkapnya »

13599828_10208595598119570_7659504361669427026_n

Tautannya

Kliping Sastra Indonesia: http://id.klipingsastra.com/2016/07/museum-luka.html

Lakon Hidup: https://lakonhidup.wordpress.com/2016/07/10/museum-luka/

 

amin

Sudah sejak lama saya memiliki buku Balthasar’s Odyssey, Mencari Nama Tuhan yang Keseratus, tapi baru beberapa bulan lalu saya merampungkannya. Dulu, saya sebenarnya sudah tertarik untuk membacanya dan sudah emngantrikannya di di samping tempat tidur saya. Ini gara-gara sewaktu pergi ke pameran, Haris Firdaus -seorang kawan Pawon- bener-benar mencari buku itu. Sampai ketika ada buku Amin Maalouf yang saya rasa merupakan bajakan (?), ia tetap membelinya. Waktu itu saya hanya berpikir, sampai segitunya

Tapi saat mulai membaca Balthasar’s Odyssey semua itu terjawab. Di blurps buku itu tertulis pembaca akan terbawa dari halaman pertama. Itu tentu kalimat pasaran yang sering kita baca di blurps-blurps novel. Tapi sungguh di novel ini itu ternyata bukan kalimat mitos.

Maka itulah, saya merancang membicarakan sosok Amin Maalouf di #bincangsastra Solopos FM. Saya pikir sosok penulis ini masih jarang sekali diulas. Di internet pun data-datanya begitu sedikit. Mungkin karena Maalouf berbahasa Prancis.

Baca entri selengkapnya »

Bagaimana sebuah cerita bermula?

Pernah mencoba menjawabnya dengan runtut?

6826145_e5169bad-cbbd-4099-9021-2f8ec2952947 Dulu, saya punya seorang kawan yang selalu ada dalam mood buruk. Bicara dengannya sungguh merepotkan. Ia selalu jadi anomali di antara kawan-kawan yang lain. Kadang saya sampai berpikir: ia adalah si penghancur kegembiraan. Saat semua kawan sedang  gembira akan sesuatu, ia muncul dengan ekspresi wajah yang datar. Tentu, kawan saya itu bukan penulis, bukan pula pencerita, tapi saya pikir ia adalah obyek cerita yang baik. Herannya, saya tak pernah bisa menulis apa-apa tentangnya. Yang bisa saya tulis hanyalah percikan-percikan kisah-kisah kecil tentangnya. Tak ada yang benar-benar jadi sebuah cerita yang utuh. Namun selang beberapa tahun kemudian, cerita-cerita kecil yang saya corat-coret di buku catatan saya itu, bisa membuat saya terlempar ke cerita-cerita besar dengannya. Anehnya, cerita itu seperti menjadi lebih besar dari seharusnya.

Saya pikir fiksi mini dibuat dengan tujuan –atau harapan- seperti itu. Sebenarnya saya sendiri bukan tipe penyuka cerita-cerita mini. Sepertinya hanya 2 mini yang asyik: Mini Mouse dan rok mini. Tapi tentu bukan fiksi mini Saya lebih suka cerita yang panjang. Karena cerita yang pendek, punya kecenderungan sama dengan cerita lainnya. Walau saya tahu membuat fiksi mini, walau nampak mudah, sebenarnya lebih sulit dari yang dikira.

Membuat fiksi mini butuh kosentrasi di setiap kalimat, bahkan kata. Tak bisa dibuat seadanya. Ini jauh lebih sulit dari membuat paragraf pertama. Dengan sajian kalimat yang minim, pembacalah yang diharapkan menyusun cerita. Pembaca dituntut menjadi pembaca yang tak malas. Pembaca yang mau merenung sejeda-dua jeda.

Awalnya saya mengira para pembuat cerita fiksi mini membuatnya cerita karena gelontoran ide yang bejibun di kepalanya. Namun tak semua sanggup diolahnya menjadi cerpen dan novel. Karena kadang ide-ide itu terlalu sederhana, bahkan masih berupa embrio. Tapi mulai setahun belakangan ini, pikiran itu sepertinya tak bisa saya yakini sepenuhnya. Itu sama seperti ketika saya mulai membaca Bersepeda ke Neraka karangan Triyanto Triwikromo (TT). Baca entri selengkapnya »

Ada banyak film tentang penulis dunia. Awalnya saya ingin membuat posting tentang film-film yang wajib ditonton bagi penulis, tapi rasanya itu terlalu luas. Jadi kemudian saya bagi saja menjadi 2: yang pertama tentang film-film yang mengangkat penulis-penulis dunia, yang kedua adalah tentang film-film yang wajib di tonton para penulis, atau yang berkeinginan menjadi penulis.

Ini yang pertama lebih dulu…

 

Brigh Star (2012)

bright_starWalau judulnya indah, tapi ini adalah film yang muram. Entah kenapa saya begitu suka dengan film ini. Ini kisah tentang penyair besar John Keats, yang puisinya beberapa kali pernah saya baca. Walau belum ada buku puisinya secara khusus diterjemahkan, tapi satu-dua puisinya banyak termuat dalam antologi bersama.

Film ini fokus pada bulan-bulan sebelum John Keats meninggal. Adalah Fanny Brawne (diperankan Abbie Cornish) yang jatuh cinta pada John Keats (diperankan Ben Whishaw), setelah ia mendapatkan buku kumpulan puisi, Endymion. Tapi cerita kemudian tak bergulir sesederhana itu. Awalnya John tak tertarik dengan Fanny. Bagaimana pun keduanya memiliki sifat yang berbeda. Fanny adalah seorang fashionita sedangkan John tak menyukai dunia glamour itu.

Namun pada akhirnya cinta bersemi. Tapi keadaan tak semulus itu. Kondisi keduanya yang tak memiliki cukup uang, ditambah kedua keluarga mereka sepertinya ada dalam posisi tak ingin keduanya bersatu. Tapi di sini kekuatan cinta keduanya diuji.

Saya petikkan satu puisi John, Bright Star, yang sempat pula ditulisnya di salah satu surat untuk Fanny.

Bright star! would I were steadfast as thou art—/ Not in lone splendour hung aloft the night / And watching, with eternal lids apart, / Like nature’s patient, sleepless Eremite, / The moving waters at their priestlike task / Of pure ablution round earth’s human shores, / Or gazing on the new soft-fallen mask / Of snow upon the mountains and the moors— / No—yet still steadfast, still unchangeable, / Pillowed upon my fair love’s ripening breast, / To feel for ever its soft swell and fall, / Awake for ever in a sweet unrest, / Still, still to hear her tender-taken breath, / And so live ever—or else swoon to death.

Baca entri selengkapnya »

IMG_20160508_184300

Tautan KLIPING SASTRA INDONESIA

http://id.klipingsastra.com/2016/05/kitab-ular.html

IMG_20160508_075542

Sekali lagi terbukti: saya pembaca yang harus dipaksa! Karena akan didiskusikan Pawon, saya menyelesaikannya novel Widyawati karangan Arti Purbani ini hanya dalam 2 hari.

Diskusi buku kali ini memang sedikit berbeda, bukan sekadar memilih novel lawas seperti usulan dari Kabut, namun penulisnya -Arti Purbani- adalah nama pena dari Partini Djajadiningrat, putri sulung Mangkunegaran VII.

Awalnya membayangkan membaca Widyawati, saya akan mendapati cerita yang mirip-mirip dengan novel Student Hidjo (Marco) ataupun Generasi yang Hilang (Suparto Brata), yang pernah didiskusikan Pawon sebelumnya. Kebetulan latar novel ini hampir-hampir sama. Tapi ternyata, Widyawati punya perbedaan yang kuat.

Saat pada akhirnya menyelesaikannya, satu kesan yang saya tangkap: Widyawati adalah novel yang komplet. Diawali dengan memunculkan 4 karakter perempuan: Sumirah, Roosmiati, Widyawati (Widati) dan Ruwinah, saya langsung meraba kalau keempat tokoh inilah yang akan mengisi halaman-halaman buku selanjutnya. Bahkan saya merasa konflik yang sudah dirancang. terasa sekali di bagian itu. Namun pada kenyataannya, dari keempat karakter itu, hanya katater Widati-lah yang paling intens diceritakan, sedang karater lainnya pelan-pelan hanya menjadi karakter-karakter pendukung yang tak cukup banyak diceritakan. Karakter Sumirah bahkan hanya ditulis sedikit sekali. Baca entri selengkapnya »

kelambu_20160430_210936

Hari masih bercahaya, tapi kegelapan seperti telah menelanku dalam kepekatannya. Ruangan ini tiba-tiba terasa begitu sesak. Udara seakan menjauh dari diriku. Membuat napasku tersendat.

Sambil meringkuk di lantai, aku bagai menjadi sosok yang tak lagi berarti. Sangat sesuai dengan apa yang kubayangkan selama ini: aku bagai burung yang tak lagi bersayap, karena sayapku telah kupatahkan sejak dulu.

Sialnya, seperti yang sudah-sudah, keheningan selalu membuatku semakin terjerumus dalam ketakutan. Ia bagai mengulik lubang telingaku dan menggemakan ngiang yang terus berulang, bagai bisikan iblis yang tak pernah berhenti.

Kau akan pulang kan?

Pulang? Aku memejamkan mata kuat-kuat. Kata itu seharusnya sudah kucoret dari kamus hidupku. Tapi semakin aku ingin melupakannya, entah kenapa, kata itu semakin kuatnya merasuk.

Tubuhku tiba-tiba menggigil dengan hebat. Tanpa bisa kuelak, aku mulai terseguk. Suamiku yang sejak tadi duduk di ruang tengah, seakan sengaja memberi waktu untukku sendiri, mulai mendekat. Ia membelai rambutku dengan lembut. Lalu mulai menggendong tubuhku ke arah pembaringan. “Kalau kau tak ingin pulang, tak apa-apa,”  bisiknya. Baca entri selengkapnya »

IMG20160327110411Saat menulis tulisan ini, saya benar-benar tak tahu apa tujuan saya menulisnya. Mungkin saya sekadar ingin pamer, atau  hmmm, bisa dikatakan meralat sesuatu. Ceritanya, beberapa bulan lalu, karena ada diskusi buku di rumah saya, foto-foto diskusi itu menyebar. Seorang kawan memposting lagi foto-foto itu dengan menyebut kalau buku-buku yang menjadi latar foto-foto itu adalah buku-buku koleksi saya. Padahal bukan. Itu sekadar komik-komik bekas taman bacaan saya yang sudah kukut 2 tahun lalu. Baca entri selengkapnya »

Saat menjadi anggota Goodread Indonesia, ada satu tema diskusi yang cukup menarik, yaitu: menilai buku pertama seorang penulis. Saya jadi teringat pada buku pertama saya.

Sejak kanak saya sudah menulis. Tapi keinginan membuat buku belum terlintas sama sekali kala itu. Keluarga saya tak ada yang menulis. Teman-teman sepermainan saya pun begitu. Jadi saya tumbuh sendiri dengan ketidakmengertian.

Untunglah di saat kuliah saya bertemu teman yang juga suka menulis. Walau satu, tapi ini sudah cukup lumayan. Karena kuliah saya yang ada di jurusan teknik, membuat keinginan untuk menulis adalah keinginan nomor sekian. Baca entri selengkapnya »

dkj ok.jpgKadang, membaca memang harus dipaksa! Bila tak ada acara Bicara 4 Novel Pemenang Sayembara Novel DKJ 2014 yang diadakan Pawon, 23 Januari 2016 lalu, saya mungkin hanya akan membaca 1 – 2 novel saja yang saya pikir menarik. Namun karena adanya acara tersebut, mau tak mau saya harus membaca semuanya.

Setelah selesai membaca keempatnya, yang saya pikirkan kemudian adalah: apa benang merah dari keempat novel ini? Tentu juri saat itu: Nukila Akmal, Zen Hae, dan Martin Soerjajaya punya kesukaan masing-masing. Namun berbeda dengan sayembara 2 tahun sebelumnya, kali ini saya tak bisa menebak kesukaan-kesukaan juri tersebut. Keempat novel itu – Kambung dan Hujan, Di Tanah Lada, Napas Mayat dan Puya ke Puya– nampak berbeda satu dengan lainnya. Entah itu dari cara eksekusi ide, mengolah alur, bahkan pendalaman karakter demi karakter. Semuanya sungguh nampak berbeda. Baca entri selengkapnya »