Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

bulan

Agustus 2011

Review Untung Surapati, oleh Review Buku

Sumbangsih Yudhi Herwibowo bagi kesusastraan Indonesia perlu kita apresiasi. Dia mengubah teks sejarah yang jarang bisa dinikmati khalayak umum, menjadi sebuah novel yang menarik. Dan yang sudah saya baca, diantara novel sejarahnya yang lain, adalah Untung Surapati ini.
Untung Surapati adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang saya ragu kalau siswa – siwa kita tahu tentang dia. Saat saya kecil dulu, kisah Untung Surapati dan Kapten Tack dibuat umbul (kertas kecil – kecil bergambar yang dimainkan dengan cara melemparkannya ke udara). Jadi, meskipun hanya sedikit, kita mengenal Untung Surapati ini. Namun, sekarang siapa yang mau memainkan umbul?
Saya tidak tahu apakah Untung Surapati tercantum dalam buku teks IPS saat ini. Akan tetapi, meskipun tercantum, buku teks tetaplah buku teks – sangat sedikit menarik perhatian kita. Oleh karena itu, jerih payah Yudhi Herwibowo dalam meramu teks sejarah menjadi sebuah novel sejarah yang istimewa ini sangat perlu kita hargai.

Continue reading “Review Untung Surapati, oleh Review Buku”

Video Untung Surapati kedua

Review Untung Surapati, oleh Alvina Vanila

Perjalanan ini dimulai dengan dipilihnya dua orang budak anak-anak di pasar Banten oleh Kapitein Van Beber, perwira VOC senior yang sebelumnya bertugas di Makasar. Kepindahannya ke Batavia membuat ia membutuhkan budak untuk membantu mengangkut barang-barang dan keperluan lainnya. Namun setibanya di Batavia, kehadiran dua budak anak-anak itu sudah tidak dibutuhkan lagi, maka ia memberikan budak-budak itu kepada seorang sahabatnya, saudagar dari Belanda yang bernama Mijnheer Moor.

Continue reading “Review Untung Surapati, oleh Alvina Vanila”

Review Untung Surapati, oleh Dion Yulianto

Kita mengenal namanya, namun belum tentu kita mengenal dengan mendetail kehidupan dan sepak terjangnya. Ia memang sudah dimasukkan sebagai salah satu pahlawan nasional, yang gigih menentang penindasan dan kekuasaan kolonial di bawah VOC pada sekitar abad 17. Ia adalah tokoh sejarah keturunan Bali yang kemudian berhasil menjaring pengikut setia untuk kemudian menjadi kawan sekarib. Ialah tokoh panutan yang begitu legendaris di tanah Banten, Kasultanan Cirebon, Kraton Kartasura, hingga Pasuruan dan Madiun. Dialah Untung Surapati. Continue reading “Review Untung Surapati, oleh Dion Yulianto”

Review Untung Surapati, oleh Novianne Asmara

Untung Surapati merupakah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Tepat rasanya buku ini dibaca saat semarak HUT RI masih berdengung. Walau sebenarnya buku-buku bertema pahlawan atau kisah perjuangan tetap asyik juga dibaca dihari-hari biasa. Menjaga agar semangat nasionalisme dan rasa kagum kita pada para pahlawan yang telah rela berjuang mengorbankan nyawanya selalu senantiasa hadir setiap saat di hati kita. Rasa kagum ini pun sudah selaiknya kita persembahkan juga pada para penulis buku-buku sejarah. Karena berkat kepiawaian tangan merekalah, kita akhirnya bisa menikmati sebuah karya kisah sejarah yang mungkin selama ini hanya kita dapat di sekolah dengan porsi yang begitu kecil dan pemaparan yang tidak terlalu detail. Continue reading “Review Untung Surapati, oleh Novianne Asmara”

Piano, cerpen saya untuk Mbak Sanie B. Kuncoro di majalah Femina (edisi asli, tanpa potongan, tanpa editan)

1. Perempuan yang ingin menjadi alunan nada
Moonlight Sonata?
Kau dengar alunan itu? Denting-denting lembut yang muncul dari ujung sana? Samar, merayap, meratap, bagai hembusan angin yang bergelitik? Aku mendengarnya dengan jelas dari bilikku. Sedikit echo telah menambah kekuatan nada-nada yang terbentuk.
Dan aku terpana dibuatnya. Siapa yang bermain piano seindah itu? Rasanya sudah begitu lama aku tak mendengar orang memainkan seperti ini.
Maka segera kubawa kakiku melangkah ke sana. Walau ini malam pertamaku tinggal di sekolah musik ini, aku tahu dari mana asal suara. Sedikit terburu aku melangkah. Tetap dengan menahan setiap langkahnya, agar suaranya tak mengganggu alunan itu.
Semakin dekat, jantungku semakin berdebar. Semakin kurasakan irama yang begitu sempurna. Aku bahkan dapat merasa energi yang pas tekanan jemari-jemarinya pada tuts. Aku hapal lagu ini. Mungkin sudah ribuan kali kudengarkan. Ini adalah lagu pertama yang kudengar dan membuatku terpesona.
Aku masih ingat kala itu, aku masih begitu kecilnya. Sepertinya alunan itu sengaja memilihku, menghampiriku, dan membuatku mendekat. Seorang perempuan jelita kulihat memainkan sonata itu di ruangan gelap dan berdebu.
Aku terpana. Waktu itu adalah kali pertama aku melihat seorang bermain piano. Maka aku tak melepas mataku memadang jemarinya yang bergerak, seperti melakukan sebuah tarian. Kadang lincah, kadang lembut.
Dan ketika ia usai memainkan sonata itu, aku segera mendekat padanya dan berkata, “Bolehkan aku memainkannya?”
Perempuan itu tak nampak terkejut. Ia hanya tersenyum lebar, “Tentu saja.” Ia kemudian mendudukkanku di depannya.
Saat itu aku masih mengingat gerakan jemari perempuan ini, juga nada-nada yang menghampirinya. Semuanya seperti terekam kuat. Tapi tentu semuanya tak semudah itu, walau perempuan itu kemudian meletakkan jemarinya di bawah jemariku, sehingga aku tinggal mengikutinya gerakannya.
Nada-nada kemudian terbentuk. Itulah pertama kalinya aku berpikir ingin menjadi alunan nada. Muncul di udara, membuat orang-orang terbuai mendengarnya, lalu hilang terbang meninggalkan kesan.
Maka seperti kala itu, kini aku pun mendekati alunan nada yang menghampiri tadi. Dengan gerakan ragu, mulai kubuka pintu besar ruangan, tempat kami biasa berlatih piano.
Namun tak kutemui siapa pun di sana. Ruangan itu kosong. Hanya sebuah piano tua dengan cacat mencolok di samping tubuhnya, yang terlihat di ujung ruangan. Namun nada-nada itu, entah mengapa, masih tetap terdengar di telingaku. Sungguh, sama seperti kala itu… Continue reading “Piano, cerpen saya untuk Mbak Sanie B. Kuncoro di majalah Femina (edisi asli, tanpa potongan, tanpa editan)”

Sakura Telawang, novel saya selanjutnya tentang jugun ianfu

Akhirnya bertepatan dengan hari pertama puasa, selesai juga naskah ini. Fuiiih, leganyaaaa… 😀

Saat memutuskan untuk menulis novel tentang perempuan korban dari jugun ianfu, rasanya saya memutuskan untuk melakukan sesuatu langkah berani.

Saya telah menulis lebih dari 27 buku sebelumnya, dan sebagian besar adalah novel yang selalu mengambil tokoh lelaki dalam sudut penceritaan saya. Memang sekali-dua kali saya pernah mengambil tokoh perempuan, namun hanya sebatas di dalam cerpen ataupun novelet. Tapi tidak di sebuah novel. Rasanya itu sama sekali tak terpikirkan. Terlebih bila itu tentang novel dimana narasi perempuan sangat dieksplorasi.

Tapi entah mengapa, selepas membaca Momoye, Mereka Memanggilku, saya tak lagi bisa menolak untuk tak menulis kisah tentang para perempuan korban jugun ianfu. Kisah perjalanan ibu Mardiyem di buku itu benar-benar menggugah saya, dan terus-terusan membuat saya merasa sedih.

Pernah saya tanyakan pada seorang teman tentang novel-novel lama yang bercerita tentang jugun ianfu. Tapi ternyata itu tak banyak. Ini membuat saya semakin tergerak untuk menulisnya. Dalam hati saya terus bertanya, bagaimana bisa sebuah kisah sepahit ini tak menarik minat penulis?

Maka beberapa bulan saya tulis buku ini: Sakura Telawang.

Saya cukup menikmati membuatnya. Setelah Pandaya Sriwijaya, yang kaya imajinasi, dan Untung Surapati, yang kaya data, saya ingin membuat sebuah buku sejarah lagi yang memposisikan data secara halus. Maka itulah saya mencoba tak memakai 1 footnote pun. Walau ada narasi sejarah, namun jumlahnya tak banyak, dan itupun saya pakai sekedar sebagai gambaran latar kapan kisah ini terjadi.

Untuk meyakinkah saya, saya kemudian meminta beberapa sahabat perempuan saya untuk membacanya terlebih dahulu. Saya ingin apakah naras laki-laki saya sudah cukup bisa mewakili narasi tokoh perempuan di buku ini. Sungguh, proses seperti ini di luar kebiasaan saya.

Akhir kata semoga novel ini tidak terlalu mengecewakan. Saya sama sekali tak berminat menjadikan buku ini sebagai novel sejarah atau pun novel sastra. Hanya sekedar mengisahkan sebuah kisah pahit yang pernah terjadi di tanah ini, sebelum terus semakin usang dan terlupakan…

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑