dkj ok.jpgKadang, membaca memang harus dipaksa! Bila tak ada acara Bicara 4 Novel Pemenang Sayembara Novel DKJ 2014 yang diadakan Pawon, 23 Januari 2016 lalu, saya mungkin hanya akan membaca 1 – 2 novel saja yang saya pikir menarik. Namun karena adanya acara tersebut, mau tak mau saya harus membaca semuanya.

Setelah selesai membaca keempatnya, yang saya pikirkan kemudian adalah: apa benang merah dari keempat novel ini? Tentu juri saat itu: Nukila Akmal, Zen Hae, dan Martin Soerjajaya punya kesukaan masing-masing. Namun berbeda dengan sayembara 2 tahun sebelumnya, kali ini saya tak bisa menebak kesukaan-kesukaan juri tersebut. Keempat novel itu – Kambung dan Hujan, Di Tanah Lada, Napas Mayat dan Puya ke Puya– nampak berbeda satu dengan lainnya. Entah itu dari cara eksekusi ide, mengolah alur, bahkan pendalaman karakter demi karakter. Semuanya sungguh nampak berbeda.

Puya_Ke_Puya_oleh_Faisal_Oddang.jpgBuku pertama saya selesaikan adalah Puya ke Puya milik Faisal Oddang. Ini karena sebulan sebelumnya, buku ini dibedah di Balai Soedjatmoko. Tema buku ini sangat menarik. Tentang Toraja. Sepertinya setelah Papua, Nusa Tenggara, tema tentang Indonesia bagian timur masih terus dieksplorasi. Sempat saya ingat, 2 cerpen tentang Tanah Toraja di 2 media berbeda, yang saya baca beberapa minggu sebelumnya.

Bagi pembaca cerpen di koran Minggu, Puya ke Puya tentu langsung dihubungkan dengan cerpen Faisal Oddang sebelumnya, Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon, cerpen yang berhasil menyabet cerpen terbaik Kompas 2014.

Cerpen itu begitu kuat, sehingga saat Faisal Oddang mengambil sudut pandang yang nyaris sama dengan cerpen itu, pembaca akan mudah terhipnotis untuk mengulangi kisah yang menawan itu. Di novel Puya ke Puya, Faisal Oddang memang mengambil 3 sudut pandang plus suara narrator. Bagi saya sudut pandang sebagai Maria Ralla, adik dari tokoh utama yang meninggal saat bayi, adalah yang paling menarik. Pembaca seperti dibawa ke keliaran alam gaib sebuah pohon Tarra. Lewat ini pula, masa lalu keluarga Ralla banyak diungkap. Lewat kacamata yang lain, kita akan menemukan karakter tokoh utama yang mendadak menjadi kepala keluarga, dengan segala kisah cintanya, juga karakter ayah si tokoh utama yang meninggal dunia, dan meninggalkan permasalahan keluarga dengan para pengusaha yang menginginkan tanah miliknya, yang merupakan warisan leluhur.

Puya ke Puya memang ada pada persoalan lokalitas. Ini membuat permasalahan yang timbul jadi nyaris sama dengan novel-novel lokalitas lainnya: masalah gesekan modernsitas dan adat. Walau sebenarnya, ada 3 alur besar yang berusaha diangkat dalam novel ini: selain tentang seorang pengusaha yang ingin membeli tanah adat, masih ada tentang kisah cinta tokoh utama dan tentang kasha di pohon Tarra berikut tentang pencurian jenasah-jenasah bayi yang ada di dalamnya. Saya pikir yang ketiga adalah yang paling menarik, walau sepertinya digarap dengan seadanya saja.

Setidaknya kita beruntung novel dengan tema seperti ini bisa terbit. Karena tema lokalitas biasanya tak terlalu diminati penerbit. Padahal menurut saya, Puya ke Puya merupakan naskah yang kaya. Penulisnya cukup padu memadukan imajinasi dan data-data tentang Toraja. Ia tak berlebihan mengulas Toraja. Masa lalunya, juga dengan masa kininya, terutama saat Pemda mulai menjadikannya objek pariwisata, bisa ditempatkan di tempat yang semestinya dalam keseluruhan kisah.

Hanya saja ada beberapa yang membuat saya harus berkerut kening. Sebenarnya ini sudah saya ungkapkan di forum saat bedah buku sebulan lalu. Tentu itu bukan sebuah kesalahan, hanya –kalau saya boleh menyebutnya- kegagapan logika. Yang pertama adalah penggalian karakter yang saya pikir kurang berhasil. Begitu mudahnya, tokoh utama tiba-tiba berganti sikap. Dari mahasiswa yang kritis, menjadi kepala keluarga yang keras, tiba-tiba harus setuju dan melakukan hal-hal buruk pada keluarga, dan diakhiri menjadi manusia yang brutal. Sebenarnya Faisal Oddang sudah mencoba menjelaskan,, kalau ia sebenarnya sudah memberi tanda ketidakberesan tokoh utama tersebut. Namun saya merasa itu teramat kurang.

Kegagapan logika yang kedua ada di beberapa bagian. Salah satunya yang paling mencolok adalah: saat ibunya tokoh utama baru mengetahui kalau tanah milik keluarga mereka ternyata sudah dijual dalam 3 hari sebelum acara rambu solo dimulai. Saya pikir adegan itu begitu dipaksakan hanya untuk mendapatkan efek dramatisasi.

27213435.jpgBeranjak pada novel berikutnya, Di Tanah Lada – milik Ziggy Z. Ini mungkin adalah novel yang berkali-kali membuat saya harus memberi permakluman di saat-saat awal membacanya. Seorang anak 6 tahun, yang selalu membawa kamus dan mencari kata-kata yang sulit, rasanya itu sulit sekali diterima akal sehat. Tapi saya berusaha mengabaikan dalam hati: ini fiksi, tentu di luar sana selalu ada orang-orang yang istimewa seperti itu...

Yang membuat saya bisa terus melanjutkannya karena Ziggy Z nampaknya berhasil menciptakan dunia anak 6 tahun di novel ini. Setidaknya bagi saya pribadi. Saya cukup terbawa dengan cara pikir Salva, yang lugu dan kadang-kadang mengejutkan. Bagaimana ia kebingungan saat mencari kata ‘itu’ di kamus, atau bagaimana saat ia heboh sendiri menamai suami penjaga Rusun Nero. Di antara kemuraman novel ini, ungkapan-ungkapan Salva, kadang membuat saya beberapa kali tersenyum sendiri. Saya tahu, sulit bagi penulis masuk ke karakter anak, apalagi bila itu berumur 6 tahun. Setidaknya –terlepas soal kamus tadi- saya bisa menikmati.

Tapi kenikmatan membaca Di Tanah Lada, seperti terampas begitu saja saat penulis mulai memasuki bagian ending. Di sini, saya merasakan pemaksaan penyelesaian cerita. Penulis seperti ingin membuat suasana emosional bagi pembaca, atau ia ingin melanjutkan kemuraman novelnya yang sudah dibangunnya sejak awal. Tapi sungguh, sulit sekali bagi saya memahami ending seperti ini terjadi bagi anak berumur 10 tahun dan 6 tahun. Dan dalam diskusi itu, semua pembaca Di Tanah Lada ternyata mengungkapkan hal yang sama soal ini!

25724235.jpgKambing dan Hujan milik Mahfud Ikhwan adalah novel terlancar yang saya baca. Saya pikir di antara keempat penulis lainnya, Mahfud Ikhwan adalah yang termatang dalam penggarapan novelnya. Dengan mengawali kisah cinta Mif dan Fauzia yang berbeda latar ke-Islaman, kisah kemudian dibawa ke Desa Centong, di mana sejarah masa lalu desa dikulik. Kisah yang awalnya nampak sederhana itu, ternyata tak sekadar menjadi sederhana. Kedua ayah tokoh utama, ternyata menyimpan kisah yang tak sekadar bermuara pada perbedaan NU dan Muhammadiyah.

Sepanjang membaca novel ini, saya mencoba mencari celah –atau kegagapan logika- seperti biasanya. Namun ternyata sulit sekali menemukannya. Novel ini, ditulis dengan cukup detail dan dengan segala upaya-upaya agar setiap halamannya tidak membosankan. Saya pikir Mahfud Ikhsan berhasil. Saya kemudian tahu dari penulisnya langsung, kalau sejak kalimat pertama ditulis hingga akhirnya terbit, novel ini, ia butuh waktu hingga 9 tahun. Coba bayangkan dengan naskah Puya ke Puya –yang juga kata penulisnya- hanya membutuhkan waktu 6 hari? (Ini dari pengakuan Faisal Oddang langsung).

Hanya saja bagi saya pribadi: tema yang diangkat Mahfud Ikhwan sudah cukup sering. Saya pikir setiap orang Islam, selalu mengalami -atau merasakan- gesekan-gesekan kecil seperti itu sejak dulu. Untunglah, kelihaian Mahfud Ikhsan mengolah karakter-karakter dalam novelnya itu, membuat kisah ini jadi naik kelas. Tak melulu sekadar sindiran-sindiran NU – Muhammadiyah. Ia menjadikan masa lalu sebagai kunci. Inilah yang menarik. Pengulikan masa lalu membuat karakter ayah kedua tokoh utama itu seperti membuka lembar demi lembar rahasia yang sebelumnya disimpan baik-baik. Dan ternyata, itu malah mengambil porsi lebih banyak dari kisah cinta Mif dan Fauzia.

Hanya saja, pada akhirnya semua karakter dalam novel ini menjadi karakter manusia yang baik dan budiman. Walau Mahfud Ikhwan sudah menciptakan karakter Fuad dan Pak Suyudi yang keras, tapi pada akhirnya semuanya toh menjadi baik. Saya pikir ini pesan moral novel Kambing dan Hujan. 🙂

25488502._UY472_SS472_ ok.jpgNovel terakhir yang saya baca adalah: Nafas Mayat milik Bagus Dwi Hananto. Ini novel yang cukup menarik buat saya. Saya pikir dari keempat novel di atas, Napas Mayat adalah satu yang paling berbeda. Dari segi pemilihan tema, karakter, bahkan penggarapan alur. Membaca Napas Mayat adalah seperti petualangan baru. Setiap halamannya bagai misteri yang perlu saya tebak.

Tapi novel ini kembali membuat saya seperti terlempar ke 2 tahun lalu. Sebelumnya saya hendak menulis: bila di novel-novel pemenang sayembara tahun ini kita tak akan mendapati karakter-karakter seperti sayembara sebelumnya: karakter manusia depresi, keminter, dan suka pamer dengan buku-buku bacaannya. Setidaknya di 3 novel sebelumnya saya tak merasakan itu. Semua ada dalam porsi yang pas. Tapi di Napas Mayat itu terjadi. Tapi depresi yang dialami tokoh kali ini ada di tingkat yang paling tinggi. Ia juga memamerkan buku-buku yang dibacanya. Yaang kadang bila di-cut, tak akan mengurangi makna cerita.

Beberapa kawan saya, sudah memutuskan tak ingin membaca novel ini dari membaca judulnya saja. Ini sungguh, membuat saya prihatin. Saya pikir Bagus Dwi Hananto cukup berhasil meramu kisah ini: seorang depresi yang pada akhirnya menjadi kanibal. Ia menikmati membunuh seseorang, memakannya dan mengoleksi kepalanya dalam stoples-stoples. Ia juga menciptakan karakter-karakter lain yang juga tak kalah aneh. Karakter Sarah, perempuan jelek yang selalu datang untuk bercinta, dan juga satu lagi yang saya tunggu-tunggu: kekasih masa lalunya. Bagus Dwi Hananto juga menciptakan karakter Hitam, yang merupakan suara lain dari tokoh utama. Kedua karakter ini kerap berbincang sendiri dengan seru.

Sepertinya semua sudah dirancang dengan aneh, sehingga kesalahan-kesalahan kecil seperti dapat dimaklumi. Logika saat membunuh, waktu yang diperlukan saat membersihkan darah yang tercecer, dan beberapa hal lainnya, seperti bisa dimaklumi dalam dunia yang aneh itu.

***

Jadi, kesimpulan dari membaca keempat novel ini, saya merasa yakin kalau keempat penulis ini adalah penulis-penulis pilihan yang di waktu-waktu tak lama lagi segera membombardir kita dengan buku-buknya.

Kemudian –sama seperti mayoritas kawan-kawan yang mengomentari novel-novel ini- kematangan Kambing dan Hujan memang tak bisa dielakan. Wajar sekali bila novel ini mememangkan juara pertama sayembara novel DKJ 2014.

Tapi bagi saya, bila ditanya: novel apa favorit saya? Mungkin saya akan mengumpamakan begini: saat saya masuk ke dalam sebuah rumah makan yang menghidangkan semua jenis makanan, tentu saya tak akan memilih menu yang sudah biasa, seperti misalnya: nasi goreng. Walau sajiannya sangatlah teramat istimewa sekali. Saya mungkin, akan memilih yang tak biasa saya makan. Walau mungkin bumbunya sedikit kurang mantap. Jadi saya akan memilih: Napas Mayat -atau mungkin Di Tanah Lada. Walau saya menemukan beberapa kelemahan di kedua novel itu, tapi membacanya, saya mendapatkan sesuatu yang baru dan menarik.

 

Iklan