Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Penulis

yudhiherwibowo

keep writing...

Dua film Bagi Pencinta Binatang

Sebenarnya banyak sekali film-film tentang binatang yang sudah saya tonton. Tapi tahun 2017 ini, ada 2 film tentang binatang yang dirilis hampir bersamaan yang saya tonton. Awalnya sekadar saya tulis di status facebok saja. Tapi akhirnya saya putuskan saya kembangkan di blog. Karena sudah sebulan ini, blog saya sepi posting.. 😛

Yang pertama adalah OKJA.

okja.79437Film okja bukan sekadar film tentang Mija -anak kecil dari satu desa di Korea- yang mau menyelamatkan babi kesayangannya -Okja- yang di bawa ke New Yotk. Okja itu ternyata bukan babi sembarangan, ia adalah babi istimewa yang dibuat secara genetis hingga tubuhnya bisa besar luar biasa. Konon lebih besar dari gajah. Konon menurut perusahaan yang mengembangkannya, seekor babi unggul yang mereka ciptakan ini bisa menyuplai makanan bagi ratusan manusia.

Tapi karena babi itu diciptakan secara genetis, perusahaan tak mau langsung menjualnya. Ia menyamarkannya dengan menyerahkan 26 anak babi itu pada 26 petani/peternak di 26 negara. Perusahaan berharap orang-orang menganggap babi-babi itu tumbuh dalam keadaan normal seperti babi-babi pada umumnya. Continue reading “Dua film Bagi Pencinta Binatang”

18319387_1659770727390106_7589417616708425594_o

Link-link Donlot Film-film Tentang Puisi atau Penyair

Sebelum diinbox dan ditanyakan link-link donlot film-film yang saya upload di posting sebelumnya, saya kasih saja di sini. Tentu saja sebenarnya mudah mencarinya, cukup berkawan akrab dengan ganool, atau -untuk film-film lama yang gak terlalu ngetop- mungkin bisa ke kingtorrent.

Dead Poets Society (1989)

http://www.ganool.li/dead-poets-society-1989-bluray-720p-900mb/

Continue reading “Link-link Donlot Film-film Tentang Puisi atau Penyair”

Film-film tentang Puisi atau Penyair

Tulisan ini sebenarnya sekadar jawaban ringan dari pertanyaan seorang kawan: Apa saja film-film tentang puisi dan penyair? Jawaban itu, awalnya akan saya jadikan materi di  #bincangsastra Solopos FM April ini. Namun setelah saya pikir-pikir, rasanya tak ada salahnya saya tulis tentang ini untuk blog saya.

Bila saya search di IMDB mengenai film-film tentang puisi dan penyair, banyak sekali muncul daftarnya. Ini membuat saya ragu, karena ternyata hanya sedikit saja yang sudah saya tonton. Sialnya, saat saya mencoba mencari film-film itu, entah dengan cara donlot biasa maupun via torrents, sangat sulit melacak film-film itu.

Dari yang sedikit itu, saya pikir tak ada salahnya saya share.

Continue reading “Film-film tentang Puisi atau Penyair”

Kucing Ketiga Madam Sukotjo, cerpen lokomoteks.com edisi April 2017

sampul-loko-kucingoke-copy

bisa klik di sini:

https://lokomoteks.com/cerpen-yudhi-herwibowo-kucing-ketiga-madam-sukotjo/?frame-nonce=6929d69a19

My Instagram’s Quotes

follow instagramku di @yudhiherwibowo

pasti difollow balik… 🙂

Cerpen Malam Mengenang Sang Penyair, Tribun Jabar 26 Maret 2017

17TJ26031007.pmdBisa klik ke web tribun Jabar di sini:

http://jabar.tribunnews.com/2017/03/26/malam-mengenang-sang-penyair

atau epapernya di sini:

http://jabar.tribunnews.com/epaper/index.php?hal=7

Selesaikan Bukumu! Mungkin ada Sesuatu yang Terselip di sana!

Beberapa tahun lalu, seorang kawan pustakawan membagi film ini via facebook. Saya sempat mengunduhnya. Tapi karena hardisk saya rusak, saya kehilangan film ini, dan sempat melupakannya sampai beberapa tahun.

Kemarin saat sedang mencari-cari sesuatu di youtibe, tanpa sengaja saya menemukan kembali film ini. Sekarang sudah 2,1 juta penontonnya. Maka supaya tak lagi kehilangan seperti dulu, saya posting saja film ini di sini.

Suatu waktu, saya pasti akan menontonnya kembali…

Toko Buku Kecil Kenangan

solopos fm maret 2017 - 1Karena membeli buku The Little Paris Bookshop -atau Toko Buku Kecl di Paris- karangan Nina George,  saya menulis ini. Saya membeli buku itu karena mungkin adanya 3 kata: toko buku kecil. Awalnya cuma saya upload di instagram saya, kemudian saya merasa dapat menulis lebih panjang lagi.

Baru sekarang saya merasa toko buku kecil seperti menjadi kenangan yang penting. Papa adalah pegawai negeri di Metrologi, jadi selalu berpindah-pindah. Dari Palembang – Tegal – Kupang – Samarinda – Bandung – Purwokerto. Saya mengikutinya sampai Kupang saja. Karena setelah itu saya dipindahkan di Purwokerto. Lalu saya kuliah di Solo, hingga bekerja sampai sekarang.

Di setiap kota yang pernah disinggahi saat masa kanak2 dan remaja, selalu punya cerita tentang toko buku kecil yang selalu saya datangi. Tentu dulu Gramedia belum seagresif sekarang. Hampir di kota-kota itu tak ada toko besar seperti itu. Continue reading “Toko Buku Kecil Kenangan”

Quotes yang Mungkin Sesuai dengan Hatimu… :) (bagian 2)

Quotes yang Mungkin Sesuai dengan Hatimu… :) (bagian 1)

 

Ke mana Pembeli Buku Sastra Kita?

looking-for-something-little-boy

Waktu masih menulis buku komedi, seorang kawan penulis buku serius yang baru saya curhati tentang buku komedi saya yang kembali dicetak ulang, bertanya dengan setengah menerawang: apa beda pembaca sastra dan pembaca alay? Sebelum saya menjawab, ia sudah menjawab dengan suara yang pahit: pembaca alay membeli buku!

Walau terkesan bercanda, tapi bila dipikir dalam-dalam, jawaban pertanyaan itu merupakan sindiran yang sangat telak. Walau saya sedikit tak bersepakat tentang sebutannya tentang pembaca alay, namun saya tahu maksudnya lebih cenderung pada pembaca buku-buku ringan yang biasa dipilih anak-anak baru gede. Bagaimana pun, pembaca ini, yang sering dicemooh sebagai alay, lebih ringan hati untuk membeli buku kesukaan mereka.

Continue reading “Ke mana Pembeli Buku Sastra Kita?”

Manga-manga Kenangan yang Seharusnya Terus Dicetak Ulang

Karena Buletin Sastra Pawon yang mengadakannya, saya yakin banyak kawan-kawan yang akan menulis tentang buku-buku sastra. Saya awalnya juga ingin menulis itu. Tapi setelah saya pikir-pikir, saya membatalkan niatan itu.

Awalnya tentu yang ingin saya tulis adalah komik-komik secara umum. Tapi bicara komik secara umum, selalu saja tak bisa melepaskan diri dari komik-komik legendaris seperti Tintin, Asterix, atau juga Lucky Luke. Bagaimana pun komik-komik itu sulit sekali untuk ditepikan. Jadi saya merasa tulisan saya pastilah tak akan terlalu menarik. Apalagi banyak komik yang merupakan serial, komik-komik satu seri –yang kini istilahnya oneshot– dapat dikatakan cukup jarang. Saya jadi takut ulasan saya akan melebar pada novel grafis yang banyak dalam kondisi 1 komik tamat. Jadi setelah saya pikir-pikir saya kerucutkan pada manga. Ini mungkin lebih menarik. Apalagi daftar manga yang saya baca dulu cukup bejibun. Saya pernah ada di era: membaca semua komik (cowo) yang dirilis. Itu saat di masa awal saya membuat persewaaan buku hampir 11 tahun yang lalu.

998af461baf861c71c6843559763f2f4

Continue reading “Manga-manga Kenangan yang Seharusnya Terus Dicetak Ulang”

Buku-buku yang Seharusnya tak Perlu Lagi Diterbitkan

Berapa lama waktu yang dibutuhkan penulis untuk menyadari buku-buku yang pernah ditulisnya telah usang?

Beberapa tahun lalu selepas trend buku komedi mulai turun, saya dihubungi penerbit untuk menawarkan penjualan buku-buku komedi saya yang sebelumnya mereka terbitkan untuk dipasarkan melalui playstore. Saya hanya menandatangani 3 di antaranya. Ada satu buku yang tak ingin saya terbitkan ulang, walau dalam bentuk online sekali pun.

Dalam dua tahun terakhir, karya-karya klasik banyak kembali diterbitkan. Tercatap yang sangat gencar adalah KPG, Qanita, Noura, Gramedia, dan beberapa penerbitan lainnya di Yogyakarta. Penerbitan itu tentu di satu sisi menguntungkan kita. Bagaimana pun karya-karya yang diterbitkan itu biasanya adalah karya-karya yang terus-terusan dibicarakan, bahkan dikutip di sana-sini. Continue reading “Buku-buku yang Seharusnya tak Perlu Lagi Diterbitkan”

Siapa Pihak Paling Diuntungkan dalam Obral Buku Besar-besaran Secara Terstruktur, Sistematis dan Masif Selama Tahun 2016?

pameran-buku1.jpg

pic dari https://flpjatim.wordpress.com/2011/09/17/pameran-buku-di-kota-kecil/

Bagi saya, kenangan datang di pameran buku paling menyenangkan mungkin saat pameran buku masih digelar di Gedung Sritex Slamet Riyadi Solo. Saat itu bukan karena saya bisa mendapat buku semacam Davinci Code dengan harga 30.000 saja, atau buku  sastra terbitan Serambi hanya 20.000 – 30.000, tapi karena banyaknya penerbit dan distributor yang mengikuti pameran membuat keadaan pameran buku jadi menyenangkan.

Tapi setelah itu keadaan menjadi berbeda. Ikapi tak lagi bisa membuat pameran yang menyenangkan. Beberapa stand berisi perpustakaan daerah, yang tak pernah saya tahu apa maksudnya berada di situ? Toko-toko buku seperti Gramedia lebih memilih membuat pameran di tokonya sendiri. Sejak itu pameran buku saya rasa lebih pas disebut obralan buku. Continue reading “Siapa Pihak Paling Diuntungkan dalam Obral Buku Besar-besaran Secara Terstruktur, Sistematis dan Masif Selama Tahun 2016?”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑